
Nindi sedang menunggu Bagas yang tidak kunjung datang, kakinya terasa sedikit pegal karena berdiri cukup lama. semenjak hamil, Nindi merasa kondisi badannya mudah sekali lelah. Tidak bisa berlama-lama melakukan kegiatan, badannya akan terasa kaku dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Nindi menyeka keringat yang bermunculan di wajahnya, segera Nindi mencari tempat duduk karena takut terjatuh. Tiba-tiba saja matanya buram dan kepalanya sedikit berdenyut nyeri. Nindi menutup wajah dengan kedua tangannya. Memijat ringan agar nyeri kepalanya berkurang.
“Nin.....Kau masih di sini?” Sapa Melly yang melihat Nindi masih duduk di lobby utama.
Nindi berdiri sebagai rasa hormat saat melihat Melly menghampirinya. “Iya Bu, Bagas belum sampai Bu.” Melly mengernyitkan dahinya. “Ah maksudku pegawai suamiku belum sampai Bu.” Menjelaskan maksud ucapan sebelumnya.
“Mau pulang denganku tidak?” Tawar Melly yang tidak tega melihat Nindi menunggu lama.
“Terimakasih Bu, saya tunggu Bagas saja Bu.” Tolak Nindi dengan sopan.
“Ya sudah, saya duluan ya Nin.” Nindi melambaikan tangannya dan segera duduk kembali, kakinya lemas dan keringat dingin semakin membasahi tubuhnya.
Nindi merasakan tubuhnya sedikit gemetar, Nindi meraih ponsel mencoba menghubungi Bagas yang tidak kunjung datang.
Prannkkkk.......
Ponsel Nindi jatuh, Nindi benar-benar sudah merasa tidak nyaman sampai mendudukan dirinya dan bersandar di tembok sambil memejamkan mata.
“Nin....Kau kenapa?” Gunar mendapati Nindi yang terlihat tidak baik-baik saja. “Yah!!!!!” Kenapa kau....Nin.....” Nindi jatuh pingsan di pelukkan Gunar. “Nindi.....Bangun Nin!!!!!” Teriak Gunar membuat satpam yang berada tidak jauh menghampiri Gunar.
“Pak Gunar, ada apa ini Pak!” Tanyanya ikut kaget melihat Nindi tidak sadarkan diri.
Gunar membawa Nindi ke mobilnya. Klinik yang ada di kantor pasti sudah tutup karena jam operasional kantor sudah berakhir. Gunar mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, terlihat sangat jelas wajahnya panik melihat kondisi Nindi yang tidak sadarkan diri.
“Kenapa kau pingsan Nin, kau tadi baik-baik saja.” Gumamnya yang masih fokus mengendarai mobilnya. Untung saja jalanan sore ini tidak terlalu macet. Dengan cepat Gunar sudah sampai di rumah sakit terdekat.
Gunar menggendong tubuh Nindi yang sangat ringan ke UGD. Berteriak pada siapa saja yang ada di sana agar segera menolong Nindi. Dengan cepat petugas rumah sakit menangani Nindi.
Ditengah kegusarannya, Gunar mngirim pesan pada Prabu. Memberitahukan kondisi Nindi agar Prabu menyampaikannya pada keluarga Ivar. Gunar tidak begitu akrab dengan keluarga Nindi, jangankan nomor ponsel, namanya saja Gunar tidak hafal siapa kedua orang tua Ivar. Baginya mereka sudah merebut Nindi darinya.
“Kenapa kau hidup dengan laki-laki yang tidak merawatmu dengan baik. Kau seharusnya milikku Nin.” Gerutu Gunar mencaci dirinya sendiri yang terlambat mengungkapkan perasannya.
“Pak....” Sapa Dokter ragu-ragu. “Bapak keluarga pasien?” Dokter mengenal Nindi, dan Gunar sepertinya bukan orang yang familiar.
“Ahhh....Saya rekan kerjanya Dok. Bagaimana kondisinya?” Tanya Gunar masih merasa cemas.
“Kondisinya masih belum stabil, tapi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Dia hanya kelelahan saja.” Dokter menyerahkan resep obat pada Gunar. “Silahkan urus administrasi dan ambil obat pasien ya Pak, jika sudah siuman boleh pulang.”
“Dokter yakin? Tapi dia pingsan Dok.” Gunar ingin Nindi mendapatkan perawatan yang terbaik, tidak sembarangan. “Tolong cek dengan benar Dok, pasti ada apa-apa. Kalau tidak, dia tidak mungkin pingsan Dok.”
