Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Jalan-Jalan


__ADS_3

Ivar tidak menjemput Nindi sore ini, Ivar ingin melihat sejauh mana Nindi melawan keinginannya. Ivar benar-benar kesal karena Nindi lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya.


“Jangan lama-lama kalau marah, nanti menyesal.” Ucap Ellie yang melihat Putranya gelisah.


“Nindi sekali-kali harus di beri pelajaran Mah, dia tidak boleh bertindak gegabah. Berbahaya.” Kesalnya yang masih belum hilang.


“Nindi mungikin memang buru-buru Nak. Ah....dia panjang umur, tuh Nindi sudah sampai. Jangan sambut dengan muka kesalmu Nak, sana ke atas. Biar Nindi bisa Mamah ajak makan dulu.” Ivar menuruti saran Ellie.


“Sore Mah, Nindi pulang. Abang pergi Mah?” Tanya Nindi yang tidak melihat kehadiran Ivar.


“Cuci tangan dulu sayang, kamu makan dulu yah.”


“Abang pergi Mah?” Tanyanya lagi karena penasaran.


“Tidak sayang, tadi naik ke atas setelah jemput Hanna.” Jawab Ellie yang melihat raut wajah Nindi terlihat sedikit kecewa.


“Nindi makan bareng Abang ya Mah, mau ke kamar Hanna dulu sebentar.” Ellie hanya menghela nafasnya panjang. Semoga tidak berlarut-larut marahnya.


Setelah selesai dan pamit pada Ellie, Nindi naik ke kamarnya di lantai dua. Membuka pintu kamar perlahan dan mendapati Ivar yang sedang memainkan ponselnya sambil berbaring di atas sofa.


“Abang....Nindi pulang.” Menunggu jawaban tapi nihil. “Nindi mandi ya Bang.” Pamitnya setelah melihat Ivar masih mendiaminya.


Nindi menitikan air mata di bawah guyuran air hangat, dirinya menahan sekuat mungkin agar tidak menangis namun tidak bisa. Setelah cukup bisa mengendalikan diri, Nindi keluar dan duduk di tepi kasurnya. Ivar benar-benar enggan melihat kehadiran dirinya.


“Abang....” Jantungnya berdebar sangat kencang, ini kali pertama Ivar marah tidak mau bicara. “Abang sudah makan?” Ivar masih tidak mau menjawab pertanyaannya dan sibuk dengan ponselnya.


“Aku mau keluar sebentar, Nindi tidur saja duluan tidak usah menunggu aku pulang.” Nindi mulai kesal. Ivar mengabaikannya dengan kejam. Dia bahkan pergi tanya menatap Nindi yang meminta belas kasihannya. Bahkan dia bicara dengan sangat dingin.


“Ivar....mau kemana?” Tanya Ellie yang melihat Ivar menyambar jaket dan kunci motornya, sudah sangat lama Ivar tidak mengendarai motornya.


“Jalan-jalan sebentar Mah.” Jawabnya tanpa memperdulikan Ellie yang masih mau bicara padanya.


Ellie naik ke kamar, melihat Nindi yang tertidur pulas membuat Ellie tidak tega membangunkannya. Padahal Nindi belum makan, dia pasti kelaparan. Ellie memutuskan mengirimkan pesan pada Ivar yang tidak kunjung mendapat balasan. Dia pasti di jalan sampai tidak bisa mengecek ponselnya.


Ellie mengirimkan pesan panjang lebar memarahi Putranya yang sangat keras kepala dan tidak mau mengalah pada Nindi. Dia sudah kesulitan bekerja keras dan Ivar tidak menghargainya membuat Ellie marah. Tidak seperti ini sikap laki-laki yang Ellie ajarkan, dia tidak dewasa.


Sampai di basecamp Ivar tidak mau melihat ponselnya, dia tahu yang mengirimkan pesan panjang lebar pasti Ellie atau Edel. Nindi tidak mungkin seperti itu, Nindi pasti memilih diam menunggu Ivar mau bicara sendiri.


Setelah puas melepas penat, Ivar membuka ponsel dan membaca isi pesan panjang lebar yang Ellie kirimkan. Ada pesan yang membuat dirinya tersentuh dan sadar.


“Nindi memilih tidak makan dan menunggu kamu Nak, dia sesayang itu tapi Ivar membuat Nindi tidak makan sampai tengah malam. Mamih kecewa berat.” Emoticon menangis banyak.


“Aku harus segera pulang. Kapan-kapan aku akan mampir lagi ke sini.” Ijinnya pada teman-teman motornya yang sudah lama tidak berjumpa.


Ellie melotot ke arah Ivar, Ivar yang menyadari kesalahannya segera mendekat dan memeluk Ellie dengan erat.


