Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Pria Manis


__ADS_3

Ivar berjalan menggandeng tangan Nindi turun dari mobil. Memasuki lobby utama halaman kantor yang pagi ini hari pasti sangat ramai lalu lalang para karyawan yang baru saja sampai. Nindi sedikit kikuk di sapa setiap karyawan yang berpapasan degannya. Berbeda dengan Ivar yang terlihat tidak begitu perduli dan hanya tersenyum tipis.


Semua menyapa Nindi sopan tidak seperti biasanya. Ada begitu besar perbedaan perlakuan setiap orang pada Nindi sebelum tahu siapa dirinya dan sekarang. Kenyataan memang kadang menyakitkan, akan di pandang sebelah mata jika hanya manusia biasa, berbeda lagi jika ada embel-embel kekuasaan di dalam dirinya, semua orang seperti mesin otomatis yang berubah begitu manis.


Ivar seolah enggan melepas tangan Nindi, lantai ruangan mereka berbeda, bahkan lift yang mereka gunakan tidak sama. Ivar merangkul pundak Nindi agar menempel padanya. Sontak Nindi yang mendapat perlakuan berlebihan tersenyum geli. Tidak biasanya Ivar bersikap manis di depan umum.


Nindi menjauhkan tubuhnya sedikit dari Ivar merasa tidak nyaman, banyak pasang mata yang sepertinya mencuri –curi pandang pada dirinya. Pergumulan pasti saat ini ada di pikiran setiap orang yang melihatnya.


Nindi sangat beruntung


Aku ingin punya suami sesempurna Ivar


Betapa indah dunai Nindi.


Mungkin masih banyak lagi pikiran-pikiran lain yang ada di dalam otak mereka. Aku sebenarnya juga merasa senang, tapi siapa sangka hadiah yang Tuhan berikan sesempurna ini. Teriak Nindi dalam hati yang pipinya saat ini sedikit merona. Wajah semua orang pagi ini sangat ramah padanya.


"Tuan....." Sapa Tomo yang nafasnya masih tersengal.


"Kau di kejar setan Tom......" Tanya Ivar heran. Nindi menganggukan kepala sopan pada Tomo yang baru saja sampai menghampiri Ivar.


"Heheheh....pagi Bu Nindi." Tomo menyibak rambutnya yang klimis. "Aku datang ke rumah besar dan kalian sudah jalan. Telpon pun tidak Bos angkat." Kesalnya.


“Ada apa sampai ke rumah besar segala Tom?” Nindi ingin sekali lari dan berhenti menjadi pusat perhatian. Ivar benar-benar tidak mau melepaskan tangannya.


“Begini Bos….” Masih mencoba mengatur nafasnya yang minim. Sudah lama tidak olahraga.


"Kau mau memanggilku Tuan atau Bos? Jangan sampai aku tidak tahu panggilan yang kau gunakan." Ivar memicingkan matanya pada Tomo.


"Bos lebih tepat." Pilihnya cepat.


"Kenapa datang ke rumah?" Tomo memicingkan mata kali ini. Tidak hanya kau yang bisa begitu Bos, aku juga bisa.


Kau akan tahu lama-lama Bos. Itu salah satu tugasku yang tertulis dalam perjanjian kerja, menjemputmu agar dating dan pergi tepat waktu.


"Memang Bos tidak baca email?" Mereka masih asik ngobrol padahal kaki Nindi terasa kram. Dirinya sudah tidak kuat berdiri terlalu lama.


Nindi tidak enak hati jika memotong pembicaraan.


"Mari kita naik ke atas Bos."


Selamat, akhirnya Tomo mau berbaik hati.


Menatap heran pada Ivar ( Nindi dan Tomo). Karena Ivar tidak berjalan ke lift khususnya malah berdiri mengantri di depan lift umum yang karyawan gunakan. Semua karyawan dengan serentak memberikan Ivar jalan. Nindi semakin tidak bisa menahan malu.


