
Pagi-pagi Ivar sudah mengajak Nindi berkeliling menikmati udara sejuk yang belum terkontaminasi oleh polusi kendaraan bermotor. Menyambangi tukang bubur langganan Ivar sejak dia kecil. Mengenalkan dengan bangga jika saat ini dirinya sudah tidak lagi sendiri. Sudah ada wanita cantik yang selalu ada di sisinya.
Dengan senang hati sang pemilik warung bubur bernama Pak Amad menerima kedatangan pelanggan istimewanya. Ivar setiap membeli tidak pernah mengambil uang kembalian, dari jama warung Pak Amad sepi sampai sekarang besar dan sudah banyak pelanggannya.
“Ramai sekarang Pak. Senang yah kalau ramai begini.” Ivar kaget melihat warung yang semakin besar.
“Alhamdulillah Mas Ivar. Sekarang sudah lumayan ramai warung saya Mas.” Merendah karena Ivar pasti tahu bagaimana dulu warungnya berdiri.
“Seneng Pak lihatnya.” Ivar mengajak Nindi duduk di sebelahnya.
“Selamat ya mas Ivar. Dulu mas Ivar kecil sekali, eh....sekarang sudah punya istri aja, cantik sekali istrinya Mas Ivar. Hehehehe….” Tawa tukang bubur mengenang Ivar kecil. Nindi ikut tersenyum mendengar pujian untuk dirinya.
“Bapak yang awet muda. Harus banyak belajar nih supaya tetap sehat dan awet muda seperti Pak Amad.” Ivar tidak lupa memuji orang yang memujinya dengan tulus.
“Bisa saja, silahkan Non di nikmati bubur special buatan Pak Amad. Semoga suka yah.” Dua mangkuk bubur tersedia siap dinikmati.
Ivar dan Nindi menikmati suap demi suap Bubur Ayam yang menggugah selera. Ivar masih punya banyak waktu karena dirinya masih diberikan cuti beberapa hari. Nindi memutuskan mencari pekerjaan lain agar tidak bergantung sepenuhnya pada Edel dan keluarga besar Ivar. Dia ingin punya karir dan membangunnya sendiri.
Selesai makan Ivar dan Nindi kembali ke rumah. Tangan Nindi tidak lepas dari genggaman tangan Ivar, sesekali Ivar mengayunkan tangannya tinggi membuat Nindi tertawa.
“Bagaimana rencanamu ke depan? Apa kau yakin tidak melanjutkan di butik Kak Edel?” Ivar penasaran alasan sebenarnya Nindi ingin pindah dari tempat Edel.
“Apa aku boleh mengatur sendiri apa yang ingin aku lakukan Kak? Bukan Nindi tidak mau membantu Butik Kak Edel, Nindi Cuma ingin punya pengalaman baru.” Hanya itu saja yang keluar dari mulut Nindi.
“Kak Ivar dukung-dukung saja, asal Nindi tidak terlalu lelah. Kak Ivar ingin Nindi punya banyak waktu untukku.”
“Kalau di butik Kak Edel aku suka, tapi Nindi ingin punya pengalaman yang lebih luas.”
“Sudah tau mau melamar dimana?”
“Aku masih mencari-cari.”
“Aku punya kenalan teman sekolah dulu. Dia punya rumah produksi baju-baju yang di kirim ke luar negeri. Perusahaanya cukup besar. Apa kau mau aku menghubunginya?”
“Kak Ivar ini, Nindi tidak mau lagi bekerja di tempat yang Kak Ivar atau keluarga Kak Ivar bisa merekomendasikan Nindi. Aku ingin mencarinya sendiri.”
“Iya sayang, aku hanya tidak mau meliat kamu kesulitan. Kak Ivar bisa marah kalau Nindi tidak bahagia setelah menikah denganku.”
“Berikan kepercayaan Kak Ivar padaku.” Ivar mengecup kening Nindi gemas. Dirinya terlalu berlebihan memang.
Sebagian orang sudah bangun dan memulai aktifitas pagi dengan semangat. Nindi tidak lupa membelikan orang rumah bubur Pak Amad. Menatanya di atas meja dengan rapih sebelum memanggil para penghuni rumah untuk sarapan pagi.
“Pagi Nak.” Sapa Edwin tidak lupa mengecup kening Nindi yang sekarang menjadi putrinya. “Kalian pagi-pagi sekali sudah beli sarapan?” Edwin heran Ivar bisa bangun sepagi ini.
