Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Kenaikan Jabatan


__ADS_3

Nindi duduk di bangku berkumpulnya para istri-istri dari pasukan khusus yang berhasil membongkar kasus Permadi yang menggemparkan dan penuh dengan berbagai kejutan, banyak deretan nama-nama pejabat tinggi yang terlihat begitu berdedikasi ikut terjerat kasus yang memastikan mereka akan diberhentikan secara tidak terhormat dan mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan mereka yang mengakibatkan kerugian begitu besar dan dampak buruk bagi citra pejabat pemerintah yang seharusnya mengayomi rakyat.


Nindi nampak begitu cantik dan anggun, senyum tidak pudar membuat wajahnya semakin mempesona. Nindi menundukan wajahnya tidak tahan dengan tatapan Ivar dari jauh yang tidak berhenti memperhatikan dirinya.


“Hay....”Seorang wanita cantik menyapa Nindi dengan ramah. Nindi menyambut salam tangan yang begitu hangat. “Kau Nindi?” Nindi mengangguk, tidak menyangka ada yang mengenalnya. “Kenalkan, aku istri dari sahabat Ivar, suamiku bernama Ariel.” Nama yang tidak asing, beberapa kali Ivar menyebut nama sahabatnya itu. “Meera.”


“Salam kenal Kak Meera, aku Nindi.” Meera duduk di sebelah Nindi karena kebetulan masih kosong. Nindi dengan sopan menyodorkan botol air mineral agar Meera tidak kesulitan meraihnya, kebetulan jarak Nindi lebih dekat.


“Terimakasih Nin, kau sangat perhatian. Aku memang kehausan.” Meera terlihat sangat ramah. Dia juga sangat cantik dan sangat mudah akrab.


Tidak lama acara penyerahan penghargaan dan kenaikan jabatan dilaksanakan. Suasana begitu hikmat dan penuh haru. Begitu berat pengalaman yang menimpa mereka dalam menjalankan tugas, jika tidak hati-hati dan tidak terlatih, mereka bisa saja kehilangan nyawa mereka dengan begitu mudah.


Pengalaman demi pengalaman yang menempa mereka membuat mereka tumbuh menjadi pasukan yang tangguh dan diperhitungkan. Ivar mendidik anggotanya dengan sangat baik, skill dan kemampuan mereka di atas rata-rata pasukan khusus lain yang saat ini ada.


Awwww....


Suara teriakan Nindi dalam suasana hening membuat semua orang yang ada di dalam ruangan memperhatikan sumber suara berasal. Ivar yang hafal betul suara istrinya segera turun dari podium dengan sedikit berlari.


“Aw....Panas.” Nindi merendahkan suaranya karena semua orang menatap dirinya. Mengibaskan bajunya yang basah terkena air yang cukup panas yang tumpah dari tangan Meera.


“Maaf Nin....” Meera berusaha membantu Nindi, terlihat wajah Meera sangat menyesal.


“Kenapa sayang?” Ivar menarik Nindi mendekat padanya. “Mana yang sakit?” Ivar mengusap baju Nindi yang masih sedikit hangat dengan sapu tangannya.


“Kenapa tidak hati-hati!.” Nindi masih sedikit meringis menahan panas yang menjalar di kulit pahanya.


Ivar membawa Nindi keluar dari ruangan setelah meminta ijin pada atasannya, Meera mengikuti mereka dengan wajah penuh penyesalan.


Ivar menyingkap rok panjang yang Nindi gunakan setelah sampai di dalam toilet, mengunci pintu toilet setelah memastikan tidak ada siapa pun di dalam sana. Hanya ada dirinya, Nindi dan Meera.


Kulit Nindi yang putih berubah merah membuat Ivar cukup terkejut melihatnya. “Kenapa bisa Nin.” Ivar merasakan sesak di dadanya, bisa-bisanya Nindi terluka di depan matanya.


“Maaf Kak, Nindi tidak sengaja.” Nindi tidak tahu jika Ivar melihat Meera yang menumpahkan air panas, entah sengaja atau tidak. Ivar merasa Meera sangat ceroboh.


“Ma...maaf Var, aku yang menumpahkan air panas Var. Aku sangat menyesal Var. Tolong maafkan aku.” Ucapkan sedikit bergetar.


Tok...tok...tok...


Ivar membukakan pintu dengan segera setelah memperbaiki rok yang Nindi kenakan.


“Ada apa Var? Nindi terluka?” Ariel menatap tajam Meera yang saat ini hanya mendundukan kepalanya.


“Aku harus membawanya ke ruang kesehatan.” Ivar menarik tangan Nindi, kesal namun Ivar tidak bisa melampiaskan kemarahannya.


“Kak tolong jangan marah, Kak Meera tidak sengaja menumpahkannya.” Pinta Nindi melihat kemarahan yang tergambar jelas di wajah Ariel.

