Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Nindi Hamil


__ADS_3

Suasana kantor pagi ini sangat ramai mempersiapkan kedatangan para anggota Direksi yang akan melakukan evaluasi terkait beberapa proyek yang berhasil di capai dan beberapa proyek yang macet di tengah perjalanan.


Bukan hal aneh dalam suatu perusahaan. Semua terlihat sangat antusias karena akan ada pembahasan tentang kenaikan gaji seperti yang baru-baru ini di berlakukan oleh pemerintah untuk kesejahteraan setiap tenaga kerja.


“Semua bersiap ke bawah yah, kita berbaris seperti biasa untuk unjuk gigi.” Ajak Melly pada semua bawahannya. Dia memang bukan orang yang ramah, namun pekerja keras yang patut di jadikan teladan.


“Baik Bu.” Jawab semuanya serempak.


“Apa mereka sering mengadakan acara seperti ini Kak?” Tanya Cindy pada Ken yang berjalan di sebelahnya.


“Ini kunjungan mereka yang kedua dalam tahun ini.” Itu artinya kedatangan mereka hanya pada saat-saat penting saja.


“Nindi, kenapa kau terlihat pucat?” Nindi mengambil kaca untuk melihat kondisi wajahnya. “Cepat bereskan riasanmu, jangan terlihat mengecewakan. Aku ingin semua karyawan yang ada di Divisi kita terlihat bersemangat, cepat!”


“Saya ke toilet sebentar ya Bu.”


“Aku juga ya Bu, aku pengen buang air kecil.” Susul Mariska mengejar Nindi yang sudah berlalu.


Nindi memakai lipstick yang sedikit terang menutupi wajahnya yang pucat. Nindi memang merasa tidak enak badan sudah 3 hari setelah kepergian Ivar. Sepertinya hanya karena rindu yang tidak tersalurkan atau kecemasan yang berlebihan. Nindi tidak mengangapnya serius.


“Duh…duh…cantik sekali, istri orang kaya memang berbeda.” Puji Mariska.


“Kak Mariska bisa saja.” Tersipu malu.


“Ayo cepat, nanti kita bisa dimakan hidup-hidup.” Nindi hanya menanggapinya dengan senyum, Mariska memang suka sekali membuat lelucon.


Satu persatu mobil mewah memasuki lobby utama gedung, terlihat dari penampilan mereka bukan orang sembarangan. Beberapa ada yang wajahnya familiar sering muncul di acara-acara TV. Ada dua sosok laki-laki yang mengejutkan Nindi dengan kehadirannya. Nindi sampai hampir jatuh karena terkejut.


“Kau baik-baik saja?” Tanya Ken yang berdiri di belakang Nindi. “Jangan memaksakan diri jika memang kau sakit.”


“Aku baik-baik saja Kak.” Nindi merasakan kram di perutnya. Mencoba memahan sekuat tenaga agar tidak terjatuh.


“Ya Tuhan….dia menatap kea rah kita.” Gumam Aleta pada Zein yang berdiri satu baris dengan Nindi. Nindi bahkan tidak berani mengangkat wajahnya. Laki-laki yang begitu Ivar benci namun begitu baik pada Nindi selama ini salah satu jajaran direksi ditempatnya bekerja saat ini. Gunardi.


“Orang yang bisa menggait hatinya sangat beruntung, dia akan kaya raya dan tidak akan pernah takut miskin.” Bisik Zein yang masih terdengar jelas.


Pantas saja semuanya berdandan begitu rapih, banyak sekali orang-orang penting yang bisa mereka targetkan untuk jadi pasangan. Ada beberapa yang masih sangat muda dan tampan, salah satunya Gunar.


“Kalian jangan memeprmalukanku yah. Ingat! Jangan sampai mengacaukan presentasi yang sudah kita siapkan dengan matang.” Pesan Melly sebelum memasuki ruangan yang sama.


Divisinya selalu memiliki tugas berat karena harus mengurus dan mempersiapkan berbagai macam penawaran design di setiap produk yang akan mereka keluarkan. Melly biasanya akan sangat ketat mengawal setiap bawahannya agar bekerja maksimal demi hasil yang memuaskan.


“Kau yakin kuat?” Tanya Melly yang masih melihat Nindi terlihat tidak enak badan.


