
Hari Keberuntungan
Saat pesta ulang tahun sedang di puncak acara, tiba-tiba saja hujan turun tanpa aba-aba. Langit yang terang tiba-tiba saja tertutup kabut tebal yang seolah ingin ikut meramaikan suasana pesta ulang tahun Luna. Satu persatu tamu undangan berhamburan memasuki ruangan menghindari terpaan air hujan.
Luna mematung sambil memegang lengan Abi yang berdiri di sebelahnya. Luna ingin ikut lari namun kakinya mendadak kaku. Dekorasi Pesta ulang tahun yang semula indah kini terguyur hujan. Tidak ada persiapan karena biasanya terang, musim juga belum memasuki penghujan.
“Nona...Nona!” Suara Abi menyadarkan Luna. “Nona akan terus di sini? Tidak ingin masuk ke dalam? Lihat baju Nona sangat transparan terkena air hujan.” Abi memalingkan wajahnya.
“Kenapa kau cerewet sekali Bi!” Luna masih sedih melihat pesta ulang tahunnya yang berantakan.
“Nona ayo cepat masuk, semua orang melihat kita berdua.” Luna melihat satu persatu orang-orang yang seolah menertawakannya.
“Mereka meledek aku Bi, mereka pasti ingin tertawa sekarang.” Hati Luna seolah sedang ditertawakan.
“Akan aku tebas kepala orang yang berani menertawakan Nona!” Balas Abi dengan bisikan yang lantang.
“Ngeri kamu Bi. Bisa ada pertumpahan dara Bi.” Jawab Luna yang terkejut mendengar Abi marah untuk pertama kalinya.
“Cepat Non! Aku tidak bisa membiarkan mereka melihat tubuh Nona begini. Gantian pakaian Nona dulu baru pikirkan kelanjutannya.” Padahal Abi yang sudah tidak bisa menahan matanya.
“Melanjutkan apa Bi, semua berantakan karena hujan.” Bibir Luna manyun membuat Abi tidak tega.
“Jangan sedih Nona, cepat ganti pakaian Nona.” Abi menggenggam erat tangan Luna yang ada di lengannya agar berjalan mengikuti langkahnya.
“Kau ini ribet sekali Bi. Pelan-pelan Bi!....kau mau aku jatuh yah!” Abi melembutkan langkahnya. Luna berjalan perlahan. Abi dengan setia menuntun Luna agar tidak terpeleset dengan sepatu heelsnya.
“Inilah kalau anak gadis tidak menurut pada Ayahnya, ulang tahun pun hujan lebat. Hahahaha....” Tawa Prabu meledek putrinya yang baru masuk. Prabu memang paling suka menggoda Luna.
“Ayah!!!!!” Luna kesal ditertawakan.
“Loh benar kan..”
“Sudah-sudah jangan dengarkan. Ayah jangan bercanda begitu, putrinya sedih malah diledekin.” Bela Tantri kasihan melihat wajah putrinya.
“Abi, tebas lehernya.” Wajah Abi menciut. “Kau tadi bilang akan menebas leher orang yang menertawakanku.” Bisik Luna di telinga Abi.
“Kalau Tuan, saya yang ditebas Non.” Bergidik Abi melihat mata tajam Tuan besarnya.
“Dasar cemen.” Luna berlalu ke kamarnya mengganti pakaiannya yang basah kuyup.
“Saya Ijin Nyonya, seragam saya basah.” Tantri membiarkan Abi pergi setelah Luna masuk ke kamarnya.
“Bi, setelah ganti awasi Luna lagi yah. Dia lagi kumat soalnya.” Abi mengangguk dengan sopan sebelum berlalu.
__ADS_1
Didalam kamar Luna terkejut saat melihat gaun cantik berwarna silver yang tergantung. Senyum merekah bak dapat durian runtuh setelah badai. Tanpa pikir panjang Luna mencoba gaun yang begitu indah itu. Berkaca berulang kali takjub dengan keindahan dirinya yang terapntul di cermin.
“Sayang, kenapa bolak balik tidak berhenti.”
“Ahhhh....Mamah kenapa kasih kejutan begini, kan aku jadi bahagia Mah.” Suara manja Luna memeluk Tantri yang memasuki kamarnya.
“Bukan Mamah, tapi Ayah.” Semakin bahagia karena kadonya sangat special dan diberikan oleh orang yang tidak kalah special. “Abi bilang Luna sangat senang gaun ini Tuan.” Memperagakan gaya Abi bicara pada Prabu sambil memperlihatkan gambar di ponselnya. “Eh...tau tau Ayah pesen langsung. Ditelpon temen-temennya yang punya outlet dan butik.”
