Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
(Ivar Kembali)


__ADS_3

Ivar bingung saat ingin mengejutkan Edel dengan kepulangannya, bukan Edel yang terkejut. Tapi dirinya yang melihat Hanna menangis di hadapannya. Bagaimana gadis kecil ini ada bersama Edel.


Melihat Hanna menangis tersedu-sedu Edel tidak tega, dia memeluk erat tubuh Hanna. Ivar perlahan menghampiri Hanna dan Edel yang tidak bergeming dari tempatnya. Ivar tau Hanna sangat khawatir akan kehilangan orang yang dia sayangi.


Ivar yakin sekarang, bukan hati Nindi yang berhasil dia taklukan. Tapi cinta Hanna padanya yang membuat dirinya ingin memiliki keduanya dalam hidupnya. Dia seperti malaikat kecil yang belakangan ini mengisi hidupnya yang penuh kehampaan.


“Paman kembali sayang. Paman janji tidak akan pergi tanpa ijin darimu lain kali.” Hanna hanya tersedu-sedu tanpa bisa membuka matanya dalam pelukkan Edel.


“Jadi aku benar, kau memang tidak asing. Hanna adalah gadis kecil yang ada di galeri ponselmu?” Ivar mengangguk. “Ayo gendong Hanna, kita harus menenangkannya.”


Ivar memeluk Hanna dalam dekapannya, perlahan isak tangisnya mulai berhenti perlahan. Meski air mata sesekali masih menetes dari mata indahnya.


“Hanna merindukan Paman?” Hanna menggeleng. Ada perasaan kesal karena Ivar pergi tanpa pamit. “Benar kah? Apa lebih baik Paman pergi lagi?” Matanya menyala melotot ke arah Ivar.


“Paman mengingkari janji, Hanna tidak suka.” Ivar ingat janjinya tidak akan pernah meninggalkan Hanna dan Tante Nindi.


“Tidak lupa sayang, Paman pergi karena ada tugas yang sangat penting.” Jelas Ivar pada Hanna yang merajuk padanya.


“Bohong. Paman pasti mau meninggalkan kita kan? Iya kan? Kata Lula, kalau laki-laki pergi tanpa ijin berarti dia tidak sayang lagi.” Edel tertawa saat mendengar percakapan adiknya dengan gadis kecil yang sangat cerdas.


“Lula tidak benar, Paman kali ini pergi karena sedang ada pekerjaan.”


“Memang tidak bisa sebentar saja datang untuk meminta ijin?” Ivar merasa bukan Hanna yang bicara, tapi Nindi.


“Kau baru menghadapi adiknya, belum menghadapi Kakaknya.” Bisik Edel senang saat Ivar dilanda kebingungan harus bagaimana.


“Kau sangat mencintaiku?” Hanna menggeleng lagi. “Tidak bisa bohong. Kau pasti sangat sayang padaku. Ayo ngaku!” Ivar menggelitiki Hanna agar gadis ini lupa dengan kemarahannya.


Edel mengendarai mobil perlahan, ingin bicara dengan Ivar tapi ada Hanna. Dia gadis kecil yang cerdas, bisa saja dia menyerap yang tidak-tidak percakapan mereka. Edel memilih mendengarkan musik saja mengusir suasana sepi.


“Paman.” Ivar membelai kepala gadis kecil yang ada di pelukkanya. “Apa Paman sudah menikah dengan wanita lain?” Ini pasti karena pergaulannya dengan teman-temannya yang terlampau dewasa.


“Bagaimana mungkin. Paman sudah katakan, Paman bekerja sayang.”


“Kenapa sampai dua minggu tidak pulang? Apa Paman bekerja di luar kota?” Hanna masih penasaran dengan alasan Ivar pergi.


“Paman bekerja di luar negeri.”


“Ihhhh.....jauh sekali.” Hanna melepaskan dirinya dari pelukkan Ivar. “Kenapa tidak bekerja di toko Ibu Edel saja. Kan jadi tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri.”


“Benar Han, Paman memang bandel.” Tambah Edel membuat Ivar semakin terpojok.


“Kakak ini. Hanna, Paman tidak mau bergantung pada wanita. Harus wanita yang bergantung pada Paman. Apa kau mengerti?”


“Apa kita harus hidup mandiri dan tidak menyusahkan orang lain? Apa meski keluarga kita tidak boleh saling bergantung?” Ivar terjebak ucapannya sendiri.

