Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Maaf


__ADS_3

Ivar mengetuk pintu kamar Ellie meminta ijin dirinya membawa Hanna dn Nindi keluar membeli cat air di dekat-dekat rumah.


“Ivar pergi ya Mah.”


“Iya Nak, jangan terlalu malam, kasihan Hanna besok sekolah pagi-pagi.” Ivar mencium pipi Ellie yang sudah siap-siap akan tidur.


“Omah, Hanna pergi yah.” Teriak Hanna dari lantai bawah.


“Iya sayang, jangan pulang malam-malam ingat.” Nindi senang Ellie bersikap begitu baik pada Hanna.


Ivar melihat sekeliling mencari toko-toko yang masih buka dekat-dekat rumahnya. Beberapa kali Ivar turun dari mobil dan tidak ada toko yang menyediakan cat air di sana.


“Sepertinya kita harus ke Mall Nin. Semua toko dekat rumah tidak ada yang menyediakan cat air, toko yang sering aku datangi membeli peralatan tutup karena ini memang hari libur.”


“Maaf ya Paman, aku jadi merepotkan.” Wajah Hanna terlihat murung.


“Tidak sayang, Paman senang bisa membantu Hanna.” Ivar membelai kepala Hanna dan menciumnya. Dia sangat dewasa dalam bersikap. “Bagaimana kalau kita dengarkan lagu kesukaan Hanna?” Hanna mengangguk, senyum kembali seketika mendengar lagu kesukaannya akan di putar.


Alunan lagu Boy Band Korea kesukaan Hanna menemani perjalanan menuju Mall. Tubuh mereka ikut hanyut mengikuti irama musik yang energik, sesekali ikut melantunkan lirik lagu yang mereka hafal di luar kepala.


Nindi hanya tersenyum melihat Ivar begitu perhatian dan tahu betul harus bagaimana untuk menghibur Hanna. Sudah lama bersama membuat jiwa mereka seolah menyatu seperti layaknya keluarga yang saling mendukung satu sama lain.


Tidak lama mobil memasuki area Mall, cukup sulit mencari tempat parkir karena weekend dan tanggal gajian. Semua banyak yang mengunjungi Mall sekedar berjalan-jalan atau mengajak keluarganya makan bersama melepas penat setelah bekerja dengan penuh semangat di hari-harinya. Parkir Valet bahkan tidak tersedia, Ivar mengelilingi setiap lantai parkir dan akhirnya mobilnya berhasil mendapat tempat di lantai tiga.


Ivar menggendong Hanna menyeberangi padatnya tempat parkir yang berlalu lalang mobil masuk dan keluar area tersebut. Dirinya tidak membiarkan Hanna berjalan di tempat yang berhabaya.


Hanna meminta Ivar menurunkannya setelah memasuki area Mall, dia sadar betul tubuhnya tidak lagi ringan. Ivar membiarkan Hanna berjalan santai bergandengan tangan dengannya dan Nindi. Layaknya keluarga bahagia pada umumnya.


Lama mereka berkeliling mencari toko yang menjual perlengkapan sekolah, area yang cukup jauh dari lantai tiga. Kehadirannya bahkan jauh dari jangkauan mata karena ada di pojokkan mall lantai 2.


Brakkkkk.....


Awwww.......sakitttt....


Suara teriakan tidak jauh dari tempat mereka berada. Ivar merasa sangat mengenal suara yang dia dengar. Tidak hanya dirinya, Nindi sendiri yakin jika itu adalah suara luna.


“Ayo, nanti keburu tutup tokonya.” Ivar memutuskan melanjutkan perjalanan dan tidak menghiraukan perasaannya.


Tapi Nindi bisa melihat dengan jelas kekhawatiran di wajah Ivar. Dia pasti takut Luna dalam bahaya dan butuh bantuannya. Kali ini dirinya harus mengalah, Ivar mungkin tidak enak hati jika meminta ijin padanya memastikan siapa gadis yang membuatnya khawatir itu.


“Kak, aku rasa suara itu adalah Luna. Apa tidak sebaiknya Kak Ivar cek, aku takut dia dalam bahaya.”


“Apa boleh seperti itu?” Nindi mengangguk. “Aku akan segera kembali. Jangan kemana-mana.” Ivar segera berlari menghampiri kerumunan.


