
Kronologi sebelum kecelakaan yang Luna alami terjadi.
“Maya, Lun, setelah ini kita karaoke yah, di lantai 2 ada tempat karaoke baru yang bagus banget.” Bulan mengajak Maya dan Luna ke babak selanjutnya setelah makan malam.
“Kau tidak lihat Luna di jaga bodyguard tampannya! Aku sih mau-mau saja, tapi tidak seru jika hanya kita berdua. Kalau aku jadi Luna, aku pacari Abi tidak akan aku lepaskan. Dengan begitu kau bisa mengelabui Ayahmu bekerjasama dengan Abi tampan.” Maya suka dengan cowok maskulin seperti Abi, ditambah wajah Abi yang tampan bisa memikat gadis-gadis yang melihatnya.
“Ambil May, aku tidak tertarik. Bagaimana caranya agar aku bisa ikut? Abi tidak akan mengijinkanku pulang terlalu malam.” Ketiganya kompak mencari ide.
“Jangan pikirkan ide-ide gila yang berbahaya. Apalagi membahayakan Abi ku tercinta.” Maya bicara sambil menatap wajah Abi yang jauh di meja depan. Luna memintanya duduk jangan terlalu dekat agar Abi tidak mendengar obrolannya dengan teman-temannya.
“Kau ini jangan terlalu banyak berharap, Abi mana suka wanita kegatelan seperti kamu May.” Ledek Bulan.
“Ahahhhh.....Aku tau cara yang mudah untuk mengelabui Abi.” Maya berbisik di telinga Luna kemudian berbisik pada Bulan.
“Ok, aku turun ke lantai bawah yah. Kalian tunggu aku di tempat karaoke saja supaya Abi bisa aku kelabuhi dan mengira kalian benar-benar pulang.”
Ketiganya berjalan biasa saja sambil bercanda canda agar Abi tidak curiga. Abi masih mengikuti ketiganya dari belakang. Berjalan agak jauh karena Luna sering memarahi Abi jika terlalu mencolok. “Bye Lun, kita duluan yah. Sampai jumpa besok di kampus.”
“Ok, benar kalian tidak mau aku antar?.” Kedua menggeleng dengan kompak. “Ya sudah, aku duluan yah.” Luna melenggang mendahului Abi, berjalan cepat agar Abi tertinggal jauh.
Melihat Abi dengan jarak yang lumayan jauh membuat Luna bisa dengan cepat menyetop taksi dan meminta supir melaju dengan cepat. Abi yang melihat Luna naik taksi lari mengejar Luna namun tidak berhasil karena Luna sudah cukup jauh dari jangkauannya.
“Pak, kita balik lagi ke Mall ya pak.” Pinta Luna setelah taksi berhasil keluar dari Mall. Supir taksi membulatkan mata tidak percaya, ada-ada saja memang tingkah remaja jaman sekarang.
“Baik Nona, tidak jadi pulang memangnya?” Tanya supir taksi sedikit penasaran.
“Ada yang saya lupa beli Pak. Maaf yah.” Mau tahu saja Bapak ini.
Luna mengirim pesan pada Abi jika dirinya pulang naik taksi. Abi yang polos percaya saja dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah mengejar Luna yang mengerjainya. Abi yang polos benar-benar mengira Luna pulang ke rumah.
“Terimakasih Pak.” Luna membayar tarif taksi yang tidak seberapa dengan uang yang cukup besar untuk biaya putar balik kembali lagi ke Mall tempat dia naik.
Dengan cepat Luna menaiki escalator menuju tempat janjian. Karena terburu-buru Luna tidak melihat saat ada petugas yang sedang mendorong troli supermarket yang cukup panjang. Tubuhnya yang terlalu cepat lari tidak bisa menghindari troli dan akhirnya Luna tersungkur saat tubuhnya tertabrak troli cukup keras. Petugas yang tidak melihat Luna karena muncul tiba-tiba entah darimana juga tidak bisa menahan troli yang sedang dia dorong.
Benturan yang begitu keras membuat orang yang ada di sekitar tempat kejadian penasaran, semua orang yang tidak luna kenal berkerumun menonton. Bahkan beberapa berbisik mengasihani Luna yang kakinya terluka.
Luna menahan diri agar tidak menangis. Pikirannya kacau, di saat seperti ini kehadiran Abi sangat dia butuhkan. Tapi lihatlah, tidak satupun yang Luna kenal mengerubutinya. Semua hanya menonton Luna, tidak ada yang membantunya.
“Nona tidak apa-apa?” Tanya seorang laki-laki berseragam yang menabraknya secara tidak sengaja.
