
Rumah benar-benar berantakan, semua orang berkemas. Semua pekerja dipulangkan sementara ke rumah masing-masing selama Edwin dan keluarga pergi.
Semua nampak sedih namun tidak bisa berbuat apa-apa, keadaan yang memaksa Edwin mengambil langkah berani untuk menyelamatkan semua orang-orang yang dia sayangi.
Nindi menatap nanar semua pegawai yang dia sayangi, sudah cukup akrab Nindi dengan mereka semua, rasanya sedih meski keadaan ini hanya sementara. Ellie memberikan bingkisan alakadarnya yang dia siapkan untuk keluarga para pegawai.
“Tenang saja yah, nanti kalau keadaan sudah aman, kita kumpul lagi.” Ellie mencoba memecah keheningan.
“Nyonya rugi gak, kami di rumah tapi tetap dapat gaji.” Ellie tersenyum pada Bi Inah yang meledeknya. Pegawai yang sudah sangat lama mengabdi pada keluarganya.
“Kalau Tuan dengar bisa di potong gaji kalian! Mau memangnya?” Ellie sedikit terkekeh melihat perubahan wajah Bi Inah dan pegawai lainnya.
Semua memalingkan muka pura-pura tidak dengar perkataan Ellie barusan. Ellie yang melihatnya hanya menggeleng heran tapi juga merasa terhibur.
“Kita pasti akan kangen masakan Bibi, jangan lupa do’akan kita yah.” Ucap Edel sambil menyalami para pegawainya yang siap berangkat dengan travel yang sudah siap di depan rumah.
Nindi sudah lemas, kakinya kram dan sulit di gerakkan untuk menyalami semua pegawai yang berkumpul di ruang depan. Nindi hanya melambai dari kejauhan memberikan salam. Alasan terbesar Nindi takut menangis jika menyalami mereka secar langsung.
"Lalu bagaimana pekerjaan kita?” Tanya Nindi setelah semua orang berkupul di ruang tengah. Nindi ingat ada tanggung jawab yang harus dia selesaikan. Project yang perusahaan berikan belum selesai. Dia satu Team dengan Zein dan Mariska.
"Itu semua tidak penting sayang, ikuti saja." Tambah Ellie yang baru saja mendudukan dirinya di samping Nindi.
"Mah...." Nindi memeluk Ellie dengan erat. Pelukan yang sangat nyaman bagi Nindi.
"Kita akan baik-baik saja, percayalah pada Papah." Ellie membelai lembut surai Nindi seperti anak kandungnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa sangat berbahaya sampai harus pergi ke tempat yang aman?"
Ellie mengangguk. "Papah hanya ingin melindungi keluarga kita Nak, ini mungkin akan dilakukan semua orang tua demi keselamatan anak-anak nya."
"Saya ingin sekali pergi, tapi saya benar-benar ingin memastikan kalian aman." Ucap Gunar yang juga ikut terkejut melihat keadaan rumah yang sangat kacau.
"Tenang saja Gun, aku akan menjaga Nindi dan semua orang." Timpal Ayman yang tidak menyukai Gunar terlalu dekat dengan Nindi.
"Baiklah....Nindi tolong kabari aku. Aku mohon kalian jaga diri baik-baik." Langkah Gunar begitu berat, rasanya ingin sekali tetap di sisi Nindi.
"Kak Gunar..." Gunar berbalik mendengar suara Nindi.
“Tolong jangan katakan apapun Nin, aku tidak mau ada kenangan yang tidak aku inginkan.” Ayman memicingkan matanya. Dia sudah menebak jika Gunar memiliki perasaan lebih pada Nindi.
"Terimakasih sudah menjaga ku." Gunar pergi setelahnya, enggan mendengar perkataan Nindi yang bisa saja menahan langkahnya untuk pergi.
“Dasar tidak sopan!” Ayman menggerutu sendiri. Edel dan Nindi hanya menahan tawa karena tahu kenapa sikap Ayman seperti itu pada Gunar.
"Dimana Hanna Kak?"
__ADS_1
“Ada di dalam kamar Nin, Hanna masih tidur Nin.” Nindi memeriksa kamar Hanna. Memeluk Hanna dan ikut berbaring di sebelahnya.
“Badannya sedikit deman, apa Hanna sakit? Atau panas karena dia sedang tidur?” Nindi memeluk Hanna erat agar panasnya berkurang.
