Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
(Kau Harus Melepaskanku)


__ADS_3

Edel menggandeng adik kesayangannya yang baru saja pulang memasuki rumah mereka. Senyum merekah sepanjang perjalanan mereka pulang, tanda cinta yang begitu besar bagi Ivar yang melihatnya.


“Mah....Pah....” Teriaknya pada semua penghuni yang sedang berkumpul di ruang tamu. “Lihat siapa yang pulang bersamaku.” Ivar muncul dengan senyum bahagianya bisa kembali dengan selamat.


“Ya Tuhan.....” Ellie lari tergopoh-gopoh memeluk putranya yang tidak ada kabar 2 minggu ini. Tugasnya dalam pekerjaan sangat berat. “Apa kau makan dengan teratur? Apa kau terluka?” Ellie memeriksa sekujur tubuh putranya yang baik-baik saja.


Ivar membalasnya dengan pelukkan erat. Wanita keras kepala yang sangat mencintainya. Tentu saja dia tidak bisa jauh darinya.


“Apa kau akan rindu jika aku menikah dan tidak lagi tinggal di sini?” Ivar mengagetkan jantung Ibunya yang masih berdebar melihatnya kembali.


Bukkkk....


Pukulan keras mendarat di bahunya. “Bicara sembarangan saja.” Ellie meliriknya dengan sinis.


“Ivar!!!” Teriak Ayahnya yang mengancam. “Kau ini pulang-pulang sudah membuat Ibumu sedih. Dia tidak bisa tidur dengan yenyak setiap malam.”


“Aku hanya bercanda.” Disusul tawa semua orang mencairkan suasana.


Melihat tubuh putranya yang sedikit kurus, Ellie segera menuju dapur memasakkan Ivar makanan kesukaannya. Ellie membiarkan Ivar istirahat karena wajahnya terlihat sangat kelelahan.


“Mah” Edel bergelayut di bahu Ibunya yang sedang sibuk memotong wortel. Ivar benar-benar sudah punya kekasih. Gerakkan tangan Ellie terhenti, tapi dia melanjutkannya lagi. “Apa Mamah tetap akan memaksanya menikah dengan Luna?” Ellie berpindah dan melepaskan diri dari pelukkan Edel.


“Apa dia gadis dari keluarga terhormat? Apa dia pantas mendampingi putraku?” Jawab Ellie dengan sedikit perasaan kesal.


“Dia gadis biasa, tapi dia sangat lembut dan juga penuh kasih sayang. Dia juga cantik.” Puji Edel menjabarkan sikap yang biasa Nindi perlihatkan padanya.


“Tidak cukup hanya itu untuk menjadi menantuku. Dia juga harus punya kedudukan seperti keluarga kita.” Tetap saja Luna yang ada di hatinya.


“Aky hanya membicarakan ini karena takut Mamah tidak bisa menghormati pilihan Ivar nantinya. Aku tidak mau Ivar menikahi Luna hanya demi Mamah, mereka tidak akan bahagia Mah.”


“Kau bisa keluar saja dari sini, masakanku bisa berantakkan Del.” Ellie memang sedikit tempramental, beruntung dia punya suami yang sangat penyabar dan menyayanginya.


Terlepas dari sikapnya, dia hanya seorang Ibu yang ingin anaknya punya pasangan terbaik sepereti yang dia impikan. Dan suaminya paham akan apa yang istrinya pikirkan untuk kebaikan anak-anaknya. Seorang Ibu memang terkadang berpikir jauh melampaui kemampuanya.


“Jangan melampiaskan kemarahan dengan mudah Mah, kasihan kalau maksudnya baik tapi mamah malah menyalahkan Edel yang ingin memberimu peringatan.” Ellie diam saja mendengar nasehat suaminya.


Rasanya tidak rela melepaskan putra kesayangannya pada gadis yang tidak jelas asal usulnya. Dia sebenarnya juga sudah diperingatkan banyak orang. Ivar tidak mungkin jatih hati pada Luna yang sudah seperti adik baginya. Ellie terduduk memikirkan masa depan Ivar dan cucu-cucunya kelak.


“Apa aku tidak boleh mencoba sampai setidaknya Ivar mau mencoba memahami perasaanku?”


