
Bayi mungil yang ada di dalam incubator mulai menunjukkan perkembangannya. Semua orang terharu dengan perjuangan Baby yang tidak mudah. Dia pasti kesakitan, tapi dia berjuang dengan tubuhnya yang sekecil itu.
Tangan mungilnya terus bergerak dengan lincah. Mata besarnya berkedip seolah tau sedang diperhatikan.
"Putriku cantik ya Pah." Ucapnya pada Edwin yang juga sedang menjenguk cucunya di ruang khusus Baby yang butuh penanganan khusus.
Ctakkkk.....
Edwin menyentil jidat Putranya yang tidak menyimak pembicaraan panjang lebar nya. Sudah lebih dari satu minggu Putra nya lahir, tapi dia masih saja mengatakan dia seorang Putri.
"Dia Laki-laki Var." Ivar hanya mengangguk. Berpikir ternyata anaknya laki-laki namun tidak mau ambil pusing. Dimatanya sama saja, hanya salah sedikit saja.
"Tidak ada beda nya, tetap cantik di mataku." Edwin tidak mau meladeninya.
"Dia akan tumbuh menjadi laki-laki yang membanggakan." Tekadnya kuat.
"Nindi bagaiman? Apa Nindi menunjukkan perkembangan yang lebih baik Var?" Ivar mengangguk. Senyumnya menggambarkan kabar baik.
"Dia wanita yang kuat, Dokter bilang Nindi saat ini sudah benar-benar pulih." Ivar tidak menyangka Nindi memaafkan kesalahannya yang fatal. Dia tidak membahas sedikit pun sakit hatinya setelah sadar.
Sempat kritis dan dinyatakan koma, ternyata Tuhan sangat baik. Nindi sadar tidak lama setelah dipindahkan ke ruang ICU.
Saat sadar Nindi seperti orang linglung namun sekarang sudah pulih sepenuhnya. Nindi punya semangat sembuh yang luar biasa, demi orang-orang yang dia sayangi dan demi hidupnya yang berharga.
Nindi terus menanyakan keberadaan buah hatinya. Pihak rumah sakit masih belum memperbolehkan Nindi banyak bergerak demi kesehatannya. Di samping itu keadaan Baby masih belum bisa lepas dari alat-alat bantu yang terpasang di tubuhnya.
Sudah satu Minggu mereka ada di rumah sakit menemani Nindi.
Tidak ada yang bekerja, semua pekerjaan diantar oleh sekertaris ke rumah sakit jika ada yang urgent.
Mereka tidak menerima tender apapun selama Nindi sakit. Banyak pekerjaan yang mereka tunda demi menemani Nindi sampai benar-benar pulih.
Mereka menyesal dan ingin menebus kesalahannya.
Ivar bahkan tidak pulang, dia tidak mau meninggalkan Nindi dan buah hatinya meski hanya satu detik. Berantakan.....tentu saja. Nindi melihat mereka semakin bersemangat untuk sembuh.
Mereka ternyata tidak berubah, hanya mencari kesibukan untuk mengalihkan pikiran mereka tidak fokus pada kehilangan wanita kesayangan mereka.
Nindi paham, namun dirinya juga butuh perhatian lebih di kondisinya yang juga sangat terpuruk.
"Duarrrrr......" Luna mengagetkan Ivar yang terlihat sedang menatap sendu wajah Putranya.
"Tidak kaget. " Ivar mengacak rambut Luna yang terikat tali karet berwarna Pink.
"Hay tampan nya Aunty." Bicara sendiri dibalik kaca lebar.
"Luna saja tau anakmu laki-laki." Luna mengerucutkan bibirnya.
"Maksud Papah, Kak Ivar baru sadar anaknya laki-laki?" Edwin mengangguk.
Luna memukul pundak Ivar. Lucu sekali sampai tidak sadar jenis kelamin anaknya. Luna meringis kesal pada kelakuan Ivar yang di luar nalar kewarasan.
"Dia sangat cantik, orang yang lihat pasti mengira dia perempuan." Kilahnya mencari alasan.
