Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Menggoda Luna


__ADS_3

"Kapan kau bawa orang tuamu melamar Luna Bi?"


Uhukkkk.....uhukkkkk...


"AYAH!!!!!" Matanya nyalang menatap Prabu yang menahan tawa. Abi yang di tanya hanya tersipu malu seperti biasa. "Abi keluarlah, sepertinya ada yang kerasukan jin pagi-pagi buta." Masih menatap tajam mata Prabu.


"Eits...eits....diam disitu." Abi terpaku. Pilihan sulit, batinnya.


"Aku bilang keluar.” Masih tidak bergerak, bingung. “ABI!!!!!! Keluar......." Lebih menakutkan Luna daripada Prabu. Abi terbirit menghindari amukan.


"Dasar Abi, dia malah menuruti calon istrinya." Gerutunya yang senang berhasil menggoda Luna.


"Kakek tua, bisa tidak jangan bicara sembarangan. Gatel sekali Ayah ini." Melanjutkan makannya yang tertunda.


"Ayah ingin seperti Paman Edwin, menggendong cucu." Ledeknya membuat Luna semakin kesal. Tidk mau menanggapi permintaan Ayahnya yang semakin hari semakin gencar.


"Ayah kenapa bahas itu terus, anaknya masih kuliah. Masih kecil." Bela sang Ibu tidak mau anak nya cepat menikah.


"Dengar Ayah, jangan sembarangan kalau bicara." Menjulurkan lidahnya. Tersenyum merasa menang selalu dapat pembelaan.


“Memang apa salahnya? Tetap bisa kuliah meski sudah menikah Mih.....” Tantri melotot kesal. Suaminya tidak habis-habisnya meminta anak semata wayangnya segera menikah.


“Tidak ada, Putriku masih harus belajar jadi wanita yang lebih layak nanti saat jadi istri.” Prabu sudah kehabisan kata-kata.


“Ayah...ku mohon, jangan mendesak Abi. Tidak ada yang tahu hubungan aku dengan Abi selain kalian berdua dan Kak Nindi.”


"Dua lawan satu, ok. Ayah kalah. Cepat Ayah antar ke kampus." Luna Menyipitkan matanya.


"Tumben sekali, Ayah tidak ada kerjaan?" Ejeknya. Padahal mereka baru saja berdebat, tapi dengan cepat bisa akur lagi.


"Enak saja, pengangguran juga Ayahmu ini kaya raya. Udah cepat jangan banyak tanya. Tidak datang dua kali tawaran Ayah." Luna menenggak airnya hingga habis.


Berdiri sejajar dengan Prabu dan mengandeng tangannya. "Let's go....." Tawanya penuh semangat. Jarang sekali Prabu punya waktu seperti ini.


“Kenapa kau tersenyum seperti itu Nak, apa Ayahmu jarang sekali mengantarmu ke kampus?” Mengangguk dengan senyum masih merekah.


“Dia terlalu sibuk mengurus bisnisnya, sampai lupa dengan Putri semata wayangnya.” Prabu yang merasa tersindir hanya mengeratkan genggaman tangannya.


Berjalan bergandengan seperti sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta, begitulah kedua orang ini menghabiskan waktunya jika sedang bersama, jarang sekali ada kedamaian. Suara bising akan mengudara memenuhi jagat raya lantarakn keduanya tidak pernah mau mengalah.


Tapi setelahnya suasana akan sangat romantic membuat siapa saja yang melihatnya ikut bahagia dan tidak jarang ikut tersipu malu. Mereka benar-benar seperti pasangan kekasih yang di idamkan banyak orang.


Abi mengembalikan kesadarannya saat Prabu dan Luna sudah sampai di hadapannya, membukakan pintu mobil segera seperti biasa. Meski Luna melarangnya, Abi tetap tidak mengindahkan dan melakukan tugas sebagaimana mestinya.

__ADS_1


"Abi, hari ini temani aku ke kantor setelah mengantar Luna." Abi hanya menjawab dengan anggukan. Abi benar-benar sangat irit bicara.


"Kekantor siapa yah?" Luna penasaran. Kantornya banyak, Luna penasaran kemana tujuan Ayahnya kali ini.


"Kakak mu, Ayah ingin lihat perkembangan nya." Luna menatap Ayahnya tidak paham. Prabu mengangguk.


