Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Masih Terbayang


__ADS_3

Ivar dan Nindi tengah duduk di ruangan milik Edwin yang dulu juga ruangan Ivar. Mereka menunggu karena Edwin belum seselai dengan meeting yang agak mulur selesainya.


Keduanya masih tenggelam dengan pikirannya masing-masing, masih dengan keterkejutannya saat melihat wanita yang begitu mirip dengan wanita yang baru saja pergi dari hidup mereka untuk selamanya.


Nindi melihat bagaimana Ivar terlihat begitu kebingungan, dia sepertinya merasa terobati dengan melihat senyum nya tadi. Tapi dia juga pasti kebingungan karena dia bukan siapa-siapa. Hanya kebetulan saja mirip sekali dengan Kakak nya.


Tidak lama pintu ruangan terbuka, nampak Edwin yang berjalan cukup cepat memasuki ruangan. Nindi menyambutnya dengan senyuman hangat seperti biasa. Senyum yang mampu membuat hati Ayah nya damai saat melihatnya.


"Hay sayang, sorry Papah meeting agak lama. Kalian sudah minta Edo bawakan minuman?" Edwin mencium kening Nindi sebelum duduk, melihat kedua Anak nya seperti tengah memikirkan hal lain. Tatapan mata mereka begitu kosong. Mata Nindi tidak bisa membohongi Ayah nya.


"Sudah Pah, Nindi sudah minta Edo bawakan kopi tadi. Papah sudah makan siang?" Tanya Nindi tidak mau Ayah nya menaruh khawatir.


Edwin mengangguk. "Sudah Nak, Papah makan dengan Mas mu tadi, dia bawa bakso langganan. Papah suka, enak." Jawab Edwin dengan penuh bahagia.


Mencoba menepis rasa penasaran, biarkan saja sampai mereka menceritakan sendiri ada masalah apa sampai membuat mereka sangat terganggu.


"Syukur kalau Papah sudah makan. Ini Nindi bawakan cemilan, enak Pah. Tadi Abang juga makan dua potong." Nindi menyodorkan kotak box kecil berisi kue dari cafe tadi. Helaan nafas Nindi terdengar berat.


"Var, kenapa bengong? Mikirin apa?" Tanya Edwin yang melihat Ivar masih terlihat kosong tatapan matanya, akhirnya tidak tahan juga padahal sudah mencoba menahan diri. Dia tengah memeluk Jason yang masih terlelap di depannya.


"Bang..." Ivar mengerjap, dia baru sadar di ajak bicara. "Di tanya Papah Bang." Ivar menegakkan duduknya. Tersenyum pada Edwin yang baru dia sadari tengah duduk di hadapannya.


"Papah, sorry. Ivar sampai tadi Papah tidak ada di ruangan." Edwin tahu, bukan hal biasa yang tengah melanda pikiran Putra nya. Tidak biasanya Ivar sampai melamun begitu dalam seperti ini. “Papah makan dulu kue nya Pah, enak sekali. Ivar sampai habis dua potong tadi.” Mencoba bersikap biasa saja meski Edwin sudah menaruh curiga.


“Papah anggap tidak ada apa-apa karena kalian diam saja.” Nindi menarik tangan Edwin, mencoba dengan sebaik mungkin mengatur raut wajahnya agar Papah nya tidak khawatir dengan keadaan mereka.

__ADS_1


“Abang sepertinya kelelahan Pah, dia sejak tadi melamun begitu.” Nindi menggeleng sambil tersenyum. “Tidak ada apa-apa, kami baik-baik saja Pah.”


“Maaf membuat Papah khawatir, aku dan Nindi Ok Pah. Tadi hanya lelah saja karena Jason menangis minta keluar dari mobil. Dia kepanasan.” Ivar bicara sambil menatap Jason yang terlelap begitu damai di pelukkannya.


"Syukurlah kalau kalian baik-baik saja. Papah hanya ingin kalian tahu, papah meminta kalian kemari karena ingin menanyakan tentang pekerjaan, apa tidak apa-apa membahasnya sekarang?" Edwin ragu kedua anaknya bisa di ajak diskusi.


"Kenapa pertanyaannya begitu Pah? Tentu saja bisa." Jawab Ivar penuh keyakinan. Dirinya sedikit banyak tahu tentang perusahaan yang saat ini Ayahnya jalankan, meski sebentar dirinyak banyak belajar.


"Kalian nampak sedang kebingungan, Papah takut saja akan menambah Papah bingung bicara dengan kalian sekarang." Ucap Edwin sambil tertawa.


"Bisa Pah, apa yang membuat Papah ragu sampai butuh pendapat kami? Coba ceritakan." Pinta Nindi lembut. Dia duduk memperhatikan Edwin dengan serius.


Edwin menjabarkan proyek yang harus dirinya tangani bersamaan. Dengan dedline waktu yang sama pula penyelesaiannya, dirinya masih ragu bisa menyelesaikannya bersamaan atau tidak. Memilih salah satunya juga tidak mungkin karena keduanya sama-sama partner bisnisnya yang setia, yang sudah cukup lama menjalin kerjasama.


