
Nindi dibantu Bu Surtini dan Bu Ira mempersiapkan makanan yang akan dia hidangkan sore ini. ivar akan membawa keluarganya datang untuk melamar Nindi secara resmi. Hanna tentu saja mengajak anak-anak lain bermain agar tidak menganggu ibu-ibu yang mempersiapkan makanan.
“Selamat ya Mbak Nindi, tau-tau mau nikah saja nih.” Celetuk Ibu Ira sambil mengaduk capcay yang sedikit lagi matang. Nindi hanya tersenyum menanggapinya.
“Pasti nanti Mas Ivar membawa Mbak Nindi pindah dari sini yah, sepi dong warung saya.” Kebiasaan Ivar memborong makanan untuk di bagikan menjadikan warung Bu Surtini selalu banjir rejeki.
“Nindi juga belum tau Bu, kan belum pasti juga maksud dan tujuan Kak Ivar datang hari ini apa.” Nindi merendahkan suaranya, dari yang dia dengar. Ibu Kak Ivar masih belum mau menerima Nindi yang tidak jelas asal-usulnya.
“Ya sudah pasti melamar dong Mbak, Mas Ivar suka nitip-nitip Hanna sama orang-orang sini. Bantu jagain ya Bu….tolong info kalau Hanna sendirian di rumah ya Bu.” Bu Surtini mengingat betapa perhatiannya Ivar pada Hanna.
“Minta do’a yang terbaik ya Bu, semoga Nindi berjodoh dengan Kak Ivar.” Bu Ira memeluk Nindi sebentar sambil melepas senyum bahagia.
Makanan sudah siap dihidangkan, tinggal menunggu tamu yang saat ini dalam perjalanan. Nindi berdandan sedikit, memoles wajahnya agar terlihat segar. Gaun terindah yang Nindi miliki sudah terpasang apik membalut tubuhnya yang ramping. Hanna mengenakan gaun senada dengan Nindi, warna Peach.
Bu Ira merapihkan rambut Nindi agar sempurna. “Kau cantik sekali Nin.” Meski hanya beberapa kali bertemu, Ira sangat menyayangi Nindi. Dulu Aruni sangat baik pada dirinya dan Lula, dia sahabat yang begitu perhatian.
“Apa aku pantas ya Bu bersanding dengan Kak Ivar?” Selama ini Ira sering mendengar curhatan Nindi yang sering bimbang.
“Tentu saja, kau sangat cantik, kau baik hati.” Ira menggenggam tangan Nindi.
“Percaya saja pada Nak Ivar, dia sangat menyayangimu dan Hanna. Dia tulus, aku bisa melihat dari caranya memperlakukan Hanna selama ini.” Nindi jadi sedikit lega mendengarnya.
“Neng…neng….Rombongan besan sudah datang.” Nindi jadi tegang, hanya sekali dirinya bertemu Ellie dan Edwin. Ivar terlalu sibuk belakangan ini. dia belum terlalu mengenal keluarga Ivar kecuali Edel yang menjadi BOS di tempatnya bekerja.
“Selamat sore.” Edwin mengulurkan tangan meraih tangan Nindi, mencium kening calon menantunya agar terasa lebih akrab. “Jangan tegang Nak, santai saja santai.” Edwin menuntun Nindi masuk ke dalam. Rombongan lain mengikuti dibelakang.
Ellie masih belum sepenuhnya merelakan Luna dan menggantikan Nindi di hatinya. Nindi masih belum meraih cintanya. Tapi Ellie berusaha tidak memperlihatkannya, dia tidak ingin Nindi terluka. Dia masih punya belas kasihan mendengar kisah hidup Nindi yang dipenuhi penderitaan.
“Nindi sangat cantik.” Edel suka gaun buatannya di pakai. Tidak ada yang tau Edel sangat perhatian pada Nindi, dia meminta Nindi merahasiakannya.
“Tentu saja, dia calon istriku.” Ivar tidak malu gombal di depan banyak orang.
Huuuuhhhh…..
Semua orang bersorak melihat Ivar begitu terbuka tentang perasaannya. Dia tipe yang jarang bicara yang tidak penting biasanya, tapi ternyata dia bisa juga bersikap seperti manusia normal pada umumnya.
Ada senyum terpaksa dari bibir Ellie yang benar-benar masih tidak bisa menyukai Nindi seperti yang semua orang lakukan. Edwin menggenggam tangan istrinya agar tetap kuat demi putra kesayanganya.
“Kau juga sangat cantik.” Bisik Edwin di telinga Ellie membuat pipinya merona.
“Terimakasih sudah mau berusaha.” Ellie mengangguk, mencoba tersenyum dengan tulus agar hatinya lebih tenang.