__ADS_1


Edel yang melihat Ivar kebingungan jadi merasa lucu, dia dibuat pusing pertanyaan gadis kecil yang kelewat pintar.


Sudah sampai di depan butik Edel. Ivar tersenyum tidak percaya selama ini Edel dan Nindi sudah sangat dekat. Edel bahkan sering menceritakan karyawan baru yang mencuri hatinya dan tidak lain adalah Nindi, gadis yang saat ini sudah berhasil mencuri hatinya.


“Jadi dia ada di dalam?” Edel mengangguk.


“Kau tidak siap bertemu dengannya?”


“Tentu saja bukan seperti itu, benar apa yang Hanna katakan. Aku pergi tanpa ijin setelah keadaan yang kacau. Apa yang dipikirkan Nindi tentangku sekarang!” Ivar takut Nindi sudah tidak mengharapkannya lagi.


Dari dalam butik Hanna menarik-narik tangan Nindi agar megikutinya keluar. Hanna sangat bersemangat ingin memberitahukan siapa yang datang bersamanya.


“Cepat Tante.” Hanna tidak sabar. “Tanta pasti tidak percaya siapa yang datang.”


“Tunggu Han, aduh kau ini heboh sekali.” Nindi mengikuti kemana Hanna menariknya. “Siap sih Han.” Nindi tidak percaya saat Ivar keluar dari dalam mobil Edel. Kenapa mereka bisa bersama.


“Hallo Kak, sudah lama tidak....” Nindi sedikit malu ada Edel di sana. “Sini Bu, biar saya bantu.” Karena grogi, Nindi memilih mengalihkan pandangannya pada Edel yang menenteng makanan di kedua tangannya.


“Tidak, tidak. Kalian harus bicara. Hanna, ayo kita maka Pizza beeeeesaaaar.” Teriak Edel seolah sedang melakukan pertunjukkan sambil mengayunkan plastik-plastik di tangannya.


Yeayyyy.....


Dasar bocah, asal dengar makanan enak dia akan lupa tentang misinya. Hanna dengan alami mengikuti naluri anak-anaknya mengikuti Edel masuk ke dalam butik. Tersisa dua orang yang sama-sama canggung, bingung harus mulai dari mana.


“Kak..”


Suara keduanya bersamaan.


“Kau duluan saja, aku yakin banyak yang ingin Nindi katakan padaku.” Wajah Nindi sedikit memerah, entah malu atau marah yang saat ini dia rasakan.


“Sebenearnya banyak yang ingin aku tanyakan. Tapi aku jadi lupa, apa yang aku mau tanyakan pada Kak Ivar.” Nindi tersenyum malu karena dirinya terlalu bingung menghadapi Ivar yang kembali. Dia pasti akan menagih permintaanya untuk memberikan jawaban atas lamarannya.


“Tidak perlu risau Nin. Kau bisa katakan apa saja yang mengganjal di hatimu. Jangan menahannya.” Nindi masih menunduk malu harus bagaimana.


“Apa Kak Ivar kenal dengan Ibu Edel?” Pertanyaan pembuka sebelum mengutarakan isi hatinya. Dia penasaran kenapa mereka mereka bisa datang bersama.


“Dia Kakak perempuanku satu-satunya.”


Mata Nindi membulat menatap Ivar, bagaimana dirinya bisa maju menerima lamaran Ivar. Dia bukan siapa-siapa. Sedangkan Ivar anak orang kaya melihat fasilitas yang selama ini dia sering gunakan dan bagaimana seorang Edel dengan butik mewahnya. Nindi ciut, niatnya menerima lamaran Ivar memudar jadi kebimbangan.


“Kau terkejut aku punya Kakak perempuan yang sekarang jadi BOS mu?” Nindi mengangguk. Memang benar dia bingung karena terlalu syok mendengarnya.


“Kau tidak ingin bertanya kenapa dua minggu ini aku tidak datang?” Nindi hanya tersenyum bingung harus menjawab apa, toh hubungan mereka juga belum resmi. “Hanna memang lebih jujur.”


Bagaimana dia menyamakannya dengan Hanna yang anak kecil. Dia bisa mengatakan apa saja yang dia rasakan tanpa merasa khawatir dengan perasaan orang lain. Beruntungnya Hanna.

__ADS_1


“Nindi bicaralah, kau tersenyum sedari tadi tapi malah membuatku jadi merasa bingung.” Lagi-lagi Nindi hanya tersenyum.


