Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Nindi Demam


__ADS_3

Ivar sedang menimang Baby di balkon, Mommy nya sedang tidak enak badan, Nindi masih terlelap. Semalaman Nindi mengigau sampai Ivar terbangun, tidak sadar jika Nindi nya sakit.


Ivar segera memberikan obat pereda demam yang biasa Nindi minum. Nindi yang sadar suaminya begitu khawatir mengecup sayang pipi Ivar, menyatakan jika dirinya baik-baik saja hanya butuh istirahat.


Lega melihat Nindi hanya demam karena kelelahan, meski belum sepenuhnya Lega karena demam nya masih cukup tinggi. Dia menggantikan peran Nindi semalaman, menjaga Baby yang jika malam suka sekali bergadang.


Pikiran Ivar tengah melayang memikirkan pencariannya yang tak kunjung menemukan hasil akhir dan titik terang. Semua bukti mengarah pada kecelakaan tunggal, sabotase yang sempat di temukan juga tidak membantu. Tidak kuat karena seperti kerusakan yang terjadi secara alami.


Bingung, semua sudah berusaha membantu dengan maksimal dan penuh keuletan mencari bukti-bukti lain yang mungkin bisa mereka temukan. Mereka susah angkat tangan, hanya Ivar yang masih bertahan dengan keyakinan nya.


Ivar tidak mau menyerah, tapi semua sahabatnya merasa risau karena dirinya memaksa ingin menemukan pelaku yang membuat kedua wanita kesayangannya pergi untuk selamanya.


Samar, tidak ada bukti kuat yang mengarah ke sana. Semuanya seolah benar-benar terjadi secara alami.


Helaan nafasnya cukup berat, dia ingin Kakak dan Ibunya tenang. Tidak mau mereka menderita jika pelaku nya belum tertangkap, meski bukti nya saja belum Ivar temukan, dia yakin mereka tidak meninggal begitu saja. Pasti ada penyebab yang bisa diterima akal sehatnya, kenapa mereka bisa mengalami kecelakaan yang sampai membuat mobil mereka terbakar.


"Bang....Abang..." Panggil Nindi yang tidak di dengar Ivar, dia masih melamun. Nindi beranjak dari kasurnya, mendekat ke balkon dengan mantel tebal di tubuhnya.


Nindi tersenyum, manis sekali Ivar dengan Putra nya. Menimang dengan sayang Putra kecilnya.


"Loh sayang ..." Malik mendekat, menempelkan punggung tangannya di kening Nindi. Wajahnya masih pucat. "Kenapa bangun sayang? Mau minum?" Nindi menggeleng. "Ayo masuk, kamu masih lemas sayang." Nindi berjalan dengan patuh, dia memang merasa masih sangat lemas.


Nindi duduk di ujung ranjang. "Kenapa melamun? Abang sedang memikirkan apa?" Ivar menaruh Baby di box nya, dia sudah terlelap dengan nyaman di sana.


Malik mendekat, duduk di hadapan Nindi, tangannya menyelipkan rambut di belakang telinga Nindi. Meraih tangan Nindi dan mengecupnya berulang kali. "Tidak ada, hanya pekerjaan." Nindi mendekat, memeluk Ivar dengan erat.


"Jangan di pendam ya Bang, berbagi. Nindi bisa kok di ajak bicara Bang." Ivar mengangguk, tentu saja. Dirinya saja yang suka tidak bisa membuka hati, takut Nindi nya tersiksa dan sedih.


"Badan mu masih panas sayang, mau ke rumah sakit Mom?" Ivar mengalihkan pembicaraan. Nindi menggeleng, dirinya merasa hanya demam biasa saja. Istirahat sebentar juga sembuh.


"Nanti juga sembuh." Ivar kembali memeluk Nindi yang tersenyum begitu manis pada dirinya. Nindi selalu bersikap tenang.


Ivar memeluk Nindi erat, manepuk punggungnya agar Nindi tidur dengan nyaman. Nindi harus banyak istirahat agar tubuhnya cepat pulih.

__ADS_1


Pengaruh obat membuat Nindi cepat sekali terlelap. Dia nampak nyaman sekali saat ini.


Tok....tokkk....tokkk...


"Ivar, Nak." Suara Edwin memecah keheningan, Ivar segera turun dari ranjangnya untuk membuka pintu.


"Pah....ada apa?" Ivar kembali menutup pintu takut mengganggu Nindi yang belum lama terlelap . "Papah sudah rapih saja pagi-pagi begini, mau kemana?" Tanya Ivar pemasaran.


"Papah akan ke Surabaya dua hari, bersama Prabu. Ada pertemuan di sana Nak." Ivar ikut turun bersama Edwin.


"Hati-hati di sana, jangan lupa makan dan minum vitamin ya Pah." Edwin tersenyum sambil mengangguk anggukan kepalanya.


