
Ivar merasa berdosa mengikuti maunya dan dengan egois membiarkan Nindi mengurus anak-anak sendirian. Tidak ada pilihan lain, Ivar ingin segera menemukan pelaku yang dengan tega menghabisi nyawa dua wanita kesayangannya.
Jahat sekali sampai mereka tega membuat keluarganya begitu hancur dan berantakan karena harus kehilangan mereka. Merasa bersalah sekali dengan keadaan yang saat ini harus Nindi jalani.
Bukan tidak sakit, Ivar bahkan mati rasa beberapa saat sebelum bisa menguasai dirinya dan mencoba menerima semua yang terjadi, kembali menerima takdir yang begitu menyakitkan tapi tidak bisa dirinya tolak. Hancur, tapi dirinya harus tetap waras karena masih ada wanita baik hati yang selalu menunggunya kembali.
Ivar menempelkan jari telunjuknya di bibir saat melihat Hanna berlari ke arahnya. Bahagia sekali wajah Putri cantiknya, sudah lama Ivar tidak melihatnya seceria ini.
Hanna memeluk Ivar dengan erat, Ivar mencium sayang puncak kepala Hanna. "Paman susulin kita yah?" Bisik Hanna yang tahu dirinya tidak boleh berisik, dia bahkan berjinjit saat menghampiri mereka.
"Daddy menemukan kalian di sini. Hebat kan Daddy Han?" Hanna mengangguk. Ivar memang sosok pahlawan di mata Hanna, dia selalu ada di saat Hanna dan Tante Nindi membutuhkannya.
Ayman tersenyum hangat melihat kehadiran Ivar. "Var, pantas tadi Mas lihat Abrar juga." Ayman menurunkan Jason yang ingin memeluk Paman nya. Jason tidak mau kalah dari Kakak nya yang sudah ada di pelukkan Ivar.
Nindi mengerjap, suara anak-anak membuatnya sadar sedang ada di mana. Nindi perlahan menegakkan tubuhnya, mengucek matanya yang masih sangat berat untuk di buka.
"Aku ketiduran, kalian sudah selesai?" Tanya Nindi yang sedang mengumpulkan kesadarannya. "Loh Abang, sejak kapan di sini?" Senyumnya manis sekali, Nindi sangat bahagia Ivar ada di sisinya.
"Aku melihat Putri tidur tadi, jadi kaki ku melangkah ke sini." Nindi tersipu malu, dirinya bahkan tidak sadar ketiduran cukup lama ditempat umum.
"Ahhhhh....memalukan sekali." Nindi menunduk malu.
"Kau pasti kelelahan ya sayang." Nindi hanya tersenyum tidak menanggapi.
"Sekarang ayo kita makan malam di tempat biasa." Hanna menahan langkah Ayman, menggeleng dengan wajah nya yang sedikit sendu. "Kenapa sayang? Masih mau main?" Tanya Ayman lembut. Tangannya membelai kepala Putrinya yang sudah semakin bisa mengutarakan inginya.
__ADS_1
"Makan di rumah saja boleh tidak? Kasihan Opah sendirian, Hanna juga tidak suka sendirian." Protesnya dengan suara lirih yang masih terdengar jelas. Nindi, Ivar dan Ayman saling bertukar pandang, sederhana sekali tapi begitu besar artinya.
"Kalau begitu kita beli makanan saja dan bawa ke rumah. Kita makan sama-sama." Kali ini Hanna mengangguk, dia sudah kembali tersenyum dengan cantik.
Ayman mengandeng Hanna dan Jason, membiarkan Ivar dan Nindi berjalan belakangan menikmati kebersamaan mereka.
Sesekali Putra kecilnya berceloteh saat melihat pemandangan yang tidak biasa saat melihat berbagai macam hal menakjubkan di dalam mall. Ayman menimpanya dengan hangat, Hanna sampai tertawa sepanjang jalan. Bahagia sekali bisa jalan-jalan lagi setelah sekian lama.
Nindi pulang dengan mobil Ayman, menjaga anak-anak yang tidak bisa diam di dalam mobil. Ivar mengikuti mereka dari belakang. Tidak lama mereka sampai di depan rumah megah dan mewah, lampu sudah menyala membuat suasana rumah menjadi begitu indah di lihat dari luar. Rumah yang menampung banyak cerita begitu mendalam.
"Opah.....Hanna pulang Opah." Teriak Hanna saat melihat Opah nya merentangkan tangan nya menyambut dirinya.
"Kemana saja seharian sayang? Opah sendirian di tinggal di rumah." Rajuk Edwin membuat Hanna mencium pipi Opah nya.
"Jangan sedih yah, nanti kita jalan-jalan sama-sama yah." Edwin mengangguk.
"Hanna beli buku gambar, ada punya Adek Jason juga." Membuka dan menjejerkan semua bukunya di atas meja makan.
"Han, kita makan dulu yuk sayang. Setelah itu boleh cerita-cerita lagi." Hanna segera memasukkan buku gambarnya segera.