“Bukan tidak boleh. Mamah sudah cukup lama mencoba menjodohkan mereka, tapi lihat hasilnya!” Ellie meremas tangannya geram. “Dwi saja sudah menyerah sekarang. Benar apa yang Prabu katakan. Mereka terlalu berbeda.” Ellie melempar celemeknya di lantai. Pergi meninggalkan suaminya yang tiba-tiba tidak mendukung rencananya. Biasanya Edwin tidak ambil pusing dengan semua keputusannya.


Edwin hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Seperti itulah jika dirinya menasehati istrinya yang keras kepala.

__ADS_1


“Pah…” Sapa Ivar yang sudah selesai bersih-bersih dan tidur sebentar mengusir lelah. “Dimana Mamah?”


“Ngambek.” Jawab Edwin yang masih fokus dengan ponselnya.


“Kenapa lagi?” Edwin hanya tersenyum. “Apa karena kalian memaksanya menyetujui hubunganku dengan wanita yang aku cintai?” Edwin mengangguk.


“Kenapa dia tidak bisa membuka hatinya.” Edwin menggoyang-goyangkan bahunya yang sama bingungnya dengan putranya.


“Bagaimana tugas kemarin? Apa berbahaya?”


“Sedikit sulit tapi aku dan team bisa menyelesaikannya.”


“Kau tidak ingin membantuku saja di perusahaan? Papahmu ini sudah semakin tua Var.” Bujuk Edwin mencoba meminta Ivar berhenti dari pekerjaan berbahanya.


“Akan Ivar pikirkan. Tapi Ivar sudah punya tanggung jawab besar yang sudah Ivar pikirkan sebelumnya, apa boleh aku minta dukungan kalian?” Edwin lagi-lagi tidak bisa melawan kata-kata Putranya yang begitu besar dalam pendiriannya.


“Semua Papah serahkan pada Ivar, Papah hanya sering deg-degan saja saat kau bertugas.” Ivar tau, semua keluarga besarnya sangat khawatir.


“Ivar berjanji akan menjaga diri dengan baik Pah. Tolong percay pada putramu.”


“Kalau Papah tidak percaya sudah Papah seret kau keluar sejak lama.” Ivar menikmati sup yang masih hangat. Edwin yang masih kenyang hanya menemani Ivar sambil membaca buku bisnis yang baru saja dia beli.


***


“Ivar!” Sapa Prabu yang melihat Ivar duduk di ruang tamunya.


“Apa kabar Paman? Maaf lama Ivar baru sempat datang lagi.” Prabu menerima uluran tangan Ivar bersalaman.


“Putriku menangis seharian.” Bicara sambil tertawa. “Kau apakan dia Var.” Ivar menunduk merasa menyesali perbuatannya.


“Ivar tidak tau ada Luna di sana. Dan….dia melihat yang seharusnya dia tidak lihat Paman.” Bicara canggung, Ivar takut Prabu tidak memaafkannya.


“Kau harus bicara dengannya. Luna pasti paham kalau Nak Ivar jelaskan pelan-pelan.” Ivar mengangguk. “Kau sudah mantap dengan pilihanmu Nak?”


“Ivar yakin Paman. Ivar tidak punya perasaan seperti ini pada wanita lain.” Sulit menggambarkan perasaannya.


“Paman paham, dulu kan Paman juga pernah muda. Pernah jatuh cinta juga Var, hahahahaha…..” Ivar ikut tertawa.


Luna tidak lama turun dari kamarnya, dengan mata yang masih sedikit sembab dan rambut lusuh. Tidak seperti yang biasanya Ivar lihat. Matanya tidak mau menatap wajah Ivar yang biasanya tidak sedikitpun dia hindari.


“Paman pergi yah, kalian silahkan bicara.”


“Jangan Ayah.”

__ADS_1


“Belajar Nak, selesaikan masalahmu dengan bijak.” Prabu meninggalkan putrinya meski sebenarnya tidak tega.


“Dek…” Suara Ivar membuat bulu kuduk Luna merinding. “ Lihat mataku.” Luna semakin menghindar. “Kau masih marah padaku?” Tidak ada jawaban. “Luna Savina Subagja!” Luna tidak berani jika Ivar sudah memanggil nama lengkapnya.


“A…aku tidak marah, aku hanya terkejut saja.” Menjawab sedapat otaknya berpikir.


“Kau terkejut dan menangis semalaman sampai matamu bengkak?” Luna menutup matanya. “Kak Ivar paham bagaimana perasaan Luna. Tapi seperti yang Kak Ivar bilang, kak Ivar menyayangi Luna sebagai adik Kak Ivar.” Menolak secara halus tapi tetap menyakitkan.


