
Hanna menangis histeris saat dirinya terbangun di tengah malam. Nindi yang terkejut langsung bangun tanpa memperhatikan kondisi dirinya yang tengah berbadan dua. Perutnya sedikit kram karena pergerakan tubuhnya yang tidak berhati-hati.
“Sayang....Tante Nindi di sini. Tenang sayang.” Peluk Nindi dengan erat. Hanna masih memejamkan matanya dengan suara tangisan yang begitu keras. “Ada apa Han, Hanna mimpi buruk yah?” Ucap Nindi sambil mendekap Hanna dengan sangat erat.
Cukup lama Hanna menangis dan berhasil membangunkan semua anggota keluarga karena rumah yang mereka tempati tidak terlalu besar.
Wajah-wajah khawatir mencoba menenangkan Hanna dengan rayuan-rayuan agar Hanna merasa aman.
“Hanna kenapa Nin?” Tanya Ellie yang baru saja masuk karena mendengar suara tangis Hanna. Nindi hanya menggeleng, dirinya juga bingung.
“Biar Hanna bersamaku Nin.” Ayman menggendong Hanna yang masih menangis sesenggukan. Dia tidak mau membuka matanya dan hanya menangis tanpa mau mendengarkan siapa pun.
Nindi sedikit khawatir karena Hanna tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kini semua orang berkumpul di ruang keluarga menemani Ayman menimang-nimang Hanna. Edwin menggenggam erat tangan Nindi yang sedang bersandar di sampingnya.
Ellie seperti biasa membuat minuman hangat agar semua anggota keluarganya tetap sehat dan tidak masuk angin.
“Minum Nak.” Menyodorkan minuman Jahe hangat pada Nindi. “Tenang saja, mungkin Hanna Cuma kecapean sayang.”
“Iya Mah, Nindi Cuma kaget saja. Karena baru kali ini Hanna mengigau seperti ini.” Senyumnya getir.
Suara tangis Hanna berangsur mereda, Ayman lega Hanna memeluknya dengan erat. Sepertinya kesadarannya kini sudah kembali. Perlahan Hanna membuka matanya. Menatap Ayman dengan lekat dan kembali memeluknya.
Edel hanya memperhatikan kedua orang kesayangannya dari jauh, dirinya harus menjaga Jason yang terlelap di kamar. Setelah melihat Hanna sudah baik-baik saja bersama Ayman, Edel memutuskan kembali ke kamar menemani Jason.
“Hanna masih ingin menangis?” Tidak ada jawaban. “Apa sekarang Paman sudah boleh melihat wajah cantik Hanna?” Hanna mengangguk. Air matanya masih menetes namun tidak sederas tadi.
Hati Ayman hancur melihat Hanna begitu tertekan. Ini pasti ada hubungannya dengan peristiwa yang menimpanya di Butik. Benar kata Dokter yang Ayman kunjungi, traumanya mungkin akan muncul tiba-tiba. Mereka harus menjaga hati dan perasaan Hanna lebih hati-hati lagi agar dia tidak mengingat masa kelam itu.
Nindi sudah tahu apa yang menimpa Hanna, begitu juga apa yang menimpa dirinya. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama di rumah yang cukup sederhana. Tidak ada lagi rahasia yang mereka simpan. Mereka sekarang tahu kenapa harus menghilang sementara waktu dari peerdaran bumi.
Begitu besar kasih sayang seorang Ayah sampai rela melakukan dan merelakan semua yang dia miliki demi keselamatan keluarganya. Banyak yang Edwin korbankan demi keselamatan mereka. Edwin sampai melepaskan proyek besar yang sedang dia garap pada perusahaan lain yang mampu menanganinya.
Edwin benar-benar ingin menghilangkan jejak, dia tidak mau siapapun menemukan keberadaan mereka dan mengancam keselamatan keluarga yang sangat dia cintai.
“Katakan kenapa Hanna menangis?” Ayman berjongkok di depan Hanna. Dia sudah besar dan bisa di ajak diskusi tentang perasannya. “Paman tidak akan memaksa jika Hanna tidak mau cerita sekarang sayang.” Membelai surai Hanna dengan lembut.
“Hanna boleh katakan apa saja sayang.” Hanna menoleh menatap sendu mata Edwin.
“Benar kata Opah. Apa saja yang Hanna rasakan. Katakan Nak, jangan Hanna pendam sendiri.” Nindi memalingkan wajahnya karena tidak bisa menahan air mata.
