Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Melepas Kerinduan


__ADS_3

Ivar membawa Nindi ke apartemen miliknya yang sudah lama dia beli namun jarang sekali ditempati. Nindi masih tidak bersuara, dia masih tidak percaya Ivar kini ada di depan matanya. Seperti mimpi yang selama ini Nindi bayangkan.


Sesekali air mata masih mengalir tidak terbendung, Ivar rasanya tahu betul bagaimana selama ini Nindi melalui hari-hari tanpa dirinya. Tidak perlu banyak kata-kata untuk menjelaskan, melihatnya saja sudah berhasil menyayat hati dan perasaannya.


Ivar membelai lembut pipi Nindi, mengusap air mata yang menyiratkan perasannya. “Kau pasti sangat kesulitan. Maafkan Abang Nin.” Nindi tidak tahan, dia memeluk Ivar dengan sangat erat.


Suara tangisnya kembali pecah membuat Ivar tidak bisa lagi berkata-kata. Entah apa yang membuatnya begitu menderita, Ivar hanya menunggu sampai Nindi benar-benar bisa bicara padanya. Memeluk Nindi dengan hangat agar kesedihan yang dia rasakan berangsur hilang darinya.


Nindi menangis sampai terlelap di dalam dekapan Ivar, belum ada penjelasan yang keluar dari mulutnya. Ivar hanya bisa memandangi wajah cantik yang selama ini dia rindukan.matanya sembab karena terlalu banyak air mata yang tumpah. Ivar menciumi wajah Nindi melepaskan setiap jengkal kerinduan dalam dirinya. Berharap kesulitan yang dihadapi Nindi bisa dia tebus dengan kepulangannya.


Satu jam lebih Nindi terlelap kelelahan. Kini Nindi sadar dan membuka matanya, suasana hatinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Senyum cantik yang sangat Ivar rindukan. Nindi menatap Ivar yang sedang menyiapkan makanan dari balik selimutnya.


“Apa istriku lapar?” Tawar Ivar yang tahu saat ini Nindi sudah bangun. Nindi mengangguk. Segera bangun dan merapihkan kembali selimut yang dia gunakan. Nindi merasa canggung.


“Abang....Ehhhmmm...” Bingung mau mulai dari mana. Nindi menggaruk punggungnya merasa bimbang dan sedikit aneh.


“Katakan sayang, kenapa istriku terlihat kebingungan?” Ivar membawa Nindi duduk di meja makan. Matanya tidak lepas memandangi wajah Ivar. Sedikit berkaca-kaca namun Nindi tahan, dia sangat lelah menangis seharian.


“Ak...aku masih ingin memeluk Abang.” Nindi memeluk Ivar yang berjongkok di depannya. “Aku sekarang yakin abang benar-benar kembali.” Ivar tersenyum membelai surai Nindi.


“Kenapa? Nindi tidak percaya Abang akan kembali?” Tidak ada jawaban. “Kenapa begitu sedih sayang? Abang sudah berjanji akan kembali, Abang pasti tepati janji Abang sayang.” Nindi hanya mendengarkan.


Cukup lama akhirnya Nindi angkat bicara. “Nindi takut dia lahir tanpa melihat Abang. Nindi hanya takut nasibnya sama dengan Nindi.” Air matanya kembali lolos. Ivar masih mencoba mencerna ucapan yang baru saja dia dengar.


“Apa maksud Nindi?” Ivar mengusap perut Nindi yang sedikit menonjol. Nindi mengangguk haru. “Ya Tuhan....” Kini Ivar yang terisak. Kebahagiaan yang tidak bisa lagi Ivar ungkapkan dengan kata-kata.


“Karena itulah Nindi terlihat berisi! Abang kira Nindi bahagia hidup tanpa gangguan Abang.” Nindi melotot tidak percaya. “Jangan marah sayang.... Abang hanya salah sangka saja.” Ivar tidak berani melawan istrinya yang tengah hamil muda, tangannya masih saja mengusap perut Nindi tidak mau berpindah. Nindi sendiri merasa nyaman dan tidak menolak.