__ADS_1
Padahal dirinya tidak fokus, beberapa kali menandatangi berkas milik anaknya yang jelas-jelas tertulis jenis kelaminnya. Pikirannya memang terbagi-bagi karena banyak yang dia kerjakan dan pikirkan.
Ivar bahkan tidak memikirkan bagaimana kesehatannya. Rasa sesalnya mengalahkan kewarasannya. Kesehatan Nindi dan buah hatinya sungguh yang ada di pikirannya.
"Parah sekali Daddy mu ini sayang, masa Putra nya dikira anak perempuan. Cepet keluar ya sayang, aunty punya banyak uang. Nanti aunty ajak makan ice cream ganteng ku." Bicara gemas sambil mengerakkan jari-jarinya sendiri.
"Dasar anak kecil, kau hanya memikirkan makanan." Luna dan yang lain menengok ke belakang.
"Kak Ezra......" Luna menghambur memeluk Ezra kesayangan Hanna. Luna juga jadi dekat karena sering bercanda dan menghabiskan waktu bersama.
"Dimana Hanna dan Jason?" Ivar mencari keberadaan Hanna dan Jason.
"Ke kamar Nindi Var, Ayman membawa mereka ke sana. Hanna ingin pamer hasil lukisannya."
"Jagoan sudah sehat Var?" Tanya Ezra penasaran.
"Kenapa kalian semua tahu anak ku kaki-laki." Herannya yang tidak fokus selama ini. Konyol sekali darinya.
"Memangnya kau anggap apa kami ini, jangankan jenis kelamin anak mu. Buronan yang sembunyi saja kami temukan." Wajahnya sedikit sombong.
Terkekeh bersama merasa terhibur dengan tingkah Ezra yang lucu.
"Pak Ivar...." Dokter menghampiri Ivar. Menepuk pundaknya. "Selamat yah, hari ini Putra mu sudah boleh keluar dari incubator, dia boleh menemui Nindi malam ini." Ivar seolah mendapat angin sejuk setelah terpaan badai beruntun di hidupnya.
"Benarkah.....istriku pasti sangat bahagia. Terimakasih Dok." Jantungnya berdegup kencang.
"Dia hebat, seperti Ibunya yang juga hebat." Puji Dokter yang takjub dengan keajaiban di luar medis.
Semua karena kekuatan doa dan ketulusan orang-orang yang menyayangi mereka.
"Sekarang lebih baik semua kembali ke ruangan Nindi, kita berikan sambutan untuk jagoan yang kuat ini kembali ke pelukan Ibunya." Dokter seolah tau yang ingin Ivar lakukan.
Tidak lama terdengar ketukan pintu.
"Permisi Tuan dan Nyonya, saya mau antar Baby." Seorang suster bicara dengan nada sangat lembut setelah mengetuk ruang perawatan.
Wajah seluruh keluarga Ivar tentu saja sumringah, kebahagiaan menyelimuti menyambut buah hati mereka yang sudah berhasil berjuang susah payah.
"Masuk Sus." Pinta Ivar dengan suara gemetar.
Ivar menatap intensi wajah Istrinya, Nindi tentu saja menangis penuh bahagia. Akhirnya keinginannya bertemu sang anak bisa terlaksana. Dirinya juga sudah cukup pulih sekarang.
"Kita coba rangsang air susu supaya keluar ya Bu." Malik melotot meminta semua orang keluar dari ruangan Nindi.
Setelah semua kekuar dengan patuh.
Suster mencoba menaruh Baby di dada Nindy. Meski kelahirannya tidak normal, Nindi berhasil merangsang ASI dan bisa keluar meski tidak terlalu banyak. Suster bilang perlahan jika kebutuhan asupan makanan terpenuhi ASI akan lancar.
Nindi merasa begitu sesak. Melihat wajah mungil Putranya membuat Nindi mengingat kebodohannya.
"Maaf in Mommy sayang. Maaf membuatmu kesulitan Nak." Air matanya tidak berhenti mengalir. Merasa bersalah karena semua terjadi karena keegoisan nya.
