Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Melarika Diri


__ADS_3

Brukkkk.....


Pintu terbuka dengan keras akibat tendangan kaki Prabu.


Semua orang yang ada di ruangan menatap kedatangan Prabu yang begitu terlihat emosional. Rahangnya mengeras dan kulit wajahnya merah padam. Matanya melotot ke arah orang yang sudah membuatnya hilang kesabaran karena ulahnya.


"Sudah ku katakan padamu. Jangan sentuh keluargaku atau aku akan menghabisi mu!" Prabu mencengkeram kerah baju laki-laki yang membuatnya tidak bisa lagi bersabar.


Dengan sedikit gerakan tangan Permadi, semua pergi meninggalkan ruangan, kini tersisa Prabu dan Permadi. Tidak ada gurat rasa bersalah sedikitpun dari tatapan mata Permadi, laki-laki yang sudah tua namun tidak mau melepaskan pekerjaan kotornya untuk memperkaya dirinya sendiri.


"Katakan apa mau mu." Ucap Prabu masih dengan perasaan marah.


"Aku tidak menyentuh keluargamu. Anak buahku bodoh dan salah sasaran." Ucapnya dengan enteng.


"Kau hampir saja membunuh Putriku." Geram Prabu yang merasa sedang di remehkan dan malah membuat alasan yang tidak masuk akal.


"Kau sudah salah paham, bukan Putrimu. Dia hanya salah target." Permadi mengangkat kedua tangannya merasa cekikan kerah bajunya semakin kencang.


"Apa sebenarnya yang terjadi. Kau ingin apa membuat kekacauan seperti ini!" Matanya seolah ingin memakan Permadi hidup-hidup. Prabu menghempas Permadi jatuh di atas kursi sampai kursinya mundur menabrak tembok.


"Tidak ada urusan dengan mu. Jangan mengusik pekerjaanku." Ucapnya sambil membetulkan dasi dan kemejanya yang berantakan.


“Aku pegang ucapanmu, jangan sampai kau melukai keluargaku dan Ivar. Kami selama ini tidak pernah mengusikmu!”


“Tenang saja Prabu, lagi pula kau sudah membawa mereka pergi jauh, aku tidak akan bisa menjangkaunya.” Sedikit tersenyum kecut. “Kita main aman saja, jangan saling menyentuh.” Ingin rasanya Prabu meninju wajah Permadi dengan keras, tapi Prabu tidak boleh gegabah.


Meski dirinya tahu saat ini Ivar dan pasukannya tidak ada di radar seharusnya mereka bertugas, Prabu tetap harus menjaga diri agar tidak terpancing emosi. Akan lebih berbahaya jika Permadi tahu saat ini Prabu sedang menyelidikinya.


"Kau salah jika berani bermain api denganku. Aku tidak akan melepaskanmu." Ucap Prabu sambil melangkah pergi.


Prabu sudah tau bagaimana perangai permadi menyalah gunakan jabatannya selama ini, beberapa Jenderal Tinggi terlibat sehingga sulit untuk dirinya melacak pergerakan mereka. Prabu kini meminta bantuan pada beberapa Petinggi yang juga tidak setuju jika hal seperti ini terjadi dan mengotori citra mereka sebagai pejabat negara.


Prabu melakukan beberapa gerakan secara diam-diam agar tidak membuat keributan jika mereka berhasil membongkar pekerjaan kotor Permadi dan para anggotanya. Kini dirinya tidak mau lagi Permadi bebas melakukan apa saja yang dia kehendaki sesuka hati. Prabu sudah muak dan ingin menyeret mereka keluar dari jajaran anggota Kepolian yang seharusnya mengayomi rakyat.


“Setelah ini mereka pasti akan membuat pergerakan.” Gumamnya seorang diri. Prabu sengaja memancing Permadi agar tau keberadaan Ivar saat ini.


Selesai membuat ancaman, Prabu memantau pergerakan Permadi dan para anggotanya dengan serius. Dia tidak mau kehilangan satu detik pun untuk melakukan penyelidikan.


Dirinya sudah sangat lama fakum dari masalah seperti ini semenjak di tugaskan di markas besar sebagai pengawas. Kini Prabu sendiri yang ingin terjun langsung mengatasi masalah yang kini menjadi perhatian seluruh jajaran tanpa sepengetahuan Permadi.