"Sudah seperti anak kecil saja Papah Var." Ucapnya yang membuat Ivar juga tersenyum. "Sampaikan salam Papah pada Nindi, kalau dia belum sehat jangan ke markas. Jaga dulu Nindi sampai baikan Nak." Ivar mengangguk paham.


"Tenang saja Pah, Ayman juga akan jaga Nindi." Timpal Ayman yang mendengar permintaan Ayahnya. Lega mendengarnya, Edwin bisa mengandalkan kedua Putra nya menjaga rumahnya tetap damai.


"Ya sudah, Papah jalan yah. Kalian jaga diri baik-baik." Belum juga melangkah, Edwin di kejutkan kedatangan Bagas yang terlihat tergesa-gesa.


"Apa masih sama? Dia hanya mengintip dari kejauhan?" Bagas mengangguk.


"Siapa? Apa ada yang memata matai rumah kita?" Bagas dan Edwin saling menatap. Rahang Ivar terlihat mengeras menahan amarah.


"Sepertinya bukan mata-mata Tuan, penampilannya seperti anak jalanan." Jawab Bagas mencoba menjelaskan dengan lembut, tidak mau memancing keributan.


"Mau apa kalau begitu dia disana? Bisa saja dia hanya menyamar." Ivar masih menaruh curiga, penampilan bisa saja membodohi mereka.


"Apa tidak pernah kau tanya Gas? Ada maksud apa dia datang?" Ayman juga merasa penasaran, kenapa dia melihat rumahnya dengan sebegitu intens. Mereka tengah melihat CCTV yang ada di ponsel Edwin.


"Setiap kami datangi, dia selalu melarikan diri. Kami jadi belum pernah bertanya Tuan." Padahal Edwin melarang para penjaga rumah mengejarnya. Dia hanya terlihat seperti anak-anak pada umumnya.


"Mencurigakan sekali, apa maunya. Hati-hati Bagas, suruh yang lain lebih waspada." Pinta Ivar yang menjadi terpancing.


"Baik Pak, saya usahakan lebih waspada." Bagas segera keluar dari rumah, dirinya tidak mau memancing amarah orang rumah.

__ADS_1


"Sudah lama kah?" Tanya Ivar yang hanya di balas senyum oleh Edwin. "Jangan anggap sepele Pah." Edwin menepuk pundak Putra nya pelan.


"Penampilannya mustahil sekali Var, dia terlihat seperti gadis SMP. Kecil sekali tubuhnya, sudah ah, Papah berangkat." Edwin tidak mau mencurigai terus, lelah sekali rasanya. Ingin mencoba berdamai dengan keadaan yang sudah menjadi bagian hidupnya kini.


"Hati-hati Pah, jangan lupa makan dan minum Vitamin." Edwin menjawab dengan tangan kanan nya yang mengangkat ke udara. Ayam dan Ivar sama saja.


Kedua Putra nya sama saja, selalu saja memperlakukan dirinya seperti anak kecil. Tapi Edwin senang, mereka jadi lebih saling memperhatikan satu sama lain.


"Tidak perlu di selidiki Var, nampaknya memang tidak berbahaya. Dia mungkin hanya iseng saja." Ivar mengangguk paham, jangan lagi membuat rumah heboh.


"Ya sudah, Ivar ke dapur ya Mas. Mau minta Bibi buatkan bubur untuk Nindi."


"Masih panas Nindi nya Var?" Ivar mengangguk, wajahnya mendadak mendung. "Kalau begitu mas di rumah juga hari ini. Anak-anak biar Mas yang urus. Kau fokus saja jaga Nindi."


"Terimaksih Mas." Ayman tersenyum dengan hangat.


Ivar membawa bubur buatan Bi Inah yang masih panas, meletakkannya di atas nakas samping tempat tidurnya. Ada Nilam yang sedang bermain bersama Baby di sana.


"Nilam turun ya Pak." Ijin nya dengan ramah.


"Titip Baby ya Lam, pelan-pelan turun nya." Nilam mengangguk dan berlalu.


Kini Ivar duduk di samping Nindi, dia masih panas tapi tidak setinggi semalam. Sudah agak turun.


Sentuhan tangan Ivar membangunkan Nindi, dia masih enggan bangun dan membuka matanya. Hanya merubah posisinya mendekat pada Ivar.


"Sarapan dulu sayang, Abang bawakan bubur." Nindi membuka matanya perlahan. "Mau minum dulu Mom?"


"Aku mau cuci muka Bang." Ivar membantu Nindi bangun. "Tunggu di sini saja Abang, Nindi cuma demam." Ivar tersenyum mendengarnya.


"Baik Mommy sayang, jangan lama-lama." Nindi berjalan perlahan.


Perhatian Ivar membuat Nindi sedikit betah dengan kasur nya, suaminya selalu saja sibuk dan jarang punya waktu yang panjang seperti ini semenjak kembali ke kesatuan. Rindunya sedikit terobati meski Nindi harus sakit dulu agar bisa dapat perhatian dari laki-laki kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2