“Iya Bu. Saya baik-baik saja.” Nindi tidak mungkin mundur di saat penting seperti ini. ini saatnya dia menunjukkan kemampuannya.


“Ok. Kau hanya perlu berdiri di sampingku dengan senyum. Jangan terlihat menydihkan.” Nindi mengangguk, kata-katanya pedas menusuk tajam.

__ADS_1


Setiap Divisi telah selesai menyampaikan semua laporannya. Kini giliran Melly dan semua anggotanya maju untuk presentasi design yang sudah mereka buat.


Melly berdiri di depan microfon yang sejajar dengan tubuhnya. Senyum menghiasi wajah ayunya penuh percaya diri. “Se…la..” Melly berhenti saat seorang Pria berdiri mengangkat tangannya.


“Apa saya boleh bicara sebentar?” Semua mengangguk memberikan kesempatan untuk Gunar.


“Apa ada yang mendesak Pak?” Tanya pemilik saham terbesar.


“Rasanya bosan mendengar Ibu Melly yang selalu menyampaikan ide-ide cemerlang. Apa boleh aku meminta salah satu dari mereka untuk menggantikannya?” Wajahnya dibuat-buat untuk mencari perhatian, seolah pendapatnya mewakili semua orang.


“Siapa wanita yang ingin kau dengar Gun?” Tanya Prabu pada Gunar yang terlihat tidak sedang main-main.


“Wanita yang berdiri di belakang…berbaju biru.” Tunjuk Gunar. Sontak saja semua mata tertuju pada Nindi yang sedari tadi menunduk ketakutan. Melly sendiri merasa kesal karena seolah tempatnya di rebut Nindi, anak baru yang baru saja beberapa hari bergabung meski kinerjanya bagus kini dilirik para anggota Direksi.


“Maaf Pak, sa…saya belum terbiasa.” Tolak Nindi dengan sopan.


“Jangan menolak, semua anggota direksi pasti ingin mendengar bagaimana Melly yang sudah bekerja bersama perusahaan selama 8 tahun ini mendidik bawahannya. Kalau kau sukses, kami tidak akan meragukan kinerjanya.”


Nindi perlahan melangkah maju karena Melly perlahan menarik tangannya. “Tapi Bu.” Nindi benar-benar tidak ada persiapan. Ditambah perutnya kram.


“Kau sudah melihat bagaimana aku berlatih, kau pasti bisa.” Melihat Nindi yang ketakutan Melly sadar, dia bukan orang yang bisa merebut tempatnya.


“Maaf para Dewan yang terhormat. Apa boleh saya yang mewakili? Nindi baru saja bergabung, dia pasti masih belum siap menyampaikan presentasi dengan baik. Kedepan saya sebagai penaggung jawab akan mengajarinya.” Putra berdiri di depan Nindi penuh percaya diri. Dia sama tidak tega melihat Nindi ketakutan.


“Tidak ada masalah, silahkan sampaikan.” Gunar geram usahanya gagal, dia hanya ingin menguji seberapa pintar Nindi bicara di depan orang-orang penting.


Akhirnya semua team dari berbagai Divisi meninggalkan ruangan rapat, tinggalah tersisa para anggota Direksi membahas persoalan perusahaan yang bersifat rahasia.


“Kenapa laki-laki itu tiba-tiba saja punya ide gila seperti itu. Apa dia ingin menjatuhkan harga diriku. Kenal saja tidak, kenapa dia mencari masalah denganku.” Melly memaki Gunar yang tidak akan dengan tentunya. Semua membisu mendengarkan kekesalan hati atasannya.


Kalau saja Bu Melly tahu hubungan Gunar denganku, pasti aku sudah dicaci maki. Atau mungkin saja aku akan dipecat.


“Apa kalian tidak merasa aneh? Kenapa tiba-tiba dia bersikap begitu kejam padaku.” Masih tidak ada yang menanggapi. “Apa kalian TULI….!!!!”


“Mungkin hanya menguji saja Bu, seperti yang dia katakan.” Jawab Putra mewakili.


“Sepertinya tidak mungkin, aku harus menyelidikinya.” Melly masih tidak terima diperlakukan tidak sopan oleh anak ingusan, meski dia anggota Direksi.


“Nin, kamu kenapa?” Cindy ketakutan melihat Nindi berkeringat begitu banyak, wajahnya pucat dan tangannya memegangi perut sejak pagi tadi.