“Kak Ivar lapar, jadi setelah subuh mengajak Nindi beli bubur Pah.” Edwin membuka Bubur dan menikmatinya.
“Enak sekali, ini pasti buburnya Pak Amad yah.” Rasanya sudah bisa ditebak.
“Iya Pah, kemana lagi Ivar mencari bubur pagi-pagi begini.”
__ADS_1
“Aku bangunkan Hanna dan Kak Edel yah.” Ivar melepaskan tangannya Nindi yang masih dia genggam.
“Gandengan terus kalian ini.” Edwin meledek Putranya yang benar-benar kekanakan setelah punya istri. Nindi hanya tersipu malu.
Belum juga kaki Nindi beranjak, rombongan kamar bawah sudah keluar. Hanna yang masih mengantuk di gendong Kak Ayman, dan Jason yang matanya sudah secerah mentari ada di gendongan Edel.
“Selamat Pagi cucu-cucu Opah.” Keluarga Ivar terbiasa menyambut pagi dengan saling memberi pelukkan atau kecupan. Keluarga yang sangat hangat.
“Ayo Paman bantu Hanna cuci muka dulu.” Ayman dengan telaten memcuci muka Hanna. Hanna masih lengket di gendongan Ayman.
“Sini Han, sama tante Nindi yah.” Hanna turun dari pangkuan Ayman.
“Aku makan sendiri saja tante, nanti malu dilihat Jason.” Hanna memang sangat mandiri, hanya terkadang masih suka manja-manja seperti anak kecil pada umumnya.
“Mamah di mana Pah. Kok belum turun?” Edel mengedarkan pandangan sambil menikmati bubur ayamnya. “Enak sekali memang bubur Pak Amad ini. Beruntung sekali ada yang menyiapkannya pagi-pagi begini.”
“Apa biasanya tidak sarapan berat di sini?”
“Biasanya kami hanya makan roti atau jus, atau minum susu pagi-pagi begini Nin. Bibi masaknya nanti tunggu Mamah turun dari kayangan. Heheheh” Semua ikut tertawa.
“Hayo membicarakan Mamah yah….” Edel tertangkap basah.
“Ayo mah kita sarapan bersama, sudah lama meja bundar kita ini tidak digunakan.” Ivar menyambut Mamah dengan pelukkan hangat.
Ellie memeluk putra putri dan cucu menantunya satu persatu. Tampak biasa saja hari ini, Nindi berharap Ellie benar-benar tulus. Senyumnya begitu terlihat tulus pagi ini.
“Hanna, kenapa tidak tidur di kamar Omah? Kan Omah kesepian!” Ellie duduk di sebelah Hanna yang sedang menikmati buburnya.
“Benarkah, Jason ini ada-ada saja.” Ellie mencium pipi Hanna yang semakin tembam.
Semua sarapan dengan tenang. Semua pekerja juga sudah mendapatkan bubur masing-masing satu kotak lengkap dengan krupuk dan sate-sate beraneka macam pilihan.
“Nin, kamu benar-benar mau bekerja di tempat lain?” Nindi mengangguk.
“Yahhhhh….aku kan sangat suka dengan cara kerja kamu Nin.”
“Nanti pasti akan ada pengganti Nindi yang lebih bagus dan rapih Kak.” Nindi benar-benar tidak mau lagi bergantung pada keluarga Ivar.
“Kamu ini Nin, padahal apa salahnya kerja sama Kak Edel. Sama saja toh kalau kerja dimana saja Nin.” Gerutu Edel kehilangan karyawan sebagus Nindi.
“Kau ini Kak, jangan memaksa Nindi. Toh Butikmu tidak akan runtuh tanpa Nindi di sana.” Ivar mencoba menengahi.
“Iya Var, kau tidak tau saja bagaimana aku sudah melatih Nindi. Sayang kalau dia kerja di tempat lain, bisa tidak di angkat namanya. Kau tahu sendiri bekerja di tempat lain seperti apa. Mereka hanya perduli dengan keuntungan perusahaan tanpa mempertimbangkan karir karyawannya.”
“Nindi pasti bisa Kak, Nindi akan berusaha keras.” Nindi tidak mau merubah keputusannya. Dia ingin punya karir yang dia bangun sendiri tanpa bantuan orang lain.
“Iya Nin, tetap saja aku tidak rela melepaskan Nindi ke perusahaan lain.” Edel memasang wajah sedihnya.
