
Tiga bulan berlalu sudah, kini penantian Ivar dan Nindi terikat dalam pernihakan tinggal menunggu hitungan menit. Nindi dibalut gaun pengantin berwarna putih dengan motif payet bunga-bunga hasil karya dirinya dan Edel membuat Nindi terlihat sangat anggun. Sedangkan Ivar dengan kemeja putih hitam yang dibalut jas hitam sudah duduk di depan Penghulu dan para saksi.
Senyum tidak hilang dari wajah Ivar yang begitu tampan hari ini, suasana hatinya sedang berbunga-bunga bak taman yang bermekaran di musim semi. Hari bahagia yang sudah sangat matang persiapannya akhirnya datang juga, bidadari yang selama ini Ivar jaga sebentar lagi akan resmi jadi miliknya lahir dan batin.
Nindi keluar di temani Hanna di sisi kiri dan Edel di sisi kanannya. Senyum yang begitu terlihat cantik di wajah Nindi pagi ini. Ivar merasa dirinya laki-laki paling beruntung memiliki wanita secantik dan seanggun Nindi. Tidak hanya fisiknya yang menawan, hatinya juga begitu cantik dan baik.
Dua mempelai pengantin duduk berdampingan. Ivar tidak bisa menyembuyikan kegugupannya, kakinya tidak berhenti dia goyang-goyangkan membuat Nindi ikut gugup melihatnya. Edwin yang melihat tingkah putranya hanya tersenyum dalam diam, Ivar ternyata manusia normal, dia juga punya rasa takut dan gugup.
Janji suci telah Ivar ucapkan dengan lantang di hadapan semua tamu undangan yang hadir, semua turut bahagia melihat Ivar begitu berbinar hari ini. Siapa yang tidak bahagia saat perjuangan yang tidak mudah Ivar lalui untuk mendapatkan restu menikahi Nindi yang berasal dari keluarga biasa saja bersanding dengan keluarganya yang begitu tersohor.
Satu demi satu tamu memberikan ucapan selamat kepada dua mempelai yang berbahagia menyambut hari baru, status baru dan kehidupan yang akan penuh warna kedepannya. Ivar benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaannya sampai semua tamu melihat sisi lain Ivar yang selama ini tidak pernah mereka lihat.
Tawa lepas yang memenuhi ruangan mengelu-elukan Nindi pada setiap sahabat yang menghadiri pesta pernihakannya. Nindi hanya bisa tersipu malu sekaligus takut, Ivar melihat dirinya yang begitu sempurna. Sungguh dirinya tidak lebih dari manusia lemah yang akan menggantungkan hidupnya pada Ivar kedepan.
Pesta yang melelahkan selesai, semua tamu sudah meninggalkan aula pesta. Tersisa keluarga besar yang hari ini akan menginap di hotel yang sudah Edwin booking untuk istirahat. Hanna malam ini tidur bersama Omah dan Opah barunya. Edwin dan Ellie dengan senang hati menjaga Hanna.
Gadis kecil ini tidak lelah meski seharian mendampingi Nindi duduk di sampingnya. Tidak banyak yang Hanna kenal, dia lebih memilih duduk di sebelah Nindi karena malas ditanya-tanya orang dewasa.
Keluarga Luna tidak datang, Luna menolak datang karena takut tidak mampu menahan diri saat melihat Ivar duduk berdampingan dengan Nindi di pelaminan.
Tentu saja kedua orang tua mana yang mau meninggalkan Putrinya yang sedang berduka. Mereka memutuskan mengirimkan hadiah saja sebagai ucapan selamat. Edwin paham betul perasaan sahabatnya, tentu saja ini bukan salah anak-anak, melainkan orang tua yang selalu memaksakan kehendaknya tanpa tau keinginan anak-anaknya.
“Istirahat Nak, biar Papah yang selesaikan sisanya.” Edwin tidak tega melihat Nindi yang pasti sangat lelah berdiri seharian penuh.
“Baik Pah, Ivar juga sangat lelah.” Ivar menuntun Nindi ke kamar pengantin yang sudah di siapkan dengan istimewa.
Jantung Nindi berdegup kencang saat kakinya melangkah memasuki kamar pengantin, apa yang akan terjadi selanjutnya membuat Nindi tidak bisa berpikir dengan jernih. Otak kotornya memenuhi pikiran sampai Ivar terlihat begitu mengerikan.
“Nin.”
“Jangan.” Nindi menepak tangan Ivar yang ingin menyerahkan handuk padanya. “Ma...maaf Kak.” Nindi sangat malu mlihat Ivar tersenyum menatapnya.