__ADS_1


“Kau tidak perlu memikirkannya Nin, cepat kau harus segera di diobati.” Ariel merubah mimik wajahnya sedikit lebih bersahabat.


Nindi mendegar suara pintu terkunci dari dalam. Dia tidak bisa berhenti dan tidak tahu apa yang akan terjadi pada Meera karena Ivar menarik tangannya cukup kuat. Ivar terlihat marah sama seperti Ariel. Entahlah, marah atau khawatir Nindi tidak bisa membedakannya.


Brukkkk....


Dokter Zee yang sedang membaca buku terlonjak mendengar suara pintu dibuka dengan sangat keras. Zee memegang dadanya yang berdegub cukup kencang.


“Zee....” Suara Ivar terdengar sangat menyedihkan. Zee memicingkan matanya menatap wanita yang Ivar gandeng. “Tolong cepat periksa.” Ivar mendudukan Nindi di brangkar, dirinya kini berdiri di samping Nindi duduk.


Tanpa barkata-kata Zee memeriksa dengan seksama, mengoleskan salep luka bakar yang membuat Nindi meringis menahan perih yang menjalar kesekujur tubuhnya.


“Tahan sedikit Nin, memang perih.” Nindi terkejut karena semua orang mengenal dirinya. “Karena sedang hamil, pakai obat luar saja, nanti malam oleskan lagi sebelm tidur.” Zee menyerahkan salep pada Ivar setelah menerangkan cara pakai salep yang dia berikan.


“Apa lukanya tidak berbahaya?” Tanya Ivar masih penasaran karena kulit Nindi sangat merah.


“Tidak apa Var, kau tenang saja.” Zee kembali duduk di meja kerjanya.


“Hanya begitu saja Zee, apa tidak ada yang lain?” Ivar merasa tidak puas. Zee sudah menduga kalau Ivar akan rewel seperti biasanya.


“Lukanya merah karena kulit Nindi putih Var, tapi lukanya tidak berbahaya.” Penuh penekanan.


“Kak...” Nindi menahan tangan Ivar, dirinya malu diperlakukan berlebihan oleh Ivar.


“Berhenti memanggilku KAKA Nindi, kitakan sudah sepakat panggilan apa yang akan kita gunakan, Nindi masih marah? Hah....masih belum lihat bagaimana ketulusanku?” Nindi menelan salivannya merasa terpojok. Ivar benar-benar tidak bisa di ajak bicara saat sedang emosi.


Ivar menyadari kesalahannya untuk kedua kalinya, bicara cukup keras pada Nindi di depan orang lain. Ivar menarik tubuh Nindi dalam pelukannya. Zee yang kaget memutuskan untuk keluar dari ruangannya memberikan Ivar dan Nindi ruang agar lebih leluasa.


“Aku membuatmu kesal?” Nindi mengangguk, meski sedikit takut, Nindi berjanji tidak mau lagi menyembunyikan perasan sesungguhnya. “Maafkan Abang Nin, aku hanya marah pada diriku sendiri karena tidak bisa menjaga Nindi dengan baik.”


“Bukan salah Abang.” Ivar melepas pelukkannya, menatap lekat wajah istrinya yang akhir-akhir ini sangat manja semenjak dirinya pulang.


“Jadi istri Abang yang cantik ini sudah tidak marah lagi?” Nindi mengangguk. “Artinya Abang akan tidur di kamar kan malam ini.” Ivar lega kesalahannya sudah di maafkan. Nindi sendiri tidak bisa marah lama karena Ivar selalu memperhatikannya meski sedang marah.


***


Meera sedikit mundur ketakutan melihat tatapan mata Ariel, entah apa yang ada di pikiran Ariel tentang dirinya yang bisa saja mencelakai Nindi, istri dari sahabatnya. Tatapannya tidak bisa Meera artikan karena penuh dengan kebencian. Hanya tatapan tajam tanpa sepatah katapun yang membuat Meera kebingungan.


"Ma..maaf." Meremas jari-jarinya yang berkeringat. Suaranya bergetar menahan takut yang menyelimuti hatinya.


"Kenapa kau melakukannya?" Meera menunduk. Suara Ariel begitu lembut. "Tidak bisakah sebentar saja buat diriku benar-benar percaya padamu Meer." Tidak ada jawaban.


Cukup lama Ariel mencari jawaban yang percuma. Meera membisu menundukkan kepalanya membuat Ariel tidak lagi punya kekuatan untuk marah. Dirinya tidak bisa melihat kecemasan terus mengganggu Meera dan membuatnya tidak nyaman.


Ariel menarik lembut tangan istrinya, membawanya keluar dari toilet dan kembali ke ruangan tempat mereka mengadakan pelantikan. Ariel mengantarkan Meera ke tempat duduk nya. Mengecup sekilas kening istrinya dengan lembut.

