Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Sekoteng Panas


__ADS_3

Malam berselimut kabut membuat udara semakin dingin menusuk sanubari, berapa pedagang masih lalu lalang mencari sisa-sisa rizki yang mungkin masih bisa mereka dapatkan.


“Boleh tidak Nindi makan sekoteng? Sepertinya enak.” Membayangkan rasanya sampai air liur memenuhi rongga mulur Nindi.


“Boleh, sebentar Abang minta Pak Bagas berhentikan.” Ivar meraih ponsel hendak menghubungi Bagas yang duduk di pos satpam.


“Pak Bagas....” Ivar tercengang mendengar teriakan Nindi. “Tolong belikan sekoteng ya Pak.” Bagas mengacungkan jempolnya ke arah balkon kamar yang menampakan Nindi berdiri di sana bersama Ivar. Bagas segera lari keluar.


“Pita suaramu bisa luka Nin.” Tertawa merasa lucu.


“Hehehehe....Abang kelamaan nanti keburu pergi penjualnya.” Jawabnya dengan suara manja. Ivar memeluk hangat tubuh mungil Nindi yang berdiri di depannya.


Awalnya Nindi hanya memperhatikan Bagas dan para petugas keamanan makan sekoteng dari atas balkon, melihat mereka makan sambil bersenda gurau rasanya Nindi jadi ingin juga makan sekoteng. Apalagi melihat kepulan asap dari mangkuk yang pasti sangat enak dimakan saat cuaca dingin seperti sekarang.


“Bagas tunggu di situ saja.” Teriak Nindi yang kini sudah tidak membuat Ivar kaget. Dia hanya tersenyum kecil. Berjalan meninggalkan Ivar.


“Mau kemana?” Tanya Ivar bingung.


“Mau makan sekoteng Abang.” Ivar mengerutkan dahinya. “Nindi ingin makan di pos satpam bersama bagas dan yang lainnya, pasti seru.” Wajahnya terlihat sangat ceria.


“Nin....jangan aneh-aneh ya sayang. Di sini saja, di luar dingin.” Nindi cemberut, bayangan makan sekoteng sambil bersenda gurau pupus sudah.


“Gas, bawa naik sekotengnya.” Perintah Ivar yang membuat Bagas segera berlari. Berteriak menirukan Nindi.


Tok....tok...tok...


“Masuk Gas.” Seru Ivar yang kini duduk di sofa kamarnya bersama Nindi.


Bagas masuk membawa nampan, sekoteng panas seperti permintaan Nindi sudah siap di hidangkan. Perlahan Nindi memakan sekoteng yang tadi terlihat sangat enak. Hanya beberapa suap sudah meletakkan kembali sendoknya.


“Kenapa? Tidak enak sayang?” Nindi menggeleng. “Lalu kenapa tidak dihabiskan?” Tanya Ivar yang memainkan ponselnya namun tetap memperhatikan Nindi.


“Aku tidak selera.” Ivar mendudukan dirinya. Ivar mencicipi, dan rasanya lumayan enak. “Abang saja habiskan.” Ingin protes tapi tidak berani.


“Abang kan tidak mau makan sekoteng Nin, Nindi yang tadi minta makan sekoteng sampai teriak keras begitu.” Nindi Tersipu malu mengingat teriakannya tadi. Nindi hanya menggeleng.


“Mau tidur aja.” Ivar sepertinya paham, mulai aneh-aneh permintaan Nindi akhir-akhir ini. Nindi baru berjalan beberapa langkah, Ivar berdiri.


“Ayo kita turun....” Mata Nindi berbinar. “Pakai jaket yang tebal.” Dengan semangat menyambar jaket miliknya berwarna merah muda. “Sesenang itu Nin?” Anggukannya mewakili perasannya saat ini.


Edwin yang melihat Ivar turun bersama Nindi menurunkan kacamata bacanya.


“Mau kemana malam-malam begini Nak?” Tanyanya dengan nada lembut.


“Nindi ingin makan sekoteng di pos satpam.” Menantunya hanya tersenyum menahan malu. Ivar mengerti tatapan Edwin yang begitu tajam. “Nindi sudah pakai jaket tebal Pah, tenang saja.” Mengangguk dan melanjutkan baca koran.


Melihat Ivar dan Nindi berjalan ke arah pos, semua berdiri hormat menyambut kedatangan mereka. Nindi tersenyum melihat wajah serius Pak Asep yang suka dia goda karena sangat lugu.

__ADS_1


“Ayo makan bersamaku, apa yang kalian biacarakan? Seru sekali aku perhatikan dari atas sana.” Tanya Nindi yang membuat Ivar menatap satu persatu wajah para pegawainya.


Tanda tanya besar mengisi kepala Ivar, seakrab itu Nindi bicara pada mereka seperti teman. Tidak ada yang berani duduk.