"Benarkah! Kak Ivar tidak lagi di markas besar?" Prabu kembali mengangguk. Luna memeluk Prabu dengan erat. "Aku sangat senang. Akhirnya tidak lagi Kak Ivar bekerja ditempat yang berbahaya." Lega sekali, Luna menautkan jari-jarinya dengan tangan Prabu.


"Kau sangat tulus padanya, tapi Ayah akan pastikan suami mu akan lebih baik dari Ivar." Melirik Abi yang masih berdiri di depan pintu mobil, menunduk. Merusak suasana, Luna segera masuk dan duduk di belakang.


“OHhhhhh…., jadi sekarang Ayah yang duduk di sebelah Abi?” Luna menutup pintunya dengan keras. Prabu memutar, duduk di bangku depan dengan senyum merekah.


“Ayah bisa tidak jangan bicara begitu terus, nanti keceplosan bagaimana?” Menatap wajah Abi yang menunduk dan segera melajukan mobilnya.


Abi sudah terbiasa, hal apa saja bisa menjadi perdebatan dan pertengkaran keduanya. Mereka memang selalu seperti itu di setiap kondisi dan keadaan. Abi sudah tidak heran.


“Apa salahnya! Ayah hanya menyampaikan aspirasi sebagai seorang Ayah.” Masih tidak mau kalah berargumen.


"Awwww....." Prabu mengusap tangannya. "Bisa tidak, jangan bicarakan pernikahan terus menerus. Buat emosi saja Ayah ini." Prabu hanya meringis tidak menanggapi. Wajah Luna sudah benar-benar kesal, Prabu tahu dirinya harus berhenti sebelum Luna benar-benar marah.


Tidak lama setelah mengantar Luna, Prabu dan Abi sudah sampai di depan gedung yang menjulang tinggi milik Ivar Samuel Latif yang selama ini dirinya kelola bersama Edwin.


Sudah cukup lama Prabu tidak menginjakkan kakinya disana. Rindu juga ternyata, dirinya sangat sibuk mengurus ini dan itu sampai pagi ini Putrinya benar-benar menyadarkannya untuk sedikit saja punya waktu luang untuk dirinya dan istri tercintanya.


“Ayo keruangan Ivar, aku baru saja selesai mengantar client pulang." Prabu mengangguk setuju.


Ivar menelpon resepsionis agar segera menyipakan kopi untuk dirinya dan Prabu. Tomo sedang tidak ada di tempat, mengurus pekerjaan Ivar yang dia tidak bisa handle sendiri. Ivar masih belajar.


“Bagaimana? Sudah mulai nyaman belum Nak?” Ivar terlihat ragu. “Tidak apa, dulu Ayah juga sama. Berat meninggalkan pekerjaan yang sangat kita cintai. Tapi banyak sekali yang harus dipertimbangkan, Ayah sedikit terlambat berhenti. Sampai sudah tua begini baru mau benar-benar berhenti.” Tersenyum getir.


“Lumayan Yah, aku sedang berusaha mencintai pekerjaan ini. Nindi memintaku belajar.” Jawabnya pasrah dengan keadaan.


“Kau memang harus mendengarkan Nindi, dia wanita yang sangat baik Var.”


Mengobrol kesana kemari cukup lama, sesekali menyesap kopi menambah kenikmatan saat berbincang. Hanya Prabu yang memahami pekerjaan Ivar selama ini, dirinya benar-benar tidak terlatih dengan perusahaan, Ivar kadang tidak bisa berfikir harus bagaimana dengan keadaannya saat ini. Ivar mencoba dengan keras menyesuaikan diri.


“Aku juga tidak benar-benar berhenti, aku hanya meminta cuti.” Jujurnya yang selama ini memang hanya Prabu yang tahu. “Aku masih belum yakin.”


“Apa yang kau katakan pada Edwin?” Ivar menunduk. Dirinya tidak jujur pada keluarga besarnya.


“Yang mereka tahu, aku pensiun dini. Mereka tidak tahu kalau aku hanya mengajukan cuti panjang.” Sesal Ivar yang tidak jujur pada keluarganya.


“Pelan-pelan Nak, tapi Ayah yakin Ivar tahu yang terbaik untuk Ivar dan semua orang. Ayah mohon jangan terlalu lama mengambil keputusan. Ayah benar-benar berharap Ivar melepaskannya.” Prabu tidak mau lagi berurusan dengan pekerjaannya yang beresiko begitu besar.

