
Nindi menatap haru dua wanita yang sering menjahilinya dan tidak akur dengannya dulu, yang saat ini ada di hadapannya. Nindi mendekat, Zein sangat baik. Dia hanya gengsi mengakui dirinya bisa bersahabat dengan semua orang. Dia bersikap dingin padahal hatinya cukup baik.
Nindi meraih tubuh Zain perlahan, memeluknya erat membuat Zain meronta minta dilepaskan. "Terimakasih sudah datang Zain, aku tahu kau juga perduli padaku. Kau juga pasti rindu kan.... padaku?” Pelukannya terlepas, Zain cukup kuat mendorong Nindi. Nindi tidak marah, dia malah tersenyum merasa lucu.
“Biasa saja. Ini karena permintaan Pak Ayman.” Melengos malas menanggapi. Tidak lupa Nindi juga memeluk Aleta yang sangat setia ada Zain, mereka sering membuat Nindi iri dengan persahabatan yang terjalin begitu erat. Dua wanita yang suka jadi bahan pembicaraan karena suka bersikap ketus.
“Sayang, ajak teman-temannya makan malam. Mas sudah minta Bi Inah siapkan di halaman belakanag.” Nindi mengangguk dengan senyum hangatnya. “Baby biar mas yang urus. Kalian bersenang-senang lah.”
“Terimakasih banyak Mas, Nindi titip Baby ya Mas.” Ayman membalas dengan senyum hangatnya. Teman-teman Nindi terharu sekali melihat sikap Ayman yang begitu hangat. Dia Kakak laki-laki idaman yang di inginkan semua adik perempuan di dunia ini.
“Ok, ada Nilam yang membantuku menjaga anak-anak. Tenang saja.” Ayman berlalu memasuki kamarnya, anak-anak sedang berada di kamarnya bermain-main.
Nindi menepuk bahu Cindy yang terpesona tidak bergeming. Indah sekali ciptaan Tuhan yang satu ini.
“Pak Ayman apa tidak mau cari istri lagi Kak?” Tanya Cindy malu-malu, suami idaman sekali laki-laki berumur itu.
“Hahahaha......nanti akan aku paksa dia menikah lagi. Supaya ada yang urus dia, dia juga butuh teman.” Cindy senyum-senyum tidak jelas.
"Calon nya apa harus kaya raya seperti kalian ini?" Tanyanya lagi penasaran.
“Harus aku lihat dulu siapa wanitanya, kalau tidak cocok akan aku tolak mentah-mentah.”
“Hahahahha......Aku juga tidak pernah terlihat di matanya Kak.” Cindy menyadari posisinya, mana terlihat wanita tidak berarti ini di benak Pak Ayman.
Cindy tengah patah hati, dia belum lama putus dari pacarnya. Diselingkuhi oleh laki-laki yang sudah bersamanya lebih dari dua tahun.
Cindy memilih menepi dan tidak mau lagi menanggapi permintaan mantan pacarnya yang ingin kembali. Dia tidak bisa memaafkan perselingkuhan yang sudah dengan tega mantan pacarnya lakukan.
__ADS_1
“Ayo kita makan di belakang, enak sekali taman milik Mamah yang di wariskan pada ku. Kalian akan betah duduk di sana berlama-lama.” Nindi berjalan bergandengan dengan Cindy.
Ada gurat kesedihan yang Cindy sembunyikan, Nindi cukup mengerti Cindy. Mereka dahulu sangat dekat, teman pertama Nindi saat baru bergabung di perusahaan. Mereka bahkan melalui seleksi di hari yang sama dan sama-sama diterima di divisi yang sama pula.
“Wah....benar Nin, indah sekali. Kamu yang urus semua tanaman ini Nin?” Tanya Mariska yang takjub melihat nya. Nindi tersenyum bangga melihat wajah teman-temannya yang begitu takjub dengan keindahan taman yang terawat dengan begitu cantik.
“Dibantu sama Pak Jaja dan yang lain, aku mana bisa menjaga mereka semua sendirian.” Nindi mencoba tidak mau pamer keahliannya menjaga rumah dan seisinya.
Lelahnya terbayar saat semua rumah terlihat begitu terawat, tidak usang meski pemiliknya pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
Nindi dan teman-temannya menikmati waktu mereka, aroma daging panggang membawa gadis manis mendekat ke arah Nindi yang tidak menyadari kedatangannya. Perlahan Hanna mendekat, ada Nilam yang mengikutinya dari belakang. Ayman meminta Nilam menemani Hanna yang ngotot ingin menemui Tanta nya.
“Nin, itu pasti Hanna yah?” Tanya Ken yang melihat Hanna berdiri di balik pintu mengintip mereka. Nindi menoleh kebelakang, mengangguk, tangannya meminta Hanna mendekat padanya.
“Sini sayang. Kenapa berdiri di situ?” Hanna segera berlari, senang sekali bisa mendekat. “Sudah selesai belajarnya sayang?” Hanna mengangguk, matanya menatap pemanggang yang masih mengepulkan asap.