“Ayo Pak Asep, Bagas, Mang Udin, Azam. Lanjutkan makannya.” Kesal Nindi yang melihat mereka masih berdiri tidak bergeming. Ivar memberi ijin dengan gerakan kepalanya. Melihat Nindi begitu senang, Ivar tidak bisa berkutik.


“Kita lagi bicarain Azam Non, dia udah punya pacar.”


Cie...cie....cie....suittt....


Suara gelak tawa memenuhi pos satpam malam itu. Benar saja mereka sangat akrab setelah Ivar meminta ijin untuk melihat taman pada Nindi. Awalnya hening membuat Nindi tidak nyaman dan terus menatap Ivar, matanya seolah mengusir Ivar. Dan memang begitu adanya.


Ivar menjauh memberi ruang agar mereka nyaman, lagian dirinya tidak bisa mudah berbaur seperti Nindi. Ivar memperhatikan bunga-bungan yang bermekaran indah di taman. Sesekali mencuri pandang pada wanita kesayangannya yang sedang bergosip bersama para pegawainya yang setia.


Melihat Nindi bisa tersenyum membuatnya sangat bahagia. Mungkin mereka selama ini yang memberi Nindi kekuatan selama dirinya tidak ada, Ivar beruntung punya mereka yang selalu ada saat keluarganya kesulitan.


“Sudah malam sayang.” Padahal baru 10 menit Nindi duduk di pos satpam, baginya sudah sangat lama. Ivar cemburu.


“Iya Abang.” Bangkit berdiri dibantu Bagas yang duduk di sebelahnya. “Azam semangat yah.” Azam hanya tersipu malu. “Dah semuanya, selamat bekerja. Istirahat ya kalau kalian lelah.” Pamitnya dengan sopan.


“Teimakasih Tuan Muda.” Teriak Bagas senang. Nindi yang melihat Ivar tersenyum penasaran. Apa yang mereka bahas.


Besok kalian aku kasih bonus karena membuat Istriku bahagia malam ini.


Isi pesan yang seperti dapat lotre di tengah malam dingin namun masih harus bereja keras menyelesaikan tugas.


“Tuan Muda baik yah, kelihatannya aja gak pernah senyum. Hatinya baik seperti Tuan.” Ucap Azam tidak kalah senang, dia yang paling baru diantara yang lain.


“Orang kaya mah beda Zam, mau keluarin uang berapa juga tetep aja duitnya banyak. Alhamdulilllah....” Ucap Mang Udin menimpali. Teringat tas sekolah di toko peralatan sekolah tempo hari. Akhirnya bisa juga beli tas yang membayanginya beberapa hari ini.


“Sekarang cuci mukamu dan tidur ya Nin, cepat Abang temani ke toilet.” Ajaknya mengulurkan tangan. Nindi terlihat masih malas, mengelus perutnya yang bega.


“Mau Abang gendong?” Nindi mengangguk. “Kau manja sekali sayang.” Mengalungkan tangannya di leher Ivar.


“Teringatnya sudah beberapa minggu ini Abang tidak bertugas?” Tanya Nindi penasaran.


“Nindi bosan yah lihat Abang selalu ada di rumah?” Jawaban menyakiti dirinya sendiri.


“Tidak bosan Abang, menggantikan waktu Abang yang pernah Abang rampas dari Nindi.” Menelusupkan wajahnya di dada bidang Ivar.


“Abang tidak merampasnya sayang, makanya sekarang Abang menebusnya. Lakukan semua yang Nindi mau selagi Abang menganggur. Hehehe....” Terkekeh sendiri.


“Abang pengangguran tapi tetap saja banyak uang.” Rekeningnya tidak pernah absen berbunyi di awal bulan. Jatah bulanan yang tidak pernah Nindi gunakan sepeserpun karena semua kebutuhannya sudah terpenuhi.


“Nindi gunakan untuk apa sayang?” Nindi Sibuk menyikat giginya. Menjawab dengan melambaikan tangan. “Kau tidak pakai?” Mengangguk. “Kenapa? Kau pakai uang hasil kerja kerasmu sendiri? Hah....” Penasaran setengah mati. Ivar tidak pernah memperhatikan pengeluaran Nindi selama ini.


“Abang ini lah, Nindi gunakan untuk apa?” Jawabnya selesai berkumur. Nindi sendiri bingung. “Pulang pergi kerja di antar jemput, jajan di luar juga jarang sekali. Nindi tidak ada waktu pergi jalan belanja Abang.” Jelasnya sambil berjalan kembali ke kamar. Sekalinya belanja dibayarin Kak Edel.

__ADS_1


“Tapi tidak boleh begitu sayang, kalau kau tidak gunakan untuk apa Abang bekerja keras? Kau harus bantu Abang habiskan penghasilan Abang Nin.” Rengeknya kesal seperti anak kecil.


