
Prabu mendengarkan saja ratapan Putrinya yang meminta belas kasihan. Sebenarnya dia memang tidak pernah tega menghukum Luna, dia gadis yang cukup baik untuk jadi Putrinya. Sesekali Luna membuat masalah dan membuatnya pusing, tapi hanya kenakalan wajar yang biasa seorang remaja lakukan.
“Ayah! Kenapa diam saja? Apa Ayah benar-benar marah padaku? Aku minta maaf, ini salahku. Abi tidak bersalah.” Luna takut Abi dipecat seperti ajudan-ajudan sebelumnya yang menemani Ayu. Abi sangat baik, dia jarang sekali mengadukan perbuatan Luna pada Ayahnya. Apa jadinya jika dia harus berganti Ajudan lagi.
Mata tajam Prabu tidak berkedip menatap bergantian wajah Luna dan Abi. “Ayah lihat-lihat kalian seperti pasangan kekasih.”
“Ayah, bicara sembarangan.” Luna membantah tuduhan Ayahnya.
“Buktinya kalian saling melindungi satu sama lain. Ck..ck..ckkk.” Prabu derdecak heran pada keduanya.
“Tidak Tuan, saya tidak akan berani punya perasaan seperti itu pada Nona.” Abi juga membantah seperti Luna.
“Ayah, apa kau salah minum obat?” Luna memegang kening Prabu dan menyamakannya dengan panas di keningnya. “Kau sudah tidak waras ternyata Yah. Pantas Ayah bicara tidak normal.” Dwi yang mengintip dari atas tertawa. Mereka memang pasangan komedi yang cocok.
Prabu mengulangi, memegangi keningnya sendiri lalu memegang kening Luna.
“Walah...walah...Ternyata Putriku sama gilanya denganku. Hahahaha.....”
“Ayah!!!!!!!” Luna memukul lengan Ayahnya yang selalu saja menggodanya. “Aku kesakitan, aku bahkan sendirian tidak ada Abi. Ta...tapi itu salahku. Jangan menertawakanku atau aku akan menangis lagi seperti tadi.” Ancam Luna pada Ayahnya yang jahil.
“Menangis kok ijin dulu, Luna pikir ini tempat konser butuh surat ijin setempat.” Luna merengut Prabu masih saja tidak berhenti menggodanya. “Perhatian! Perhatian! Dimohon untuk menundukkan kepala, saudara Luna akan segera menangis. Hahahaha....”
“Ayah!!!! Mah...Mamah lihat Ayah. Dia tidak punya simpati sedikitpun melihatku terluka begini.” Dwi akhirnya ketahuan juga mengintip dari lantai atas.
“Hahahaha.....kau tahu Mamah ada di sini Nak?” Dwi menuruni anak tangga.
“Tentu saja, bayangan Mamah muncul dari cermin sangat jelas.” Dwi menutup mulutnya yang menahan tawa. Ternyata dia juga sama bobroknya dengan kedua orang ini.
“Mana coba Mamah lihat lukanya? Kenapa bisa sampai dijahit? Apa lukanya besar Nak?” Luna mengangguk. Kakinya terasa sangat perih karena obat bius yang di suntikkan di kaki sudah mulai hilang efeknya.
“Untung saja tadi ada Kak Ivar. Kak Ivar yang bawa Luna ke Rumah Sakit.” Abi kaget mendengar ada Ivar disana. Apa Luna sengaja membahayakan dirinya demi mendapat perhatian Ivar?
“Apa Dokter sudah memastikan lukanya tidak berbahaya? Apa perlu Mamah panggil Pak Brasko untuk memeriksa lagi Nak?” Dwi khawatir karena Luna sampai harus mendapat jahitan di lukanya.
“Tidak Mah, kata Dokter lukanya tidak berbahaya. Istirahat saja beberapa hari sudah bisa sembuh.” Luna mencoba menjelaskan jika semua orang tidak perlu khawatir.
“Ivar bisa-bisanya menolong kamu? Nanti ada yang baper, dikira Ivar suka lagi sama Luna.” Goda Prabu karena Putrinya suka keganjenan saat Ivar perhatian padanya.
“Tentu saja tidak, aku malah gak enak karena Kak Ivar malah meninggalkan Kak Nindi di Mall karena harus mengantarku ke Rumah Sakit.”
“Punya juga ternyata anak Ayah ini perasaan tidak enak hati.”
