
Semenjak pulang dari liburan, Nindi sering mengurung diri dan banyak melamun membuat Ivar khawatir dengan kesehatannya. Dian hanya akan keluar kamar saat waktu makan dan kerja, selebihnya berdiam diri di dalam kamar.
Beberapa kali Ivar mencoba mencari jawaban dan hanya membut dirinya semakin stress dengan jawaban yang Nindi sampaikan. Ivar seperti tidak mengenal wanita kesayangannya, sikapnya berubah seperti orang lain yang tidak Ivar kenal.
“Nin, mau sampai kapan tidak makan? Kalau tidak selera coba paksa Nin, kasihan bayi kita.” Bujuk Ivar setelah semua rayuannya di tolak mentah-mentah oleh Nindi.
“Abang....bisakan Nindi tidak di ancam terus menerus dengan kehadiran dia!” Tunjuknya pada perut buncitnya dengan mata nyalang yang sebelumnya tidak pernah Ivar lihat.
“NINDI!” Ivar berteriak karena terbawa emosi. Ivar berakhir meninggalkan kamar karena takut menyakiti Nindi.
Sebenarnya Ivar sangat tidak tega dengan keadaan Nindi yang seperti ini, semua khawatir takut Nindi depresi tanpa mereka tahu sebab yang terjadi. Ivar mencoba mencari tahu ke beberapa temannya di kantor namun tidak ada jawaban. Mereka sama dengan Ivar, bingung dengan Nindi yang akhir-akhir ini banyak melamun dan tidak fokus pada tugasnya.
Ivar hari ini membawa Hanna jalan-jalan, gadis kecilnya banyak bertanya mengapa Nindi tidak pernah menemuinya. Kenapa Nindi seolah sangat membencinya dan enggan menatap wajahnya.
“Paman, aku mau makan pop corn.” Ivar mengangguk setuju dan berjalan menggandeng Hanna ke stand penjual pop corn.
“Mau rasa apa Han? Banyak pilihan rasanya sayang.”
“Caramel saja Paman.” Ivar memesan pop corn caramel sesuai permintaan.
“Hanna bagaimana sekolahnya? Kapan Hanna kembali masuk Nak?” Tanya Ivar yag lupa kapan Hanna masuk sekolah kembali.
“Senin Paman....Ehh..berarti 3 hari lagi Paman.” Menikmati pop corn caramel.
“Setelah ini kita jemput Tante ya Han.” Ivar tahu perasaan Hanna dari cerita Edel yang sering mendapat banyak pertanyaan. Hanna sangat sedih dengan Nindi yang tidak lagi memperhatikannya.
Ivar sudah sampai di lobby kantor, menunggu Nindi turun.
“Paman....” Terlihat sedikit keraguan. “Apa Tante sudah tidak sayang Hanna?” Ivar menatap sendu mata gadis kecilnya.
“Kenapa bicara seperti itu Han?” Ivar meraih tangan Hanna. Menciuminya dengan lembut.
“Apa karena mau punya Adek Bayi yah?” Menyampaikan pemikiran teman-temannya akan perubahan sikap Nindi padanya.
“Hanna kenapa bicara seperti itu sayang?” Mengangkat bahunya bingung. “Tante Nindi tidak mungkin tidak sayang Hanna. Mungkin karena sedang hamil, jadi Tante tidak bisa mengontrol emosinya Han.” Jelasnya mencoba menggunakan bahasa yang mudah Hanna mengerti.
“Tapi Hanna tidak suka.” Memeluk Ivar merasa sedih.
“Paman juga tidak suka.” Menirukan gaya bicara Hanna yang lucu. Ivar tidak mau Hanna mendalami perasannya. Ivar juga kebingungan dengan sikap Nindi akhir-akhir ini.
Brukkkk....
“Maaf kelepasan.” Ucap Nindi saat menutup pintu mobil cukup keras. Duduk di kursi belakang.
“Nin, kita makan dulu yah. Abang sengaja belum makan supaya kita bisa makan bertiga.” Ajaknya ingin mencairkan suasana. Siapa tahu berhasil.
“Nindi....” Membuang nafasnya kasar. “Sebenarnya kenyang, tapi ya sudahlah.” Membuang muka tidak berani menatap wajah Ivar.
__ADS_1
Hanna yang duduk di sebelah Ivar menatap wajah Pamannya yang tersenyum padanya. Ivar membelai puncak kepala Hanna dengan lembut sebelum melajukan mobil.
Entah apa yang sedang Nindi pikirkan saat ini, dia benar-benar tidak menyapa Hanna yang duduk di depannya saat ini. Bahkan wajah lugu Hanna tidak lagi Nindi lihat, dia memalingkan muka seolah Hanna bukan gadis kecilnya yang berharga. Bukan permata yang dia jaga sepenuh hati selama ini, Ivar kehabisan kata-kata karena tidak dapat jawaban akan sikap Nindi yang sangat aneh pada Hanna.