Luna memegangi tumitnya yang berdarah cukup banyak. Rasa takut mengalahkan rasa sakit di kakinya sekarang. Semua terjadi begitu cepat sampai Luna tidak bisa berpikir dengan jernih. Otaknya seperti berhenti di satu titik karena bingung.
Ingin rasanya berteriak agar Abi kembali, Abi…..tolong aku. Bawa aku pergi dari sini Abiiiii.....aku ketakutan Bi.
__ADS_1
Abi yang mengendarai mobil dengan cepat sudah sampai di gerbang rumah. Sebelum memasukkan mobil, Abi memeriksa apakah Luna sudah sampai atau belum pada Satpam yang berjaga di pintu masuk.
Dukkkk....
“Awww.....” Abi mengaduh kesakitan kakinya tersandung batu.
“Hati-hati Bi, kau ini jalan tidak pakai mata.” Ledek Satpam yang melihat Abi tersandung.
“Pak, apa Nona Luna sudah sampai?” Wajahnya terlihat kacau.
“Belum Bi. Bukannya pergi sama kamu?” Jawab Satpam santai tidak tau jika Abi dikerjai Luna sampai kehilangan jejaknya. Abi menggeleng merogoh kantong celananya. “Wah Bi....Nona kabur yah?” Abi tidak menanggapi karena dirinya sangat kebingungan.
Abi mondar mandir mencoba menghubungi ponsel Luna yang aktif namun tiak menjawab panggilannya. Aku pasti kena marah jika Tuan Prabu tahu dirinya kehilangan Luna. Aduh Nona, kenapa kau suka sekali membuatku berdiri di tepi jurang seperti ini, dia benar-benar tidak bisa ditebak.
“Kau sedang lihat apa Yah?” Prabu menyingkap hordeng kamar memperhatikan Abi yang mondar mandir seperti sedang kebingungan di depan pintu gerbang ditemani Pak Satpam.
“Lihat Abi, kenapa dia datang sendiri?” Dwi mengintip, matanya mengikuti kemana jari telunjuk Prabu terarah. “Apa Luna sudah pulang?” Prabu khawatir putrinya tidak aman di luaran sana.
“Setauku Luna belum sampai. Kalau dia sudah sampai, rumah pasti sangat ramai. Kan Ayah tahu suara Luna sangat keras.” Dwi sangat mengenal siapa Putrinya.
Tut…tut….
Abi berbalik badan, panggilan masuk dari Prabu yang membuat tangannya bergetar hebat. Benar, dia ketahuan, Prabu sedang menatapnya dari kaca jendela kamarnya. Tatapan Prabu yang begitu tajam membuat Abi menarik nafasnya panjang sebelum menerima panggilan.
Prabu : Kenapa berdiri di luar? Mana Luna?
Abi : E….ta..tadi Nona. Nona menyuruhku menunggunya, tapi aku ketiduran di mobil dan tidak tahu Nona pergi kemana.
Prabu : Kok bisa seperti itu Bi. Kalau Luna kenapa-napa bagaimana? Masuk kau!
Prabu menyudahi panggilan telponnya, Abi hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi. Bodoh sekali bisa kehilangan Luna. Abi hanya bisa mengutuk kesalahannya.
Prabu duduk bersedekap di ruang tamu. Prabu tahu betul Abi tidak mungkin melakukan kesalahan seperti yang dia katakan, dia sepertinya sedang berusaha menyembunyikan kenakalan yang Putrinya lakukan.
“Kenapa kau bisa kehilangan Luna Bi. Apa saja yang kau lakukan saat menjaganya?” Prabu sengaja memberondong Abi untuk melihat ekpresi wajahnya. Prabu bisa tahu orang itu bicara jujur atau tidak.
“Ma…maaf Tuan.” Abi tidak berusaha mencari alasan, hanya pasrah saja tanpa pembelaan diri.
“Kenapa kau minta maaf, seharusnya kau bertanggung jawab sebagai laki-laki, kau harus bisa menjaga Luna dengan baik. Kenapa malah minta maaf.”
“Siap Tuan, saya akan mencari Nona.”
“Tunggu! Siapa yang menyuruhmu pergi.” Abi mendunduk menyembunyikan wajahnya yang tegang. “Kau ini Bi…Bi. Aku tahu kau berbohong padaku. Katakan kemana Putriku. Dia memang gadis yang tidak mudah di atur Bi. Aku harus memberinya pelajaran”
__ADS_1
“Tidak Tuan, aku benar-benar yang bersalah karena tidak menjaga Nona dengan baik.” Gawat! Luna bisa saja kena amukan Tuan Prabu.