“Sudah sudah, Ayah ini tidak bisa sebentar saja tidak menggoda Putrinya. Abi, kau sudah boleh istirahat Bi. Maafkan Luna ya Bi.” Dwi tidak tega melihat Abi berdiri tegak cukup lama menyaksikan lawakan dua bosnya yang gendeng.
“Siap Nyonya, saya mohon ijin.” Abi lega, kakinya juga sudah kesemutan berdiri cukup lama.
“Eh....eh...Nyonya Dwi ini, aku belum selesai. Abi belum mendapat hukuman apapun karena keteledorannya.” Prabu memang suka sekali iseng.
__ADS_1
“Siap Tuan.” Abi kembali dengan posisi siap siaganya.
“Kenapa di hukum, kan aku suah katakan. Ini semua kesalahanku Ayah! Abi tidak bersalah.” Luna memegangi tangan Ayahnya agar luluh.
“Tidak mempan. Abi besok harus memotong rumput halaman depan dan belakang, mencuci semua mobil, mengecat tembok dengan warna abu-abu kombinasi dengan warna biru langit. Pikirkan supaya rumahku terlihat segar.”
“Siap! Saya kerjakan sendiri Tuan?” Abi bingung harus mulai dari mana pekerjaan sebanyak itu. Belum mengerjakannya saja tubunya sudah terasa linu.
“Kau mau meminta Luna meembantumu? Seharusnya kalian kerjakan berdua, tapi lihat kakinya diperban.” Abi menelan salivanya yang memenuhi mulutnya.
“Ayah....apa tidak bisa dikurangi hukumannya? Jangan sebanyak itu, kasihan Abi.” Nadanya sangat lembut dan pelan. “Lihat Abi, dia kan sudah menjagaku dengan baik Ayah. Aku yang bersalah Ayah.” Prabu tersenyum tidak percaya.
“Apa kau mau jika hukumannya aku pindahkan padamu?” Luna mengangguk, Ayahnya pasti tidak akan menghukumnya dengan hukuman yang berat.
“Kartu Credit Ayah tarik selama satu bulan.”
“Ayah...apa tidak ada yang lebih ringan. Aku jajan pakai apa kalau tidak ada kartu credit?” Luna bingung, tapi dia harus bertanggung jawab dengan perbuatannya.
“Pilihan ada di tangan Luna. Cepat Ayah tidak mau menunggu lama.” Prabu mulai menghitung dari angka 10.
Aduh bagaimana ini! Aku mana bisa hidup tanpa kartu idolaku. Bagaimana aku bisa jajan dan belanja kalau kartu creditku di tarik. Luna dilema, apa yang harus aku lakukan......
“Tiga...dua...sa....”
“OK!!!!!” Teriak Luna dengan penuh percaya diri. Luna mengeluarkan dompetnya.
“Iya...” Luna masih menahan kartu creditnya, tidak rela melepaskan. “Lepaskan, atau Ayah gunting supaya tidak bisa kembali selamanya?”
Sponta Luna langsung melepaskan kartunya. “Jangan Ayah, aku hanya ingin pegang lebih lama saja. Ayah ini, pelit sekali.” Tertawa perih.
“Ya sudah, Abi! Kau bebas dari hukuman. Kau harus berterimakasih pada Luna karena sudah menyelamatkanmu.”
“Siap! Baik Tuan. Terimakasih Nona, saya tidak akan pernah melupakan pertolongan Nona hari ini.” Abi mengucapkan rasa terimakasih dengan tulus.
“Ok..Ok...mulai besok aku akan jadi gadis miskin sementara. Hahahhaa....” Luna menertawakan dirinya sendiri tidak jelas.
“Kau ini, sudah Yah. Biarkan Luna dan Abi istirahat, kasihan mereka. Pasti mereka sangat lelah.” Luna memeluk Dwi yang sangat menyayanginya. Apapun yang Luna lakukan tidak pernah membuat dirinya marah. Luna bahkan tidak pernah sekalipun melihat Ibunya marah pada siapapun. Tidak seperti dirinya yang sangat hobi memarahi orang lain.
“Abi? Apa kau sudah makan malam?”
“Siap Nyonya, sudah tadi.” Jawab Abi yang sungkan dengan Dwi yang sangat baik padanya.
“Kalau begitu sekarang istirahat, karena Luna sakit, Abi boleh libur selama dua hari.” Prabu menoel-noel lengan istrinya yang tidak perduli. “Tidak apa Abi, kau sudah sangat perduli pada Luna. Libur saja, cari kegiatan bersama teman Abi yang ada di Jakarta.”