“Papah langsung saja ya Nak.” Ivar mengangguk. “Jadi Nak Nindi, putra Papah meminta dirimu untuk jadi istrinya. Kamu mau menerima Ivar yang punya banyak kekurangan? Pekerjaannya yang tidak biasa dan tentu saja kami semua sebagai keluargamu nanti?” Mata Nindi berkaca-kaca. Suasana penuh haru seketika.
__ADS_1
“Papah tau sekarang Nindi hidup seorang diri bersama Gadis cilik yang sangat cantik dan pintar. Kami juga akan berusaha menerima kalian, memenuhi rumah kita nanti dengan tawa kebahagiaan.” Nindi tidak bisa berkata-kata, hanya menjawab dengan anggukan kepala. Air matanya deras membasahi wajahnya yang cantik.
Ira memeluk Nindi penuh rasa haru, dia pasti sangat bahagia ada keluarga yang begitu terpandang mau menerima dirinya dan Hanna.
“Aku ingin memeluknya.” Edel tidak tega melihat tangis Nindi yang semakin dalam. Nindi semakin hanyut di pelukkan Edel. Air mata kebahagiaan yang tidak bisa Nindi tahan.
Ivar dari kejauhan melihat Nindi yang begitu pilu dengan tangisnya. Dia punya hati yang sangat lembut, kedepan Ivar berjanji akan menjadi suami yang baik dan memenuhi segala kebutuhan Nindi lahir dan bathin.
Hanna hanya bisa memeluk tangan Nindi yang tidak dia lepaskan dari pelukkannya. Sesekali Ivar tersenyum manis pada Hanna yang juga tersenyum padanya. Mata gadis kecil yang menghipnotis Ivar sampai dia jatuh hati dan tidak bisa berpaling sedikitpun.
Pertemua di akhiri dengan acara makan bersama, semua tampak menikmati makanan sederhana hasil duet antara Ira dan Surtini yang mengerahkan segala kemampuan memasaknya semaksimal mungkin. Tidak sia-sia, semua makanan di elu-elukan oleh para tamu yang hadir membuat Ira dan Surtini kegirangan.
“Setelah ini aku akan membawa Nindi dan Hanna keluar dari perumahan ini. kami berterimakasih sama Ibu-Ibu yang baik hati, terimakasih sudah menjadi tetangga yang baik untuk mereka.” Ivar menatap Nindi yang tersenyum manis padanya.
“Nak Ivar jangan sungkan. Kita juga sayang sama Hanna dan Nindi kok Nak.” Surtini memang selama ini tulus membantu Nindi menjaga Hanna saat dia harus lembur.
Selesai acara Ivar tidak ikut pulang bersama keluarganya, dia mengajak Hanna dan Nindi jalan-jalan ke taman dekat tempat kosan Nindi. Di sana banyak jajanan kesukaan Hanna.
Hari ini wajah Hanna berseri-seri penuh kebahagiaan. Melihat Nindi bahagia Hanna ikut merasakannya, meski dirinya tidak begitu paham bagaimana perasaan dua pasangan kekasih yang barus saja bersatu dalam ikatan pertunangan.
“Paman, aku ingin makan kentang goreng.” Hanna menunjuk gerobak kentang spiral yang sudah cukup membumi.
Ivar menuruti semua permintaan Hanna hari ini, biasanya dia akan pilih-pilih makanan yang boleh dan tidak boleh Hanna makan. Hanna menggunakan kesempatan ini meminta semua makanan yang dia inginkan tapi selalu Ivar tolak memberikannya.
“Ahhh….Ok Tante Nin.” Nindi tersenyum melihat tingkah konyol Hanna yang melenggang dengan makanan di kedua tangannya menuju meja kosong yang masih tersedia.
“Biarkan saja sayang, ini harinya Hanna.” Ivar membuat bulu kuduk Nindi merinding dengan panggilannya barusan.
“Paman….Tante…cepat kesini. Nanti ada yang datang lagi.”
“Iya Han.” Nindi segera lari menghindari tatapan tajam mata Ivar yang mematikan. Tentu saja Ivar tau Nindi sedang menghindarinya.
“Hanna, apa kau keberatan jika harus pindah sekolah?” Hanna tidak manjawab, dia hanya menatap Nindi dengan penuh tanda Tanya.
“Apa tidak sebaiknya sampai lulus saja Hanna lanjutkan di sekolah yang sekarang Kak? Mas Cakra juga sudah membayarkan biaya sekolah Hanna sampai dia selesai.”
“Tidak apa juga, aku hanya ingin Hanna sekolah di sekolah terbaik saja.” Ivar hanya menggoda saja ternyata.
