
Ivar pulang sudah tengah malam, tentu saja semua orang sudah masuk ke kamarnya masing-masing untuk istirahat. Kakinya melangkah ke kamar utama miliknya yang ada di lantai dua, pelan sekali memutar handle pintu takut menganggu Nindi.
Ivar tidak menemukannya, Nindi mungkin ada di kamar sebelah. Karena kamar Baby ada di sebelah kamarnya. Ivar memutuskan untuk membersihkan dirinya dulu sebelum menyusul Nindi ke kamar Putra nya. Seharian berada di luar takut ada virus-virus jahat yang menempel di pakaiannya.
Setelahnya Ivar masuk ke kamar Baby, tubuhnya sudah kelelahan ingin istirahat dengan nyaman. Sedikit gelap, lampunya dinyalakan mode redup agar Baby nyaman dan tidak mudah terbangun.
Ivar berjalan perlahan, menghampiri kasur kecil yang ada di bawah kasur besar yang ditiduri Nindi, menepuk tangan Nilam pelan, membangunkannya agar Nilam bisa istirahat di kamarnya sendiri.
“Malam Pak.” Ivar tersenyum melihat Nilam yang terganggu dan terbangun dari tidur lelapnya. Wajahnya masih sangat lugu sekali.
“Turun ya Lam, saya yang bantu Nonna jaga Baby.” Nilam mengangguk dengan sopan. Dia masih sangat muda, Nilam baru lulus SMA dan langsung masuk yayasan yang menyalurkan pekerja rumah tangga.
Awalnya Nindi ragu sekali menerima Nilam, bukan hanya muda, Nilam juga tidak punya pengalaman kerja sama sekali. Tapi melihat keseriusan dan wajah Nilam yang begitu lugu membuat hati Nindi luluh. Mencoba saja dengan Nilam, Nindi ingin membantunya menemukan rumah yang akan menjadikan tempatnya mencari nafkah yang cukup nyaman, karena Nindi yang akan mengajari Nilam sendiri.
Beruntung sekali dia bertemu Nindi, dia dengan telaten membantu Nilam belajar. Dia diperlakukan seperti adiknya, Nilam sangat tenang karena setiap hari Nindi memberikan jadwal yang mudah dirinya lakukan. Nindi bahkan mengajari Nilam sangat pelan, Nindi ingin Nilam nyaman. Semoga dengan perlakukannya yang baik itu, bisa membuat Nilam menyayangi anak-anak dengan tulus.
Setelah Nilam menutup pintu, Ivar naik ke atas kasur. Menidurkan tubuhnya di belakang Nindi yang tidur memunggunginya. Membelai surai Nindi dengan lembut, tenang dan nyaman sekali memeluknya seperti ini.
Tempat paling nyaman yang selalu Ivar rindukan meski sedang ada di sisinya saat ini.
Nindi merasakan sentuhan lembut suaminya, perlahan membuat dirinya tersenyum.Tangan Ivar merengkuh Nindi dalam dekapannya, menciumi setiap jengkal wajah cantik wanita kesayangannya yang saat ini tidur menghadap dirinya. Nindi mendusel di dada Ivar, mencari kenyamanan yang bisa membuat dirinya begitu tenang.
“Terimakasih sudah mau mengalah ya sayang. Aku tahu sekali bagaimana perasaan mu saat ini. Tapi aku benar-benar tidak bisa berhenti sayang, terimakasih karena selalu percaya padaku Nin.” Ivar bicara sendiri lirih, menyampaikan begitu besarnya rasa terimakasih yang entah bisa dirinya balas bagaimana pada Nindi.
Nindi tidak mau menanggapi, pura-pura tidak mendengar ucapan suaminya dan kembali mencoba untuk tidur di pelukkan Ivar. Tempat paling nyaman yang membuat Nindi bisa sekuat ini menghadapi pahitnya dunia.
***
__ADS_1
“Kak Mar, suka kirim-kirim pesan dengan Kak Nindi tidak? Aku ingin tanya kabarnya tapi ragu.” Sudah sangat lama mereka tidak bertemu, bahkan berkirim kabar pun Cindy merasa ragu. Mariska menoleh setelah menutup layar laptop nya.
“Aku juga sudah lama tidak tahu kabarnya, takut dia sedih kalau aku menanyakan kabarnya.” Cindy mengangguk paham, mereka berdua cukup dekat dengan Nindi. Tapi nyali mereka ciut menanyakan kabar sahabatnya saat ini. “Mau tidak berkunjung ke rumahnya?” Cindy menatap ragu.
“Rumahnya yang bersama Pak Ivar kan?” Tanya Cindy sekenanya.
“Masa dengan laki-laki lain, kan dia Istrinya Cin.” Cindy tertawa sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pertanyaan bodoh yang meluncur begitu saja dari mulutnya.
“Kok marah-marah sayang? Jangan galak-galak begitu sama temennya.” Tegur Ken yang mendengar nada suara Mariska sedikit tinggi.
“Jangan sayang-sayang di kantor bisa! Kalian di tempat kerja ingat!” Ucap Zein kesal melihat dua sejoli yang belum lama jadian dan suka saling memberikan perhatian yang berlebihan.
