Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Malam ini Ivar memustuskan membawa Hanna dan Nindi menginap di hotel bintang lima dekat dengan taman hiburan yang ingin mereka datangi esok hari. Ivar memilih tempat paling nyaman dengan fasilitas yang serba bagus untuk kedua wanita kesayangannya yang saat ini sedang menikmati ice cream Vanilla mix coklat yang mereka pesan di toserba dekat hotel.


Hanna dan Nindi sesekali menyodorkan Ice Cream ke mulut Ivar yang dia tolak degan lembut. Ivar hanya ingin memandangi keduanya dengan puas. Nindi dan Hanna tidak perduli dengan sikap Ivar karena hati mereka sedang bahagia. Lagian Nindi tahu betul Ivar tidak terlalu suka makanan manis seperti dirinya dan Hanna.


“Setelah ini istirahat yah, kalian tidak boleh menolak lagi. Ini sudah sangat malam.” Di jawab anggukan kepala oleh keduanya. Sudah beberapa kali Ivar meminta keduanya istirahat namun mereka masih ingin berkeliling Kota Malang.


“Kita belanja dulu ya Bang, Nindi takut malam-malam ingin makan.” Pintanya yang akhir-akhir ini sering terbangun karena rasa lapar yang tak tertahankan.


“Iya sayang, beli makanan yang sehat dan bergizi. Hari ini kau sudah terlalu banyak mengkonsumsi makanan cepat saji.”


“Baik Abang, kan tidak sering Nindi makan sembarangan Bang. Baru kali ini saja.” Mencoba membela diri meski dirinya juga agak menyesal setelahnya.


“Iya Abang ijinkan hari ini saja, besok tidak lagi. Abang tidak mau lagi melihat Nindi dan Hanna makan jajanan yang terlalu banyak minyak dan tidak sehat.”


“Hanna tidak makan, tante Nindi yang habiskan.” Hanna kesal karena Nindi yang makan tapi dirinya yang di jadikan kambing hitam.


“Kalau Tante yang minta tidak akan di kasih Han.” Bisiknya pada Hanna yang terlihat kesal.


“Tapi Tante bisa merayu Paman seperti biasanya.”


“Tidak mempan Han. Ada bayi di perut Tante Nindi.”


“Ah.....benar. Maka sebaiknya kau menurut Tan.” Hanna menggeleng pada Tantenya yang mengesalkan.


“Kenapa kalian saling berbisik. Membicarakan Paman yah!”


“Tidak.” Nindi


“Iya” Hanna


Jawabnya bersamaan dengan jawaban yang berbeda.


“Dasar tidak kompak, lain kali bicarakan dulu jawaban yang benar agar Paman tidak curiga.” Hanna dan Nindi terkekeh malu.


Selesai makan Ice Cream Ivar memutuskan mengantar Nindi dan Hanna ke hotel. Setelahnya dirinya pergi ke supermarket untuk mencari makanan yang bisa Nindi konsumsi jika tiba-tiba merasa lapar. Awalnya Nindi menolak untuk pulang dan ingin ikut Ivar belanja, namun melihat wajah Ivar yang menyeramkan, Nindi akhirnya menuruti permintaan Ivar untuk istirahat.


“Jangan buka pintu sembarangan ya Nin. Kalau ada yang memencet bel segera telpon Abang.” Pesanya sebelum meninggalkan kamar hotel.


“Iya Abang, cepat Abang pergi. Dan ingat aku ingin makan buah naga.”


“Iya, Hanna jaga Tante yah.” Hanna yang sudah berada di bawah selimut mengangguk dengan mata sayunya yang sudah tidak tahan lagi menahan kantuk.


Selesai membersihkan tubuhnya, Nindi merebahkan dirinya yang lelah di samping Hanna. “Tidur Han, kenapa kau masih melek padahal matamu sudah sangat merah.” Heran Nindi yang melihat Hanna masih terjaga.


“Lalu siapa yang jaga Tante? Kan Paman meminta Hanna menjaga Tante Nindi.” Jawabnya dengan polos.


“Hehehehe.......terbalik Hanna.” Nindi menaikkan selimut sampai ke dada Hanna. “Sudah cepat tidur, Tante yang akan jaga Hanna.”


“Hanna juga sedang berpikir kenapa Paman meminta Hanna menjaga Tante.” Nindi semakin gemas melihat wajah polos Hanna dengan ekspresi imutnya.