“Kalau sedang hamil muda wajar Pak, makanya pasien harus menjaga kondisinya, jangan terlalu lelah.” Jawab Dokter masih santai.
Gunar masih tidak percaya Nindi baik-baik saja, melihat wajah Nindi yang sudah tidak lagi pucat. Sepertinya benar perkataan Dokter kalau Nindi baik-baik saja.
__ADS_1
Perlahan Nindi membuka matanya, mengerjap berkali-kali menyesuaikan cahaya lampu dengan matanya yang baru saja terbuka.
“Kau sudah bangun? Apa masih ada yang sakit? Katakan Nin, aku akan memanggil Dokter kalau masih ada yang kau rasakan tidak enak. Hah...jawab Nin, kenapa kau diam saja.” Menatap Nindi yang saat ini tersenyum melihat Gunar.
“Kak Gunar kenapa sangat berisik, eh....maksudku Pak Gunar.” Nindi menunduk sedikit sadar, hubungannya dengan Gunar tidak sedekat dulu.
“Kau malah tersenyum, sudah yakin baik-baik saja?” Menegaskan sekali lagi, Nindi mengangguk yakin. “Kalau begitu aku akan memanggil suster agar melepaskan infusmu.” Nindi menatap punggung laki-laki yang sangat baik padanya.
Beberapa kali Nindi mendapat pertolongan dari Gunar, dia sama sekali tidak menunjukkan kebenciannya. Gunar tidak berubah, dia laki-laki yang selalu ada saat Nindi membutuhkan pertolongan.
***
Edwin menghampiri Bagas yang setengah berlari memasuki rumah utama.
“Kenapa Gas. Kok kamu pulang sendiri? Mana Putriku?” Tanya Edwin heran.
“Kata Satpam kantor, Nona tadi pingsan Tuan.” Jawab Bagas ketakutan.
“Kok bisa Gas, terus dimana Nindi? Duh bingung aku mau nanya apa ini sama kamu Gas, kamu tidak jemput tepat waktu memangnya?” Mulai naik nada bicaranya karena marah.
“Maaf Tuan, tadi saya terjebak macet karena ada kecelakaan Tuan.” Bagas menundukkan kepalanya.
“Sudah telpon Handponenya Nindi belum kamu Gas?” Mengangguk. “Di jawab tidak?” Bagas menggeleng, menyodorkan ponsel Nindi pada Edwin. “Duh dimana Nindi sekarang, Satpam gak tahu Nindi di bawa kemana?”
“Tidak Tuan, tapi Bapak Satpamnya bilang di bawa sama Pak Gunar pakai mobil Pak Gunar.” Tiba-tiba ponsel Edwin berdering.
Prabu : Edwin, Nindi pingsan.
Edwin : Tahu dari mana kau?
Prabu : Gunar kasih info, dia di Rumah Sakit.
Prabu mengirimkan isi pesan Gunar pada Edwin. Tentu saja Edwin sangat tidak suka Gunar terlalu dekat dengan Nindi, tapi Edwin juga sangat berterimakasih karena Gunar dengan tulus menjaga Nindi.
“Kita ke Rumah Sakit sekarang, Bagas benar-benar tidak bisa dipercaya kamu Gas.” Maki Edwin yang kesal Bagas datang terlambat.
Baru saja akan keluar pintu rumah, nampak mobil hitam yang tidak asing memasuki pekarangan rumah. Edwin yang tahu betul itu mobil Gunar langsung berlari menghampiri mobil Gunar.
Membuka pintu membantu Nindi turun dari mobil Gunar. Edwin terlihat sedih menatap wajah Nindi. Tangannya dingin seolah sedang ketakutan.
“Pah, kenapa tangan Papah sangat dingin?” Nindi memijat perlahan jari jemari Edwin. “Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir.” Nindi tahu betul semua karena dirinya.
Edwin menghela nafasnya lega, Nindi baik-baik saja terlihat dari raut wajahnya yang berseri meski masih sedikit pucat.
“Masuklah dulu, Gunar cepat masuk.” Ajak Edwin ingin membuka hati agar tidak terlalu membenci Gunar yang sudah baik pada keluarganya.
__ADS_1
“Loh....ada apa ini? Nindi kenapa?” Tanya Ellie yang baru saja turun, dia tidak tahu menahu jika Nindi pingsan. Dia hanya heran kenapa Edwin memapah Nindi masuk ke dalam rumah.
