
Luna dengan setia menunggu Abi yang masih belum juga siuman. Selesai operasi Abi mengalami beberapa masalah sampai dia dinyatakan koma oleh dokter yang menaganinya. Hanya keajaiban yang bisa membawa Abi kembali pada kesadaran.
Selama 3 bulan lebih, Luna memutuskan kuliah secara onlie agar bisa fokus mengurus Abi yang membutuhkannya. Meski ada keluarganya, Luna tetap ingin menemani Abi dan merawatnya sendiri. Luna begitu takut kehilangan Abi. Dia menyadari rasa cintanya pada Abi yang begitu besar.
“Nak....” Luna menoleh menatap wajah Ibu Abi yang sangat ramah. “Ibu masak makanan kesukaan Abi, cobalah sedikit Nak. Kau tidak makan apapun sejak datang pagi tadi.”
‘Iya Bi, terimakasih banyak.” Luna mencicipi masakan yang sangat lezat. Pantas saja Abi sering merindukan masakan Ibunya.
“Abi kecil dulu anak yang sangat pendiam, setelah bertemu denganmu dia banyak bicara dan cerewet. Dia menceritakan apa saja yang kalian lakukan bersama. Dia sepertinya sangat suka bekerja dengan Tuan Prabu. Terutama saat menjaga anak gadisnya.” Ceritanya sambil tersenyum mengingat paras Putranya yang begitu bahagia.
“Maaf karena Abi terluka saat menjagaku Bi. Aku membuatnya tidak berdaya seperti ini.” Tangis Luna pecah, dirinya menangis menutup wajahnya merasa tidak pantas menjadi orang yang Abi sayangi.
“Abi akan lebih menderita jika tidak bisa melindungi kamu Nak, dia pasti bahagia bisa menjagamu tetap aman saat bersamanya.” Ibu Abi memeluk Luna dengan hangat, semua yang terjadi bukan kesalahan Luna. Abi terluka karena dia menjalankan tugasnya dengan baik.
Tubuh Luna yang kurus semakin kurus, nafsu makannya hilang memikirkan bagaimana kondisi Abi kedepan. Dia sangat ingin melihat Abi sembuh dan kembali menjaganya. Prabu tidak bisa berbuat banyak, segala macam cara sudah dia lakukan untuk membantu kesembuhan Abi namun belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Ditambah Prabu disibukkan mengurus masalah Ivar yang di tahan oleh Permadi.
Kesedihan Luna terbayar sudah, Abi mendengar isak tangis Luna yang begitu penuh kesakitan. Ingin mendekapnya namun tangannya begitu sulit di gerakkan.
Luna sedikit tersentak merasakan ujung bajunya tertarik, dia menatap dengan penuh sendu tangan yang menarik ujung bajunya. Luna menumpahkan segala rasa terimakasih melihat Abi akhirnya membuka matanya.
“Abi.....Bi....Abi...” Luna benar-benar kehilangan kata-katanya, hanya menyebut nama Abi sambil terisak penuh rasa syukur.
Abi membuka kedua tangannya, berharap Luna mau memeluknya melepas rasa rindu yang begitu besar.
“Kenapa kau sangat lama bangun Bi, kau sengaja ya Bi!” Luna sedikit memukul dada Abi kesal namun bahagia.
Abi hanya tersenyum, di belakang Luna berdiri sosok perempuan yang sangat Abi sayangi. Senyumnya merekah membuat Abi tidak bisa menahan air matanya.
“I..Ibu...” Luna melepaskan pelukkannya. Menarik tangan Ibu Abi agar mendekat pada Abi. Hanya suara tangis yang terdengar, keduanya tinggal begitu berjauhan dan tidak bisa bertemu setiap saat.
Kini kerinduan mereka lepaskan lewat pelukkan hangat yang mampu menggugurkan kesedihan dan kekhawatiran.
Dokter masuk membuat Ibu dan Abi melepaskan pelukkan mereka, senyum Dokter yang begitu damai melihat Abi berhasil melawan dirinya sendiri dan berhasil siuman.
Dokter memeriksa seluruh anggota tubuh Abi, menggerakkan tangan kakinya kiri dan kanan. Memastikan semua anggota tubuh berfungsi dengan baik. Dokter kembali tersenyum menatap Abi.
“Setelah ini jangan lagi membuat gadis cantikku menangis. Ok Abi!” Abi memberi hormat sebisanya. Dokter yang memeriksa Abi adalah atasannya. Dia mengenal baik Abi dan Prabu karena sudah lama bekerja di bidang yang sama, dan sering ditugaskan di proyek dan kasus yang sama.
