Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Jangan Sia-Siakan Air Mata


__ADS_3

Meeting bulanan yang cukup melelahkan sudah selesai , Mariska menyandarkan kepalanya di pundak Nindi yang duduk di sebelahnya di kantin, menunggu makanan yang mereka pesan datang.


Mariska gemas menggulung-gulung rambut Nindi yang terurai panjang. Sesekali menempelkannya di hidung Mariska menikmati aroma shampo yang harum dari rambut Nindi.


“Kau punya kelainan!” Tegur Putra yang kesal melihat tingkah Mariska. “Singkirkan kepalamu dari pundak Nindi sebelum sendok ini melayang kekepalamu.” Ancamnya sambil mengangkat sendok.


“Ka, tidak apa-apa kok. Aku juga suka Kak Mariska nempel-nempel begini.” Jawab Nindi tersenyum, Mariksa menjulurkan lidahnya merasa menang. Dirinya sedang malas berdebat karena hasil meeting membuatnya depresi. Dia harus satu team dengan Nindi dan Zein menyelesaikan projek kali ini.


Senang satu team dengan Nindi, tapi apa jadinya dika dirinya disatukan dengan perempuan paling dia benci di jagat raya ini. Mariska membuang nafasnya kasar karena kesal.


“Dasar kekanakan.” Kesal Putra.


“Abang ini lah, marah-marah saja kerjaannya. Nanti cepet tua Bang.” Ledek Kenzo yang merasa terhibur dengn tingkah keduanya yang suka sekali berdebat.


“Memang dia sudah tua Ken, kau tak perlu menjelaskannya.” Tambah Mariska yang membuat Putra tersenyum. Putra bukan tipe yang mudah marah pada teman-temannya, dia hanya senang menganggu dan bergurau agar suasana seru.


“Kalian tidak akan aku bantu jika tidak bisa menyelesaikan pekerjaan kalian.”Ancamnya untuk membela diri sambil tersenyum kecut.


“Yaaahhhhh!!!!!” Teriak Mariska yang merasa dicurangi. “Kenapa membawa-bawa pekerjaan. Kau ini tidak asik sekali!. Kepalaku semakin panas.” Teriaknya kesal dan kembali duduk memeluk tangan Nindi.


“Sudah toh mbak dan mas-mas, jangan ribut-ribut. Silahkan makan dulu supaya adem hatinya.” Penjaga kantin yang akrab dengan mereka melayani dengan sangat ramah.


“Berisik ya Bu kalau kita datang?” Tanya Nindi merasa tidak enak hati.


“Malah seru mbak Nindi, jadi asik. Oh iya kemaren Mbak Nindi pingsan toh Mbak?” Nindi menunduk menahan malu.


“Hehehehe....iya Bu.” Jawabnya lirih.


“Jangan capek-capek ya Mbak. Ini Ibu buatkan Jus Alpukat, gratis tidak usah bayar.” Menyodorkan ke depan Nindi.


“Yahhhhhh...Ibu...aku gak di kasih gratis juga?” Mariska meledek Ibu kantin yang sudah akrab dengannya.


“Pingsan dulu baru di kasih gratis!!!!” Jawab Putra sambil tertawa puas.


“Lihat saja, nanti ada pangeran yang membawakan Jus Alpukat gratis diam-diam.” Hayalan Mariska.


“Mana mungkin! Pacarmu kan jauh.” Raut wajah Mariska berubah seketika.


“Aku ke toilet sebentar.” Lari dengan wajah sendunya.


“Kenapa? Apa kata-kataku berlebihan? Apa dia tersinggung?” Tanya Putra merasa bersalah melihat raut wajah Mariska yang bersedih.

__ADS_1


“Aku susul sebentar yah. Sepertinya dia sedang ada masalah, dia sudah dua hari ini terlihat murung.” Nindi berjalan perlahan memegangi perutnya, perutnya sedang sedikit kram entah kenapa.


Tok...tok....


Nini mengetuk pintu toilet, tidak ada jawaban. Hanya terdengar isakan lirih dari dalam toilet. Nindi menunggu dengan sabar sampai Mariska keluar dari toilet. Matanya terlihat sedikit merah, tentu saja dia menangis.


Nindi merentangkan tangannya, menarik Mariska ke dalam pelukannya. Mariska kembali terisak dipelukkan Nindi.


