
Nindi membuka pelan pintu rumahnya. Berharap melihat Hanna dalam keadaan baik-baik saja. Air mata Nindi menyeruak seketika, Hanna tidur sambil menggenggam tangan Ivar yang tidur di sebelahnya. Hati Nindi terenyuh mengingat kehangatan Cakra selama ini. sosok Ivar tidak akan bisa menggantikannya, tapi melihatnya seperti saat ini sedikit mengobati kerinduannya.
Perlahan Ivar menyadari kehadiran Nindi yang sedang memandangi dirinya dan Hanna. “Apa aku setampan itu?” Nindi mengusap sisa air matanya. Menyunggingkan senyum meski hatinya masih sedikit pilu.
“Maaf aku jadi merepotkan Kak Ivar.”
“Kau ini selalu minta maaf setiap bertemu.” Ivar duduk sambil menapa wajah Nindi yang duduk di sofa. Wajahnya yang sendu terpampang jelas di depan matanya. “Kenapa kau bekerja?” Ingin rasanya Ivar mengalihkan semua beban dari pundak Nindi.
“Tantu saja untuk biaya hidup kami.” Nindi tersenyum tidak percaya dengan pertanyaan Ivar.
“Kenapa tidak kau serahkan saja hidup mu pada ku.” Mata Nindi membulat tidak percaya.
“Apa Kak Ivar masih di alam mimpi.” Nindi mengibaskan tangannya di depan wajah Ivar.
Tangan Ivar dengan cepat meraih pergelangan tangan Nindi. Jantung Nindi semakin terpacu cepat, dia seumur hidup tidak pernah sedekat ini dengan pria. Cakra selalu menjaganya seperti permata sampai tidak ada satu teman laki-laki pun yang dia miliki.
“Lepaskan Kak.” Nindi berusaha keras melepaskan tangan Ivar.
“Tidak mau.” Dengan wajah dan senyum yang menyebalkan.
“Paman…” Kegaduhan yang Ivar dan Nindi ciptakan membangunkan gadis kecil dari tidurnya. Ivar melepaskan tangan Nindi dengan cepat saat mendengar suara Hanna.
“Kau terbangun sayang?” Ivar memeluk Hanna dengan lembut. “Kenapa Hanna terbangun? Apa Hanna mimpi buruk?” Hanna menggeleng. “Lalu kenapa putri cantik Paman terbangun?” Hanna duduk di pangkuan Ivar dengan nyaman.
“Aku lapar.” Hanna tersenyum lebar.
“Putri cantik Paman kelaparan. Tidak bisa di biarkan, kita harus segera mencari makan.” Hanna tertawa gembira. Ivar menggendong Hanna dan meraih tangan Nindi yang sudah selesai mengunci pintu kosan.
“Neng.” Sapa seorang lelaki yang sedang berkumpul tidak jauh dari rumah Nindi.
“Iya Pak.”
“Baru saja kita ingin tanyakan kenapa ada tamu sampai larut malam di rumahnya neng Nindi.” Nindi baru sadar kehadiran Ivar meresahkan lingkungan tempat tinggalnya.
“Oh maaf Pak, saya baru saja pulang kerja dan Kak Ivar datang menjaga Hanna sejak tadi sore Pak.” Ivar merasakan tangan Nindi yang dingin, dia sangat ketakutan.
“Maaf ya Pak, saya bukan laki-laki yang bisa berbuat hal-hal buruk seperti yang bapak-bapak takutkan.” Ivar menurunkan Hanna. “Nindi bawa Hanna ke mobil, Kak Ivar menyusul.” Nindi menuruti saja permintaan Ivar, Nindi merasa bodoh karena tidak hati-hati.
“Tante? Apa mereka marah pada Paman?”
“Tidak Han, Paman pasti baik-baik saja.”
Tidak lama Ivar sudah muncul dengan wajahnya yang berbinar-binar, Nindi lega melihat Ivar baik-baik saja tanpa kurang suatu apapun.
“Bagaimana? Apa mereka marah Kak?”
“Ada yang berani marah padaku?” Wajahnya menunjukkan sikap sombongnya.
“Tenang saja, semua aman terkendali.”
__ADS_1
“Hanna mau tidak makan nasi goreng?” Hanna mengangguk, makanan apa saja tidak masalah.