“Si....” Kenzo menarik Mariska yang ingin membalas perkataan Zein. “Tapi dia bicara nya begitu loh Ken.” Ken kembali menggeleng.
“Jangan di dengarkan, kalian sedang membicarakan apa? Serius sekali aku dengar.” Mariska mendekatkan duduknya. “Kalian tidak sedang membicarakan yang aneh-aneh kan?” Mariska tersenyum menutup mulutnya.
“Jangan berpikir yang jorok Ken." Senyumnya mencurigakan. "Hmmmmm..... pernah ke rumah Nindi tidak?” Tanya Mariska ragu. Ken mengangguk, dirinya sering mengantrakan Nindi pulang dulu. “Kita ke sana yuk, aku dan Cindy kangen sekali dengan Nindi.”
“Cindy membicarakan Nindi tadi, aku juga jadi rindu dengannya. Nindi pasti senang sekali kalau kita datang berkunjung Ken.” Ken meraih ponselnya.
Dirinya tidak tega melihat wajah kesayangannya begitu kecewa, dia pasti sangat ingin menemui Nindi saat ini.
“Aku coba bicara dulu dengan Putra, dia dekat dengan Pak Ayman. Siapa tahu saja dia bisa bantu.” Mariska dengan spontan memeluk Ken di depan teman-temannya. Sudah tidak tahu malu dia, perlakuan Ken membuatnya semakin hari semakin jatuh cinta.
“Ahhhhh.....kamu memang paling hebat sayang. I love you.” Ken tersipu malu, Cindy hanya bertepuk tangan kecil takut menganggu yang lain sambil tersenyum. berharap sekali bisa bertemu dengan Nindi.
Kini mereka bertiga tengah menunggu kedatangan Putra yang siang ini meeting dengan Pak Ayman di luar. Berharap sekali Putra memenuhi permintaan mereka agar mau meminta Pak Ayman menerima mereka bertamu di rumah besar keluarganya.
__ADS_1
Jarum jam seolah bergerak begitu lambat, lama sekali saat mereka menunggu kedatangan Putra yang entah akan sampai jam berapa di kantor.
Bunyi pintu membuat seisi ruangan menengok ke arahnya. Mariska berdiri menatap Putra penuh tanda tanya. Matanya mengerjap beberapa kali meminta jawaban. “Siap-siap, Pak Ayman menunggu kita di bawah.”
“Yeaayyyyy.....” Marisak dan Cindy bersorak kegirangan, akhirnya mereka akan bertemu sahabat baik mereka yang hanya beberapa bulan bekerja bersama.
Semuanya ikut, termasuk Zein dan Aleta karena satu divisi dengan Nindi dulu. Bu Melly yang absen karena sedang ada di luar kota. Bahagia sekali Ken melihatnya, akhirnya senyum manis di wajah Mariska kembali terukir.
Tidak butuh waktu lama mereka sudah sampai di rumah megah dengan warna serba putih yang begitu indah.
Benar yang Ken katakan, penjagaannya sangat ketat sampai mereka di cek satu persatu sebelum masuk meskipun datang bersam Ayman. Demi keamanan keluarganya.
Mereka berjalan beriringan di belakang Ayman, atasan mereka saat ini yang sangat manis. Dia begitu hangat dengan para bawahnnya, Ayman membuat suasana kantor menjadi begitu indah.
“Nin....sayang....cepat turun, lihat siapa yang datang bersama Mas Dek. Cepat turun.” lembutnya suara Ayman membuat teman-teman Nindi merasakan hangat dengan perlakuannya. Sayup-sayup suara Nindi terdengar dari lantai dua. “Silahkan duduk, tidak perlu sungkan.” Ayman meminta Bi Inah membuatkan tamunya minuman.
“Rumahnya sebesar ini, Nindi pasti seperti ratu yah.” Ucap Cindy lirih, Mariska hanya mengangguk menangapi ucapan Cindy.
“Jangan kampungan kalian, malu-malu in saja.” Ucap Zain ketus.
“Dasar Nenek sihir, harusnya kalian berdu tidak perlu datang.” Putra dan Ken hanya geleng-geleng kepala.
“Aku tidak salah lihat? Teman-teman ku kah yang datang?” Mariska dan Cindy berdiri, berjalan menghampiri tangga menunggu Nindi di bawah sana.
Nindi memeluk dua sahabatnya, mereka yang sering membantu Nindi saat masih bekerja di tempat yang sama. Nindi terharu sekali mereka datang, dia memang butuh teman. Tidak banyak yang bisa dirinya lakukan di dalam rumah.
Kedatangan mereka sedikit mengobati rindunya, menyegarkan kembali ingatannya akan kenangan tentang kehidupanya yang begitu bahagia.
__ADS_1
“Apa kabar Nin?” Nindi memeluk Ken, dia laki-laki baik hati yang sering mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Nindi. “Kau semakin cantik setelah punya Baby.” Nindi tersipu malu, Ken selalu bisa membuat dirinya terpesona.
“Hmmmmm.....Hmmmmmm....hmmmmm....” Mariska mendekat, Nindi menatap dengan penuh tanda tanya. Mariksa menyentuh dadanya sendiri dengan dada Ken. Nindi yang paham kembali memeluk Mariska, akhirnya mereka bersama.