Luna tersipu-sipu tidak percaya, padahal ceritanya hanya sekelebat saja saat dalam perjalanan ke kampus bersama Abi. Ternyata dua laki-laki yang selalu menjaganya sangat perhatian.
“Ayo kita keluar tamu-tamu pasti nungguin.” Luna berjalan bergandengan dengan sang Ibu. Ada perasaan haru, Tantri tidak bisa membayangkan bagaimana saat Putrinya mengenakan gaun pengantin nanti. Begini saja jantungnya sudah mau copot.
***
Ayman sedang menerima telpon dari kolega bisnisnya yang baru saja mendarat di Jakarta dari Jepang. Pembicaraan begitu panjang sampai Ayman tidak fokus memperhatikan Hanna yang asik bermain sendiri di pinggir pantai. Edel sudah kembali karena Jason buang air besar.
Ada balon terbang yang tiba-tiba saja mendarat di depan Hanna. Hanna melirik kiri dan kanan mencari pemilik balon. Tidak ada siapa pun di sana.
Apa balon ini Tuhan kirimkan untuk Hanna? Batinnya bergelut di ambil atau tidak. Hanna berdiri, mencoba meraih tali balon.
Baru saja ingin di ambil, balon terbang terbawa angin. Hanna mengejarnya karena masih dekat, setiap kali Hanna akan mengambilnya Balonnya terbang menjauh. Hanna sampai tidak sadar jika dirinya sudah berada bukan di tempatnya tadi.
Hanna ingin kembali, tapi dia lupa ke arah mana dia harus berjalan. Hanna duduk dan merasa bingung, beberapa orang yang ada di sekitarnya tidak bisa berbahasa Indonesia. Mereka turis.
“Mungkin Hanna pulang ke hotel.” Ayman lari sampai tidak sadar sandalnya terlepas. Dia khawatir berlebihan.
Brukkkk....
Jason yang duduk di sofa terkejut dan menangis. Edel tidak kalah terkejut melihat Ayman begitu ketakutan.
Ayman mengatur nafasnya yang tidak beraturan. “Han..Hanna mana, dimana Hanna.” Tanya Ayman terbata-bata.
“Dia kan sama kamu Mas, Hanna belum kembali.” Perasaan Edel mulai tidak enak. “Tenang dulu, duduk dulu Mas.” Edel mengambilkan segelas air putih agar Ayman lebih tenang.
Ayman perlahan tenang. Mengambil ponsel dan menghubungi pihak Hotel agar mencari anaknya yang hilang. Ayman menceritakan dengan detail ciri-ciri Hanna pada pihak Hotel agar ikut mecari keberadaan Hanna. Sampai CCTV pun Ayman meminta pihak Hotel mengeceknya dengan teliti.
Edel tidak bisa ikut berpikir, yang ada di kepalanya hanya hal-hal buruk yang bisa saja menimpa Hanna. Ingin rasanya mengumpat Ayman, namun melihatnya sungguh tidak tega. Dia juga pasti sangat menyalahkan dirinya sendiri.
“Kita tidak bisa diam saja. Aku akan mencari Hanna.” Edel menggendong Jason, Ayman mengikutinya dari belakang. Pikiran keduanya sudah tidak waras, Edel tanpa sadar menitikan air mata karena bingung. Putrinya tidak ada di manapaun.
Mengelilingi halaman Hotel yang begitu besar membuat Edel lemas. Ayman mengambil Jason dari tangan Edel. Dia bahkan tidak bisa mengucapkan satu katapun pada Edel. Bagaimana bisa dirinya sangat teledor menjaga Putrinya.
“Biar aku saja yang gendong Jason.” Edel mendadak tidak bisa mempercayakan Jason di tangan Ayman, egois mungkin. Tapi itu perasaan seorang Ibu. Dia bisa begitu egois dan keras jika menyangkut anak-anaknya. Ayman tidak membantah, dia tidak mau menyulut amarah Edel.
__ADS_1
30 menit berkeliling, Ayman mendapat telpon dari pihak Hotel yang berhasil menemukan Hanna. Ayman lari tidak memperdulikan apapun lagi. Edel lega melihat Ayman tersenyum padanya, itu pertanda baik. Edel perlahan berlari menyusul Ayman.
“Dimana Putri saya.” Teriak Ayman saat tiba di ruang tunggu Hotel yang ada di Lobby utama.
“Paman....” Suara tangis Hanna pecah karena lega. Akhirnya dia bertemu lagi dengan Ayman, Hanna pikir benar-benar tidak akan bertemu lagi dengan Ayman.