Tidak lama Ayman juga masuk ruangan Edwin, mereka berdiskusi panjang lebar tentang bagaimana sebaiknya langkah yang perusahaan ambil saat ini. Nindi senyum-senyum saat Ivar begitu antusias menjabarkan pendapatnya, sudah cocok sekali dia duduk di kursinya seharusnya.


Nindi dan Ivar setuju, asalkan perusahaan tetap untung agar bisa terus berkembang lebih baik. Diskusi yang memakan waktu cukup lumayan lama, mereka bertiga sangat cocok memimpin perusahaan bersama-sama. Nindi tengan mendo’akan agar suaminya kembali ke tempatnya yang aman.


Setelah selesai, Edwin menyerahkan amplop besar berisi beberapa sertifikat harta kekayaan yang menurutnya anak-anak nya harus tahu. Ayman dan Nindi hanya menjadi saksi. Mereka sama-sama merasa tidak punya hak untuk ikut campur. Semua diserahkan pada Ivar yang cukup bisa Edwin andalkan.


“Nindi dan Ayman juga Papah ijinkan ikut bantu Papah urus semua ini, ini milik kalian.” Ucap Edwin yang tidak sama sekali menganggap keduanya adalah menantu. Mereka sudah menjadi anak-anaknya sejak menikah.


“Nindi urus anak-anak saja Pah, dan kalian. Nindi tidak mau lagi mengurus hal lain. Tidak mau Nindi meninggalkan kalian demi pekerjaan. Nindi sudah tidak berminat.” Padahal sejak dulu impiannya menjadi wanita karir.


"Kalian tidak perlu terjun langsung, Papah punya orang-orang kepercayaan yang menjaga itu semua. Sudah Papah perkenalkan kalian bertiga pada mereka, sesekali datang. Atur waktu kalian agar bisa meninjau perkembangan bisnis kecil selain perusahaan ini. Mereka juga butuh di awasi Var, Mas." Ivar dan Ayman tersenyum, mereka tahu ini salah satu cara agar Ivar terlibat, agar Ivar perlahan mau meninggalkan pekerjaan nya yang penuh resiko, berbahaya.

__ADS_1


"Sesekali akan Ivar usahakan datang melihat pekerjaan mereka. Tapi jangan mengandalkan Ivar Pah." Edwin mengangguk. “Mas Ayman pasti bisa banyak membantu Papah.” Ivar melempar senyum menggoda Kakak Iparnya.


"Tentu saja, sesekali saja Var."


"Taraaa......" Suara Luna yang masuk dengan berbagai tentegan dengan warna yan berbeda berisi makanan membuat semua mata tertuju padanya. Ada gadis kecil yang juga masuk dengan wajah bahagia sedang memakan ice cream coklat kesukaannya. "Aku datang dengan putri cantik."


"Loh sudah pulang sayang? Kok tidak tunggu Daddy." Ivar tidak diberi tahu kalau Luna mengirim pesan pada Nindi ingin menjemput Hanna.


"Sorry Bang, Nindi lupa kasih tahu Abang." Ivar mengangguk, dia juga tidak sadar kalau sudah mengulur waktu cukup lama karena keterkejutannya.


"Aku makan ice cream." Hanna menjilatnya sambil senyum-senyum, Ayman meraih tas Hanna yang masih menempel di punggung nya.


"Belajar apa hari ini sayang? Bekalnya habis tidak?" Tanya Ayman sambil memeriksa isi tas Hanna. Dia telaten sekali melakukannya. Hanna yang masih asik dengan ice cremanya belum mau menjawab pertanyaan Papih nya.


Nindi sedang menenangkan Jason yang terbangun karena suara berisik. Jason memeluk Nindi erat, senyumnya manis sekali setelah tidur cukup nyenyak.


"Kakak Hanna bawa makanan, Jason mau? Mau Nak?" Jason masih memeluk Nindi erat, dia masih belum sepenuhnya sadar.


Bahagia melihat keluarga nya berkumpul seperti ini, Edwin merasa bahagia masih punya mereka semua. Meski tetap saja sepi karena Putri dan Istrinya telah tiada.


Hanna dan Luna sedang asik menikmati makanan yang mereka beli, kali ini tidak ada Abi yang biasanya akan selalu ada di sisi Luna.


"Dek...." Luna menengok pada Ivar. "Dengan siapa datang? Abi mana?" Tidak biasanya tanpa Abi.


"Abi di bawah, masih temani Ayah bertemu teman nya di lobby." Ivar mengangguk. "Abi tadi antar kok sampai depan pintu ini." Tunjuknya pada pintu masuk.

__ADS_1


Ivar tersenyum, anak kesayangan Ayah nya ini mana mungkin di biarkan berjalan sendirian. Apalagi dengan Hanna, dia menjaga dirinya sendiri saja tidak bisa.


__ADS_2