“Ayo Han, kita cari cat airnya sambil menunggu Paman.” Nindi menggandeng Hanna memasuki toko yang sudah ada di depan mata.


“Tolong minggir, permisi....tolong ijinkan saya lewat.” Ivar mencoba masuk di dalam kerumunan yang padat.


Benar saja, Luna terduduk memegangi kakinya. “Luna!” Luna tersentak kaget melihat Ivar ada di hadapannya. “Kenapa bisa seperti ini.” Ivar memeluk Luna yang terlihat ketakutan. “Tenang yah, Kak Ivar ada di sini.” Tangis yang Luna tahan pecah, dirinya merasa lega melihat orang yang Luna kenal di tengah kebingungannya.

__ADS_1


Ivar membawa Luna menjauhi kerumunan. Dibantu seseorang yang merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi menuju tempat yang lebih aman.


Staff tersebut menjelaskan dengan detail kenapa Luna bisa tertabrak pegawainya yang sedang mendorong troli supermarket. Mendengar penjelasannya membuat Ivar meminta maaf atas keteledoran yang Luna lakukan. Permasalahan pun bisa selesai dengan damai.


“Aku harus membawamu ke rumah sakit. Takut lukanya berbahaya.” Ivar menelpon Nindi.


“Kak tidak usah, Luna bisa meminta Abi saja datang ke sini.” Luna tidak enak hati, dia juga seorang perempuan. Pasti tidak rela membiarkan laki-laki yang sudah jadi suaminya memperhatikan perempuan lain.


“Tidak apa Nindi bukan perempuan seperti itu, dia pasti mengerti.” Jelas Ivar pada Luna yang sedang menahan sakit di kakinya.


Percakapan telpon


Nindi : Halo Kak


Ivar : Sayang, aku harus membawa Luna ke rumah sakit. Kakinya terluka.


Nindi : Apa lukanya serius?


Ivar : Kakinya berdarah, aku ingin memastikan lukanya berbahaya atau tidak.


Nindi : Iya Kak.


Ivar : Apa kau tidak keberatan pulang bersama Bagas? Aku akan memintanya menunggumu di Lobby.


Nindi : Ok Kak, tidak apa. Aku akan menunggu Pak Bagas datang. Hati-hati Kak.


Ivar : Kau yang hati-hati. Ingat kabari aku jika terjadi sesuatu.


“Paman kemana Tante?” Tanya Hanna ingin tahu.


“Paman harus mengantar Tante Luna ke Dokter.” Jelas Nindi.


“Kita pulangnya bagaimana?” Khawatir karena sudah malam, dan ini karena dirinya yang lupa mengerjakan tugas.


“Tenang Han, nanti Om Bagas menjemput kita.” Hanna kembali memilih cat air yang dia butuhkan.


Dalam perjalanan Ivar menghubungi bagas.


Ivar : Gas, tolong jemput Nindi dan Hanna di Mall Mentari. Mereka sebentar lagi selesai, aku minta mereka menunggumu di lobby.


Bagas : Baik Tuan.


Meski hari sudah malam, Bagas tetap siaga saat Ivar meminta bantuan. Ivar termasuk orang yang jarang sekali meminta bantuan orang lain meski banyak yang membantunya di rumah. Dia terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri. Jika dia meminta bantuan, keadaan pasti sangat mendesak.


Bagas segera mengeluarkan mobil dari bagasi, baru saja akan melaju. Dari dalam rumah terdengar keributan yang membuat Bagas turun dari mobil dan mengecek keadaan rumah.


“Ada apa Non....” Melihat Edel modar-mandir dengan wajahnya yang panik.


“Bagas.” Melihat Bagas Edel seperti menemukan penyelamat. “Cepat ke rumah sakit. Jason demam tinggi.” Ayman tiba-tiba saja ada meeting dengan kliennya yang hanya punya wkatu di hari libur. Ponselnya bahkan tidak bisa Edel hubungi.

__ADS_1


“Baik Non.” Bagas menyambar tas yang ada di atas meja makan. Melajukan mobilnya cukup cepat namun tetap hati-hati menuju rumah sakit yang biasa Edel kunjungi untuk berobat.