“Ni...nnnnn” Ucapnya terbata-bata. “Calon suami aku selingkuh Nin.” Mariska menangis histeris.


Dia sudah membina hubungan 2 tahun lamanya dan memutuskan untuk menikah, tapi disela-sela persiapan pernikahan mereka. Mariska menemukan calon suaminya menjalin hubungan dengan rekan kerjanya di kantor. Mariska memutuskan menyudahi hubungannya yang tidak sehat, baginya penghianatan tidak dapat dimaafkan.


Nindi tidak bisa berkata-kata, dirinya bingung karena Mariska terlihat sangat terpuruk. Dia orang yang sangat ceria dan jarang sekali terlihat bersedih, kali ini Nindi benar-benar melihat sisi lain sahabatnya.


Braaakkkkkk......


Kenzo mendobrak pintu toilet yang tertutup. Mariska dan Nindi heran dengan apa yang sedang terjadi. Matanya melotot menyeramkan. Nindi dan Mariska sampai melangkah mundur ketakutan.


Kenzo mencengkeram tangan Mariska kasar, Mariska mengibaskan tangannya mencoba melepaskan cengkeraman tangan Kenzo yang sangat kuat tapi tidak berhasil.


“Kak Ken....lepaskan Kak....ada apa Kak...” Nindi mencoba membantu Mariska agar lepas dari Kenzo. Aduh....apa Kak Ken kesurupan yah. Batin Nindi.


“Hapus.....!!!!!” Kenzo mengusap sisa-sisa air mata Mariska dengan kasar. Matanya masih melotot tajam. “Jangan sia-siakan air mata untuk laki-laki brengs*k seperti dia.” Menarik Mariska keluar dari toilet. Nindi mengekor di belakangnya sambil memegangi perutnya yang semakin terasa tidak enak.


Apa yang sebenarnya Kenzo dengar,apa yang membuatnya sangat marah? Apa dia marah karena pacar Mariska selingkuh? Nindi menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Kenzo selama ini sangat manis dan baik, sikapnya barusan membuat Nindi bergidik ngeri.


Makanan seolah tersangkut di tenggorokan Mariska tidak mau turun, satu sendok makanan sudah membuat dirinya meneguk satu gelas air putih agar makanan turun ke perutnya. Mencuri pandang sesekali ke arah Kenzo yang duduk di sebelahnya. Tangannya masih sedikit gemetar karena ketakutannya.


“Ada apa?” Tanya Putra lirih ditelinga Nindi. Nindi hanya menggelengkan kepalanya. Putra menggaruk kepalanya yang tidak gatal merasa suasana sangat canggung.


“Ikut aku sebentar.” Ajak Kenzo mengulurkan tangannya, nada suaranya sudah kembali lembut seperti Kenzo yang mereka kenal. Mariska melirik Nindi yang juga tidak tahu harus bagaimana. “Aku tidak akan menyakitimu. Percayalah padaku.” Mariksa berdiri namun tidak mau meraih tanga Kenzo. Cengkeraman tangannya masih membekas.


“Ada apa Nindi? Kenapa Kenzo marah begitu Nin?” Tanya Putra setelah Ken dan Mariska pergi. Nindi masih mengatur nafasnya yang berat.


“Aku jujur tidak tahu Kak, Kak Ken tiba-tiba saja masuk ke toilet seperti orang kesetanan dan menyeret Kak Mariska keluar dari toilet.” Putra menyipitkan matanya bingung.


“Apa yang kalian bicarakan?” Nindi berbisik ditelinga Putra menjelaskan, takut orang lain dengar jadi Nindi berbisik.


Hmmmm.....hhmmmmmm......


Suara batuk sengaja Gunar membuat Nindi tersentak kaget. “Siang Pak.” Sapa Nindi dan Putra ramah berbarengan.

__ADS_1


“Silahkan gabung Pak.” Ajak Putra yang melihat Gunar berjalan seorang diri.


“Tidak usah!” Jawabnya ketus. “Saya sudah makan siang, silahkan lanjutkan.” Gunar berlalu meninggalkan keduanya, ada sedikit percikan api cemburu menyelimuti melihat kedekatan Nindi dengan Putra.