“Tidak Bi, Luna sudah kelewatan. Sudah jam berapa ini dia belum juga kembali. Dia malah membuatmu linglung begini. Anak perempuan kok seperti anak laki-laki, susaaaaah sekali diatur.” Prabu sengaja membuat Abi merasa bersalah., dia ingin tahu seberapa tulus Abi bekerja padanya menjaga Luna.
Bagaimana ini, bagaimana jika Nona benar-benar dihukum karena perbuatannya. Padahal aku akan ijinkan dan menemaninya jika memang dia ingin bermain lebih lama dengan teman-temannya. Kenapa harus kabur juga seperti ini. Mana pake ketahuan lagi aku ada di depan pintu gerbang.
“Tuan tolong jangan marahi Nona. Dia mungkin hanya ingin pergi tanpa pengawasanku.” Abi tahu rasanya hidup selalu diawasi. Luna pasti ingin nyaman seperti remaja-remaja pada umumnya.
“Apa kau berpikir Luna butuh ruang sendiri? Apa aku terlalu mengekangnya? Begitukah maksudnya Bi?” Berteriak berusaha membuat Abi ketakutan.
Abi menggelengkan kepalanya. “Bukan begitu Tuan. Aku hanya berpikir saja, tapi pasti Nona tidak seperti itu. Maaf Tuan.” Abi menunduk merasa mulutnya sudah melewati batas, siapa dirinya berani mengutarakan pendapatnya tentang bagaimana sebaiknya bersikap pada Luna.
“Kau ini selalu saja minta maaf. Kan belum lebaran Bi. Hahahaha…” Abi ikut tersenyum mendengar lelucon Prabu yang sama sekali tidak menghibur dirinya.
“Apa aku boleh ijin mencari Nona Tuan?” Prabu menurunkan kacamatanya menatap mata Abi.
“Tidak perlu, dia pasti pulang ke rumah. Mau kemana lagi dia pergi kalau tidak kembali ke sini.” Prabu duduk menyilangkan kakinya. Dia sendiri sebenarnya khawatir karena hari sudah sangat malam. Tapi dia harus bersikap tegas agar Luna tidak berbuat seenaknya.
Suara deru mesin mobil membuat Prabu dan Abi kompak melihat ke arah luar. Abi tersenyum saat melihat Luna keluar dari mobil hitam yang entah milik siapa.
“Tuan saya ke depan yah.” Abi sebenarnya ingin menjemput Luna ke depan, tapi harus ijin dulu karena dirinya tidak bisa melangkah sembarangan tanpa ijin Prabu.
“Tidak perlu, biarkan dia masuk sendiri.”
“Sepertinya Nona terluka Tuan.” Abi benar-benar khawatir, Prabu juga merasakan hal yang sama tapi tidak mau memperlihatkannya.
“Abi! Dia itu harus diberi pelajaran. Jangan membela Luna saat aku memarahinya, atau aku akan memberinya hukuman yang berat.” Ancam Prabu. Abi hanya bisa menunduk tanpa berani berkomentar lagi.
“Nona....kenapa kakinya Nona?” Pak Satpam lari menjemput Luna saat melihatnya tidak bisa berjalan dengan baik. Kakinya juga di balut perban. “Abi tadi di panggil Tuan ke dalam. Sepertinya dimarahi Non.”
“Benarkah!” Luna sampai lupa pada Pak Bagas yang mengantarnya. “Pak bagas, terimakasih banyak yah. Hati-hati di jalan ya Pak.” Bagas tersenyum ramah.
“Sama-sama Non, saya pamit lagsung pulang ya Non.” Bagas sudah melesat meninggalkan kediaman Luna.
“Ayah......” Teriak Luna yang baru saja masuk dengan kaki pincang. Dia harus berakting untuk menyelamatkan Abi. “Luna minta maaf. Luna kapokkkkkk!!!!!” Luna menangis histeris mencari belas kasihan Prabu.
“Tidak mempan, Luna tidak bisa membodohi Ayah lagi. Sekarang jelaskan kenapa kau kenapa bisa terluka?” Prabu sudah kenal putrinya.
“Ayah tolong jangan hukum aku dan Abi. Aku benar-benar Kapok. Aku sampai menerima jahitan di kakiku. Kulitku akan ternoda Yah.”
“Ternoda. Bisa sekali kau mencari-cari alasan, apa kata Dokter? Apa lukanya serius?” Bicara dengan nada marah tapi sangat kaku karena Prabu tidak pernah memarahi Luna. Bukannya marah Prabu malah bersimpati dengan keadaan Luna. Karena nakal dia menerima akibatnya.
“Maafkan Aku, aku benar-benar kapok Yah.” Luna memeluk Ayahnya dengan erat. Mudah sekali meredam amarah Prabu.
__ADS_1