Abi memandangi wajah Luna yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Meski dia tersenyum, Abi sangat tahu Luna begitu tersiksa.
__ADS_1
“Kau butuh sesuatu?” Tanya Luna yang melihat Abi menatapnya lekat. Abi menggeleng. “Kau harus banyak istirahat, setelah pulih kau harus menjagaku lagi. Aku akan membuat kerusuhan seperti biasa.” Luna menghindari tatapan Abi yang membuatnya canggung.
“Kau terlihat kurus Lun, kau pasti tersiksa menahan rindumu padaku kan?” Goda Abi membuat pipi Luna merona.
Luna mendekat dan mencubit tangan Abi dengan keras. “Awwww......” Teriaknya membuat Ibu Abi meringis dan tertawa.
“Dimana Tuan Prabu Lun?” Luna menatap Abi yang mulai bisa bicara dengan jelas.
“Ayah sedang melakukan misi, sudah beberapa hari dia tidak pulang.” Jelasnya tanpa menutupi apapun. Luna memang tidak pernah menanyakan misi apa yang sedang Ayahnya kerjakan. Pekerjaannya memang selalu beresiko.
Abi mulai menerawang dan mengingat kejadian yang membahayakan nyawa Luna, dirinya khawatir misi yang Prabu selesaikan ada hubungannya dengan peristiwa penembakan.
***
Anak buah Prabu yang ditugaskan menjemput Malik dan anggotanya berhasil, kini mereka sudah kembali dan Prabu amankan di markas besar. Di sana aman, tidak akan ada yang menyangkan Malik dan anggotanya bersembunyi di markas besar.
“Paman...” Ivar memeluk haru Prabu yang menunggunya kembali.
“Kau baik-baik saja?” Prabu memeriksa sekujur tubuh Ivar.
“Aku baik-baik saja Paman, tolong segera selesaikan semua ini. Aku muak! Aku ingin segera pulang Paman.” Ivar sedikit terisak. Dia merindukan orang-orang terkasihnya.
Malam ini Prabu akan melakukan pemberkasan atas segala kasus dan pekerjaan ilegal yang Permadi lakukan beserta beberapa Jendral lain yang juga terlibat. Prabu tidak mau gegabah dan kehilangan satu atau dua orang yang pantas mendapat ganjaran atas perbuatannya.
Penjagaan Prabu perketat, Permadi tidak bisa menjangkau sedikitpun pergerakan Prabu yang begitu rapih.
Permadi di sibukkan pencarian Ivar dan anggotanya yang berhasil kabur, dia lengah dengan Prabu yang mengincarnya saat ini. Permadi menembak mati beberapa anak buahnya karena kesal. Dia memang tidak segan-segan melakukan kekerasan jika pekerjaan tidak sesuai dengan keinginannya.
Kini Permadi meminta beberapa anak buahnya terbang ke Korea, mencari keberadaan Edwin dan kleuarganya yang menjadi kelemahan Ivar. Permadi sudah kehilangan cara, dia benar-benar tahu Ivar sulit ditaklukkan.
Sepanjang malam Ivar tidak bisa memejamkan matanya, dirinya terus mengingat video Nindi yang Permadi perlihatkan padanya. Mengingat pipi Nindi yang sedikit berisi dan tubuhnya yang sedikit gemuk. Ivar benar-benar rindu.
“Kau tidak tidur?” Ariel merasa terganggu karena Ivar terus bolak balik tidak bisa diam di kasur yang sama. “Sudah hampir subuh ternyata.” Ariel memutuskan turun dari kasur dan menghirup udara segar lewat jendela.
“Aku akan menemui Nindi, aku tidak tahan.” Ariel mengejar Ivar dan menahannya. “Tolong Ril, aku sangat ingin bertemu dengannya.”
“Jangan sekarang, tunggu Pak Prabu memberikan ijinnya. Kita jangan merusak rencananya Var. Jangan sia-siakan pekerjaan berat kita 3 bulan ini.” Ivar memeluk Ariel dengan perasann hancurnya. Dia benar-benar tidak bisa lagi membendung kerinduannya.
Disisi lain, kini Prabu berhasil membekuk Permadi di pulau terpencilnya dan menyeret semua jenderal dan anak buah yang terlibat pekerjaan kotor bersama Permadi. Prestasi besar yang resikonya juga begitu besar, kini Permadi berhasil di amankan beserta anak buahnya untuk di lakukan pemeriksaan lebih lanjut.
__ADS_1
Permadi dan beberapa Jenderal yang terlibat di copot dari Jabatannya dengan tidak terhormat. Mereka kini mendekam di dalam jeruji besi. Tidak sia-sia perjuangan Prabu selama ini.