“Syukurlah....”Ayman mengecek seluruh tubuh Hanna. “Hanna tidak terluka?” Hanna menggeleng. “Hanna tidak ada yang menyakiti kan?”
“Tidak ada, Hanna takut sendiri. Jangan tinggalkan Hanna.” Pinta Hanna disela-sela tangisannya.
“Maaf Tuan, tadi Ayahnya bilang akan menjemputnya sendiri.” Tegur seorang pegawai Hotel yang diminta menemani Hanna.
“Aku Ayahnya, dia Putriku.” Kesal Ayman yang tidak berdasar, pegawai Hotel hanya sedang menjalankan tugasnya.
“Tapi Tuan.” Merasa takut namun tidak mau disalahkan.
“Hubungi Ayahnya, kenapa kau diam saja.” Ketus Ayman yang semakin kesal. Ponsel Ayman berdering. Menatap tajam pegawai yang menunduk merasa tidak enak. “Kau pikir karena dia tidak memanggilku Ayah, lantas dia bukan Putriku.” Hanna ketakutan melihat Ayman marah-marah. Hanna memeluk Ayman begitu erat.
“Maaf Tuan, saya hanya menjalankan tugas saya.” Masih menunduk takut tidak berani menatap mata Ayman.
“Hanna....” Teriak Edel yang melihat Hanna masih menangis entah kenapa.
“Syukurlah Putriku baik-baik saja.” Hanna masih sedikit terisak. Edel menciumi wajah putrinya yang berderai air mata. “Hanna sudah aman sekarang.”
“Kau beruntung, kalau ini bukan hari keberuntunganku. Aku pasti sudah melaporkan kinerja Hotel yang payah ini.” Kesal Ayman yang di lampiaskan pada orang lain.
Ayman meraih Hanna menggendongnya dan membawanya pergi. Baru kali ini Edel melihat Ayman semarah ini, dia benar-benar kehilangan kendali.
“Maafkan suami saya ya Mbak, dia benar-benar sedang kebingungan Putrinya hilang. Tolong jangan di ambil hati yah kata-katanya.” Edel tidak tega melihat Pegawai yang Ayman marahi. Mereka tahu jika Ayman adalah tamu pemilik hotel, mereka memperlakukan Ayman dan keluarganya sangat special karena tamu lansgung pemilik hotel.
Namun pegawai Hotel tetap harus menjalankan pekerjaan sesuai prosedur, mereka hanya tahu jika Ayman memilik satu anak laki-laki. Bos lupa menginformasikan jika Ayman juga membawa seorang Putri. Kebetulan pegawai yang baru saja di marahi tidak tahu saat Ayman Cek In berjumlah 4 orang. Mungkin ini hari buruknya.
“Hanna kenapa pergi begitu saja.” Tanya Ayman yang sudah sampai di kamar Hotelnya. Hanna diam tidak berani menjawab. “Hanna tahu kan di luar sana banyak sekali orang jahat. Orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Hanna tahu kan!” Suara Ayman meninggi. Hanna menyaka air matanya. Bibirnya terkunci rapat.
“Jangan pergi tanpa ijin Paman, Hanna saat berada dimanapun tidak bisa seenaknya pergi ke tempat yang Hanna mau tanpa pengawasan Paman. Hanna mengerti tidak?” Hanna mengangguk, air matanya masih mengalir namun tidak ada suara tangisan.
Edel yang baru saja masuk mendengar suara Ayman yang begitu keras. Apa yang sebenarnya merasuki diri Ayman, kenapa kemarahannya tidak mereda padahal Hanna sudah berhasil ditemukan.
Hanna menatap Edel. Matanya meminta Edel membantunya. Namun dalam situasi seperti ini, Edel tidak bisa menunjukkan dirinya, Putrinya bisa bingung. Memang benar apa yang Ayman katakan, hanya momen nya tidak pas. Hanna harus menenangkan dirinya yang juga pasti sangat syok.
Edel menebar senyum pada Ayman, menyadarkan dirinya agar tidak berlarut dalam kemarahan. Begitu besar penyesalan yang membuat Ayman tidak bisa mengontrol emosinya. Dia benar-benar hilang kendali.
“Aku ingin menghirup udara segar.” Mata Ayman berkaca-kaca. Edel memeluk Ayman erat sebelum membiarkannya keluar dari kamarnya. Setidaknya Ayman tahu dirinya begitu mengerti akan kekhawatirannya. Ayman membalas mencium kening Edel sebelum pergi, sedikit tenang namun tetap tidak mau menampakkan kesedihannya di depan Hanna yang sudah mulai paham.
__ADS_1