“Tante Cindy yah panggilnya, Kakak terlalu muda.” Ledek Ken yang membuat Cindy melotot.
“Aku paling muda yah diantara kalian semua.” Balasnya dengan nada sedikit keras. “Panggil aku Kakak yah, ok anak cantik.” Hanna mengangguk, matanya sudah fokus pada daging panggang kesukaannya.
“Makan pelan-pelan sayang.” Nindi mengusap sudut bibir Hanna yang terkena noda saus. “Makan sayang, Hanna boleh makan yang banyak.” Malu-malu Hanna memakan potongan demi potongan daging panggang kesukaannya.
“Zein, Aleta, terimakasih banyak yah sudah mau mampir. Aku tahu kalian perduli padaku.” Zein hanya mengangguk berlagak tidak perduli. Dia sedang menikmati daging panggang hasil kerja keras Cindy dan Putra. Aleta hanya mengangguk sungkan tanpa menatap Nindi, dia sudah tahu posisinya saat ini.
Bagamanapun Nindi adalah wanita kesayangan dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja saat ini. Tidak ada alasan lagi mereka tidak menghormati Nindi, ditambah Nindi wanita yang sangat baik dan juga lembut.
Meski dulu mereka suka membuat kegaduhan dan tidak begitu dekat dengan Nindi, mereka tidak diperlakukan berbeda. Nindi begitu hangat dan ramah memperlakukan Zein dan Aleta.
__ADS_1
Tawa mereka terdengar memenuhi halaman belakang rumah, seru sekali sampai Nindi tidak memperhatikan waktu sudah cukup larut saat ini. Mereka masih asik bercengkerama saling bertukar cerita.
Ivar memasuki rumah dengan wajah lelahnya, ada Ayman di ruang keluarga yang sedang menggendong Baby yang tertidur dipangkuannya. Ivar mendekat, duduk di sisi Ayman setelah mencium kening Putra kecilnya.
“Mommy nya kemana Mas?” Ayman menunjuk halaman belakang yang lampunya terang benderang. “Ada siapa?”
“Anak-anak kantor kangen Nindi, mereka datang tadi sore setelah pulang kerja.” Ivar tersenyum melihat wajah Nindi yang dipenuhi tawa bahagia. Dia terlihat sangat menikmati waktunya saat ini dengan teman-temannya.
“Cantik Mas.” Ayman ikut tersenyum, benar yang Ivar katakan. Sudah lama sekali tawa itu hilang. “Aku rindu sekali wajah cantik istriku itu Mas.” Ayman mengangguk, sendu sekali wajah Ivar saat ini. Dia pasti menahan gejolak sakit demi menemukan apa yang masih membuat dirinya tidak rela dengan kepergian dua wanita keayangannya.
“Kita harus sering-sering bawa Nindi keluar Var. Dia pasti jenuh menjalani hari-harinya. Dia tertawa lepas sekali dengan teman-temannya.” Imbuh Ayman yang merasa kurang memperhatikan kondisi Nindi, dia berjuang begitu keras menjaga semua keluarganya agar tetap aman dan nyaman.
“Iya Mas, cantik Mas.” Ucap Ivar lagi begitu bahagia menatap wajah wanita cantik yang selalu menjadi tempat nyaman nya untuk kembali.
“Sudah malam, kita sebaiknya pulang yuk. Nindi juga harus istirahat.” Ajak Putra yang menyadari waktu sudah cukup malam.
“Yahhhh.....cepat sekali pulangnya. Kapan-kapan mampir lagi yah kesini.” Pinta Nindi yang merasa sedih. “Aku masih rindu kalian loh padahal.” Cindy memeluk Nindi dengan erat. “Main-main yah.....aku suka kalian kunjungi seperti ini.”
“Aku juga rindu Kak, sepi sekali kantor tidak ada Kak Nindi.” Nindi terharu sekali mendengarnya. “Main-main ke kantor Kak, ajak anak cantik ini dan Baby. Nanti aku bantu jaga mereka.” Nindi hanya tersenyum.
“Sudah jangan membual, kau jalan sendiri saja suka tersandung sok-sok an mau jagain anak kecil.” Ledek Ken yang membuat Cindy memukul lengan Ken pelan. “Awww....” Teriaknya lagi-lagi menggoda Cindy.
“Jangan isengi adek ku ya Ken, kau harus menjaga adik manis ku ini Ken.” Mereka saling memeluk satu sama lain.
Nindi yang memasuki rumah terkejut sekali melihat Ivar sudah duduk dengan tenang di ruang keluarga, dia bahkan sudah mandi dan sedang menikmati makan malam yang disiapkan Bi Inah.
“Abang....” Nindi mendekat, Ivar tersenyum dengan begitu lembut. “Siapa yang siapkan makanan? Kok tidak panggil aku sih!” Ivar melihat wajah Nindi yang sedikit kecewa.
__ADS_1
Nindi mengambil piring Ivar dan membawanya ke dapur. Membuang isi makan ke tong sampah dan menggantinya dengan yang baru. Ivar tidak bisa berkata-kata, dia hanya menatap Nindi dengan penuh pertanyaan di kepalanya.