“Maafkan Ivar. Apa Nindi masih tidur? Dia masih belum mau makan?”

__ADS_1


“Kau ini jangan suka membuat Mamah jantungan. Istri kamu itu sedang hamil Nak, harus makan teratur. Nindi sudah Mamah coba bangunkan tapi tidak mau, dia mau menunggu kamu pulang.” Ivar dengan raut wajah sedihnya kembali memeluk Ellie.


“Ivar akan siapkan makanan.” Beranjak ke dapur.


“Panaskan supnya, Nindi pasti kelaparan karena anak Mamah yang tidak tahu diri.” Kesalnya masuk ke dalam kamar.


“Maaf Mamah sayang, Ivar menyesal.”


Ivar membawa nampan berisi makanan dan susu hangat untuk Nindi, dia tidak pernah absen memperhatikan Nindi dengan telaten. Dia melakukan kesalahan besar marah pada Nindi saat dia belum mengisi perutnya.


“Abang sudah pulang?” Nindi terbagun karena perutnya sangat lapar. Mencoba bersikap seolah tidak terjadi apapun.


“Ayo cepat makan.” Ivar masih gengsi bicara dengan lembut, masih terdengar dingin.


Nindi menyendok makanan yang Ivar bawa sedikit demi sedikit ke mulutnya, dadanya terasa sesak Ivar masih tidak bicara padanya. Nindi akhirnya tidak kuat. Nindi menutup wajah dengan kedua tangganya terisak, dia tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis melihat sikap Ivar padanya.


Ivar tidak tega, Nindi tidak melakukan kesalahan fatal dan dia marah terlalu berlebihan. Ivar mendekap tubuh Nindi ke pelukkannya. Membelai surai Nindi yang tergerai dengan lembut.


“Maafkan Nin....di Abang.” Ucapnya di sela-sela tangisannya.


“Abang yang salah, tidak seharusnya Abang marah pada Nindi. Abang hanya kesal saja tiba-tiba melihat Nindi lari seperti tadi.”


“Nindi akan lebih hati-hati lain kali.” Masih menyembunyikan wajahnya di dada Ivar.


“Iya sayang, sekarang makan. Kasihan baby belum makan, Nindi juga pasti sangat lapar kan?” Nindi mengangguk.


“Aku sampai tidak bisa tidur, perutku keroncongan.” Nindi tersenyum membuat Ivar tidak habis pikir marah pada wanita sebaik Nindi tanpa alasan yang masuk akal.


Hari yang di tunggu-tunggu Hanna tiba, sesuai janji yang Ivar sudah pernah ucapkan, hari ini Ivar akan membawa Nindi dan Hanna jalan-jalan ke kota Malang, mereka penasaran dengan kota kelahiran Ibu kandung Hanna.


Namun yang membuat Ivar sedikit kesal, keduanya meminta Ivar pergi jalan-jalan menggunakan kereta api. Tidak mau naik pesawat atau kendaraan pribadi.


Ivar mengiyakan dengan syarat dirinya diperbolehkan menyewa satu gerbang khusus untuk mereka. Tapi tidak bisa Ivar lakukan karena Nindi ingin perjalanan yang alami. Dia ingin merasakan pengalaman yang sering Kaka Iparnya ceritakan dulu.


Jika tidak hamil, Ivar akan menolak mentah-mentah permintaan istrinya yang satu ini. Ivar dalam keadaan tidak bisa menolak permintaan Ibu hamil, takut ileran katanya. Padahal Ivar tidak percaya sedikitpun.


“Sudah siap semua Han?” Hanna mengangguk, dia tidak mau dibantu mempersiapkan perlengkapan jalan-jalannya. “Tante pasti akan kangen Hanna. Padahal Tante ingin ikut jalan-jalan.” Menatap Ivar tajam karena melarangnya ikut serta.


“Berikan aku dan Nindi waktu Kak, kalian sudah sering jalan-jalan berempat. Aku dan Nindi baru pertama kali ini quality time.” Jawab Ivar yang ingin membahagiakan Nindi yang akhir-akhir ini merasa jauh dari Hanna.


“Sejak kapan kau suka jalan-jalan, Kaka suka mengajakmu jalan dan kau selalu lebih memilih tidur kan!” Edel merajuk tidak mau di salahkan.


“Hahahaha....kau benar Kak. Aku memang malas kemana-mana jika sedang tidak bertugas.” Ivar memeluk Edel yang sedang memeluk Hanna.


Kali ini Hanna tidak protes, selagi tidak di tempat umum.


Hanna memperbolehkan diperlakukan seperti Tuan Putri saat di rumah, Hanna hanya meminta mereka bersikap dewasa saat ada di tempat umum. Kesepakatan dibuat saat Nindi juga merasa tidak mau Hanna dewasa secepat ini. Semua orang protes dan menyadarkan Hanna telah melakukan hal yang tidak benar.