“Aku tidak ingin pindah, tapi kalau pindah juga tidak jadi masalah.” Jawab Hanna tanpa berpikir panjang.
“Hanna dan aku memang bagaimana baiknya saja Kak. Tapi kalau boleh biarkan Hanna sampai lulus ya Kak. Kasihan kalau dia harus pindah.” Ivar mengangguk mengiyakan permintaan Nindi.
Ivar melihat masih ada keraguan di hati Nindi. Tatapan matanya tidak bisa membohongi kekhawatirannya. “Apa masih ada yang kau pikirkan?”
__ADS_1
“Aku takut menanyakannya.” Nindi menunduk takut menatap Ivar.
“Katakan, aku mau sebelum kita menikah semua keraguan dalam hatimu tidak ada lagi.” Ivar memangku Hanna yang sudah kelelahan dan kekenyangan. Matanya sudah mengerjap berkali-kali menahan kantuk.
“Aku hanya merasa Ibu Kak Ivar masih belum menyukaiku. Atau…i..itu hanya perasaanku saja.” Nindi sampai tergagap, jantungnya berdegup kencang. Takut-takut Ivar tersinggung dengan perasaannya yang tidak berdasar.
“Kau masih takut saja denganku. Dengar sayang, mulai saat ini kau harus terbuka dengan segala macam kegundahanmu.” Nindi menunduk saja tidak berani menatap mata Ivar. “Mamah mungkin bersikap dingin padamu, tapi dia sangat lembut. Dia mirip sekali denganmu. Jadi, apa aku boleh memintamu lebih sabar menghadapinya?”
“Tentu Kak, aku akan mencoba lebih dekat dengan Ibu Kak Ivar.”
“Panggil dia Mamah, dia juga Mamahmu mulai sekarang.” Ivar menghela nafas panjang. Memang tidak bisa dipungkiri Ibunya masih bersikeras menjodohkannya dengan Luna. Meski jelas-jelas Ivar sudah tidak bisa lagi mengikuti permintaan Ellie.
“Kita pulang yah, Hanna sepertinya sangat lelah.” Ivar mencium kening Hanna yang tertidur pulas di pelukkannya.
“Kau tau alasanku mengejarmu?” Nindi yang sudah mau berdiri duduk kembali.
“Aku juga jatuh cinta padanya. Dia seolah memintaku mencintainya dengan tulus.” Nindi senang mendengarnya.
“Apa yang membuat Kak Ivar jatuh hati pada Hanna?” Nindi sendiri sangat menyayangi Hanna, dia sangat pandai mencuri hati orang agar jatuh hati padanya.
Ivar menggeleng, tidak ada jawaban yang bisa dia gambarkan dengan perasaannya pada Hanna. “Aku tidak bisa menjelaskannya, apa kau bisa menjelaskannya padaku?”
“Aku tidak tau. Ayo Kak kita pulang, aku juga sangat lelah.”
“Nindi…..” Sapa teman kuliah Nindi yang melihatnya.
“Hey…Kak Gunar.” Sapa Nindi balik. “Apa kabar Kak?”
Gunardi Putratama teman yang selalu membantu Nindi saat dirinya kesulitan, dia menganggap Nindi special karena selama ini Nindi tidak pernah terlihat jalan bersama laki-laki, berbeda dengan yang dia lihat hari ini.
“Aku baik Nin, kamu apa kabar? Setelah lulus kau benar-benar tidak terlihat jejaknya.” Percakapan yang di awasi mata tajam Ivar.
“Hmmmm….hmmmmm….” Ivar batuk menyadarkan Nindi.
“Ahhh, Kak ini Kak Ivar.” Nindi mengenalkan Ivar pada Gunar.
“Kenalkan! Ivar, TUNANGAN Nindi.” Penuh penekanan.
“Ohhhh….tunangan kamu Nin? Gunar, aku kira kau masih sendiri.” Ivar menahan diri agar tidak terpancing. Anak muda memang suka tidak memikirkan perasaan orang lain saat bicara.
“I…iya Kak. Maaf ya kak aku duluan, sudah malam juga.” Pamit Nindi melihat reaksi Ivar yang terdengar tidak suka.
“Iya Nin, hati-hati yah.” Gunar mundur teratur meninggalkan Nindi. Tinggal Nindi dengan segala kekhawatirannya.
__ADS_1
Berjalan perlahan tanpa bicara sepatah katapun. Ivar masih dengan sikap yang tidak bersahabat dimata Nindi. “Nindi aku tidak suka kau terlalu dekat dengan teman laki-laki.” Nindi mengangguk, benar saja. Kak Ivar marah padanya. Jika begini Nindi memilih diam daripada menambah rumit masalah.