“Tidak papa, perutku sangat sakit.” Jawab Nindi terbata-bata.


“Mau ku antar ke Klinik?” Tawar Ken.


“Tidak usah Kak, aku sendiri saja.” Nindi tersenyum agar semua orang tidak khawatir, sudah cukup kegaduhan yang Gunar ciptakan karena dirinya.


Brukkkk…..

__ADS_1


“Nindi!!!” Teriak Cindy histeris melihat Nindi terjatuh tidak sadarkan diri.


Putra dan Ken mengangkat Nindi dan segera membawanya turun ke Klinik yanga ad di lantai satu. Ken hanya memegangi kaki Nindi karena tubuh Nindi sepenuhnya di angkat oleh Putra.


Cindy, Melly dan Mariska mengekor di belakang. Kecuali Zein dan Aleta yang Melly minta menunggu ruangan, takut ada yang datang.


Suara gaduh dari Cindy dan Mariska membuat semua Anggota Direksi yang baru saja keluar ruangan penasaran.


“Suara rebut-ribut apa itu.” Tanya salah satu anggota.


“Infonya karyawan dari Divisi Design dan Grafis ada yang pingsan Pak.” Jawab satpam yang menjaga keamanan di ruang rapat.


Jantung Gunar berdegub kencang mendengar nama Divisi yang sama dengan Nindi. Sontak saja dia lari mencari jawaban atas ketakutannya.


Brakkk…


Zein dan Aleta terperanjak, suara gebrakan pintu membuat keduanya terkejut.


“Dimana Nindi?” Tanya Gunar dengan suara yang begitu keras.


“Dia di bawa ke Klinik Pak.” Jawab Zein yang ketakutan melihat Gunar.


Gunar lari secepat kilat mendengar Nindi lah orang yang mereka bicarakan. Gunar ketakutan, dia merasa bersalah karena membuat Nindi tertekan. Bisa saja dia pingsan karena perbuatannya.


“Gunar! Gunar kenapa kau lari-lari.” Teriak Prabu penasaran. Dia juga merasa khawatir.


“Nindi pingsan, aku mau melihatnya ke bawah.” Prabu segera menyusul Gunar.


Sambil berjalan Prabu menghubungi Edwin untuk mengabarkan keadaan Nindi. Prabu khawatir Nindi depresi karena Ivar sedang bertugas untuk waktu yang lama. Ivar bahkan meminta Prabu menjaga Nindi untuknya.


Gunar berdiri menuggu pintu klinik terbuka, di sana sudah ada teman-teman Nindi yang juga sedang menunggu kabar dari Dokter yang memeriksa.


“Kenapa lama sekali!” Gunar kesal sendiri melihat pintu klinik tidak juga terbuka.


“Kenapa Nindi bisa pingsan?” Tanya Gunar pada Melly yang juga sedang kebingungan.


“Ti….Tidak tahu Pak.” Putra kesal melihat Melly menunduk tidak berani takut pada Gunar, tidak seperti tadi saat dirinya di ruangan.


“Kau ini tidak bisa di andalkan.” Gunar mengacak rambutnya frustasi.


“Tenang Nak, tenang. Kita tunggu sampai Dokter keluar.” Prabu mencoba menenagkan Gunar yang terlihat sangat tertekan.


Apa sebenarnya hubungan Gunar dengan Nindi. Kenapa dia sangat takut melihat Nindi sakit. Apa mereka punya hubungan special?


Berbagai pertanyaan memenuhi kepala Prabu, tidak ingin Ivar terjebak dengan orang-orang yang ingin memanfaatkannya. Baginya Ivar juga sudah seperti putranya.


Pintu klinik terbuka, Gunar segera memberondong Dokter dengan pertanyaan-pertanyaannya yang membuat Dokter juga merasa bingung harus menjawab yang mana dulu, dia terlihat jelas sangat khawatir dengan keadaan Nindi.

__ADS_1


“Tenang Pak, pasien hanya butuh istirahat karena sedang hamil muda.” Gunar terduduk lemas mendangar Nindi sedang mengandung. Sudah pupus harapannya, berbeda dengan teman-teman Nindi dan Prabu yang bersorak penuh kegembiraan mendengar Nindi hamil. Nindi pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini.


__ADS_2