__ADS_1


“Ivar juga kesal, Ivar termakan hasutan komandan agar berpikir dua kali untuk pensiun. Mereka bilang kinerja Ivar masih belum bisa digantikan pasukan lain. Mereka masih megharapkan Ivar tidak goyah dan kembali dengan yakin setelah cuti panjang Ivar.”


“Ayah berulang kali dibujuk dengan hal yang sama. Merasa di atas angin karena pujian mereka, tapi Ayah benar-benar takut setelah apa yang kita temukan kemarin. Ayah tidak bisa percaya siapa pun di sana Var.” ivar mengangguk paham.


Tomo yang baru sjaa kleuar toilet mengejar Nindi yang tidak jadi masuk ruangan Ivar dan berjalan menuju lift, wajah Nindi terlihat cemas membuat Tomo penasaran.


“Non….Nona…Ada apa?” Tanyanya sambil menahan lift agar tidak turun.


“Ahhhh….Pak Tomo, tolong berikan ini pada Abang. Sepertinya sedang ada tamu, Nindi jadi tidak enak kalau masuk.” Nindi memang tersenyum, tapi sorot matanya tidak bisa bohong.


Tomo yang tidak mau ikut campur hanya menerima dan segera membiarkan Nindi turun kembali. Melangkah setelah melihat pintu lift tertutup rapat.


Tomo penasaran dengan siapa saat ini Ivar bicara. Apa seorang perempuan? Tidak mungkin, client yang datang kebanyakan laki-laki tua.


Tok….tok…tok


Tomo masuk dan melihat Prabu yang saat ini duduk bersama Ivar, kenapa Nindi terlihat begitu sedih. Apa yang mereka bicarkan sebenarnya.


Tomo yang terlihat melamun menyita perhatian Ivar dan Prabu. Keduanya saling menatap bingung. Tomo yang diperhatikan tidak bergeming.


“Tom….tom…Tomo!!!” Ivar berteriak karena Tomo benar-benar tidak mendengar panggilannya.


“Oh…….iya, maaf.” Tomo mendekat mengulurkan tangannya pada Prabu, laki-laki yang sudah mengajarkannya banyak hal. “Tuan besar apa kabar?” Sapa Tomo sopan.


“Baik Tom, kenapa kau melamun? Apa sulit bekerja dengan Ivar?”


“Tidak Tuan, aku hanya suka kewalahan menangani masalah hatinya, kalau masalah pekerjaan jangan ragukan saya Tuan.” Jawabnya sedikit menyombongkan diri.


“Yah!!!! Kau ini, jangan bongkar kartuku.” Prabu hanya tertawa melihat tingkah Ivar yang seperti anak kecil, keduanya terlihat sangat dekat.


“Tuan Besar belum tahu saja apa yang dia minta padaku kemarin, aku sampai ingin mengajukan surat pengunduran diri kalau Bos tetap bersikeras.” Ledeknya semakin membuat Ivar kesal.


“Tomo…hentikan!” Membekap mulut Tomo yang saat ini tertawa. “Kau tidak tahu aku pernah membunuh orang dengan tanganku!” Ancamnya.


“Ampun Bos, aku akan jaga rahasia kita.” Menyodorkan tentengan yang dia bawa. Ivar melepaskan Tomo, menatap penasaran kenapa Tomo memberikan bingkisan.


“Kau menyogokku? Belum saatnya Tom.” Ivar kembali duduk. Tomo meletakkannya di atas meja Ivar tepat di depan Ivar duduk.


“Ini dari Nona” Ivar spontan menatap pintu masuk. “Nona sudah turun, tidak jadi masuk ke sini karena mendengar ada tamu di ruangan Bos.” Tomo mengurungkan niatnya meceritakan Nindi yang terlihat tidak baik-baik saja.


“Harusnya Nindi masuk saja, Ayah juga pasti tidak keberatan jika Nindi bergabung.” Tomo hanya mengangkat bahunya tidak tahu.


Ivar bahkan tidak tahu jika istrinya tidak baik-baik saja saat turun tadi. Tomo memilih tidak membuka suara, dirinya takut salah bicara dan menyulitkan Nindi atau Ivar.

__ADS_1


__ADS_2