Tidak lama Hanna terlelap, dia pasti sangat mengantuk. Nindi juga ikut memejamkan mata, badannya terasa lelah setelah seharin dalam perjalanan yang dilalui dengan rintangan yang tidak mudah.

__ADS_1


Brukkkk.....


“Maaf Nona, aww......” Ivar merasakan panas di tangan kanannya karena kopi yang dia bawa tumpah. “Nona tidak terluka kan?” Tanyanya sedikit khawatir.


“Tidak apa mas....” Mengibaskan bajunya yang basah terkena tumpahan kopi.


“Pakai saja jaketku, maaf ya Nona. Saya tidak sengaja sungguh.” Ivar melepaskan jaket yang dia gunakan.


“Besok akan saya kembalikan, bisakan besok Mas menemui saya di sini lagi?” Pintanya karena tahu jaket yang Ivar serahkan padanya tidak murah harganya.


“Tidak perlu dikembalikan.”


“Kalau begitu saya tidak bisa menerimanya Mas.” Menyodorkan kembali jaket pada Ivar merasa sungkan.


“Baiklah kalau begitu, besok saya temui lagi jam 9 pagi ya Nona, saya dan istri saya mau pergi ada acara.” Pintanya agar bisa tepat waktu.


“Baik Mas. Besok saya sampai sini jam 9 pagi.” Berlalu pergi meninggalkan Ivar.


Ivar masuk kamar, Ivar mendapati Nindi dan Hanna sedang terlelap dengan damai. Wajah yang mampu menghapus rasa lelah Ivar setelah seharian berkutat dengan segala macam kegiatan yang cukup melelahkan. Ivar membersihkan tubuhnya sebelum ikut merebahkan tubuhnya yang protes memintanya segera beristirahat.


“Ahhh....sebentar lagi...jangan mengganggu Paman Han.” Pintanya menarik selimut kembali masih merasa ngantuk. “Han...Paman mohon 5 menit lagi sayang.” Hanna yang duduk di ujung kasur terkekeh pelan. Dia sangat suka menggoda Ivar agar segera bangun.


“Cepat Paman, aku sudah tidak sabar ingin main.” Pintanya menarik selimut Ivar.


“Paman ngantuk Han. Masih terlalu pagi.” Nindi yang melihat tingkah Ivar tersenyum tipis.


“Han...cepat mandi. Nanti Paman bangun kalau Hanna selesai mandi.” Hanna segera lari ke kamar mandi menuruti perintah Nindi.


“Sudah jam 8, kita mau jalan jam berapa Bang?”


“Tidak Nindi tidak Hanna!” Ivar membuat Nindi tertawa. “Baiklah, aku harus segera bangun.” Ivar duduk dengan mata masih terpejam.


“Hahahaha.....lagian kita sudah ada di kota Malang, masa hanya menunggu Abang tidur. Kan aku ingin jalan-jalan Abang.”


“Iya sayang, ayo kita jalan yah.” Mengucek matanya yang masih lengket. “Nin..... dimana Hanna?”


“Hanna masih mandi.” Ivar merebahkan lagi tubuhnya merasa punya sedikit waktu. “Abang jangan tidur lagi.” Nindi mencoba membuat Ivar bangun tapi tidak berhasil.


“Nanti Abang bangun kalau Hanna sudah selesai mandi.”


“Hanna sudah selesai Paman.” Teriaknya yang baru saja keluar dari kamar mandi mengenakan handuk. Wajah Ivar tertekan, baru saja dirinya merasa senang.


“Hanna mandi cepat sekali, pakai sabun dan keramas tidak?”


“Iya Tante, aku buru-buru supaya cepet jalan Tante.” Jawabnya dengan enteng. Berjalan ke lemari pakaian.


“Sekarang giliran Paman mandi, cepat Paman.” Nindi sedikit melengkingkan suaranya agar Ivar segera bangun.


“Iya sayang, Hanna cium Paman dulu supaya dapat kekuatan.” Hanna menuruti perimintaan Ivar dan segera mendaratkan ciuman di pipi Ivar kanan dan kiri.


Sekarang sudah siap ketiganya dengan pakaian yang serasi berwarna biru tua.

__ADS_1


Ivar menggandeng Hanna di sebelah kanan dan Nindi di sebelah kirinya. Berjalan beriringan bak keluarga idaman yang harmonis.


“Mampir sebentar ya Nin, Abang mau ambil jaket yang semalam Abang pinjamkan karena Abang menumpahkan kopi tidak sengaja?”


“Kok Bisa?”


