Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Ngidam Bikin Pusing


__ADS_3

Siang ini Nindi dan teman-teman nya pergi ke luar untuk makan siang. Ada restaurant yang baru saja di buka di dekat lingkungan perkantoran. Dan tentu saja mereka tidak mau kalah saing dengan divisi lain untuk menceritakan pengalamannya makan di restaurant tersebut.


Antrian lumayan panjang, Cindy berbisik pada penjaga untuk memberikan tempat duduk pada Nindi yang tengah mengandung. Tentu saja dengan sigap sang penjaga mengangkat kursi meletakkannya di tempat teduh.


Nindi tentu saja terharu dengan perhatian teman-teman nya.


Dari kejauhan Gunar yang tengah mengendarai mobilnya melihat Nindi dan yang lainnya di depan restaurant. Gunar mengulas senyum setelahnya merogoh ponsel yang ada di saku celananya.


Tidak lama Nindi dan teman-teman nya di bawa masuk oleh penjaga restaurant dengan ramah.


Gunar berlalu melanjutkan perjalanan nya yang sedikit tertunda.


"Guys.....kenapa kita boleh melewati antrian?" Pertanyaan yang sama di benak semua orang selain Mariska yang tidak perduli, yang penting kakinya yang hampir kebas bisa slojoran.


"Sudah tidak perlu di pikirkan. Anggap saja rejeki ibu hamil." Tanggapan Putra yang sebenarnya juga penasaran. Dia berfikir pasti ada hubunganya dengan Nindi, lihat saja saat dia pingsan. Teman-temannya hampir pingsan juga saat tahu siapa keluarga suami Nindi.


"Ayo pesan, aku hari ini traktir yah." Nindi ingin menggunakan uang Ivar yang menumpuk di rekeningnya.


"Hor...."


"Jangan!!!!!!." Teriakan Cindy tercekat suara teman-teman nya yang kompak menolak.


"Kenapa?" Padahal makanan makin lezat jika gratis. Batin Cindy.


"Kita bayar masing-masing. Seperti biasa, kalau ulang tahun boleh traktir kita." Putra menegaskan agar Nindi tidak memaksa.


"Padahal uangku banyak tidak terpakai." Jawab Nindi sedikit berbisik.


"Simpan uangmu. Kau tidak akan pernah tahu seberapa besar biaya membesarkan seorang anak." Ken menepuk punggung tangan Nindi agar tidak merasa di tolak.


"Kapan-kapan kita akan minta traktir Nin, tenang saja." Mariska menambahkan dengan sedikit bercandaan.


Pesanan mereka satu persatu memenuhi meja makan. Aroma makanan yang menggoda membuat Nindi begitu tidak sabar mencicipi makanannya.


Nindi makan dengan lahap, teman-teman sudah tahu nafsu makan Nindi yang naik akhir-akhir ini sudah tidak heran.


"Kak Ken...." Ken menengok Nindi sambil masih menikmati makanannya.


"Kenapa Nin?" Mata Nindi terlihat berbinar-binar. "Jangan melihatku begitu, kau sangat mengerikan." Ken membuang pandangannya menghindari Nindi.


"Kak....aku mau makanan Kak Ken sedikit boleh?" Ken hampir tersedak, yang lain menatap wajah Nindi tidak kalah heran.


"Pesan saja lagi makanan yang sama dengannya. Jangan makan bekas mulutnya, kau ini ada-ada saja." Mariska yang menjawab dengan ketus.


"Kau pikir aku sejorok itu. Yang benar saja kau ini." Kesal Ken yang merasa terhina. "Tapi ada benarnya kau pesan yang baru saja yah...." Pinta Ken dengan lembut. Nindi menggeleng, dia seperti anak kecil yang merajuk. Wajahnya mendadak begitu sendu.


"Ken berikan saja. Dia hanya ngidam." Bisik Putra di telinga Ken.


“Aku tidak tidak memberikan makanan bekas padanya.”