“Abang bisa tidak, kasih Nindi sedikit saja. Jangan terlalu besar transfer Nindinya. Gak terpakai juga Abang.” Nindi semakin semangat menggoda Ivar yang merengek padanya.


“Nindi.....besok kau harus belanja.” Ivar mengecek rekening Nindi yang jika dihitung dia tidak menggunkan sepeserpun uang pemberian Ivar. “Kenapa masih utuh?”


“Nindi bingung mau di pakai untuk apa?” Ivar menggeleng dan akhirnya memeluk Nindi. Perdebatan yang tidak ada manfaatnya, membuang tenaga.


“Besok Abang bawa ke tempat istimewa bersama Hanna.” Ivar ingin menghindari Maysarah yang pasti besok sudah sampai di Jakarta. Memeluk Ivar membuat Nindi merasa punya kekuatan untuk melawan Maysarah. Tidak akan mudah, tapi Ivar akan selalu ada untuknya.


Nindi yang tahu maksud Ivar merasa lega, dia masih tidak sanggup jika harus berpisah dengan Hanna apapun alasannya. Hanna dan Nindi terikat satu sama lain. Mungkin nanti Nindi harus siap, tapi tidak sekarang. Hanna hanya mengenal dirinya sebagai keluarganya, tidak ada yang lain.


Nindi perlahan akan membuka hati tapi tidak sekarang, Hanna yang akan jadi korban jika terlalu mendadak seperti ini. Banyak pertimbangan, banyak yang ingin Nindi lakukan agar Hanna tetap merasa nyaman.


***


"Pah, aku mau membawa Hanna dan Nindi pergi. Ivar mohon bantu Ivar ya Pah, Ivar takut hal yang tidak di inginkan terjadi jika Ivar tidak membawa Nindi dan Hanna pergi."


"Iya Nak. Papa setuju dengan ide kamu Nak. Papah akan mencoba bicara padanya." Edwin tidak mau ada keributan yang merugikan cucunya. Dalam hal ini hanya keluarganya yang akan menjadi korban, Hanna paling dirugikan.


Nindi menuntun Hanna berjalan beriringan. Kini hubungan mereka sudah seperti semula. Nindi tidak lagi menyembunyikan perasannya yang hancur. Hanna hanya tahu Nindi berubah karena kehamilannya, tidak ada alasan lain.


"Kami pergi ya Pah." Pamitnya setelah mencium tangan Edwin.


Edwin masih betah memeluk Hanna, menasehati dengan lembut seperti biasanya sebelum cucunya pergi keluar dari rumah.


"Opah sarangheyo." Jari-jari mungilnya membentuk love. Ucapnya yang di angguki Edwin dengan senyum penuh bahagia.


Hanna akhir-akhir ini sedang suka menonton acara-acara TV Korea. Lucu katanya. Dia suka sekali menirukan apa yang dia dengar dan lihat. Mereka berjalan bergandengan tangan.


“Hanna....” Matanya menyipit, otaknya mengingat siapa wanita yang kini dia lihat berdiri di depannya. Hanna menatap Nindi yang menggenggamnya dengar erat, sedikit nyeri tangan Hanna.


“Nindi, sabar sayang. Atur nafasmu dengan benar.” Ivar takut Nindi kehilangan kewarasannya seperti yang dilakukannya kemarin. Dia menatap Ivar penuh kesedihan, air mata tidak lagi bisa dia tahan.


“Nindi....Ibu datang Nin. Hanna.....” Hanna mundur di belakang Nindi. Dirinya tidak terbiasa di peluk orang asing yang tidak dia kenal. Hanna malah menatap wajah wanita yang begitu mirip dengan Bundanya. “Jangan takut sayang... ini Ne....”


“Tunggu!!!” Ucapnya memotong perkataan Maysarah. “Tolong jangan katakan apapun sekarang, dia akan kebingungan.” Pinta Ivar dengan lembut, dia menatap Hanna penuh iba.


“Apa ini tamu yang kita tunggu?” Tanya Edwin yang baru saja muncul. “Silahkan masuk.” Edwin memberi isyarat agar Ivar membawa Nindi dan Hanna pergi.


Maysarah dan Ratih duduk di ruang tamu.


“Maaf karena saya terkesan terburu-buru Tuan. Aku hanya tidak mau melewatkan lagi kesempatanku memperbaiki semuanya.” Mulai terisak, dia terlihat sangat tulus.


“Mari kita bicara dari hati ke hati layaknya orang tua. Aku tahu bagaimana perasaan mu saat ini.” Edwin mengangguk paham dengan situasi Maysarah.


Dia juga orang tua. Dia tahu persis bagaimana perasaan orang tua jika menyangkut anak-anaknya.

__ADS_1


__ADS_2