“Aku juga bingung harus bicara apa. Otakku benar-benar tidak bekerja sekarang Kak.” Mengakui perasaannya saat ini.


“Kau bahagia atau tidak melihatku lagi!” Suara Ivar sedikit tinggi karena merasa tidak sabar menunggu jawaban atas perasaan Nindi selama dia tidak ada.


“Tentu saja, aku dan Hanna menunggu Kak Ivar setiap saat.” Nindi mengakui perasannya tanpa sadar. “Ah...maksudku.” Ivar tiba-tiba memeluk Nindi. Dia senang Nindi merindukannya, ada kemungkinan cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Meski Ivar masih belum yakin Nindi dan Hanna benar-benar mau menerima dirinya apa adanya.


“Kak, nanti dilihat orang.” Nindi mencoba melepaskan dirinya.


“Biarkan saja.” Ivar tidak perduli, Nindi hanya bia pasrah. Melawan pun percuma.


Sorak Hanna dan Edel dari dalam butik memenuhi ruangan. Meski Hanna tidak tahu arti teriakan Edel yang terlihat sangat senang, Hanna ikut saja untuk meramaikan suasana.


“Sepertinya kau akan jadi adikku juga Han.” Hanna menggaggukan kepalanya meski tidak mengerti maksud ucapan Edel.


“Kak Ivar.” Luna muncul tiba-tiba di belakang Ivar. Matanya berkaca-kaca melihat Ivar memeluk Nindi di hadapannya.


“Luna.” Gadis itu lari kencang sambil menangis. Abi yang menemaninya memberi hormat pada Ivar sebelum mengikuti sang Nona yang sudah lari duluan ke mobil.


“Kau menyakiti hatinya.” Nindi merasa bersalah, mereka sudah saling mengenal jauh sebelum kehadiran dirinya. Luna pasti sangat terluka.


“Dia adikku, sama seperti Hanna bagiku.” Ivar tidak menghiraukan, Luna sudah diperingatkan sejak lama. Tapi dia tetap saja bandal mengikuti perasaannya yang menginginkan dirinya lebih.


“Tapi aku tau bagaimana perasaannya.”


“Jadi kau pernah punya kekasih sebelumnya? Kau bilang aku laki-laki pertama yang mendekatimu.” Nindi memukul lengan Ivar keras. “Awww..... Kau.” Ivar melotot lalu kembali tertawa melihat wajah Nindi.


“Aku paham sebagaimana wanita sama seperti Luna, bukan karena aku punya kekasih lain Kak.” Nindi sudah tau padahal jika Ivar paham, dia hanya mengerjainya saja.


“Aku akan menjelaskannya. Sudah saatnya dia melepaskanku.” Ivar hanya perduli pada Nindi saat ini. Luna harus bisa mengerti keputusannya.


“Aku....” Menatap wajah Ivar dan kembali menunduk “Aku merasa tidak pantas, Kak Ivar bisa dapat wanita yang lebih sebanding dengan Kak Ivar.” Wajah Ivar berubah seketika, menakutkan. Nindi sampai tidak percaya Ivar punya raut wajah seperti itu.


“Siapa yang berani menilaimu seperti itu!” Nindi menggeleng, dirinya sendiri.


“Jangan pernah bicara omong kosong denganku. Nindi mengangguk karena takut.


“Kak Ivar marah padaku?”


“Tentu saja, kenapa berani menilai dirimu tidak pantas didepanku. Itu sama saja kau sedang menjatuhkan harga diriku.”


Kenapa jadi seperti ini, kan Nindi hanya minder. Kenapa Kak Ivar sangat marah. Aku harus bagaimana mengembalikan dirinya dan menghapus kemarahannya. Nindi bingung sendiri, akibat sikapnya yang tidak pantas Ivar benar-benar tidak ramah.


“Sekarang kembali lah, dan ingat! Jangan bicara buruk tentang dirimu di depanku lagi. Kau mengerti maksudku?” Nindi mengangguk.

__ADS_1


Apa seperti ini jika laki-laki ingin melindungi wanita yang dia cintai? Apa semenakutkan ini jika Kak Ivar marah? Apa masih ada lagi yang aku belum tau banyak tentang Kak Ivar? Aku harus bagaimana? Bahkan dia tersinggung atas ucapanku yang menilai diriku sendiri. Aku bahkan belum sampai ke tahap mengkritik dirinya.......menangis sendiri di dalam hati.


__ADS_2