Tengah malam begini jalanan sangat sunyi, Ivar mencari gerobak nasi goreng yang buka malam dekat kosan Nindi. Beruntung ada food court yang buka malam, banyak jajanan dan ramai pengunjung meski sudah tengah malam.
Hanna yang semula ingin makan nasi goreng berubah, mereka akhirnya makan pecel lele khas jawa timur yang ramai pengunjung. Hanna menghabiskan dua potong ikan lele, Ivar memang tidak memberinya makan sore tadi.
Selesai makan Ivar kembali mengantarkan Nindi dan Hanna, para bapak-bapak yang sedang ronda menyapa Ivar dengan ramah. Ada yang aneh, tapi Nindi tidak ambil pusing. Semoga kedepan tidak ada lagi masalah yang dia timbulkan dan meresahkan lingkungan.
“Kunci pintu, jangan membukanya untuk sembarang orang.” Nindi mengangguk sambil menggandeng Hanna ke dalam.
“Paman, aku beri lampu hijau.” Nindi melirik ke arah Hanna.
“Gadis pintar. Mulai sekarang kita harus kerja sama.” Ivar mengacak rambut Hanna gemas.
Setelah memastikan Hanna dan Nindi aman, Ivar melangkah pulang. Tubuhnya juga sangat lelah seharian bekerja dan menjaga Hanna.
“Hanna? Apa yang lampu hijau?”
“Rahasia, Paman bilang tidak boleh memberi tahu Tante Nindi.” Tenseyum tanpa rasa bersalah.
“Oh…..Jadi main rahasia-rahasiaan nih.” Hanna hanya tersenyum dengan sangat manis. Membuat Nindi memeluknya gemas. “Kau ini, anak siapa sih ini.” *******-***** pipi Hanna gemas.
Hadirnya Ivar seperti malaikat penjaga bagi Nindi, entah kenapa semakin lama dirinya merasa semakin nyaman dengan kehadiran Ivar. Dia tidak banyak menunjukkan cintanya pada Nindi, dia hanya menunjukkannya dengan segala macam penjagaanya selama ini. Dia perduli pada Hanna layaknya seorang Ayah, dia tidak pernah lelah menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang keluar dari mulut Hanna. Dia sangat kritis, dulu Cakra yang selalu menjawab setiap pertanaan-pertanyaan Hanna, sekarang hadirnya Ivar membuat Hanna menumpahkan segala keingin tahuannya pada Ivar.
***
Ivar masuk langsung menuju kamarnya, menyalakan lampu dan Ivar terkejut saat melihat Edel yang wajahnya kusut menggendong Jason berdiri di sisi ranjangnya. Mata padanya cukup menjelaskan bagaimana lelahnya wanita ini.
“Kau ini! Aku pikir setan.” Rajuk Ivar sambil mengelus dadanya. “Kenapa kau tidak tidur?” Ivar duduk sambil mencopot dasi dan kemejanya.
“Jason sakit, aku gentian dengan Mas Ayman menggendongnya.” Edel duduk perlahan di tepi ranjang.
“Kasihan, kenapa tidak di bawa ke dokter?” Ivar memeriksa kening Jason, suhu tubuhnya tidak terlalu tinggi, tapi sumeng. “Aku mandi dulu, nanti aku gendong.”
“Malaikat Ku!!!” Teriak Edel merasa bahagia.
Selesai mandi Ivar menepati janjinya, menggantikan Edel menjaga putranya yang betah terjaga. “Kau tidur saja, siapkan apa yang harus aku berikan saat demamnya naik.”
“Ini obatnya, ini susunya tinggal kau hangatkan di mesin ini. Kau tau kan cara menggunakannya?” Ivar mengangguk. “Aku tidur 2 jam saja, setelah itu aku kembali ke sini.”
“Iya tidur sana.” Usir Ivar pada Kakaknya yang terlihat tidak tega meninggalkan putranya dengan Ivar seorang.
Cekrek…
Ivar mengirimkan foto dirinya yang sedang menggendong Jason pada Nindi. Tentu saja tidak ada balasan. Pasti Nindi sudah tidur.
Ivar mengompres kening Jason, perlahan panas tubuh Jason turun. Ivar hanya memberi Jason susu karena menangis kehausan. Setelahnya Jason yang kelelahan karena seharian menangis pun terlelap, Ivar ikut tidur sambil menggendong Jason.