“Tidak apa, berikan saja. Aman ” Bujuk Putra masih berbisik agar Nindi tidak mendengarnya.

__ADS_1


Ken menyodorkan perlahan mangkuk mie pedasnya yang masih setengah porsi, benar saja. Senyum merekah dari bibir Nindi yang berbalut lipstik warna merah muda.


"Terimakasih....." Nindi langsung melahap makanan yang mengalihkan dunianya.


"Dari mana kau tahu dia ngidam?" Bisik Ken penasaran.


"Istriku sering begitu." Ken menggeleng tidak percaya dengan kelakuan ibu hamil.


"Kak habis.... maaf yah." Mangkuk terlihat bersih tanpa kuah setetes pun.


"Tidak apa, mau pesan lagi?" Tawar Ken.


"Tidak Kak, aku sudah tidak berselera."


Dia bilang tidak berselera! Setelah makan setengah makanan ku! Untung saja kau hamil Nin, kalau tidak sudah ku kunyah kau. Batin Ken yang masih sedikit lapar tapi malas memesan lagi karena antrian panjang.


Di perjalanan menuju kantor Ken ingin mampir ke toko roti. Nindi yang mendengar ucapan Ken langsung merapat berjalan di samping ken.


"Aku juga mau." Ucapnya sambil menempel di dekat Ken.


"Kau tidak kenyang!" Nindi menggeleng. "Kau makan 2 mangkuk Nin." Nindi hanya senyum-senyum tidak tahu diri.


"Jangan begitu, kau ini jahat sekali. Ajak Nindi sekalian. Biarkan dia makan apa saja yang dia mau." Nindi mengangguk girang mendapat pembelaan dari Mariska.


"Ya Tuhan......ya sudah. Kalian duluan saja." Ken dan Nindi berjalan menuju toko roti. Ken menggandeng tangan Nindi karena toko roti ada di sebrang jalan.


Chhttthhhhh......


"Kak Ken...." Teriak Nindi ketakutan. Ken segera bangkit meski kaki nya terasa sedikit ngilu.


"Kau terluka....ada yang sakit tidak Nin." Ken begitu khawatir dengan kondisi Nindi. Nindi hanya merasa terkejut, dirinya tidak terluka.


“Aku tidak apa-apa Kak, Kak Ken pasti sakit.” Nindi menahan tangis melihat celana Ken yang sedikit sobek di bagian dengkul.


Pengendara motor yang mencoba mencelakai mereka sudah kabur tidak terlihat. Ken tidak sempat melihat plat kendaraan karena kejadian begitu cepat.


“Jangan khawatir, ini hanya luka sedikit saja.” Berbohong agar Nindi tidak khawatir.


Nindi yang begitu terkejut tidak bisa menahan air matanya. Mengusap kasar air matanya mencoba menyembunyikan. Ken membersihkan celana Nindi yang sedikit kotor.


"Jangan takut....tenang saja. Kau aman sekarang Nin." Nindi hanya mengangguk. "Jangan menangis, nanti orang kira aku memutuskan mu." Candanya agar Nindi tidak memikirkan kejadian tadi.


"Kau masih ingin makan roti?" Mengangguk. Dia benar-benar sedang napsu makan. Ken tersenyum heran.


Ken melihat sekeliling....menghampiri Zein yang tengah berjalan seorang diri.


"Zein.....tolong bawa Nindi bersama mu. Jangan tinggalkan dia sendiri, aku meminta bantuan mu sebagai teman." Zein heran tapi mengerti ada yang tidak beres melihat baju Ken kotor dan celananya sedikit sobek.


"Cepatlah!" Ajaknya dengan acuh. Zein penasaran namun malas mencari tahu. Dia hanya melihat mata Ken yang memohon padanya dengan tulus.


"Nin, kamu balik sama Zein yah. Nanti aku bawakan roti kesukaanmu." Nindi mengangguk setuju. Dirinya juga tidak baik- baik saja saat ini. Kakinya lemas jika harus berjalan ke toko roti yang ada di sebrang jalan.