“Jangan takut, aku tidak sebuas itu Nin.” Ivar tersenyum masuk ke kamar mandi menyisakan tanda tanya di kepala Nindi.
Buas....memangnya dia binatang. Tapi laki-laki bisa sebuas binatang kata tante Ira dan Mamahnya Aisyah. Aku terlalu banyak bertanya pengalaman Ibu-Ibu, sekarang aku malah merasa takut begini.
Ivar keluar hanya dengan handuk yang tersangkut di pinggangnya. Nindi sontak menutup matanya yang masih suci. “Kak, kenapa tidak pakai baju di kamar mandi?”
“Aku lupa Nin, biasanya aku memang pakai baju di kamar. Dan keluar tanpa apapun, tadinya aku mau begitu. Tapi, takut kamu pingsan. Hahahhaa....” Nindi masuk ke kamar mandi menghindari percakapan menjadi lebih tidak terkontrol.
__ADS_1
Nindi berendam sejenak, ternyata Ivar sudah menyiapkan air hangat di bathtup yang dipenuhi bunga mawar, wangi aroma terapi membuat tubuh Nindi nyaman dan segar. Ada senyum di bibir Nindi melihat kenyataan Ivar yang sangat menyayanginya. Bahkan hal kecil seperti ini dia perhatikan tanpa Nindi minta.
Ada saja tingkah Nindi hari ini, dia lupa membawa handuk karena repot menghindari Ivar yang sedikit aneh. Bagaimana ini, Nindi hanya mondar-mandir bingung harus bagaimana. Nindi melongok sedikit melihat sedang apa Ivar saat ini. Kak Ivar masih terjaga dengan ponselnya. Aduh.....kenapa dia tidak tidur, padahal dia bilang sangat lelah tadi.
Nindi tidak tau saja, Ivar juga sedang bingung. Dia bahkan browsing cara-cara menangani kecanggungan pada malam pertama pengantin baru, kiat-kiat yang muncul malah membuat Ivar terlihat semakin jelas sedang gugup. Tidak membantu, cara menengakan hati yang sedang gundah. Sama saja, masih tidak membantu.
Ivar melihat pintu kamar mandi yang tidak juga terbuka, apa Nindi baik-baik saja? Mungkin dia sedang menikmati air dan waktunya.
“Kak...” Nindi memberanikan diri meminta bantuan, dia sudah kedinginan. “Kak....” Sekali lagi karena Ivar tidak mendengar.
“Kenapa Nin? Kau baik-baik saja?” Ivar segera turun mendekati kamar mandi. Ivar dan Nindi main tarik-tarikan pintu. “Buka Nin, kenapa kau menahannya.”
Brukkkk.....
Nindi menutup pintu dengan paksa. “Dengarkan aku! Aku lupa membawa handuk Kak, tolong bawakan untukku.” Nindi sangat malu.
“Kau ini membuatku takut saja, tunggu sebentar.” Ivar segera meraih handuk di atas tempat tidur.
“Kak, ambilkan bajuku juga boleh Kak?”
“Tentu saja, tunggu di sini.” Ivar meraih pakaian Nindi yang sebelumnya sudah dia siapkan. “Apa kau malu berpakaian di depan ku?” Menahan pintu sampai Nindi tidak kuat menariknya.
“Kak lepaskan. Aku kedinginan.”
Nindi keluar dengan setelan baju tidurnya yang berwarna biru muda, Nindi membelinya untuk malam specialnya bersama Ivar. Tapi ternyata tidak semudah yang dia bayangkan, rasanya aneh dan campur aduk.
Ivar merentangkan tangannya, meski deg-degan Ivar mencoba netral agar Nindi bisa melepaskan ketegangannya. “Sini sayang.” Nindi dengan wajah malu-malu perlahan mendekat.
“Akhirnya kau benar-benar jadi istri Ivar Samuel Latif.” Ivar memeluk Nindi dengan erat. “Kedepan jangan menanggung sendiri masalahmu, serahkan padaku.”
Malam semakin larut, dua pasangan pengantin baru memadu kasih menikmati setiap momen yang menyatukan jiwa raga keduanya. Sampai keduanya kelelahan dan tertidur pulas.
Tok...tok...tok.....
Suara ketukan pintu membangunkan Nindi yang masih menikmati tidurnya setelah lelah melayani Ivar yang tidak ada puasnya.
“Kak....cepat pakai bajumu. Sepertinya Hanna datang ke kamar kita.” Nindi meraih pakaian yang berserakan di lantai.
“Jam berapa sekarang Nin?” Ivar mengucek matanya yang masih lengket.
__ADS_1
“Sudah jam 10 pagi.” Nindi beranjak membukakan pintu untuk tamunya yang sedari tadi menunggu di luar.