Prabu mendapat izin mengatasi semua masalah langsung di bawah perintah Jenderal tinggi. Prabu berhasil meyakinkan para atasan dengan susah payah.


Prabu sudah lama tahu perbuatan Permadi namun memilih diam demi keselamatan dirinya dan keluarganya. Kini sudah tidak lagi bisa di diamkan. Dia sudah merusak citra dan sumpahnya sebagai pejabat pemerintah yang seharusnya mengayomi rakyat.

__ADS_1


***


"Ivar....." Ivar sedikit terkejut. "Kenapa kau melamun, apa masih memikirkan Nindi?" Ivar tersenyum.


"Aku benar-benar takut mereka menyakiti keluarga ku." Kembali menunduk dengan kecemasan dalam dirinya.


“Kita mungkin akan segera bisa ditemukan setelah Permadi melakukan beberapa kekacauan.” Ariel duduk sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya.


“Sebenarnya aku sedikit berterimakasih karena aku bisa melihat Nindi baik-baik saja.” Ivar mengusap kasar air matanya yang menetes begitu saja.


"Mereka pasti baik-baik saja.” Ariel tahu betul bagaimana rasanya merindukan orang yang paling dia sayangi. “Mari kita kuat Var, jika kau lemah bagaimana dengan kami.” Ivar menatap satu persatu anggotanya yang kini sama-sama terjebak bersamanya. Lusuh tidak terawat. “Bagaimana dengan rencana yang sudah kita susun?"


Ivar membekap mulut Ariel. "Jangan bicarakan itu untuk sementara waktu." Ivar melirik CCTV. Ariel segera tau dan menunduk. Mereka di awasi.


Tidak lama pintu terbuka dan tampak beberapa anak buah Permadi masuk membawa makanan. Bayu yang berdiri di belakang pintu terkejut sampai terjatuh dan tidak sengaja menabrak tubuh salah satu anak buah Permadi sampai tersungkur di lantai bersama.


“Kau tidak punya mata!”


“Kalian masuk tanpa aba-aba, bagaimana aku tidak terkejut.” Ucap Bayu tidak kalah kesal.


“Makanlah kalian sebelum mati membusuk di sini.” Ucapnya menyebalkan dari balik topeng yang menutup wajahnya.


Ivar menghentikan Bayu yang ingin membalas ucapan anak buah Permadi yang menyebalkan. “Kau ingin sekali berkelahi?” Ucap Ivar dengan senyum.


“Bayu.....Bayu.... anak ini sudah tidak waras kurasa.”


Plakkkk.....


Aris menabok punggung Bayu dengan keras. Bayu sejak tadi senyum-senyum sendiri tidak jelas. Bahkan suara kerasnya memanggilpun tidak terdengar olehnya.


“Sakit Ris, kau ini kenapa sangat kasar sekali.” Bayu mengusap punggunya yang sedikit panas.


“Senyum-senyum sendiri kau ini. Kenapa?” Tanyanya penasaran. Bayu menatap mata semua anggota team, dia menatap mata Ivar begitu lama. memberikan beberapa kode dengan kedipan matanya.


“Ayo cepat Habiskan, keburu mereka datang.” Ivar sedikit bisa membaca mata Bayu. Mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak memancing perhatian pada mereka.


Udara dingin kali ini membantu, Bayu menuliskan beberapa kata sandi di ketel air stainless yang berembun, satu sama lain saling mengetahui maksud bayu. Tidak ada yang berkomentar, semua saling diam karena gerak gerik mereka terpantau oleh Permadi dan anak buahnya.


Brakkkkk.....


Suara keras pintu terbuka akibat dobrakan.


“Kalian berdiri berjauhan.” Perintah seorang anak buah Permadi yang sepertinya curiga pada mereka.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Ivar dan semua anggotanya menuruti perintahnya. Berdiri agak berjauhan sesuai permintaan.


“Hadap ke tembok kalian semua. Jangan kalian pikir bisa melakukan trik bodoh pada kami.” Ternayat mereka sadar, Bayu sengaja menabrak tubuh salah satu anak buah Permadi.