“Dokter bagaimana? Apa lukanya berbahaya?” Tanya Ivar pada Dokter yang menangani Luna.


“Untungnya tidak ada pendarahan di dalam. Jadi Nona Luna hanya cukup istirahat beberapa hari agar lukanya tidak inveksi dan cepat kering.”


“Terimakasih banyak Dokter.”


“Iya, sama-sama. Resep obat sudah saya buat, silahkan di tebus di apotik. Saya permisi memeriksa pasien yang sudah menunggu.”


“Baik Dokter.” Ivar menuntun Luna menuju bangku yang tersedia di dekat UGD.


“Tunggu di sini sebentar. Aku ambil obat sebentar.”


“Maaf ya Kak, aku jadi menyusahkanmu.” Luna menyesal namun merasa berterimakasih karena Ivar masih perduli padanya.


“Kau ini seperti orang lain saja. Kak Ivar sudah katakan, Luna itu adik Kak Ivar. Jadi aku akan tetap memperdulikanmu.” Ivar berjalan meninggalkan Luna menebus obat di apotik.


“Tante, mana Om Bagas. Hanna pegal Tante.” Hanna memegangi kakainya yang terasa sakit.


“Sabar ya sayang. Kata Paman Om Bagas tunggu kita di lobby.” Nindi kasihan melihat Hanna yang sudah kelelahan. “Ponsel tante juga mati Han. Maaf yah, sabar ya sayang.” Hanya mengangguk meski wajahnya tidak terlihat baik-baik saja.


Cukup lama Nindi menunggu Bagas yang tidak kunjung datang. Dirinya tidak keberatan jika harus menunggu lama, Nindi hanya tidak tega melihat Hanna yang hanya anak kecil. Dia pasti sangat lelah.


Tin...tin....


Klakson mobil yang asing, Nindi mundur sedikit takut-takut mobil tersebut terganggu karena Nindi menghalangi jalannya. Meski tidak mungkin juga dia menabraknya, dia bisa jalan leluasa di lobby Mall yang cukup besar.


Nindi memperhatikan mobil yang semakin mendekatinya. Apa mobil baru keluarga Ivar. Kaca mobil depan perlahan di turunkan.


“Nin...kau menunggu siapa?” Sapa Gunar yang ternyata si pemilik mobil.


“Kak Gunar, Nindi sedang menunggu Om Bagas. Pegawainya Kak Ivar.” Jelas Nindi.


“Ini sudah malam, aku antar saja. Rumah Ivar searah dengan rumahku.”


“Tidak Kak, aku menunggu sebentar lagi.” Nindi tidak mau Ivar marah dan cemburu lagi pada Gunar.


“Tidak kasihan pada Hanna?” Dia bahkan mengenal Hanna. “Lihat dia pasti sangat lelah. Nanti aku jelaskan pada Ivar.” Nindi menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja berpikir keras.


Memang benar apa yang Gunar katakan, Hanna sangat kasihan. Dia bahkan mengeluhkan kakinya yang pegal. Pasti karena dia juga jalan-jalan seharian tadi. Dia pasti sangat lelah.


“Apa tidak merepotkan Kak?”


“Tidak, kita satu arah. Cepat Naik.” Gunar membantu Hanna naik di bangku depan. Nindi pasti akan menolak jika dirinya meminta Nindi duduk di sebelahnya.


Suasana sangat canggung di dalam mobil. Nindi menghindari Gunar setelah tahu jika Gunar pernah menyimpan rasa suka pada dirinya. Terlebih lagi Ivar sangat tidak suka saat ada pria lain memperhatikannya.


“Kenapa wajahmu seperti orang ketakutan? Apa Ivar akan sangat marah?” Tanya Gunar penasaran.

__ADS_1


“Tetu saja tidak. Kak Ivar buka type orang seperti itu Kak. Aku hanya khawatir karena Kak Ivar masih belum memberikan kabar.” Nindi menunduk menghindari kontak mata dengan gunar.


“Bagas!!!” Teriak Ivar yang melihat bagas ada di apotik. “Kenapa kau di sini?” Bagas baru menyadari kesalahannya. Dia mengabaikan perintah karena ikut panik melihat Edel begitu kebingungan.


__ADS_2