Hanna yang datang bersama Edwin langsung memeluk Nindi yang muncul dari balik pintu. Nindi membalas pelukkan Hanna dengan hangat.
“Tante baik-baik saja?” Pertanyaan aneh.
“Tentu saja sayang, masuk Pah.” Nindi membuka lebar pintu kamarnya, Ivar keluar dari kamar mandi setelah mencuci mukanya agar lebih segar.
“Pagi Hanna cantik.” Ivar mencium pipi Hanna yang menggemaskan. “Pagi Pah.” Sapa Ivar pada Edwin yang datang bersama Hanna.
“Paman, kata Opah Paman menyiksa tante Nindi sampai bangunnya kesiangan?” Ivar hampir saja tersedak air putih yang sedang dia minum.
“Opah....Kenapa bicara yang tidak-tidak pada anak kecil seperti Hanna?” Ivar menekan suaranya sambil melotot. “Tentu saja tidak. Lihat tante Nindi baik-baik saja kan!” Ivar menggeleng tidak percaya dengan apa yang mereka bicarakan dibelakangnya.
Edwin diam saja sambil membaca majalah yang dia temukan di bawah meja, dia kehabisan kata-kata menjawab setiap pertanyaan yang muncul dari mulut Hanna yang ingin tahu segala hal. Sampai Edwin tidak bisa membantah lagi saat Hanna mengajaknya melihat keadaan Nindi saat ini baik-baik saja atau tidak.
“Paman tidak berbohong?” Ivar mengangguk. Hanna masih tidak percaya pada Ivar, Hanna memeluk Nindi karena takut Ivar benar-benar menyakitinya.
“Hanna mau roti?” Hanna mengangguk. Nindi melangkah ke kulkas mencari selai roti yang sudah di siapkan pihak hotel atas permintaannya. Menggelung rambut panjangnya agar tidak jatuh mengenai roti yang akan dia buat.
Hanna tiba-tiba saja menangis berlari memeluk Nindi membuat semua orang bingung. “Kenapa Han?” Nindi memeluk Hanna menenagkannya. Hanya suara tangis yang keluar dari mulut Hanna. “Tenang sayang, Tante Nindi baik-baik saja. Lihat, tante kuat kan.” Nindi menggendong Hanna dengan susah payah.
“Paman bohong, Paman pasti menyakiti Tante kan. Paman jahat....” Ivar bengong, dia tidak tau apa yang Hanna bicarakan.
“Paman tidak menyakiti Tante Han, Tante bicara benar.” Nindi tahu benar kenapa Hanna takut ada orang yang menyakitinya. Dia takut kehilangan, dia takut tidak punya siapa-siapa lagi.
“Tante pasti takut kan, kita laporkan saja Paman pada Polisi. Hanna kenal Paman polisi yang ada di dekat rumah kita.” Nindi tersenyum lucu. Apa yang sebenarnya dia lihat sampai histeris seperti ini.
“Paman tidak jahat sayang.” Ivar mencoba membela diri. Matanya melotot pada Edwin yang tersenyum tanpa rasa bersalah.
“Ini buktinya.” Menunjuk leher Nindi yang banyak lebam-lebam seperti bekas pukulan atau cubitan di mata Hanna.
“Hahahaha....” Nindi melepaskan ikatan rambutnya. Nindi malu setengah mati, bisa-bisanya ada bekas yang Ivar tinggalkan di sekujur tubuhnya. “Dengar Han, ini bukan luka.” Nindi mencoba menjelaskan.
“Lalu apa? Aku juga suka ada luka lebam jika jatuh, atau di cubit Gabby.” Mengusap air matanya. Benar juga apa yang Hanna katakan, tapi ini bukan luka karena kesakitan.
Sekarang Nindi pusing sendiri, apa dan bagaimana menjelaskan pada Hanna. Mana mungkin dia menceritakan apa yang terjadi pada dirinya.
“Jadi gini Han,eh...ehhh....” Pusing mencari alasan yang tepat. “Intinya ini bukan luka. Ini tidak sakit Han.” Nindi mencoba memencet bagian yang merah. Hanna mengedipkan matanya masih belum percaya. “Coba Hanna pegang.”
__ADS_1
“Apa tidak sakit?” Hanna sedikit lega karena Nindi benar-benar baik-baik saja.
“Lain kali aku akan membuatnya di tempat yang Hanna tidak bisa melihatnya.” Bisik Ivar pada Nindi yang berhasil membujuk Hanna agar tidak lagi merasa takut Ivar meneyakitinya. Nindi hanya menggeleng tidak percaya dengan apa yang Ivar pikirkan.