
Nindi terlihat bercengkerama bersama Hanna dan Jason yang berjalan bersamanya memasuki rumah, dia tidak sadar ada sepasang mata yang menatapnya begitu intens.
Nindi sengaja langsung membolakkan dirinya ke dapur saat melihat Ivar duduk di ruang tamu menatapnya tajam.
Tiba-tiba saja jantung Nindi berdegub begitu cepat, Nindi bingung harus bicara apa dan akhirnya memutuskan membelokkan langkahnya ke dapur, dia menggendong Jason yang langkahnya tentu saja ingin menuju Ivar Paman kesayangannya.
Nindi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pura-pura mengambilkan Jason makanan di dalam kulkas karena Jason merengek ingin mengikuti Hanna yang sudah nempel pada Ivar.
“Jason haus yah, mau minum ya sayang.” Ucapnya keras, sengaja agar Ivar bisa mendengar suaranya.
“Jason sini, Kaka Hanna punya susu.” Jawab Hanna yang membuat Jason semakin beringsut ingin turun dari gendongan Nindi.
Ya Tuhan Hanna, kau tidak tahu ada yang sedang aku hindari Han.
Nindi menurunkan Jason yang meronta tidak terkendali.
“Paman tolong bukakan.” Pinta Hanna yang kesulitan membuka bungkus roti. “Paman.” Panggilnya lagi karena Ivar tidak merespon. “Paman…….” Menangkup wajah Ivar dengan tangan kecilnya. Ivar akhirnya mengalihkan tatapan matanya. “Tolong bukakan.”
“Loh….Adek kesayangan Kaka sudah pulang? Sudah selesai meetingnya? Enak kan kerja di kantor?” Tanya Edel yang penasaran, tangannya bahkan masih penuh barang belanjaan.
“Biasa saja.” Kembali menatap Nindi dingin.
“Nindi tadi mampir Bang, ingin menghirup udara segar katanya.” Nindi menggelengkan kepalanya meminta Edel menghentikan kata-katanya. Ivar sedang dalam mode menakutkan.
“Tidak bisa ijin kalau mau pergi keluar? Setidaknya beri Abang kabar.” Ucapnya terdengar sedikit keras.
Edel melotot ke arah adiknya yang masih terus menatap Nindi. Berdiri menghalangi tatapan mata Ivar yang nyalang menakutkan.
“Aku menghubungi Nindi dan sampai detik ini tidak ada balasan.” Kesalnya.
“Kenapa tidak hubungi Kaka atau orang rumah, ponsel Nindi habis baterai Bang.” Nindi hanya menunduk masih berdiri mematung di dapur. Edel mencoba membela Nindi.
“Kan bisa pakai ponsel Kak Edel, Bagas atau Kak Ayman. Kenapa tidak ada kabar sama sekali.” Ucapnya lebih keras dari sebelumnya.
“Kau kan meeting, pasti Nindi tidak mau mengganggu Abang makanya tidak menghubungi.” Edel masih mencoba membela Nindi.
“Ivar, bicara baik-baik jangan berteriak.” Edwin tidak suka dengan cara Ivar yang terdengar tidak pantas pada wanita. Nindi pasti masih kesal dengan apa yang dia ketahui hari ini.
“Aku ke atas, mau charger ponsel biar bisa balas pesan Abang.” Nindi melangkah kesal. Ivar selalu saja emosi. Dia tidak bisa mencari tahu dulu alasan dirinya pulang terlambat dan tidak bisa dihubungi.
“Nindi….Nin.” Nindi menahan air mata yang menganak sungai di pelupuk matanya. Menghentikan langkah tanpa menoleh ke arah Edel. “Jangan lupa di makan nasi gorengnya yah, nanti sakit kalau tidak makan.” Nindi mengangguk dan melanjutkan lagkahnya menaiki tangga menuju kamarnya.
Edel mencubit perut Ivar kesal, bisa-bisanya marah saat suasana hati Nindi tidak baik-baik saja.
“Aww….” Mengusap perutnya yang nyeri.
__ADS_1
“Kau ini buat orang kesal saja.” Melangkah menuju dapur. “Lihat saja kalau Nindi sampai tidak makan. Kau yang harus bertanggung jawab.”
“Aku sengaja ingin membuatnya kesal.” Ivar tertawa. Ingin membiarkan Nindi meluapkan emosinya dan tidak menahannya. “Dia belum makan malam ya Kak?” Tanyanya yang kini sudah berdiri dari duduknya.
“Dia tidak makan dari pagi, perutnya mual. Dia hanya makan buah dan minum susu saja.” Edel menempatkan nasi goring ke dalam wadah agar Ivar membawanya ke atas. “Bawa ke atas, rayu Nindi sampai dia mau makan.”