Nindi tidak enak hati sebenarnya, tapi apa boleh buat, dia tidak mau dipandang sebelah mata. Dia ingin membuktikan pada semua orang jika dirinya bisa berdiri sendiri dan tidak bergantung pada Ivar sepenuhnya.
__ADS_1
Nindi merapihkan meja setelah sarapan, dia ingin bersiap membuat surat lamaran pekerjaan. Ingin sekali rasanya punya kesempatan bekerja di perusahaan besar yang kelak akan membesarkan namanya. Tidak boleh patah semangat, aku pasti bisa.
Nindi sibuk dengan laptop dan segala pekerjaannya mancari lowongan, Ivar yang berbaring di sofa hanya memandangi punggung Nindi yang duduk di depannya. Sesekali Ivar memainkan rambut panjang Nindi yang di kucir kuda.
“Kapan kau selesai?”
“Sedikit lagi, aku baru mengirim email ke beberapa perusahaan yang aku impikan selama ini.” Wajahnya terlihat begitu senang.
“Cepat sayang, aku ingin mengajakmu makan siang di luar.” Rengek Ivar seperti anak kecil.
“Apa tidak sebaiknya kita makan di rumah saja?”
“Tidak, aku ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu.” Suaminya sangat kekanakan sekali.
“Tunggu sebentar lagi, beri aku waktu 30 menit lagi.”
“Terlalu lama Nin. Aku beri waktu 15 menit. Aku siap-siap dulu.” Ivar mencium kepala Nindi sebelum pergi membersihkan dirinya.
Nindi turun ke bawah setelah menyelesaikan pekerjaannya. Mencari Ivar yang ternyata sedang bermain bersama Jason dan Hanna di halaman depan. Nindi berinisiatif ingin menyiapkan buah sebelum dia pergi. Nindi mengeluarkan 2 buah apel dan 1 buah naga dari dalam kulkas.
Saat ingin memulai memotong buah Nindi ingat belum mencabut hair dryer dan langsung lari ke kamarnya untuk memastikan.
Untung saja sudah ku cabut ternyata. Mengagetkan saja.
Samar-samar Nindi mendengar keributan dari bawah, perlahan Nindi mencari sumber suara yang sepertinya berasal dari dapur.
“Jangan sentuh apapun jika aku tidak memintanya.” Suara Ellie yang sedang memarahi Bi Inah dan Mbak lastri.
“Maaf Bu, Bibi benar-benar tidak tahu kenapa bisa ada di sini.” Ternyata keributan berasal dari buah yang Nindi keluarkan.
“Mah, maaf Nindi yang mengeluarkannya dari kulkas. Nindi ingin menyiapkannya untuk Hanna dan Kak Ivar.” Degub kencang jantung Nindi seolah terdengar di telinganya.
“Jangan menyentuh apapun. Ingat ya Bi, Mbak. Jangan seperti orang tidak berpendidikan tidak tahu sopan santun.” Ellie tidak menengok Nindi sedikitpun melengos pergi begitu saja meninggalkannya.
“Bi Inah, Mbak Lastri maafkan saya yah. Kalian jadi kena marah.” Nindi tidak enak hati menyebabkan keributan.
“Gak papa Non. Kita juga minta maaf yah.” Jawab Bi Inah mewakili.
Ternaya senyumnya pagi tadi masih palsu, Nindi sampai tidak bisa membedakan mana yang tulus dan tidak dari sikap Ellie. Tapi Nindi masih bersyukur Ellie tidak memperlihatkannya pada Hanna. Dia tulus menyayangi Hanna.
“Kenaap lama sekali sayang!” Gerutu Ivar yang sedang menggendong Jason.
Nindi memeluk Hanna yang sedang duduk di samping Ivar. “Hanna, Tante Nindi sayang Hanna.” Ivar bingung kenapa Nindi terlihat sangat emosional.
“Apa semuanya baik-baik saja?” Nindi mengangguk masih memejamkan matanya.
“Hanna mau ikut tidak?” Nindi ingin bersandar di bahu bocah kecil yang selalu jadi semangat hidupnya.
“Paman Ayman mau mengajak Hanna dan Jason pergi makan Ice Cream.” Hanna sudah cantik memang, sepertinya Edel yang mendandaninya.
__ADS_1
“Ya sudah, Tante Nin pergi sebentar yah.” Hanna hanya menjawab dengan anggukan kepala.