“Hanna sangat pulas, dia tidak bangun padahal aku sangat berisik menurunkan baju-bajunya.”
“Mungkin karena dia sedikit demam Kak.”
Edel menempelkan telapak tangannya di kening Hanna. “Ah...benar Nin. Aku akan ambilkan obat penurun panas.” Nindi menggenggam erat tangan Edel. Wajahnya terlihat sangat tegang.
Edel khawatir Hanna sakit karena syok dengan kejadian sore tadi. Edel sangat takut, tapi dirinya tidak diperkanankan menceritakan yang terjadi pada Nindi. Takut jika Nindi stress dan akan berpengaruh pada kandungannya.
“Ada apa Kak? Kenapa Nindi merasa seperti kalian menyembunyikan sesuatu dari Nindi.” Edel menggeleng sambil memeluk Nindi menyembuyikan raut wajahnya yang tidak bisa dia rubah.
“Tidak ada apa-apa, kau jangan terlalu banyak berfikir Nin.” Edel mengatur nafasnya yang sudah mulai berat.
“Bagaimana sekolah Hanna Kak? Apa dia bisa menyesuaikan diri? Aku takut sekali dia trauma dan tidak bahagia dimasa kecilnya Kak.”
“Aku juga kasihan pada Hanna, tapi Kak Edel juga bingung harus bagaimana! Kita hanya ingin semua selamat dan tidak ada yang terluka Nin. Papah pasti ingin kita terus bersama-sama Nin.”
Nindi mengingat kejadian siang tadi yang hampir merenggut nyawanya sampai terisak. Nindi tidak tahu apa yang telah menimpa Edel di butiknya. Semua orang dilarang membuka suara soal kejadian menegangkan sore tadi, tapi semua orang tidak tahu juga jika Nindi hampir celaka karena pengendara motor siang tadi.
“Maafkan aku Kak, aku benar-benar tidak bermaksud membuat Kak Edel sedih. Maafkan aku.” Edel dan Nindi saling berpelukan saling menguatkan. Sedih dengan keadaan saat ini, tidak ada yang bisa mereka lakukan, tidak bisa menghindari karena semua terjadi di luar kendali.
Flass Back
Prabu melangkah gontai membuat Edwin harus membantunya berjalan. Edwin segera membawa Prabu masuk dalam mobilnya. Memberikan air minum agar Prabu bisa sedikit tenang.
"Kau sudah lebih baik?" Tanya Edwin setelah mobilnya melaju cukup jauh keluar dari komplek pergudangan dan Prabu menatapnya tajam.
"Menepi Ed, ada hal penting yang harus aku sampaikan." Edwin menuruti permintaan sahabatnya.
"Jangan membuat ku takut, kenapa tatapan mu sangat mengerikan." Ucapnya sambil tersenyum nanar.
"Jangan bercanda kau kakek tua, aku hampir pingsan." Edwin jadi tegang mendengar ucapan Prabu. Mencoba bersikap tenang dan memperhatikan Prabu dengan benar sesuai keinginannya.
"Katakan, jangan diam saja kau brengsek. Kau membuatku semakin takut." Geram Edwin yang tidak kunjung melihat Prabu bicara.
"Ini ada hubungannya dengan Ivar. Aku sungguh tidak tahu apa yang sedang menimpanya sekarang." Ucap Prabu penuh penyesalan.
"Apa maksudmu, jangan membual." Dada Edwin bergemuruh, Ivar pasti bisa mnejaga diri. Ucapnya dalam hati penuh keyakinan.
“Dia benar-benar dalam situasi yang tidak baik Ed, aku sudah bisa pastikan itu. Aku hanya tidak tahu apa yang menimpanya saat ini. Yang jelas dia pasti masih hidup.” Prabu berputar-putar bingung harus bicara apa.
“Kau gila! Tidak bisakah kau ucapkan hal yang baik tentang Putraku! Semakin kau bicara aku semakin bingung.” Edwin melepas kacamatnya. Menunduk bingung tapi paham maksud ucapan Prabu meski dirinya menepis dan tidak mau menerima kenyataan.
__ADS_1
"Jangan pikirkan Ivar, tugas kita sekarang adalah mengamankan semua anggota keluarga kita." Prabu mencoba menarik tangan Edwin namun ditangkis dengan keras. “Aku yakin Ivar baik-baik saja.”