Bayu yang baru saja selesai sarapan menjelang makan siang mendapatkan kabar bahagia atas tertangkapnya Permadi. Dia lari menemui semua teman-temannya untuk menyampaikan kabar gembira yang dia dengar. Semua bersorak penuh bahagia akhirnya bisa kembali ke rumah masing-masing setelah perjuangan berat mereka. Air mata tidak luput dari kebahagiaan yang mereka rasakan.
Mereka semua merapihkan peralatan masing-masing untuk segera pulang, Prabu sudah memberikan ijinnya agar semua anggota beristirahat sebelum mendapatkan penghargaan atas kerja keras mereka.
Ivar tidak langsung pulang ke rumah, dia tahu Nindi pasti masih menyibukkan dirinya bekerja. Dia wanita yang tidak mau diam saja mengurus rumah. Ivar berjalan perlahan dengan jantung yang berdetak tidak beraturan. Dari sebrang jalan Ivar melihat Nindi yang tengah bercanda bersama teman-temannya keluar dari gedung.
Ivar mengikutinya dari kejauhan, memasuki restaurant yang sama dengan yang Nindi masuki. Duduk sedikit jauh agar Nindi tidak syok melihatnya. Ternyata Nindi menyadari kehadirannya.
Nindi menatapnya penuh curiga, mengucek beberapa kali matanya membuat Ivar mengulas senyum dari balik masker yang menutup wajahnya. Kini Nindi menunduk tidak berani menatapnya lagi.
Ivar ingin sekali menghampirinya, kakinya tiba-tiba saja lemas tidak bertenaga. Dia bingung harus bagaimana menemui Nindi setelah sekian lama. Dia hanya merasa bahagia Nindi terlihat baik-baik saja.
Ivar terus memperhatikan Nindi yang tengah berbisik dengan teman disebelahnya. Ivar tersentak kaget saat Nindi terdengar terisak di pelukkan laki-laki yang Ivar tidak kenal namanya.
Ivar berjalan mendekat, air matanya tidak lagi bisa dia bendung melihat Nindi yang ternyata tidak baik-baik saja saat melihat dirinya.
“Nindi kau kenapa?” Mariska mengusap punggung Nindi yang masih menangis di pelukkan Ken. “Kenapa menangis? Apa perutmu sakit? Nindi tenanglah Nin.” Semua panik dan berkerumun mendekati Nindi.
“Siapa kau?” Gunar menghadang langkah Ivar yang sudah sampai di meja mereka. “Apa kau Ivar?” Ivar mengangguk. Gunar membiarkan Ivar berjalan mendekati Nindi yang masih menangis.
“Kau memeluk laki-laki lain di depanku? Apa kau tidak merindukanku Nin?” Ken hanya kebingungan karena Nindi semakin erat menenggelamkan wajahnya. Suara isak tangisnya semakin kencang membuat seisi restoran memperhatikan Nindi.
Ken yang tidak tega hanya mengusap punggu Nindi dengan lembut. Ivar menarik tangan Nindi dengan lembut dan membawanya dalam dekapannya.
“Terimakasih kau baik-baik saja Nin, terimakasih kau tidak terluka sayang.”
Teman-teman Nindi ikut menangis haru, mereka turut bahagia karena Ivar akhirnya kembali dalam keadaan selamat.
Makanan datang, semua menikmati makanan kecuali Nindi yang masih malu dan terus memeluk Ivar. Suara tangisnya sudah mereda, kini dia begitu bahagia bisa memeluk laki-laki yang yang sangat dia cintai.
“Sepertinya Nindi malu mengangkat wajahnya. Aku akan membawanya, terimakasih sudah menjaganya dengan baik. Aku tidak akan melupakan kalian semua.” Ivar mengangkat tubuh Nindi yang sedikit berisi, Nindi mengalungka tangannya di leher Ivar, aroma tubuh Ivar begitu menghangatkan.
Mariska dan Cindy menggigit ujung sendoknya merasa iri. Yang lain biasa saja selain Gunar. Dia senang Ivar kembali, namun tidak dipungkiri ada cemburu.
“Aku temukan dimana laki-laki seperti suami Nindi.” Gumam Mariska yang masih bisa di dengar oleh Ken. “Kau kenapa senyum-senyum sendiri! Lihat bajumu sabah.” Menggeleng tidak percaya dengan tingkah Ken yang senyum-senyum menatapnya.
Meski terdengar kesal, Mariska sebenarnya senang. Dia juga sedikit tertarik pada Ken, dia lumayan tampan dan juga sangat baik.
__ADS_1