Ayman duduk di ruang makan, sedangkan Ivar membawa Jason yang tertidur ke dalam kamarnya. Mereka berbagi tugas sebisa mungkin agar Nindi tidak mengerjakan semuanya sendiri. Nindi menolak keras jika urusan anak-anak dan keluarganya di kerjakan para pekerja rumah yang ada di rumah Edwin. Dia mau semua dikerjakan sendiri olehnya.
Tidak ada yang berani melarang maunya Nindi, dia sedang mengobati patah hatinya yang begitu dalam dengan kesibukan yang dirinya lakukan. Selama dirinya terpantau baik-baik saja dan tidak merasa kelelahan, Ivar dan yang lainnya tidak keberatan.
Seru sekali, mereka makan sambil mendengarkan Hanna bercerita kisahnya seharian ini dari mulai sekolah sampai kegiatannya jalan-jalan bersama Paman Ayman dan Nindi.
__ADS_1
Dia bahagia sekali, Hanna sudah sangat lama merindukan kehangatan seperti saat ini. Dia rindu dengan pelukkan semua orang yang biasanya selalu menyambutnya dengan begitu hangat.
Anak kecil ini merindu begitu dalam, dia tidak terlihat sakit namun ternyata ada luka yang tidak dia perlihatkan, tangan Ayman membelai lembut surai Putri cantiknya yang begitu hebat, dia sudah berhasil bertahan meski semua orang menyibukkan diri menyembuhkan lukanya sendiri. Tidak perduli dengan perasaannya yang terluka, tidak menyadari jika Putri nya ini butuh sandaran untuk bertahan dari sakitnya.
Ivar keluar kamar Jason, berjalan cukup cepat membuat Nindi menatapnya dengan cukup tajam. Matanya tidak berpindah sejenak pun dari suaminya, penasaran sekali dengan apa yang membuatnya terlihat begitu gelisah.
“Aku....”
“Makan dulu kalau mau pergi lagi. Jangan dibiarkan kosong perut nya.” Ucap Nindi memotong perkatan Ivar, dia sudah tau jika suaminya ingin meminta ijin.
“Aku makan di sana saja ya sayang, Abang sudah di tunggu.” Nindi beranjak dari duduknya.
“Aku bawa kan pakai tempat makan, tunggu sebentar.” Edwin menatap Ivar merasa kesal, makan malam saja dia tidak sempat, kasihan Nindi. “Jangan tidak di makan ya Bang, badan mu itu butuh makan. Jangan sepelekan makan, jangan menganggap makan itu tidak penting.” Ivar menatap Nindi yang banyak bicara tanpa melihat matanya.
“Abang pasti makan sayang. Tidak akan lupa dengan pesan Istrinya yang baik hati.” Nindi menyunggingkan senyumnya, bagaimanapun dirinya harus terbiasa dengan ketiadaan Ivar yang pekerjaannya memang sangat luar biasa.
Nindi menyodorkan tempat makan yang sudah rapih. Nindi mencoba tidak keberatan dan mendukung setiap langkah yang suaminya ambil, dirinya harus menjadi kuat agar Ivar bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Harus mulai terbiasa dengan keadaan rumah dengan suasana baru.
“Terimakasih sayang, Abang langsung pulang setelah selesai dengan tugas Abang.” Nindi mengangguk paham. “I love you Nin.”
“Aku juga mencintai mu.” Bisik Nindi yang menjawab malu-malu. “Sekerang pergilah, hati-hati bawa mobilnya ya Bang.” Ivar kembali mencium kening Nindi cukup lama.
Ayman menatap Nindi dengan bangga, dia tidak melihat sedikit pun marah di wajah Nindi. Seperti inilah Nindi yang dirinya kenal, wanita baik hati yang selalu mengerti apapun yang suaminya lakukan, wanita yang kuat, selalu terlihat baik-baik saja meski dia menahan sakit yang begitu berat dalam dirinya.
“Mas sudah selesai?” Ayman tersadar mendengar suara Nindi. “Kalau sudah selesai cepat mandi dan istirahat.” Pinta Nindi dengan lembut.
__ADS_1
“Aku tidur di kamar Hanna ya sayang, Jason juga nanti aku bawa ke sana. Kamu dengan Nilam tidur dengan Baby yah, jangan bergadang Nin. Matamu sudah hitam seperti nenek-nenek.” Ayman berlalu pergi meninggalkan Nindi dengan Edwin.
Nindi sadar Ayahnya menatap penuh tanda tanya pada dirinya. “Pah....Nindi Ok. Jangan khawatir.” Edwin tersenyum, dia masih belum bisa tenang dengan keadaan rumah. Masih takut Nindi hanya berpura-pura di depanya padahal dia sangat kesakitan. “Papah juga istirahat yah, Nindi baik-baik saja.” Nindi menepuk punggung tangan Edwin dengan lembut, menantunya sangat manis. Dia tahu jika saat ini Edwin tengah khawatir.