“Apa dia tidak bisa makan karena ulahku?”
“Tentu saja! Siapa lagi yang membuat Nindi kesal kalau bukan dirimu!” Ivar segera naik ke lantai atas. Edel menahan Hanna dan Jason yang mengekor di belakang Ivar. Keduanya memang sangat lengket pada Ivar.
“Kita main di bawah saja sayang, nanti Paman akan turun lagi.” Bujuknya menarik Hanna dan menggendong Jason pergi memasuki ruang bermain.
Tok…tok…tok…
Ivar masuk setelah mengetuk pintu kamarnya, menaruh makanan yang dia bawa di depan Nindi yang sedang duduk di sofa kamarnya. Matanya basah, tentu saja dia menangis. Mengalihkan pandangan matanya ke sembarang arah menghindari tatapan mata Ivar. Nindi paling tidak suka menangis di depan orang lain. Memunggumi Ivar agar tidak melihat wajahnya yang akan membuat hatinya luluh.
Mengusap surai Nindi dengan lembut. “Sayang marah yah.” Menarik Nindi dalam pelukkannya. “Tidak apa marah Nin, keluarkan saja semua yang ingin Nindi sampaikan pada Abang.” Nindi mengusap kasar air matanya.
“Tidak ada, aku mau mandi.” Nindi mencoba berdiri. Tubuhnya di tahan Ivar kuat. Nindi tidak bisa bergerak.
“Coba lihat mata Abang.” Nindi menunduk. Ivar mengangkat dagu Nindi agar menatap matanya. “Tidak apa menangis di depan Abang Nin. Nindi pasti kesal seharian ini sama Abang kan?” Nindi menangkup wajahnya. Terisak menyembunyikan wajahnya saat menangis.
Ivar memeluknya dengan hangat.
“Terimakasih.” Ucapnya setelah cukup tenang. Ivar tersenyum, dia tahu semua orang pasti bahagia dengan keputusannya. “Abang pasti melakukan semua ini demi kami. Aku sangat berterimakasih Abang.” Kini Nindi yang memeluk Ivar dengan erat.
Ivar mengangguk, lega rasanya bisa membuat keputusan yang semua orang nantikan selama ini. Ivar memang terlalu terobsesi dengan pekerjaannya yang sangat menantang, dia tidak memikirkan resiko yang bisa datang kapan saja karena pekerjaanya yang sangat berbahaya.
“Apa sudah bisa makan sayang? Jangan biarkan perutmu kosong.” Membelai lembut perut Nindi.
“Aku mual, aku tidak ingin makan.” Tolaknya menatap nanar nasi goreng kesukaannya.
“Sedikit saja, Abang mohon Nin. Kasihan nanti kamu masuk angin.” Bujuknya memelas.
“Aku akan coba, tapi sedikit saja ya Bang. Aku benar-benar mual.” Ivar mengangguk setuju, setidaknya Nindi mau mencoba.
“Abang suapi, Abang mohon turuti permintaan Abang. Anggap saja hadiah pertama masuk kerja.” Nindi tersenyum. Ivar senang akhirnya dia mau memaksakan makan nasi goreng yang sudah Ivar bawa tadi.
Baru beberapa suap Nindi menutup mulutnya dan lari ke kamar mandi, Ivar mengikutinya dari belakang. Memuntahkan semua isi perutnya karena benar-benar merasa mual. Ivar memijat tengkuk Nindi mencoba membantu agar Nindi cepat membaik.
Ya Tuhan, aku tidak tega melihat Nindi hampir setiap waktu muntah seperti ini. Pasti dirinya benar-benar kesulitan. Ucapnya dalam hati.
“Apa mau ke Dokter? Sudah satu minggu lebih begini Nin, tidak ada perubahan. Abang benar-benar khawatir Nin.”
“Ini wajar Abang, Kak Edel bilang akan hilang seiring berjalannya waktu. Aku baik-baik saja.” Ivar lagi-lagi memeluk Nindi dengan erat. Wanita yang selalu dia rindukan.
__ADS_1
Suasana ruang tamu terdengar sangat ramai, Ivar yang masih ada di atas bersama Nindi mencoba melongok ke bawah melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Ternyata ada Luna dan keluarganya, tidak ketinggalan ajudan tampan yang selalu ikut kemanapun mereka pergi, Abi.
“Paman…”Sapa Ivar yang baru saja menuruni tangga. Prabu merentangkan kedua tangannya. “Lama sekali kita tidak jumpan.”