__ADS_1


Karena Hanna sendiri dan merasa terpojok tidak dapat pembelaan, akhirnya mereka membuat kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.


“Tante nanti Hanna belikan oleh-oleh. Hanna tidak akan lupa dengan semua orang.” Membalas pelukkan hangat dari Edel.


“Enak saja, tidak bisa. Repot kalau harus bawa oleh-oleh.” Edel melepaskan pelukkanya.


Awwww.....


“Kenapa mencubitku!” Ivar menggosok-gosok pahanya yang seolah tersengat listrik.


“Kau jangan ajarkan Putriku hal buruk ya Var, aku sudah mendidiknya dengan benar jangan berani-berani mengotori pikirannya.” Edel merepet kesal dengan ulah Ivar.


“Kaka ini lah, Ivar hanya bercanda saja.” Kembali memeluk Kakanya yang akhir-akhir ini sangat sensitif.


Terdengar suara tangis Jason dari dalam kamar, Edel tersenyum melihat dua orang laki-laki kesayangannya keluar dari kamar. Jason menangis, biasa anak bayi bangun tidur suka mencari Ibunya.


“Cari Mamih ya Nak?” Ayman menberikan Jason pada Edel. “Ganteng Mamih kok bangun nangis sih sayang. Mamih gak kemana-mana kok.”


“Jadi berangkat hari ini Var.” Tanya Ayman yang berdiri di belakang Edel dudul.


“Iya Mas, kita hanya dua hari saja di sana. Nindi tidak bisa cuti lama-lama.” Ayman mengangguk lalu pergi ke dapur.


Ada mata yang menatapnya tajam penuh amarah, Hanna melipat kedua tangannya di depan dada. Edel yang melihatnya sontak melotot merasa gemas menahan tawa.


“Paman tidak melihat Hanna.” Ucapnya yang membuat Ayman berbalik. “Kenapa hanya menyapa mencium Tante dan menyapa Paman Ivar. Kenapa tidak menyapa Hanna.” Merajuk kesal.


“Loh...loh....Paman kira Hanna tidak mau di cium-cium kan.” Edel lupa memberitahukan kesepakatan yang sudah di buat karena Ayman lembur dan pulang malam. “Sini...sini Paman peluk, aduh jangan marah sayang. Nanti cantiknya luntur.” Ivar dan Edel tertawa melihat tingkah random Hanna.


“Kitakan sudah sepakat kalau boleh peluk-peluk dan cum-cium Hanna di rumah.” Ayman menggeleng melihat Ivar dan Edel puas menertawakannya.


“Paman mau buat susu untuk Jason, Hanna mau sayang?” Tawarnya agar Hanna tidak marah lagi.


“Hanna sudah minum susu Paman, Hanna mau apel. Boleh tolong kupaskan?” Pintanya dengan manis.


“Siap Tuan Putri.” Ledeknya membuat Hanna terkekeh.


Kini Hanna Ivar dan Nindi sudah duduk di gerbong kereta tujuan Jakarta – Malang. Suasana riuh dan menyenangkan membuat Nindi membayangkan wajah Kaka Iparnya yang sangat berseri-seri saat menceritakan perjalananya.


“Hanna mau beli cemilan tidak? Tante lupa bawa kantong cemilan Han.” Nindi bingung menaruhnya di mana padahal sudah dia packing dengan rapih.


“Ada di dalam ransel Abang sayang. Kau meninggalkannya di teras jadi aku menaruhnya dalam tas.” Nindi menepuk jidatnya ingat terakhir kali membawanya.


“Padahal aku berniat memindahkannya di tas Hanna supaya bawaannya tidak berat. Hehehehe.” Ivar mengecup kening Nindi, tidak rela Nidi menyakiti dirinya padahal tidak sakit sama sekali.


“Jangan mesra-mesraan di depan umum.” Hanna melirik kanan dan kiri memperhatikan karena dirinya merasa malu.


“Baik Hanna sayang. “ Ivar segera membawa Nindi duduk dari pada Tuan Putrinya semakin marah. Kereta tidak lama mulai berjalan.

__ADS_1


Nindi memperhatikan bayi perempuan yang terus menangis di sebrang tempatnya duduk. Ivar sudah melarangnya untuk ikut campur tapi Nindi merasa tidak tega. Nindi menghampiri dan menghibur gadis kecil yang menangis tidak berkesudahan sepanjang perjalanan.


Ibunya tidak mencoba mendiamkan bayi itu hanya sesekali tangannya terlihat mencubit pahanya tanpa terlihat namun Nindi tahu karena tangisnya semakin kencang. Nindi benar-benar tidak tega melihatnya.


__ADS_2