Satu persatu mereka di cek seluruh tubuhnya sampai telanjang bulat. Mereka curiga jika anak buahnya ada yang bersekongkol membantu mereka, bahkan anak buah Permadi yang jatuh bersama Bayu kini sudah tidak bernyawa.


Mereka tidak mau mengecek kebenaran dan langsung melakukan eksekusi tanpa rasa kemanusiaan.


“Apa yang terjadi Komandan? Apa kau mengira kami menyembunyikan senjata tajam? Pistol?” Ucap Ivar sedikit tertawa kecut.


“Diam kau! Jangan banyak bicara.” Kesal karena kecurigaannya tidak terbukti.


Setelah tidak menemukan bukti apapun, mereka memutuskan keluar dan kembali mengunci pintu sel dengan rapat. Bayu mengelus dadanya merasa lega, ternayat anak buah Permadi tidak sepintar dugaannya.


Dua minggu setelah kejadian itu, Ivar dan keenam anggotannya kini berhasil meloloskan diri. Mereka dalam persembunyian menunggu sinyal yang mereka kirimkan berhasil sampai pada Prabu.


Flash Back


Malam begitu dingin, Permadi sudah beberapa minggu ini tidak mengunjungi pulau, dia sepertinya disibukkan pencitraan diri agar tidak lagi dicurigai seperti apa yang Prabu katakan. Dia hanya sesekali memantau lewat orang kepercayaannya.


Karena hal tersebut, para anak buah Permadi sedikit lengah dan bersenang-senang. Mereka berkumpul untuk minum bersama dan rehat sebentar dari kepenatan pekerjaan kotor mereka. Natan menggunakan kesempatan yang baik ini untuk melancarkan askinya. Natan menuangkan obat tidur berdosis tinggi ke dalam minuman yang mereka olah. Alhasil mereka semua tidur dengan nyaman.


Sebelum semua mabuk dna tidak sadarkan diri, Natan sudah mematikan semua panel listrik dan berhasil memadamkan seluruh pulau. Mereka terpengaruh obat tidur sampai tidak bisa membedakan gelap karna listrik padam dan karena mata mereka yang begitu ingin terpejam.


Natan ikut mabuk dan tertidur untuk memanipulasi aksinya. Ivar memang sebelumnya sudah mengarahkan Natan agar tidak mencurigakan.


“Var, listrik sudah padam. Kita harus segera keluar.” Mereka bertujuh bersorak penuh kegemburaan.


Bayu yang berhasil menyembunyikan belati kecil hasil insiden tubrukan tempo hari melancarkan aksinya, kunci otomatis terbuka karena lampu padam, namun mereka memasang gembok manual sebagai pengaman cadangan. Untung saja Natan berhasil mengirimkan belati lewat seragam anak buah Permadi yang terlalu banyak saku tidak berguna.


“Kita harus kemana?” Ucap Ariel cemas dan bingung. Tiba-tiba saja isi kepalanya bercampur tidak menentu menjadi kepanikan.


“Ariel....Ril” Ivar menggenggam tangannya erat. “Percaya padaku.” Ivar mencoba menenagkan Ariel yang begitu panik. “Tenang yah, kita akan segera kembali pada kehidupan kita.” Kata-kata Ivar berhasil membawa kesadaran dalam diri Ariel. Sudha terlalu lama mereka terjabak tidak berdaya.


Ivar membawa semua peralatan dan berkas-berkas bukti yang berhasil mereka kumpulkan untuk menyeret Permadi dan para anggotanya.


Kini Ivar berhasil menyeberangi pulau menggunakan kapal milik Permadi. Lega saat mereka mendarat di pulau ramai penghuni yang menyambut mereka dengan hangat.


Ivar dan keenam anggotanya berhasil menyeberang dengan selamat, kini mereka masih bersembunyi di tempat aman yang berhasil Natan siapkan untuk mereka. Natan berhasil meyakinkan pemilik rumah untuk menolong teman-temannya saat mereka melarikan diri.


Ada kecemasan karena pemilik rumah tahu siapa Permadi, namun dirinya juga tidak mau menutup mata saat Natan dan teman-temannya ingin mencoba melawan Permadi.


“Tolong kami” Pesan Ivar sebelum membuang ponsel yang dia gunakan untuk mengirim sinyal keberadaan mereka pada Prabu.

__ADS_1


__ADS_2