“Mau pesan apa Han?” Ivar yang mengalah, melakukan apa yang biasanya Nindi lakukan pada Hanna saat makan di luar.
Setelah memesan mereka menikmati makanan dengan hening, hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang bersautan. Ivar sesak melihat keadaan yang tidak pernah sekalipun dia bayangkan akan terjadi pada keluarganya.
Tidak masuk di akal Ivar kalau perubahan sikap Nindi karena hormon kehamilannya, dia tidak pernah melihat Nindi sekalipun menjauhi Hanna seperti yang dia lakukan saat ini. Hanna yang tidak tahu harus bagaimana hanya pasrah dan tidak bertanya pada Nindi, tentu saja dia kecewa dan sedih. Baginya Nindi harta satu-satunya yang dia miliki.
“Awww....” Teriak Hanna yang menumpahkan makanan mengenai roknya. Menatap Nindi sendu.
“Kenapa Han? sini Paman bantu.” Ivar menengahi melihat tidak ada respon dari Nindi, padahal dirinya tahu kalau Hanna hanya sedang mencari perhatian Nindi yang tidak mau menatapnya sama sekali.
“Hanna tidak sengaja menumpahkanya Paman.” Ivar dengan telaten menyapu makanan menggunaan tissue.
“Tidak papa Han, namanya juga tidak sengaja.”
“Aku ke toilet sebentar.” Nindi pergi begitu saja padahal Ivar belum membalas perkatannya.
“Tante sepertinya benar-benar tidak menyukaiku lagi Paman.” Air mata lolos dari mata cantiknya.
“Paman juga tidak mengerti Han, Paman mohon Hanna tunggu Tante ya sayang. Tante Nindi pasti tidak akan mungkin bisa jauh-jauh dari Hanna.” Ivar mengusap air mata Hanna.
“Iya Paman, kata Omah dan Opah Tante hanya lelah saja. Hanna akan mandiri agar tidak menyusahkan Tante lagi, supaya Tante sayang lagi pada Hanna.” Senyum terbit begitu saja meski air mata masih bercucuran, begitu lembut hati Hanna jika menyangkut wanita kesayangannya.
“Hanna sangat pengertian, terimakasih sayang.” Pelukkan Ivar membuat Hanna sedikit tenang.
Selesai makan mereka kembali ke rumah, Ellie terlihat sedang bermain bersama Jason. Tawa renyah Jason menggema mengisi udara.
“Kalian sudah pulang?” Nindi langsung naik ke atas setelah menyapa Ellie dan Jason. Ivar membawa Hanna ke kamarnya.
Biasanya Nindi yang selalu mengantar Hanna ke kamar setelah pulang.
“Paman tinggal saja, Hanna bisa sendiri.”
“Benar tidak mau Paman temani?” Hanna menggeleng dengan senyum. Ivar bangga melihat Hanna setegar ini, dia masih terlalu kecil memahami situasi yang sedang terjadi. Nindi berhasil mendidiknya menjadi gadis pintar dan dewasa.
“Omah...” Ivar memeluk Ibunya dengan hangat. “Ivar titip Hanna yah, Ivar mau ke atas takut Nindi perlu bantuan Ivar.”
“Apa suasana hatinya masih sama?” Ivar mengangguk, wajahnya diselimuti kesedihan. “Mamah benar-benar penasaran apa yang membuat Nindi begitu enggan dengan Hanna. Kita tahu bagaimana Nindi menjaga Hanna selama ini.” Ellie dan semua anggota keluarga sangat sedih melihat Nindi bersikap dingin pada Hanna.
“Ivar akan mencoba membujuk Nindi Mah, Ivar juga benar-benar tidak tahan. Nindi pasti tahu betul bagaimana perasaan Hanna sekarang. Nindi tidak mungkin tidak menyadarinya.”
“Kamu benar Nak, mereka saling menyakiti jika seperti ini terlalu berlarut-larut.” Ivar kemudian meninggalkan Ellie yang masih menemani Jason bermain.
Ivar membuka pintu kamar mencari keberadaan Nindi, tidak terlihat, hanya ada suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ivar merebahkan tubuhnya yang lelah, sayup-sayup Ivar seolah mendengar suara tangisan dari dalam kamar mandi. Ivar menajamkan pendengarannya berjalan mendekati pintu kamar mandi.
__ADS_1
Tok....tok...tok....
“Nin....” Tidak ada jawaban. “Nindi baik-baik saja?” Jantungnya seolah ingin melompat, Ivar sangat takut Nindi di dalam kamar mandi berbuat yang tidak-tidak. Ivar menepis segala pikiran buruknya. “Sayang....tolong buka pintunya.”
