Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Rumah Baru


__ADS_3

Ivar dan Nindi memutuskan tidak bulan madu, tidak tega meninggalkan Hanna yang sangat bergantung pada Nindi setela kedua orang tuanya meninggal dunia. Membawanya juga tidak memungkinkan karena Hanna sibuk ulangan untuk ujian akhir.


Ivar sudah memutuskan tidak menempati rumah yang sudah dia siapkan untuknya dan Nindi tinggali. Ellie tidak rela melepaskan Ivar tinggal di rumah barunya. Ellie ingin Ivar tetap bersamanya dan berjanji tidak akan ikut campur urusan rumah tangga Ivar kedepannya.


Ivar tidak keberatan, selama Nindi nyaman dan bisa menerima keputusan keluarga besarnya. Ivar yakin Nindi bisa akrab dengan Ellie jika sudah tinggal bersama.


Rumah yang sangat megah bagi Nindi, Hanna sudah hilang meninggalkan Ivar dan Nindi masuk ke dalam rumah besar yang membuatnya penasaran. Semua keluarga berkumpul menyambut kedatangan mereka bertiga.


Jason yang paling Hanna rindukan, anak kecil yang senang sekali saat Hanna mengajaknya bercanda. Jason memikat hati Hanna, dia sangat menyayangi adik kecil yang kini akan selalu ada di kehidupan Hanna.


“Kalian sudah datang.” Semua orang bergantian saling memeluk.


Meski Ellie tersenyum pada Nindi, masih Nindi rasakan Ellie belum bisa tulus menerima kehadirannya. Memang tidak mudah, dia hanya seorang Ibu yang menginginkan putranya punya masa depan cerah.


Nindi menangkap ada keluarga lain yang hadir. Luna. Gadis cantik yang sangat Ellie sayangi dan berharap dia jadi menantunya. Matanya terlihat sembab, tentu saja. Dia pasti sedih Ivar memilih dirinya.


“Apa kabar Paman.” Ivar melepaskan tangan Nindi, menyambut keluarga Prabu yang saat ini ada di kediaman keluarganya. Entah perasaan apa yang membuat Nindi seolah goyah saat Ivar melepaskan pegangannya.


Ivar menarik Nindi agar berjalan bersamanya. “Paman belum pernah melihat Nindi kan? Kenalkan Paman.” Nindi mengulurkan tangannya. Prabu menyambut hangat tangan Nindi.


Dwi juga melakukan hal yang sama dengan Prabu. Mereka tampak sangat baik dan tulus, pantas saja Ibu mertuanya bersikeras menjodohkan Putranya dengan Luna. Mereka keluarga bermartabat. Nindi sedikit minder, tidak ada apapun yang dalam dirinya yang bisa dia banggakan.


“Aku ke belakang ya Kak. Aku ingin membantu Mamah.” Ivar mengijinkan, meski hatinya sedikit tidak tenang.


Ellie terlihat sangat sibuk, ada Edel juga di sana yang sedang membantu Ellie menyiapkan makanan bersama beberapa orang pekerja.


“Eh...ada pengantin baru. Sini Nin, bantu aku potongkan semangka ini yah. Ivar sangat suka buah semangkan.”


Nindi perlahan memotong semangka, sedikit sulit karena kulit semangka yang sangat tebal. Ellie yang memang tidak begitu suka pada Nindi merebut semangka dari Nindi.


“Sini...sini, begini saja lama sekali.” Edel terkejut melihat Ellie bersikap sekasar itu pada Nindi. Tidak ada yang bisa Nindi lakukan, dia mundur dengan hati yang sedikit terluka.


“Nin, bawakan ini ke depan yah.” Nampan yang sudah penuh dengan jajanan pasar. Edel tidak tega melihat Nindi yang diperlakukan kasar oleh Ellie.


“Mah, kenapa bersikap kasar pada Nindi.” Ellie tidak menggubris Edel. “Mah, kau akan melukai Ivar jika Nindi sampai terluka.” Edel bingung dengan sikap Ellie yang kasar.


“Kau ini tau apa tentang putraku. Perempuan itu tidak pantas jadi mendamping Ivar.” Terucap kata-kata yang tidak pantas setelah janji yang dia ucapkan pada Ivar akan berusaha menerima Nindi.


“Mah, kenapa kau sangat jahat. Aku tidak kenal Mamah yang punya sifat jahat seperti ini.” Edel bicara pelan, padahal dia ingin sekali berteriak.