Abi menatap Prabu yang akhirnya juga mengangguk memperbolehkannya libur.
“Siap! Terimakasih banyak atas hari liburnya Nyonya.” Dwi senang saat melihat jiwa-jiwa muda yang penuh semangat seperti Abi, tidak bermalas-malasan dan penuh perjuangan untuk jadi manusia yang lebih baik dan berguna.
__ADS_1
“Sini Ayah gendong ke kamar.” Prabu menunduk Agar Luna mudah naik ke punggungnya. “Apa Ivar juga menggendongmu tadi?” Luna mengangguk. “Dia masih tidak berubah, masih sama baiknya seperti dulu.”
“Tapi Luna harus ingat untuk tidak mengharapkan laki-laki yang sudah punya pasangan. Bagaimanapun ada perasaan seorang wanita yang harus Ivar jaga. Jangan sampai hati istrinya terluka.” Dwi yang berjalan di belakangnya juga ikut menanggapi.
“Iya Mah.”
“Ingat untuk selalu menjadi orang yang baik. Kelak perbuatan baik Luna akan berbalik padamu.”
“Kau dengar Putri Ayah yang paling nakal?” Prabu gemas mencubit hidung Luna yang sudah mendarat di kasurnya.
Luna megangguk memeluk kedua orang tuanya yang sangat perduli padanya. Meski dirinya mendapat hukuman, Luna tidak berkecil hati. Dia selalu punya banyak cara menghadapi masalah hidupnya.
“Sekarang Luna istirahat. Kalau ada apa-apa telpon Mamah atau Ayah! Ok!”
“Siap Komandan.”
Dwi menutup pintu kamar Luna, sebenarnya ingin sekali menemani Luna malam ini. Tapi yang ada suaminya pasti mengikutinya, nanti Luna malah tidak bisa istirahat.
“Ayo kita juga istirahat.” Prabu menggadeng tangan Dwi.
“Apa Luna baik-baik saja jika terus berhubungan dengan Ivar? Aku takut perasaannya akan tumbuh kembali. Sulit melupakan laki-laki sebaik Ivar.”
“Luna pasti tidak punya pikiran sejahat itu Mah, lihat siapa orang tuanya. Dia punya sifat baikmu.” Prabu mencoba menangkan istrinya.
“Terkadang kita merasa Luna baik-baik saja. Tapi belum tentu dia seperti itu. Kau lihat wajahnya? Dia masih terpukul jika menyangkut Ivar.”
“Sudah jangan terlalu dipikirkan, kau bisa sakit memikirkan masalah percintaan Luna. Lagian Ivar sudah menikah, Luna juga sudah ikhlas melepas Ivar.”
“Kau saja dulu sangat sulit melepas mantanmu yang keganjenan. Aku sampai melabraknya karena masih saja mengirimimu pesan manis, dia tidak tahu aku yang memegang ponselmu.” Dwi geram dengan gadis tidak tahu diri yang mengejar-ngejar Prabu.
“Loh...loh, kenapa jadi nyambung ke masa lalu Mah. Kan kita sedang membahas masalah Luna.” Heran sekali.
“Ya bukannya membahas masa lalu, kau juga pernah ada di posisi Ivar. Jadi bisa saja Ivar juga memberi harapan palsu yang membuat Luna tidak bisa lepas darinya.” Dwi masih tidak mau mengalah dengan pemikirannya.
“Apa ini bisa jadi ada hubungannya dengan masa laluku? Apa ini yang namanya hukum karma? Apa aku sejahat itu pada mantanku?”
Plakkkk....
Dwi menepak tangan suaminya yang berpikir berlebihan. “Mana ada hukum karma, ini kebetulan saja kasusnya sedikit mirip Yah. Tidak ada hukum karma.”
“Yah.....siapa tahu saja Luna ada di posisi seperti sekarang ini karena perbatanku dulu. Kalau benar seperti itu aku sangat menyesal.”
“Menyesal melepaskan mantan pacarmu?”
“Buka....mana ada. Kau lah yang aku cintai seorang. Aku hanya menyesal punya mantan yang tidak bisa move on dariku.”
“Eleh....eleh....sok bahasa Inggis Ayah ini. Pokonya tidak ada yang namnaya karma. Anggap saja Luna sedang belajar menghadapi kenyataan hidup yang tidak akan selalu bahagia. Adakalanya hidup perih seperti yang saat ini dia alami, dia harus siap sebelum benar-benar masuk dalam kehidupan yang sebenarnya.”
__ADS_1