Ivar lari mencari kunci cadangan, Ivar kesal sampai menendang nakas yang tidak menampakan kunci cadangan dimanapun. Akhirnya Ivar kembali mengetuk pintu kamar mandi.
“Nin....Abang mohon buka pintunya.” Masih hening. “Abang tidak main-main ya Nin.” Ivar semakin frustasi. “Ni....”
Derit pintu membuat Ivar sangat lega, nampak Nindi keluar kamar mandi menutup wajahnya dengan telapak tangannya yang masih basah. Kebiasaan Nindi yang tidak pernah menunjukkan wajahnya saat menangis. Tubuhnya hanya berbalut handuk.
Ivar mendekap Nindi erat, kelegaan yang teramat sangat melihat Nindi baik-baik saja berdiri di depan matanya.
“Aku tidak sanggup....” Terisak dan bicara tidak jelas, Ivar tidak tahu apa yang Nindi maksud.
Mungkin ini ada hubungannya dengan Hanna, Ivar membawa Nindi duduk di tepi kasur. Masih memeluknya erat tanpa bertanya apapun. Tangis Nindi benar-benar pecah, Ivar berulang kali merasakan sakit melihat Nindi menangis seperti ini di pelukkannya. Seolah penderitaan enggan meninggalkan Nindi, dan dirinya tidak berdaya.
“Abang bantu Nindi berpakaian ya sayang, nanti masuk angin.” Nindi setuju karena dingin menyeruak menusuk kulitnya.
Malam ini Ivar benar-benar hanya memeluk Nindi sampai Nindi terlelap tanpa ingin tahu apapun yang membuat Nindi sangat terpukul. Pertanyaan dan rasa ingin tahunya hanya akan membuat Nindi kembali tersiak, Ivar sudah tidak sanggup lagi melihat Nindi menangis.
Mengingat bagaimana ucapan Hanna yang merindukan Nindi membuat Ivar ingin sekali menarik Nindi dan membawanya untuk memeluk Hanna. Tapi melihat keadaan Nindi yang begitu lemah juga membuat Ivar tidak bisa memaksa Nindi untuk bicara perihal apa yang tengah dia rasakan kini.
Ivar bingung. Merasa tidak berdaya dengan keadaan yang menimpa Nindi saat ini, mebuat dirinya merasa lemah tidak bisa melindungi kebahagiaan orang-orang yang sangat dia sayangi.
Tring.....
Ivar mengerjap mendengar pesan masuk di handpone Nindi. Membiarkannya karena sudah tengah malam dan tidak ada niat untuk melihat siapa yag mengirim pesan pada Nindi malam-malam begini.
Tringgg.....tring...tringggg...
Pesan masuk berderetan sampai Nindi sedikit terusik dan merubah posisi tidurnya. Ivar yang penasaran meraih ponsel Nindi. Mencoba mencari tahu siapa yang mengirimi Nindi pesan.
Ivar dan Nindi sama-sama tahu sandi ponsel mereka, tidak ada yang disembunyikan sampai Ivar sendiri tidak pernah memeriksa isi ponsel Nindi begitu pula sebaliknya. Mereka saling percaya.
Pesan 1 : Nindi....Kapan Ibu bisa membawa Hanna.
Pesan 2 : Ibu ingin membalas semua perbuatan Ibu di masa lalu Nin. Tolong.
Pesan 3 : Nindi, Ibu tahu Nindi sangat mencintai Hanna, tapi tolong beri Ibu kesempatan merawat Hanna Nin. Ibu ingin menebus kesalahan Ibu Nin.
Pesan 4 : Nindi......Ibu sangat tersiksa Nin.
Ivar sesak menatap wajah damai Nindi yang tegah terlelap. Ternyata apa yang Ivar pikirkan tidaklah benar, mungkin ini semua yang membuat Nindi sangat tersiksa belakangan ini. Nindi memang tidak pernah mau membebani orang lain dengan masalahnya.
Tapi caranya bertahan seorang diri saat dia bisa meminta bantuan pada keluarganya tidak pernah dia lakukan.
Nindi terbiasa memaksakan dirinya menyelesaikan segala macam masalah seorang diri. Ivar menciumi dengan haru wajah Nindi, Ivar tidak menyangkan ada beban berat yang dia rasakan.
__ADS_1
Mungkin masa lalunya yang membuat Nindi tidak pernah bisa berbagi masalahnya pada orang lain. Dia dipaksa oleh keadaan sampai terbiasa menyelesaikan segala macam masalah seorang diri.
Ivar merasa belum sepenuhnya mengenal Nindi, dia sangat jauh dari jangkauan Ivar saat ini. Nindi masih menyimpan banyak luka sendirian.