“Namanya musibah Nin, Abang juga tidak tahu kenapa bisa menabraknya tidak sengaja.” Nindi hanya manggut-manggut tidak perlu ada yang dicurigai.


“Janjian dimana Abang?” Ivar menunjuk cafe sebrang hotel yang terlihat ramai.


“Tunggu sebentar ya Nin, sepertinya dia belum sampai.” Nindi dan Hanna memesan minuman dan duduk dengan santai menunggu pesanan datang.


“Mas....” seorang gadis melambaikan tangan pada Ivar yang baru saja memasuki cafe.


Degub jantung Nindi tiba-tiba tidak beraturan, wanita yang ada di hadapannya begitu mirip dengan Agnia Aruni Kakak Iparnya yang sudah meninggal.


“Mirip Bunda....” Bisik Hanna yang masih bisa di dengar oleh Ivar dan Nindi. Matanya tidak berkedip menatap wanita yang menyapa mereka.


Ivar menatap wajah Nindi yang menunduk mengalihkan pandangan matanya.


“Kenapa sayang? Kau baik-baik saja?” Nindi menahan diri agar tidak terbawa emosi. “Kenapa? Ada apa?”


Gadis yang merasa heran Ivar tidak juga berjalan ke arahnya memutuskan menghampiri Ivar. “Mas, saya mau mengembalikan jaketnya. Terimakasih banyak ya Mas.” Ucapnya dengan lembut, suaranya bahkan mirip dengan suara Kaka Iparnya.


“Duduk dulu Nona, kami pesankan minuman yah.” Tawar Ivar dengan ramah.


“Tidak perlu Mas, saya di tunggu Bibi saya di depan san....” Tersenyum melihat wanita paruh baya yang berjalan ke arahnya. “Bibi kenapa kesini, kan aku bilang tunggu sebentar Bi.” Dia tersenyum.


“Bibi juga ingin pesan minuman, ini pemuda yang semalam kamu ceritakan Tih?” Menyalami Ivar dengan sopan.


“Ivar Bi.” Mengenalkan dirinya.


“Maysarah, panggil saja Sarah.” Balasnya tidak kalah sopan. Nindi memegangi dadanya yang semakin bergemuruh tidak bisa dia kendalikan.


Ivar yang merasa Nindi tidak baik-baik saja berjalan ke meja Nindi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Nindi, kau baik-baik saja? Apa kita ke rumah sakit saja yah?” Pintanya merasa takut. Nindi menggeleng dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya. “Kenapa sayang, tenanglah Nin.” Ivar bingung, Hanna tidak bersuara merasa kasihan pada Nindi.


“Ni...Nindi....kau kah Nindi yang Ibu kenal?” Berjongkok di depan Nindi. Melihat wajah Nindi, Sarah memeluknya dengan erat dan menangis penuh emosi.


Ivar memeluk Hanna dan membawanya pergi dari sana, Ivar menangkap apa yang sedari tadi membuat Nindi begitu terlihat sangat sakit. Ivar mencoba memberi ruang pada Nindi dan Maysarah bicara empat mata. Ivar juga meminta Nona muda yang menjadi jalan mereka bertemu bersamanya.


“Bagaimana kabarmu dan Hanna Nin?” Tanyanya setelah tangis keduanya reda.


“Baik Bu.” Jawab Nindi masih menunduk tidak percaya dengan siapa dia bertemu.


“Ibu menyesal Nin. Ibu mencari kalian ke alamat rumah yang Agni berikan pada Ibu. Kalian sudah tidak ada di sana.” Membelai puncak kepala Nindi dengan lembut.


“Kami sudah tidak lagi tinggal di sana Bu.”


“Ibu menyesal Nin, menyesal sekali Nin.” Kembali terisak mengingat kebodohannya.


Tidak lama Ivar kembali menemui Nindi , meminta ijin membawa Nindi dan Hanna ketujuan awal mereka datang ke sana. Ivar tidak mau Nindi stress dan berakibat tidak baik pada kandungannya. Meski tidak bertanya, Ivar sangat tahu bagaimana perasaan Nindi saat ini. Ivar hanya ingin Nindi menceritakannya sendiri tanpa Ivar minta.

__ADS_1


Nindi mencoba terlihat ceria di depan Hanna. Tidak mau merusak momen liburan yang jarang sekali Nindi dan Hanna nikmati bersama. Ivar mencoba menikmati saja senyum palsu Nindi, dia tahu betul Nindi menyembunyikan kesedihannya demi kebahagiaan Hanna.


__ADS_2