“Hanna takut.” Memeluk Ayman dan sedikit terisak.
__ADS_1
“Hanna tahu kan, Paman tidak akan biarkan siapapun mendekati dan menyakiti kita semua. Hanna percaya pada Paman?” Hanna mengangguk masih tidak bisa menahan perasannya.
“Hanna tidak mau bermimpi lagi, Hanna takut.” Ayman menggendong Hanna yang mulai terisak kembali. Ternyata dia di bayang-bayangi rasa takutnya.
“Tenang sayang, kita semua menjaga Hanna yah.” Ayman begitu menyalahkan dirinya yang tidak benar-benar menjaga keluarganya dengan baik. Tapi dirinya tidak menduga akan ada kejadian mengerikan seperti itu terjadi menimpa keluarganya.
Setelah cukup lama, Hanna akhirnya berhasil memejamkan matanya. Ayman membawanya ke kamar agar Hanna bisa beristirahat dengan nyaman.
“Hanna biar tidur bersama saya ya Nin.” Nindi mengangguk setuju.
“Nin, kamu juga istirahat yah. Cucu Omah pasti lelah.” Ellie menggandeng Nindi masuk ke kamarnya.
Nindi membaringkan tubuhnya, perutnya masih sedikit kram namun sudah sedikit berkurang rasa sakitnya. Ellie membuat Nindi membelalakkan matanya, dia ikut berbaring di sebelah Nindi.
“Loh, kenapa Mamah tidur di sini?” Tanya Nindi heran.
“Mau tamani cucu Omah, udah tidur. Ngantuk Nin.” Nindi senang meski Ibu Mertuanya tidak mengatakan dengan manis, namun dia tau kasih sayangnya begitu besar pada dirinya.
Ellie membelai perut Nindi yang sudah mulai sedikit membesar. “Tumbuhlah dengan sehat Nak, kami semua menyayangimu.” Sentuhannya seperti mantra, perut Nindi yang kram tiba-tiba saja membaik, sangat nyaman.
Nindi memeluk tangan Ellie yang selalu membuatnya nyaman. Ada senyum merekah tanpa sepengetahuan Nindi. Ellie menyesal pernah menolaknya, kini dia sendiri yang jatuh hati pada Nindi karena sikapnya yang begitu baik dan penuh kasih sayang.
Ayman masih menatap lekat wajah Putrinya yang terlelap. Edel sampai senyum-senyum sendiri melihat begitu besar Ayman mencintai Hanna.
“Seram sekali jika mataku jatuh sayang. Kau ada-ada saja.” Ayman merebahkan tubuhnya. Memeluk Edel yang menunggunya dengan setia.
“Jangan terlalu menyalahkan dirimu Mas, aku sakit melihat kamu seperti ini.”Ayman tidak sadar telah membuat Edel begitu khawatir.
“Apa aku menyebalkan? Aku tidak akan melakukannya lagi.” Edel menenggelamkan tubuhnya di pelukkan Ayman yang nyaman.
“Terus jadi diri kamu sendiri seperti yang aku kenal. Jangan berubah dan jangan menyalahkan dirimu sendiri terlalu sering. Ingat sekarang kau punya dua anak.” Cerewet Edel yang khawatir pada suaminya.
“Istriku sangat berisik.” Ayman mengeratkan pelukkanya. Karena lelah, mereka terlelap dengan cepat.
Ayman sangat bersyukur bertemu dengan mereka dikehidupannya. Entah bagaimana caranya berterimaksih pada Tuhan akan hadiah yang begitu indah yang dia terima.
Suasana ruang tamu dipenuhi gelak tawa Jason dan Hanna yang sedang asyik bercengkrama. Jason lari kesana kemari mengikuti Hanna yang meledeknya. Nindi baru saja bergabung setelah selesai bersiap-siap untuk pergi kerja.
“Tante...” Peluk Hanna hangat di ikuti Jason yang mengikuti Hanna.
“Aduh...aduh....Keponakan Tante sudah besar-besar yah....” Nindi menciumi pipi Jason dengan gemas.
__ADS_1
“Aku langsung jalan ya Kak, titip Hanna yah.” Nindi pagi ini di antar Ayman yang akan pergi belanja bulanan.