"Jangan bertele-tele, kau sedang mempermainkan ku!" Membuka pintu mobil.
Brukkkk.....
Edwin keluar dari mobil, menutup dengan sekuat tenaga pintu mobilnya. Edwin terlihat gusar, Prabu tidak tega melihat Edwin saat ini. Perasannya sama dengan dirinya, takut hal buruk terjadi pada Ivar dan keluarganya.
Prabu membiarkan Edwin melepaskan emosinya, Edwin tidak akan mendengar apapun ucapannya saat ini. Dia hanya butuh diberi ruang untuk berpikir. Persahabatannya sudah sangat lama, mereka lebih mengenal satu sama lain melebihi istri-istri mereka mengenal diri mereka.
Setelah merasa sedikit tenang, Edwin kembali masuk dan mendudukkan dirinya di kursi kemudinya.
"Apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya dengan tatapan yang menyedihkan. Prabu menepuk punggung tangan sahabatnya. Melepaskan beberapa kali nafasnya yang begitu berat.
"Sudah aku sampaikan pada Ayman apa yang harus mereka lakukan. Setelah ini kalian pergi ke mention ku di Korea. Jangan kembali sebelum aku memberikan kabar." Edwin menatap lekat kedua mata Prabu. "Satu hal lagi. Semua penjaga yang ikut denganmu adalah orang-orang kepercayaanku." Edwin mengangguk menyetujui.
"Aku tahu kau akan melakukan yang terbaik. Aku percaya padamu." Prabu memeluk Edwin sekilas, mereka saling tertawa merasa lucu. Sudah sangat lama mereka hidup dengan tenang. Kini keluarganya harus melewati ujian berat bersama-sama.
"Aku akan kesana dalam waktu dekat. Jaga diri baik-baik Ed."
"Tentu saja, aku yakin pada Putraku. Dia pasti kembali dalam keadaan selamat." Edwin tahu betul kualitas Ivar, dia orang yang sangat dicari banyak orang karena keterampilannya. Tapi Prabu tidak membiarkan dirinya tahu dengan siapa kali ini mereka berhadapan.
Flass Back Off
Kini semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga, barang-barang sudah masuk ke dalam bagasi mobil tertata rapih.
Hanna sudah terbangun dan badannya masih sedikit demam, Ayman menggendongnya menggunakan kaos tipis agar panas berpindah pada tubuhnya. Menimang Hanna yang raut wajahnya masih terlihat ketakutan, kejadian yang menimpanya pasti membekas.
“Kenapa aku merasa Hanna memikirkan sesuatu ya Kak? Apa yang terjadi sebenarnya?” Tanya Nindi takut, Hanna anak yang sangat ceria, melihatnya diam saja membuat Nindi bertanya-tanya.
“Mungkin dia hanya lelah saja Nin, jangan di pikirkan.” Ellie membawa Nindi duduk bersamanya.
Terlihat mobil hitam milik Edwin memasuki halaman rumah. Keluar dari dalam mobil dua sosok pria yang sangat Nindi kenal baik.
“Kalian sudah siapa?” Edwin terlihat sangat lemas. “Maafkan papah, tidak ada yang bisa Papah lakukan selain melindungi kalian semua dengan cara ini.” Edwin mengusap air matanya. Ellie memeluk Edwin yang begitu terpukul.
“Kami percaya padamu, jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi. Kita akan kuat jika terus bersama.”
“Benar apa yang Ellie katakan, bukan salahmu. Ini memang sudah harus terjadi. Kuat kalian semua, jaga satu sama lain.” Prabu mencoba tidak terlihat sedih meski setelah ini banyak hal yang harus dia urus.
“Apa sekarang kita berangkat Pah? Pesawat sebentar lagi akan berangkat.”
Pesawat......
Kemana sebenarnya kami akan pergi, bagaimana jika Abang kembali dan kami semua tidak ada di sini. Nindi mematung, dilema menyerangnya. Dia takut akan banyak hal. Ditambah perutnya yaang semakin hari semakin besar membuat emosinya tidak bisa dikendalikan. Dia sering merasa kesal tanpa sebab dan khawati berlebihan. Keringat mengucur deras karena Nindi tidak bisa mengendalikan emosinya, kepalanya sedikit berdenyut.
__ADS_1