“Buatkan minum dulu Mah, buatkan teh manis hangat untuk Gunar dan Nindi.” Edwin membawa Nindi duduk di sofa ruang tengah.
“Saya sebaiknya permisi Tuan, masih ada urusan.” Ijin Gunar yang merasa canggung dan sedikit tidak nyaman.
“Minum dulu Nak, kau pasti juga sangat terkejut melihat Nindi pingsan.” Ellie kembali ke ruang tamu menajamkan pendengarannya.
“Aku tidak salah dengar! Nindi kenapa bisa sampai pingsan? Kenapa tidak ke rumah sakit?” Ellie duduk di sebelah Nindi, memeriksa suhu tubuh Nindi yang sedikit hangat. “Kau baik-baik saja Nak?” Nindi mencium tangan Ellie dengan lembut.
“Aku baik-baik saja, aku pingsan karena berdiri terlalu lama.” Nindi bicara sdikit berbisik, dirinya merasa sangat malu. Insiden pingsannya karena ulahnya sendiri.
Edwin, Ellie dan Gunar menatap Nindi kemudian tersenyum. Merasa aneh dengan apa yang baru saja mereka dengar.
“Apa benar begitu?” Tanya Edwin merasa lucu. Nindi hanya mengangguk dan menenggelamkan kepalanya di pelukkan Ellie.
“Kau Nin.....aku kira kau sakit karena kondisi mu yang memang sedang tidak baik, kau bilang hanya karena terlalu lama berdiri! Ya Tuhan.....” Cerca Gunar tidak percaya dengan apa yang terjadi. Nindi tersipu malu, karena ulahnya semua orang gempar.
“Maaf....aku benar-benar tidak terpikirkan akan pingsan, aku hanya berdiri 15 menit tapi bisa pingsan.” Nindi sendiri merasa lucu dengan apa yang terjadi.
Semua orang tertawa melihat kenyataan tidak sepelik yang mereka pikirkan, Nindi baik-baik saja. Mungkin kondisinya memang mudah turun karena sedang hamil muda. Ada-ada saja memang kehidupan ini.
“Bagas!!!!!!” Bagas mendekat masih menundukkan kepalanya merasa bersalah.
“Gara-gara kamu Putriku menunggu sampai berdiri 15 menit dan pingsan.”
“Maaf Tuan” Masih menunduk tidak berani mengangkat kepalanya.
“Kau ini sangat keterlaluan Gas, kalau mau jemput Putriku, jangan buang-buang waktu Gas. Cepat jalan! Mengerti tidak Gas?”
Padahal Nyonya menyuruhku ambil kue ulang tahun Non Edel dulu tadi. Bagas baru ingat kue ulang tahun masih terparkir di kursi belakang mobilnya. Bagas lari terbirit-birit membuat Edwin membulatkan matanya.
“Papah salah bicara tidak yah? Bagas marah atau bagaimana?” Masih memperhatikan apa yang akan Bagas lakukan.
“Ngambek kali bagasnya, jawab Ellie enteng.” Tapi tidak mungkin sih, bagaskan baik hati. Batin Ellie.
Bagas kembali dengan tentengan di tangan kirinya. Edwin menatap wajah Bagas mencari tahu lewat tatapan matanya.
“Maaf Tuan.” Sambil tersenyum. “Saya lupa menurunkan kue ulang tahun Nyonya Tuan, takut meleleh.” Bagas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bakal kena semprot batinnya.
“Oh iya benar, tadi Mamah minta Bagas ambil kue ke toko langganan.” Ellie mengambil kue dan menyimpannya di lemari es.
“Jadi biang keroknya Mamah, makanya Nindi menunggu Bagas kelamaan!.” Edwin meloto pada Ellie. “Gas, besok cari supir satu lagi, khusus untuk Nindi.” Perintahnya membuat Nindi tercengang.
“Tidak perlu Pah, Nindi kan bisa pulang sama siapa saja. Lagian di rumah kita sudah banyak supir.” Edwin menggeleng.
__ADS_1
“Tidak usah mengatur Papah, Papah yang tahu harus bagaimana agar tidak terulang kejadian menunggu terlalu lama dan sampai pingsan.” Tegasnya tidak main-main.
Gunar hanya menggeleng tidak percaya, ternyata Nindi sangat beruntung memiliki orang-orang seperti keluarga Ivar di kehidupannya. Tidak seperti dirinya yang sepi dan tidak memiliki siapapun selain dirinya sendiri.