"Baby sudah memaafkan sayang. Dia sudah membuktikannya. Lihat tubuhnya yang sehat, tangannya sangat mungil tapi tidak berhenti bergerak." Ivar menopang Nindi yang tengah menyusui untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Kini hanya ada mereka berdua di dalam ruang perawatan.
"Aku menyesal, maaf karena aku sangat kekanakan." Ivar menciumi tengkuk leher Nindi yang duduk di depannya.
"Kami yang tidak tahu diri, jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi. Kami yang harus lebih menyesali perbuatan kami."
"Pasti Baby sedang pusing yah......Baby ingat yah jangan menyesal jadi anak Mommy yah." Menirukan suara anak kecil. Nindi kini merasa lega.
"Dia lahir dari wanita yang sangat baik, cantik, penuh cinta kasih, dia akan tumbuh dengan bangga sayang." Nindi mulai bisa menguasai emosinya.
"Kak...." Luna teriak tidak sabaran ingin melihat Baby. "Masih lama kah Baby menyusunya." Sudah geregetan ingin mencium Baby.
"Kak Luna seperti anak kecil." Timpal Hanna yang juga ikut menguping di balik pintu.
"Kau juga sama." Melotot tidak terima. "Han coba kau yang teriak Han." Biasanya Nindi akan luluh jika dengan Hanna. Pikir Luna.
"Ta......"
"Masuk lah, kalian menganggu saja." Baru juga Hanna mau membuka mulut, pintu sudah terbuka lebar.
Keduanya tidak menggubris Ivar, lari berebut ke arah Baby.
"Dia sudah menyusu Kak?" Tanya Luna penasaran. Nindi hanya mengangguk. "Dia lucu sekali seperti Jason saat baru lahir."
"Benarkah, Jason juga sangat tampan yah." Tanya Nindi penasaran.
"Hmmmm.....matanya bulat, hidungnya mancung. Kulitnya bersih. Sempurna." Ucap Luna membuat Nindi terkekeh.
"Kak Luna tidak sedang mengarang kan?" Tanya Hanna penasaran.
"Tentu tidak, lihat Jason. Dia sangat tampan kan, gemas kalau lihat Jason." Luna membayangkan wajah Jason Baby.
"Aku akan menjaga dua anak laki-laki tampan, ah....merepotkan." Hanna mendesah. Luna dan Nindi hampir terkena serangan jantung mendengarnya.
"Han.....jangan bercanda, mereka berdua yang akan kerepotan menjagamu. Terbalik sayang." Ucap Nindi sambil menatap gemas Hanna.
"Kan aku Kakak, jaga Adik." Ada benar nya juga sih, pikir Nindi. Tapi lucu sekali Hanna berpikir sejauh itu.
"Daddy yang jaga kalian semua. Kalau mereka menyusahkan mu, kasih tau Daddy sayang, Daddy yang bereskan." Hanna memeluk Ivar, menenggelamkan tubuhnya di dada Ivar.
Hanna sempat lupa ada dua Paman dan Opah nya yang akan selalu menjaga dirinya dan adiknya.
"Jangan marahi mereka kalau nakal, itu berarti aku tidak bisa mengajari mereka dengan baik. Marah aku saja Paman."
"Tua sekali anak perempuan Daddy bicara. Tidak boleh, kalau salah tetap harus gentle mengakui kesalahannya." Ivar tidak akan pernah membeda-bedakan.
"Oh......ok lah." Mengacungkan jempolnya.
"Hanna, mulai sekarang panggil Paman Ayman Ayah, Paman Ivar Daddy. Bisa sayang?" Hanna terlihat berpikir keras.
"Akan Hanna usahakan." Kembali memeluk Ivar.
"Jangan terlalu memaksakan sayang, senyaman Hanna saja." Ayah dan Daddy akan tunggu sampai Hanna siap." Ayman yang duduk di sofa memangku Jason yang sedang tertidur menimpali.
__ADS_1
"Iya sayang, pelan-pelan saja." Nindi ikut memeluk dua kesayangannya.
Hanna kesayangan semua orang, keberadannya membuat rumah selalu penuh canda tawa.