“Apa aku tidak pantas jadi pendamping Kak Ivar?” Mata Luna mulai berkaca-kaca. Apa bedanya dirinya dan Nindi, dirinya jauh lebih pantas dan sepadan dengannya.


“Cinta tidak bisa kita paksakan. Coba Luna lepaskan perasaan Luna padaku, kau akan dapat laki-laki yang pasti jauh lebih baik daripada aku.” Luna mengusap kasar air matanya.


Prabu dan Dwi mengintip adegan menyedihkan Putrinya di tolak seorang pria, pembelajaran agar Luna jadi wanita yang punya harga diri tinggi kedepannya. Dia tidak boleh mudah percaya pada pria yang tidak menjamin kebahagiaannya.


“Apa Luna mengerti maksud Kak Ivar?” Luna mengangguk, dia paham betul Ivar memintanya mundur dan tidak lagi mengusik kehidupannya.


“Aku akan mundur, tapi aku mohon Kak Ivar jangan muncul lagi di hadapanku.” Luna berlari sambil terisak meninggalkan Ivar yang masih duduk tersenyum hampa.


Dwi yang melihat putrinya hancur langsung memeluk putrinya. Bagaimanapun Luna tidak bersalah, dia hanya mencintai laki-laki yang tidak membalas perasaannya.


“Tenang sayang. Semua akan baik-baik saja.” Hibur Dwi menenangakan putrinya. Prabu membantu Dwi mebawa Luna ke kamarnya.


Prabu turun dengan wajah yang tidak seramah tadi saat dirinya datang. Meski Prabu paham Ivar mengambil jalan yang benar, melihat putrinya terisak hatinya merasakan kesedihannya. Luna tidak pantas diperlakukan seperti saat ini.


“Paman…” Prabu duduk di depan Ivar.


“Apa benar-benar Putriku tidak punya kesempatan?” Bicara sambil menatap langit-langit rumahnya. “Dia memang bukan wanita dewasa seperti gadis pujaanmu, tapi putriku hancur Var. Ivar lihat airmatanya?” Ivar bingung harus bagaimana.


“Maaf Paman, Ivar benar-benar tidak bisa menerima permintaan Paman.” Ivar menunduk kebingungan. “Paman pasti akan bisa menemukan laki-laki yang pantas untuk Luna. dia gadis yang baik dan cantik.”


“Jangan seperti itu, buktinya kau tidak mau mencoba menerima hatinya.” Ivar membisu. “Ya sudah Nak, jika memang harus seperti jalan yang terbaik. Paman juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.”


“Aku yakin Paman mengerti bagaimana perasaanku. Aku tidak punya niat sedikitpun menyakiti Luna.” Prabu mengangguk dengan senyum yang akhirnya terbit dari bibirnya.


“Salam untuk Ellie dan Edwin, minta Ellie bertanggung jawab karena mmberikan harapan pada putriku.” Bicara dengan nada bercanda tapi tetap saja penuh sindiran tajam.


“Iya Paman, maafkan Mamah yang selalu meminta Luna mencintaiku.” Prabu terkekeh mendengar ucapan Ivar.


Prabu kembali ke kamar Luna setelah mengantar Ivar pulang, putrinya masih menangis sesenggukan di pelukkan Dwi. Prabu tahu betul bagaimana rasanya patah hati, Ivar cinta pertama Luna. Dia tidak pernah mencintai laki-laki lain selain Ivar.


“Apa akan ada laki-laki yang mencintaiku seperti Kak Ivar? Aku benar-benar menyukai sikapnya padaku Mah.” Prabu tersenyum mendengar putrinya masih berkhayal di tengah kekacauan hatinya.


“Tentu saja sayang, mana ada laki-laki yang tidak suka padamu. Kau cantik, baik, kulitmu bersih, kau…. anaknya Prabu Subagja, jangan khawatir.” Ucap Dwi dengan lantang agar putrinya tidak patah semangat.

__ADS_1


Prabu meninggalkan dua perempuan yang sedang saling menghibur. Dwi memang tidak bisa membiarkan Luna terluka sedikit pun. Dia akan melakukan segala cara agar Luna selalu bahagia dan tidak kurang suatu apapun, sepertinya semua ibu akan melakukan hal yang sama dengan Dwi demi anak-anaknya.


__ADS_2