“Kau lucu sekali, beberapa saat lalu aku ketemu denganmu.” Ucap Prabu yang tahu Ivar sedang menggodanya. “Dimana Nindi?”
“Dia sedang tidak enak badan, muntah-muntah setiap kali makan.” Ivar membawa Prabu duduk ke ruang keluarga yang sudah ramai bergabung bersama yang lain.
“Hamil muda memang begitu Nak, yang penting Nindi mau makan yang lain seperti buah-buahan dan susu. Jangan sampai kosong.” Sambung Tantri menasehati.
“Iya Mih, memang Nindi gak pilih-pilih. Dia mau makan apa saja. Tapi kasihan selalu saja muntah.” Sedihnya mengingat Nindi yang terlihat sangat menderita. “Ngomong-ngomong tumben sekali kalian mampir? Ada hal penting kah?” Tanyanya penasaran.
“Kau kira hanya ada hal penting saja kita baru berkumpul! Kau terlalu lama kerja di pelosok Nak.” Yang lain hanya tertawa menanggapi ucapan Ellie.
Terdengar langkah kaki dari lantai atas. “Aku ingin turun.” Pintanya memohon pada Ivar yang sejak tadi melarangnya bergerak.
Ivar segera naik menuntun Nindi turun, awalnya Ivar ingin menggendongnya namun Nindi menolak karena malu di lihat banyak orang. Akhirnya Ivar setuju membantu Nindi berjalan perlahan. Membawanya bergabung bersama keluarga besarnya menikmati kehangatan sebuah keluarga.
Luna dan Hanna sangat dekat, mereka sepertinya punya hobby dan kesukaan yang sama. Selalu saja saat berkumpul mereka menghabiskan waktu berdua tanpa memperdulikan orang lain. Meski umur mereka sangat terpaut jauh berbeda, namun keduanya saling nyaman saat bercengkerama.
“Aku sepertinya sudah cocok punya cucu yah.” Luna melotot ke arah Prabu sedikit kesal, dirinya bahkan masih kuliah san masih bau kencur.
“Ayah ini ada-ada saja. Luna masih mau mencoba bekerja, mau berkarir. Jangan terlalu cepat, Mamih tidak mau.” Tolak Tantri.
“Buat apa? Toh semuanya sudah Ayah siapkan. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk putriku semata wayang. Aku tinggal didik calon suaminya agar bisa setara dengan putriku.” Ucapnya menatap Abi yang duduk bersama Luna dan Hanna sedang bermain. Abi menghindar, menolak keras kenyataan dirinya yang sedang Prabu rayu menjadi menantunya.
Ivar mencolek tangan Prabu melihat wajah Abi yang merah padam. “Calon suaminya bisa belajar dariku. Aku suami terbaik.”
“Jangan membanggakan diri sendiri, kau suka marah-marah tidak jelas seperti tadi.” Edel mengingatkan sikap Ivar yang suka meledak tidak karuan.
“Kau inilah, momen bagus ini untuk kita saling mengadu keharmonisan. Biar mereka sadar dan mau menjalin hubungan lebih jauh loh Kak.” Bisik Ivar yang kesal kakanya tidak tahu kondisi.
“Oh iya aku lupa.” Terkikik menyesali perbuatannya.
“Lihat Nindi, dia bahagia hidup berdampingan denganku. Benarkan sayang?” Nindi mengangguk merasa lucu. “Dia selalu tersenyum, bahagia. Sebentar lagi kita akan punya Baby yang lucu.” Muka Ivar membuat Nindi tidak bisa menahan tawanya.
“Aku….coba lihat aku, Jason sudah besar. Sekarang aku sedang program anak kedua karena Mas Ayman mau punya banyak anak katanya. Apa tidak bahagia aku ini.” Sautnya yang membuat Ayman tersenyum di ujung ruangan yang sedang membaca bukunya.
“Benarkah? Aku sangat menunggu adik Jason lounching.” Ucap Nindi gemas. Pasti lucu saat Jason di panggil Mas Jason.
“Duh kebayang yah, rumahnya ramai. Apalagi kalau anak-anak Luna ikut juga bergabung, tambah rame ini rumah yah…..tidak muat sepertinya.” Edel tertawa puas berhasil membuat Luna melotot.
Luna hanya menggeleng pasrah, dirinya sudah biasa dijadikan bahan ejekan semua orang karena Ayahnya yang suka sekali memancing orang menggunjing dirinya. Dirinya lebih memilih diam dan melanjutkan permainan bersama Hanna. Tidak mau ambil pusing keinginan Ayahnya yang tidak pada tempatnya. Luna masih belum terpikirkan jika harus menikah muda diusinya sekarang.
__ADS_1