"Aku mau mengantar istriku dulu dengan selamat." Ucapnya sambil tersenyum malu-malu, Ivar bukan laki-laki romantis.

__ADS_1


“Tidak perlu Abang, kan Cuma naik lift langsung masuk ruangan.” Nindi ingin sekali lari menjauh dari Ivar. Kelakuannya sudah membuatnya tidak bisa berkata-kata.


Menolak dengan keras permintaan Nindi. “Enak saja, jalan dari lift ke ruangan juga bisa saja kena bahaya. Kau tidak ingat bahaya ada dimana-mana.” Nindi melihat banyak yang menahan senyumnya. Bagaimana mungkin suaminya bersikap semanis ini.


"Biar Nindi sama saya Pak." Mariska baru saja sampai.


Menyapa dengan sopan pada Ivar dan Tomo.


"Ayo kita naik bersama, pekerjaanku nomor dua. Ingat alasanku mau duduk di kursi itu Nin." Nindi memberi kode agar Mariska tidak membantah. Bisa panjang tidak berkesudahan.


Nindi takut Ivar agar mengeluarkan kata-kata yang tidak kalah memalukan jika tidak di sudahi, dia benar-benar seperti melihat sisi lain Ivar.


Melihat Ivar masuk ke dalam lift, banyak karyawan yang memilih tidak naik. Mereka memilih menunggu lift berikut nya. Tentu saja seperti itu, pasti akan sulit bernafas.


"Sudah sampai aku Bang, sudah duduk dengan nyaman sekarang. Sekarang Abang berkerja lah dengan semangat. Supaya cepat bisa menyesuaikan diri." Pinta Nindi sedikit mendorong lengan Ivar yang masih berjongkok di depannya.


"Kenapa Abang ingin menempel padamu Nin. Tomo, pindahkan saja mejaku di sebelah Nindi."tiba-tiba memeluk Nindi dan menciumi perutnya yang sudah buncit.


Tomo bingung harus menjawab apa. Mana mungkin menempatkan CEO di ruangan sempit layaknya karyawan umum.


"Jangan macam-macam Abang." Nindi melotot malu dengan kelakuan Ivar.


"Cepat, nanti siang kita bisa makan bersama." Ingatnya lagi agar Ivar mau beranjak.


"Kau tidak seram Nin, aku malah gemas." Mencubit ujung hidung Nindi. Ivar tahu Nindi menahan malu karena kelakuannya.


"Mari Bos, aku harus menjelaskan beberapa materi meeting kita hari ini." Ivar berdiri, menciumi kening Nindi sampai Nindi mencubitnya agar Ivar berhenti.


Dengan langkah berat akhirnya Ivar mau keluar dari ruangan Nindi. Mariska di buat iri sampai membual ingin punya pasangan seperti Ivar, tanpa sadar ada yang tersenyum di ujung sana menyimak.


"Apa dia semanis itu setiap hari Nin?"


Nindi memilih tidak menangapi. Hanya tersenyum masih menahan malu. Hanya ada senyum bahagia di wajah Nindi.


“Sana duduk.” Usirnya agar Mariska tidak melebar menanyakan hal-hal yang tidak-tidak.


“Ahhhh….jawab dulu, aku penasaran Nin. Aku ingin punya suami semanis dia Nin.” Sedikit kencang agar ada yang mendengar ucapannya.


"Jangan berisik bisa tidak! Pagi-pagi sudah buat ribut saja." Bentak Zein dengan wajah sinis.


"Iya.....kau galak sekali." Mariska kembali ke meja nya. Tetap tersenyum meski kesal dengan sikap Zein yang super jutek padanya.


"Kau ini Zein, tidak bisa melihat teman senang sedikit. Jangan kaku Zein, nanti kau cepat tua." Tegur Ken kesal melihat Mariska di bentak Zein.


Derit pintu menyudahi perdebatan yang sering terjadi.