__ADS_1


***


Luna terburu-buru melangkah karena telat bangun pagi ini. Prabu yang menyadari putrinya tergopoh-gopoh malah menggodanya. Menghalangi jalan dan membuat Luna kesal sampa dia lari keluar dari pintu belakang.


Senyum merekah saat melihat Abi yang sudah berseragam lengkap duduk di bawah pohon di taman belakang rumah. "Bi....."


Burrrrrccchhh....


Abi menyemburkan kopi dan mengenai baju Luna yang berwarna putih.


"Ma...maafff....Non." Mengusap kopi yang mengenai baju Luna.


"ABI!!!!!!!" Teriak nya sampai Prabu keluar melihat keadaan. "Aahhhhh......!!!!" Luna kembali masuk untuk mengganti bajunya yang kotor. Terlihat Prabu membekap mulut nya yang ingin sekali tertawa.


"Nona....." Teriak Abi takut.


Sebelumnya Abi memang sedang melamun membayangkan paras cantik Luna saat pesta ulang tahun kemarin yang tidak bisa hilang dari ingatannya sambil menikmati kopi hitam penghilang rasa kantuk.


Tiba-tiba saja Nindi datang dan mengejutkannya. Suara yang dia dengar di telinganya saat berkhayal begitu nyata sampai Abi tersentak.


Abi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bingung tidak tahu harus bagaimana. Ini pasti akan jadi hari yang panjang karena mencari masalah dengan Luna. Dia sampai tidak menyadari Prabu memperhatikannya dari balik pintu.


Luna duduk cemberut di kursi belakang, biasanya dia duduk di sebelah Abi. Sesekali Abi mencuri pandang di kaca spion penasaran sambil fokus menyetir. Wajah Luna masih terlihat sangat kesal.


Karena Abi terlihat tidak fokus, Luna merasa bersalah mendiamkannya.


"Nyetir betul-betul Bi. Ngapain kau ini nengokin aku terus." Ucap Luna tanpa berpaling dari ponselnya. Dia memang masih kesal. Tapi dia tahu Abi juga tidak sengaja melakukannya.


"Baik Non." Abi lega.


Akhirnya mendengar suara Luna setelah perjalanan panjang yang sunyi tanpa percakapan. Biasanya Luna sangat gemar menceritakan apa saja yang dia ingin ceritakan, sampai hal-hal receh sekalipun Luna ceritakan padanya. Perjalanan yang tidak pernah membosankan bagi Abi yang sangat mengagumi Luna.


Selesai kelas Luna dan teman-teman nya berkumpul di halaman kampus berdiskusi untuk acara camping bersama yang kampus adakan, kebetulan Luna salah satu Mahasiswa yang di tunjuk sebagai panitia.


"Non....saya belikan es coklat." Mata Luna membulat heran.


"Abi banyak uang nih traktir kita es coklat." Ledek salah satu teman Luna.


"Ah.....tidak juga mbak. Silahkan." Abi kembali ke parkiran mobil menunggu Luna selesai rapat. Berdiam diri didekat anak-anak mahasiswa akan membuat Abi tidak nyama. Mereka sering melihat Abi kecentilan


"Lun.....denger gak?" Tanya teman yang duduk di sebelah Luna saat teman-temannya tersenyum-senyum melihat Luna tidak fokus pada mereka.


"Ah iya denger...kita bahas seragam kan...." Luna kaget dan merasa malu.


"Ya Tuhan....Luna! Kita bahas seragam sudah 10 menit yang lalu." Teman Luna menepuk jidatnya. "Jangan memikirkan Abi terus. Nanti jatuh cinta tahu rasa kamu." Ledeknya membuat pipi Luna merona.


"Siapa yang mikirin Abi.....orang aku denger kok.!" Bantah Luna membela diri.


"Mikirin Abi tapi tidak mengaku...."


Cieeee.....

__ADS_1


__ADS_2