__ADS_1


Tidak lama Nindi dan Ivar juga kembali masuk ke dalam ruangan. Nindi kembali duduk di samping Meera dengan senyum merekah seakan tidak terjadi apapun. Meera tiba-tiba meraih tangan Nindi. Menggenggamnya erat dengan tatapan penuh penyesalan.


"Maafkan aku ya Nin" Bisiknya dengan suara lembut.


"Jangan di pikirkan Kak, Nindi tahu Kak Meera pasti tidak sengaja." Nindi menepuk punggung tangan Meera dengan lembut.


Jauh di ujung sana, mata Ariel dan Ivar tidak lepas dari istri nya. Ivar sedikit was-was memperhatikan keduanya. Tidak ingin Nindi ada dalam bahaya karena kecerobohan orang lain.


"Apa Meera mengatakan sesuatu?" Ariel menggeleng. "Ckhhh...." Ivar berdecak. Ivar kesal karena tidak bisa membalas perbuatan Meera yang menyakiti Nindi. Ariel sangat mencintai istrinya sama seperti dirinya.


"Tolong jangan menyimpan curiga Var, dari yang aku lihat, sepertinya Meera benar-benar tidak melakukannya dengan sengaja."


"Kau memang sangat mencintainya Ril, semoga ucapannya benar."


Setelah acara selesai, Ivar mengajak anggota dan seluruh keluarganya merayakan momen keberhasilan mereka bersama. Semua setuju dan beriringan berjalan menggunakan mobil masing-masing menuju ke restoran yang sudah di sepakati.


Sesampainya di tempat tujuan, Ivar terkejut di sambut oleh Gunar dengan senyum ramahnya.


"Kenapa manusia menyebalkan itu ada di sini." Gumam Ivar yang bisa di dengar oleh Nindi.


"Abang lupa, ini kan memang restoran miliknya. Aku kira Abang kesini ingin pamer pada Kak Gunar." Ledeknya yang membuat Ivar mengeratkan genggaman tangannya.


"Dia harus tahu, tidak ada yang boleh mengganggu milikku." Ucapnya dengan nada kesal berjalan memasuki restoran.


Nindi melambai dengan ramah, Gunar hanya tersenyum membalas sapaan Nindi, dirinya tidak basa basi karena tahu Ivar tidak menyukainya. Gunar langsung membawakan menu makanan dan melayani semua tamu satu persatu tanpa pilih kasih. Ivar agak kesal menatap Gunar yang tidak melihat dirinya sama sekali.


"Dia terus pura-pura tidak melihatku." Nindi hanya geleng-geleng kepala, Gunar selalu salah di mata Ivar.


"Silahkan Tuan." Sopan Gunar saat tiba di meja Nindi dan Ivar yang duduk bersama Ariel dan Meera.


"Kau tidak melihatku? Apa kita tidak saling kenal?" Akhirnya Ivar tidak tahan dan melampiaskan kekesalannya.


Gunar tersenyum dengan ramah memperhatikan sekitar sebelum menjawab pertanyaan Ivar. "Maaf Tuan, saya takut anda tidak nyaman jika saya bersikap sok akrab." Jawabnya dengan santun, Nindi tersenyum menatap Gunar yang tersenyum ke arahnya.


"Yah.....kau bisa tersenyum pada istriku, tapi tidak padaku Gun. Yang benar saja kau ini."


"Abang....." Nindi tidak enak hati Ivar sedikit berteriak.


Ivar berdiri dan memeluk Gunar, dirinya tidak tahu bagaimana mengucapkan terimakasih dengan benar. "Kau sudah membantuku menjaga Nindi selama ini. Bisakah kita jadi lebih dekat, teman begitu." Ucap Ivar tanpa melepas pelukannya.


Gunar sedikit terkejut tidak percaya, Ivar sosok yang sangat dingin pada dirinya selama ini. Apapun yang menyangkut Nindi akan membuat Ivar tidak nyaman jika Nindi terlalu dekat bergaul dengan teman laki-lakinya.


“Aku tidak salah dengar?” Gunar masih tidak percaya.


“Aku menyadari kesalahanku, aku banyak dengar bantuanmu selama ini. Papah menceritakan semua kebaikanmu selama ini. Aku harap semua bantuanmu tulus dan tidak mengharapkan Nindi lagi.” Ucap Ivar sedikit memperingatkan.

__ADS_1


“Tenang saja, kalau kau bisa menjaga Nindi, aku akan angkat kaki. Tapi tidak jika kau meninggalkannya seperti kemarin. Jangan salahkan aku jika kau akan kehilangan Nindi.” Ucapnya sambil tersenyum menggoda Ivar.


__ADS_2