“Dasar Bos aneh sedunia....kadang baik kaya malaikat, kadang begitu.” Nindi menahan senyum melihat Putra memaki Gunar yang sudah jauh.


“Pantas saja Ken marah Nin, dia pasti teringat akan masa kecilnya dulu. Dia sangat kesal jika melihat pasangan yang tidak setia.” Jelasnya yang membuat Nindi tidak mengerti.


“Apa kedua orang tuanya Kak?” Tebak Nindi yang di jawab anggukan kepala oleh Putra. “Benarkah?” Putra tersenyum getir.


“Dia tidak pernah melihat sosok Ayahnya seteleh itu. Dia menjaga Ibunya yang saat ini sakit Nin.” Putra menyandarkan kepalanya. “Setelah peristiwa itu Ayahnya tidak pernah kembali, Ibunya depresi dan sampai saat ini tidak mengingat siapa dirinya sendiri.”


Mendengar cerita Kenzo, Nindi berurai air mata. Pantas saja Kenzo sangat lembut dan baik pada wanita. Dia pasti sangat mencintai ibunya. Dia pasti marah mendengar pacar sahabatnya selingkuh. Nindi menyeka air matanya berulang kali, terisak membuat Putra tertawa melihat Nindi.


“Kenapa kau terisak-isak Nin?” Putra memeluk Nindi menenangkan. “Sudah-sudah, Ken sekarang sudah jadi laki-laki yang kuat, kau tenang saja.” Nindi masih emosional meski Putra mencoba tertawa padanya.


***


Mariska berdiri agak jauh dari Kenzo, meremas tangannya ketakutan tidak mau melihat wajah Kenzo.


Mariska reflek mundur saat Ken ingin menyentuhnya. “Maaf Kak Ken.” Mariska tersenyum tapi masih menunduk.


“Aku menyakitimu Mar?” Mariska menggeleng. “Kenapa kau sangat takut?” Mariska juga bingung kenapa dirinya mendadak ketakutan. “Tolong maafkan sikapku tadi. Aku kehilangan kendali.” Kenzo bicara begitu lembut.


“Aku juga tidak tahu kenapa melihatmu tadi sangat.....” Mariska tidak melanjutkan kalimatnya.


“Tentu saja kau takut, aku bahkan mendobrak pintu seperti orang gila.” Kenzo tertawa mengingat sikapnya yang aneh.


Mariska menatap lekat mata Kenzo, memikirkan kenapa dia sangat marah dan menariknya begitu kuat. “Kenapa kau bersikap seperti itu? Apa yang membuatmu marah?”


“Aku tidak bisa melihat orang yang aku sayangi disakiti seperti ini, aku mohon jangan bersikap bodoh dan kembali pada laki-laki tidak tahu diri seperti dia.” Kenzo memalingkan wajahnya.


Mariska tahu bagaimana cerita kelam masa lalu Kenzo, sudah bukan rahasia umum bagaimana Kenzo tumbuh menjadi laki-laki lembut karena masa lalunya. Mariska menghela nafas panjang, pasti dia sangat takut Mariska bernasib sama seperti Ibunya. Tapi sikapnya berlebihan, mereka tidak punya ikatan apapun kecuali sahabat.


“Kau pikir aku bodoh!” Mariska menarik tangan Kenzo menggenggamnya erat. “Aku sudah merelakan dia pergi pada wanita pilihannya. Aku tidak mau dengan laki-laki yang mudah menaruh hati pada wanita lain.”


Keduanya berdamai dan kembali ke ruang kerja melanjutkan pekerjaan yang tertunda karena jam istirahat sudah habis. Mariska dibuat kaget karena melihat Nindi menagis dan melihat tisu berserakan di atas meja kerjanya.


“Kau kenapa Nin?” Mariska duduk di sebelah Nindi yang sedang ditenangkan Cindy. “Kenapa kau sangat sedih?”


“Dia menangis karena Ken.” Jelas Putra sambil tertawa. Ken melotot tidak percaya mendekat pada Nindi.

__ADS_1


“Kenapa Nin? Apa yang membuatmu sedih?” Nindi menggeleng, ingin tertawa namu air mata tidak mau berhenti mengalir.


“Aku tidak ta....hu Ka...k, aku tid...ak bisa berhen...ti.” Ucapkan di sela-sela isak tangis membuat semua orang tertawa.


__ADS_2