Sepanjang perjalanan Nindi dan Ayman banyak membicarakan kondisi Hanna yang sepertinya butuh terapi. Nindi setuju dengan apapun yang akan Ayman lakukan untuk kebaikan Hanna. Tidak terasa perjalanan 20 menit sudah mereka tempuh, kini Nindi sudah sampai di depan kantor dan segera masuk ke ruangannya.
Nindi segera menyiapkan berkas-berkas yang akan dia bawa ke ruang meeting. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, biasanya pagi mereka di hiasi perdebatan atau cerita-cerita seru tidak bermanfaat. Kali ini berbeda, mereka sibuk karena ada meeting besar terkait tender yang Perusahaan berhasil menangkan baru-baru ini. Mereka harus fokus menyiapkan rancangan dan design yang memuaskaan sesuai permintaan.
“Semua sudah siap?” Tanya Melly dengan tegas.
“Siap Bu.” Jawab semua anggota divisi dengan kompak.
“Kita buktikan kemampuan kita.” Melly berjalan dengan parcaya diri diikuti semua anggota divisi yang ada di bawah kepemimpinanya. Gunar tersenyum sedikit kagum dengan semangat para pegawainya.
Meski Gunar Pemimpin, dia tidak mau ikut campur pekerjaan Melly mengatur anak buahnya. Dia hanya ingin bekerja di Divisi yang sama tanpa mencampur adukkan kewenangannya dengan kewenangan yang Melly miliki.
Meeting cukup panjang, mereka kelelahan sampai kehabisan energi menghadapi rentetean pertanyaan dan masukan. Kini 9 orang sudah duduk di bangku restaurant menunggu menu pesanan mereka datang.
“Aduh kenapa lama sekali datangnya, perutku sangat keroncongan.” Mariska tidak sempat sarapan sampai perutnya terasa perih.
“Sabar Mar, kau ini malu-maluin saja.” Ketus Melly seperti biasa.
“Aku gak sarapan Bu.” Jawabnya pelan.
“Saya bahkan dari semalam tidak makan.” Mariska menggigit ujung jarinya merasa malu. Melly pasti bergadang semalaman membuat presentasi yang sangat menakjubkan.
“Kalian tidak boleh mendahukukan pekerjaan daripada kesehatan kalian. Jangan lakukan hal seperti itu lain kali.” Gunar tidak suka orang yang mengabaikan kesehatannya.
“Maaf Pak.” Jawab Elly dan Mariska sambil menunduk.
Gunar memperhatikan wajah Nindi yang ketakutan dan gelisah, Gunar mencoba mengikuti pandangan Nindi dan mencari tahu apa yang sedang dia lihat. Jauh dari tempat duduk mereka ada laki-laki menggunakan topi, memakain baju serba hitam dan menggunakan masker yang menutup area wajahnya, hanya area mata saja yang nampak terlihat.
Gunar duduk agak jauh dari Nindi segingga agak canggung jika meminta yang lain untuk bergeser. Dia hanya bisa memperhatikan Nindi dari jauh saja.
“Kau melihat bayangan hitam di ujung sana?” Nindi berbisik pada Ken yang duduk di sebelahnya.
“Itu orang duduk Nin, bukan bayangan.” Nindi mengucek matanya. Kenzo menatap lekat wajah laki-laki yang sepertinya tidak asing. “Apa aku mengenalnya? Wajahnya seperti pernah aku lihat.” Mencoba mengingat.
“Benarkah, kau juga bisa melihatnya?” Heran Nindi. “Biasanya bayangan Kak Ivar muncul dan pergi begitu saja. Kenapa kau juga melihatnya?” Kini Ken menatap wajah Nindi yang menahan air matanya.
“Nin, kenapa kau ketakutan? Apa benar dia suami yang selama ini kau tunggu?” Ken meraih tangan Nindi yang sangat dingin. Gunar penasaran dengan percakapan Ken dan Nindi. Mereka bicara sangat lirih.
"Apa itu bukan bayangan?" Ken mengangguk.
__ADS_1
Nindi menangis di pelukkan Ken, dirinya takut laki-laki yang dia lihat hanya bayangan samar yang sama dengan apa yang dia lihat selama ini. Mereka datang dan pergi seperti iklan dalam film yang Nindi lihat, Ken memeluk Nindi dan membelainya lembut. Semua ikut heran dan takut kenapa Nindi tiba-tiba saja menangis di pelukkan Ken.