__ADS_1


"Ayo lekas ke ruang meeting. Kita hari ini diminta ikut meeting dengan Pak Ivar mejelaskan detail tema design yang sudah kita siapkan. Tentu saja kita tidak di nilai Pak Ivar, dia hanya memantau atau mengawasi." Sedikit ingin membuat Nindi lega.


Nindi kaget bukan kepalang, apa jadinya kalau Ivar melihat dirinya di bentak-bentak seperti biasanya. Bisa terbalik meja meeting yang tidak bersalah.


"Kita se.... semua Bu?" Tanyanya tergagap.


"Iya....kau kenapa? Bukan hal baru kan Nin. Kenapa keget begitu."


“Sangat mendadak, padahal aku belum maksimal berlatihnya.” Sedikit tegang karena kali ini Ivar akan melihatnya saat bekerja.


"Tenang, materi kali ini aman. Pasti berjalan lancar." Putra tahu apa yang saat ini Nindi rasakan.


Nindi beruntung teman-temannya selalu ada saat dirinya benar-benar butuh dukungan. Ken menggandeng Nindi seperti biasa. Laki-laki manis yang sudah seperti adiknya, padahal usianya tidak jauh berbeda.


"Semoga semua lancar yah, aku pusing. Padahal belum mulai presentasi. Hahahha…." Tawanya getir namun tetap mengikuti Melly dari belakang memenuhi tuntutan pekerjaan.


Ada laki-laki yang tersenyum manis melihat beberapa karyawan yang memasuki ruangan. Ivar hari ini menjadi penonton, melihat bagaimana para karyawannya bekerja, dia diminta menilai kinerja para karyawannya secara langsung.


"Pak Ivar....apa sudah bisa kita mulai meetingnya?" Ivar mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita pujaan hatinya.


Sejak kapan Ivar jadi seperti ini Tuhan, semua mata jadi menatapku. Aku kesal!!!!!! Lihat saja nanti kau di rumah.


Setelah sekian lama


Akhirnya


Ivar antusias saat nama Nindi di panggil oleh atasannya, Melly. Diminta menjabarkan karya design nya yang beberapa kali memasuki kriteria dan di gunakan oleh perusahaan.


Mulai dengan perlahan, kaki Nindi sedikit gemetar seperti biasa, demam panggung. Bukan karena Ivar, tapi hal lumrah yang selalu Nindi rasakan saat bicara di depan umum.


Ivar senyum-senyum tidak jelas seolah terhipnotis. Suara Nindi sangat indah di telinganya. Dia bahkan berdiri dari duduknya masih tersenyum tidak jelas.


"Tunggu...." Sela pengawas yang memang memiliki tugas penting memilih dan memilah agar semua design yang di sepakati menjadi untung besar bagi perusahaan. "Kau tidak memperhatikan detail ini Nin. Coba cek dengan benar. Bagaiman mungkin design mu kali ini sangat mengecewakan. Pemilihan warnanya terlalu terang Nin. Tidak cocok."


"Maaf Pak, saya masih ada beberapa yang ingin saya tunjukkan."


"Jangan ngeles dulu Nin, sudah cukup kan waktu belajarnya! Kenapa masih seperti ini hasilnya!." Melly menghela nafasnya.


Haryanto memang suka sekali memaki orang dia tidak tahu bagaimana kami bekerja keras. Ivar tidak kalah marah melihat Nindi di bentak begitu keras di depan semua orang.


"Pak, coba lihat yang lainnya. Jangan menyimpulkan dulu sebelum selesai." Bela Melly yang membuat Ivar mencoba menahan amarahnya. Tangannya sudah mengepal dan Tomo melihatnya.


"Coba tunjukkan." Nindi mengganti slide ke design berikutnya.Terlihat Haryanto menggeleng tidak kalah kecewa.


“Ya Tuhan Nindi!!!!!!” Teriaknya.

__ADS_1


Semua orang kaget bukan karena teriakan Haryanto, tapi karena Ivar yang berjalan ke arah Nindi dan membawanya keluar ruangan.


__ADS_2