“Lihat dirimu! Dia baru datang saja sudah menyebabkan kekacaun.” Edel menggeleng tidak percaya melihat Ellie begitu mengerikan.


Ivar meraih tangan Nindi agar duduk di sebelahnya. Ivar melihat mata Nindi yang memancarkan kesedihan, Nindi mencoba menyembunyikan perasaannya dengan senyum yang dia coba sampaikan, tapi Ivar bisa membaca isi hatinya seperti biasa.

__ADS_1


“Ayo silahkan di cicipi, maaf yah Dwi, aku tidak sempat menyiapkan banyak makanan.” Tutur kata Ellie begitu manis, andai dia bersikap seperti itu pada Nindi.


“Tidak apa-apa Bu Ell, kaya sama siapa saja.” Balas Dwi dengan ramah.


“Iya, aku memang sudah menganggap Luna itu putriku sendiri. Jangan sedih ya Nak, kesempatan lain pasti akan datang sayang.” Luna yang tidak tau maksud ucapan Ellie hanya tersenyum menanggapinya.


Tidak ada yang menganggap ucapan Ellie sebagai tanda dirinya masih menginginkan Luna sebagai menantunya selain Nindi. Dia tau betul ucapan itu untuk menyindir dirinya.


“Nindi kesibukannya apa sekarang Nak?” Prabu mencoba mencairkan suasana canggung.


“Saya bekerja di butik Kak Edel Pak.” Jawab Nindi dengan senyum yang penuh ketegangan.


“Jangan terlalu khawatir, semua akan baik-baik saja kedepannya.” Prabu bicara lirih agar tidak ada yang mendengar ucapannya. Kebetulan Nindi duduk di sebelahnya. Nindi mengangguk bahagia, ada yang paham perasaannya saat ini.


“Ternyata Nindi adalah adik dari Cakra, kau kenal dia?” Prabu mengangguk.


“Pantas Nindi punya semangat hidup kakaknya. Dia laki-laki hebat yang pernah aku dan Edwin temui. Pantang menyerah.” Mencoba mengenang bagaimana Cakra hidup.


“Kau semangat hidupnya Nak, Cakra sampai melakukan segala cara untuk membuatmu tidak kekurangan suatu apapun.”


Nindi jadi terharu kedua laki-laki hebat ini punya kenangan bersama Kak Cakra yang begitu indah. Memang begitulah Cakra hidup, Nindi bahkan tidak pernah merasa kesulitan saat bersama Cakra.


Obrolan berlanjut sampai malam menjelang. Hanna sudah di bawa Edel untuk beristirahat bersama Jason. Kasihan jika Nindi dan Ivar diganggu saat sedang hangat-hangatnya sebagai pengantin baru.


Sepajang pertemuan Luna hanya diam dan sesekali menanggapi percakapan Ellie yang begitu menyanjung dirinya. Luna tidak tergiur karena Ivar sudah menolaknya, kini dia harus membuka lembaran baru demi dirinya dan kedua orang tuanya.


“Ellie kau ini ada-ada saja, Ivar kan sudah punya Nindi. Ingat, jangan menduakan wanita yang sudah Ivar pilih. Kau mengerti?” Sebenarnya pesan Prabu lebih ditujukan pada Ellie yang sedari tadi memuji-muji putrinya di depan Nindi.


Nindi memang diam saja, tapi pasti hatinya sedih melihat Ellie begitu dekat dengan Luna. Gadis yang ingin Ellie jodohkan dengan Ivar.


“Tidak apa.. kan...”


“Sudah, sudah. Benar apa yang Prabu katakan. Kita juga butuh istirahat karena sudah terlalu lelah.” Edwin mencoba menengahi. Untung saja Ivar tidak ada di sana, jika Ivar dengar dia pasti akan sangat marah.


Tamu sudah pergi meninggalkan kediamannya, Edwin mengajak Ellie berdiskusi tentang sikapnya yang tidak pantas. Bukan diskusi yang Edwin dapat, melainkan kemarahan Ellie yang merasa semua orang lebih menyayangi Nindi daripada dirinya.


“Ellie, dengarkan aku. Sikapmu akan kau sesali suatu hari jika kau tidak mauberubah. Kasihan Ivar dan Nindi, kau mau mereka pindah dari sini?”