“Var…Ivar….” Edel membangunkan Ivar. “Cepat sarapan, setelah itu kau boleh tidur lagi.”
__ADS_1
“Aku lelah, nanti saja Kak.” Ivar menarik selimutnya.
“Tidak, kau bergadang semalaman. Nanti kau sakit.” Edel mencoba sekuat tenaga menarik tubuh Ivar yang membantu di atas kasur.
Edel menyerah, Ivar sangat lelah sepertinya. Dia benar-benar tidak bergerak sedikitpun. Edel tau jika sudah begini Ivar tidak akan mau bangun sampai kenyang tidur.
Tring
“My Princes” Teriak Edel membaca nama pengirim pesan. Ivar yang samar-samar dengar langsung bangun dan menyambar ponselnya dari tangan Edel.
“Maaf Kak, aku samalam sudah tidur. Kak Ivar sudah punya anak?” Ivar membaca sambil senyum-senyum sendiri.
“Siapa? Aku mau lihat.” Ivar menghindari tangan Edel yang ingin meraih ponselnya. “Ivar, cepat beri tahu Kaka siapa My Princes itu.”
Ivar masih tidak menanggapi teriakan Kakaknya yang penasaran, dia melenggang menuju meja makan. Meraih air putih menghilangkan dahaga akibat terlalu banyak makan makanan yang berminyak semalam.
“Edel! Kau ini rebut sekali pagi-pagi buta.” Ellie tidak suka ada keributan. “Cepat makan Nak, kau pasti kelaparan bekerja sampai larut malam.” Ellie meraih tangan Ivar, memintanya duduk dan sarapan bersama.
“Aku masih kenyang Mah.” Ivar hanya meneguk susu putih dan kembali ke kamarnya. Tubuhnya lelah dan matanya benar-benar mengantuk.
“Nindi, sore nanti aku datang lagi menemani Hanna.” Pesannya sebelum tidur.
“Baik Kak, jangan merepotkan ya Kak.” Jawab Nindi tidak enak hati.
“Oh iya, foto yang tadi bukan anakku. Jika kita punya anak nanti, dia akan lebih tampan dari anak Kakakku.” Mengirim dengan emoji love berderet panjang.
Uhukkkk….uhukkkk….
Hanna mengambilkan air minum saat melihat Nindi tersedak sarapan nasi uduknya. “Tante mau minum lagi?” Tawar Hanna saat melihat Nindi menengak habis air satu gelas penuh.
“Cukup Han.” Nindi mengatur nafasnya, hidungnya terasa sedikit panas.
Selesai sarapan Nindi mengantar Hanna ke sekolah dengan kendaraan umum. Hanna sudah bisa menyesuaikan diri sekarang, awal-awal Hanna akan kepanasan dan berkeringat sampai bajunya basah. Sekarang tubuhnya sudah bisa menyesuaikan dangan kondisi yang sedang mereka jalani.
“Han, pulang nanti ikut Pak Kadin ya sayang. Tante sudah bilang supaya Hanna ikut pulang bareng Aisyah.” Hanna menganggu, Nindi sangat ingin menjadi yang terbaik saat melihat wajah Hanna yang begitu lugu.
“Tante…” Hanna tampak ragu bicara.
“Kenapa sayang, katakan ada apa?” Nindi berjongkok di depan Hanna.
Hanna mengeluarkan surat dari tasnya. Semalam Nindi pulang larut malam dan Hanna lupa ada surat pemberitahuan dari sekolah.
“Apa ini Han?” Nindi membuka amplop pembungkusnya.
“Kata Bu Guru boleh Tante Nindi yang datang karena Mamah dan Papah Hanna sudah tidak ada lagi.” Wajahnya tersenyum tapi matanya tidak bisa berbohong. Ada kesedihan yang coba Hanna sembunyikan.
“Ok, nanti Tante buatkan kostum yang keren yah.” Nindi tidak membahas perasaan Hanna sekarang, dia ingin membuat Hanna nyaman dengan tidak membicarakan tentang orang yang sangat berarti untuk hidupnya.
Hanna melambaikan tangan pada Nindi yang masih berdiri di depan gerbang sekolah. Senyum Hanna bisa memacu semangat Nindi setiap harinya, membuat dirinya percaya untuk menjalani hari-harinya.
__ADS_1