“Tentu saja tidak, tapi di pikir-pikir kenapa aku merestui pernikahan mereka, lihat Nindi! Dia tidak pantas ada di keluarga kita.” Edwin menarik panjang nafasnya. Sejak kapan Ellie punya pandangan buruk tentang Nindi seperti ini.


“Aku sudah memberi peringatan padamu, jika Ivar marah dan meninggalkan mu jangan salahkan aku.” Edwin masuk membiarkan Ellie merenungi perbuatannya.


Edwin masuk dan melihat pemandangan Nindi yang sedang membantu para pekerja membereskan pekerjaan mereka di dapur.

__ADS_1


“Nak.” Edwin menyapa Nindi yang sibuk berkutat dengan cucian piring kotor.


“Istirahat sayang, biarkan Bibi yang mengerjakannya.”


“Mentalnya memang orang susah.” Ucapan yang tidak pantas kembali keluar dari mulut Ellie, meski pelan Nindi bisa mendengarnya dengan jelas.


Nindi hanya bisa menunduk menyembunyikan kepedihan hatinya. Sejauh ini dia memang tidak mengenal baik Ellie seperti apa. Yang dia tau Ellie adalah wanita lembut yang sangat Kak Ivar sayangi.


“Jangan di ambil hati ya Nak. Pelan-pelan dia akan menyayangimu seperti dia menyayangi Ivar dan Edel.” Nindi hanya menunduk, sungguh malu semua pekerja yang ada di dapur melihat bagaimana Nindi diperlakukan.


Semuanya membisu tidak ada yang berani bicara pada Nindi yang pasti sedang sangat kacau pikirannya.


“Sayang!” Suara Ivar dari lantai dua meneriaki Nindi yang tidak kunjung masuk ke kamarnya. “Sedang apa kau di sana?” Nindi hanya trsenyum. “Bibi, jangan biarkan Nindi menyentuh pekerjaanmu.”


“Baik Tuan.” Nindi hanya tersenyum, Ivar memang selalu membuat dirinya istimewa.


“Maaf yah, kalian jadi dapat masalah.”


“Terimakasih mau membantu ya Non.”


“Sama-sama Bi.” Nindi memenuhi panggilan Ivar yang tidak sabaran.


Ivar menatap wanita yang perlahan mendekat padanya. “Kak! Aku boleh melihat Hanna sebentar?” Nindi hanyut dalam perasannya sampai melupakan Hanna.


“Tentu saja, jangan lama-lama.” Nindi sudah hilang dari peredaran mata Ivar.


Tok....tok....tokkkk...


Nindi berdiri di depan kamar Edel yang tertutup rapat. Menunggu sang pemilik kamar membukakan pintu untuknya.


“Hey Nin, masuk-masuk.” Edel bicara pelan karena anak-anak sudah terlelap.


“Hanna aku pindahkan ke kamarku saja ya Kak.” Edel menggeleng.


“Jangan, biarkan saja di sini. Jason sangat suka pada Hanna. Mereka soulmate. Heheheh....” Nindi ikut tersenyum.


“Iya biarkan saja, sebentar lagi juga kamar Hanna siap. Selagi masih dalam perbaikan biarkan Hanna tidur disini bersama kita.” Kata-kata Ayman membuat Nindi tidak bisa lagi menolak.


“Kau tau Nin, suamiku sedang latihan kalau-kalau kita punya anak lagi.” Tawa pecah yang membuat Jason menggeliat karena tidurnta terganggu.


“Kak terimakasih banyak sudah mau menjaga Hanna. Aku jadi tidak enak hati.”


“Jangan sungkan Nin, kita kan saudara. Sudah sepantasnya kita saling menjaga satu sama lain.” Edel baru kali ini melihat suaminya banyak bicara. Sepertinya dia ingin menguatkan hati Nindi yang Ayman lihat begitu terguncang dengan sikap Mamah Ellie padanya.

__ADS_1


“Iya Kak, kalau begitu aku naik ke atas yah.” Nindi pamit menemui Ivar yang sudah menunggunya di kamar.


Perlahan Nindi membuka pintu agar Ivar tidak terbangun, dia memang sangat kelelahan. Sampai tertidur pulas saat sedang menunggu Nindi. Laki-laki yang menguatkan hati Nindi selama ini. Laki-laki yang menopang segala kegundahan hatinya. Laki-laki yang tidak pernah patah memberinya kepercayaan diri agar selalu mampu melangkah lebih baik. Nindi memeluk laki-laki yang sangat dia sayangi dan ikut terlelap dalam kedamaian.


__ADS_2