Selesai dengan drama kehamilan, Nindi segera menikmati makanan buatan Ivar yang sangat dia rindukan. Nindi begitu lahap menikmati setiap suapan yang Ivar berikan, tersenyum dengan hangat seperti mendapat hadiah besar dalam hidupnya.


“Pelan-pelan sayang, tidak ada yang ambil makananmu. Cepat-cepat nanti malah kesedak sayang.” Ucap Ivar gemas sambil merapihkan rambut Nindi yang sedikit berantakan.


Selesai makan Ivar membawa Nindi duduk di pangkuannya di ruang tengah, menikmati wangi tubuh Nindi yang sangat dia rindukan. Nindi memejamkan matanya meresapi rasa nyaman berada di pelukkan Ivar.


Aku tidak akan lepaskan, aku merindukan aroma tubuh Abang setiap malam. Aku akan menikmatinya sampai aku puas. Monolog Nindi yang sedang bahagia.


“Apa sangat berat 3 bulan ini Nin?” Nindi mengangguk. “Aku meninggalkanmu saat sedang dalam keadaan awal kehamilan. Pasti begitu berat ya Nin?” Nindi mengangkat kepalanya.


“Aku tidak sendirian, ada Papah Mamah, Kak Edel dan Mas Ayman. Mereka semua menjaga Nindi. Teman-teman Nindi di kantor juga sangat baik. Termasuk Gunar.” Kening Ivar berkerut mendengar nama Gunar.


“Jangan dekat-dekat Nin, kan kamu tau Abang tidak suka.” Ucapnya dengan nada sedikit kesal. Tapi ada rasa terimakasih karena mereka semua perduli pada Nindi.

__ADS_1


“Mau bagaimana lagi, mereka semua baik karena sayang Nindi Bang. Nindi malah bersyukur ada mereka semua saat Nindi benar-benar butuh suport Bang.” Ivar kali ini tersenyum.


“Iya, Abang akan berterimaksih pada mereka semua.” Ivar memeluk erat tubuh Nindi. Menciumi kepala Nindi berulang kali.


“Apa kita tidak sebaiknya pulang? Mereka semua pasti sangat ingin bertemu Abang.” Ivar malah menarik Nindi lebih dalam ke pelukkannya.


“Tidak hari ini, Abang sudah kirim pesan ingin berdua dengan Nindi. Sehari ini saja, besok kita pulang.” Sebesar itu kerinduan Ivar.


“Kapan Nindi periksa kandungan? Abang ingin lihat.” Nindi menghitung dengan jari-jarinya yang lentik.


“Sepertinya satu minggu lagi jadwal kontrol ku.” Tersenyum menatap Ivar. “Biasanya Papah dan Mamah yang akan selalu antar Nindi, seperti mimpi jika Abang yang antar Nindi cek up.” Ivar menangkup wajah Nindi dengan kedua tangannya.


“Terimakasih sudah percaya pada Abang ya Nin, terimakasih sudah merawatnya dengan baik sayang.” Nindi tidak mau lagi menangis meski matanya sedikit berkaca-kaca.


“Abang juga, terimakasih sudah kembali dengan selamat. Nindi sangat rindu Abang.” Ucapnya membuat Ivar sangat bahagia.


Karena lelah keduanya terlelap bersama. Kini tidak ada lagi yang Nindi khawatirkan, pujaan hatinya sudah kembali dengan selamat. Ivar begitu mencintai Nindi melebihi dirinya sendiri, melihatnya berbadan dua membuat Ivar begitu sulit melepaskan tangannya meski hanya sebentar saja.


***


“Papah......Mah....Pahhh...” Edwin dan Ellie keluar kamar mendengar suara teriakan Edel yang membahana.


“Pelan-pelan Nak, Jason baru saja tertidur.” Ellie membawa Edel ke ruang keluarga agar suaranya tidak mengganggu Jason yang tidur di kamarnya.


Ellie menangis haru, melihat Putra tercintanya berhasil pulang dengan selamat. Kini perasaan sedihnya menguap, perasaannya lega melihat foto yang Ivar kirimkan dengan sangat akurat menggambarkan keadaannya saat ini.


“Dia bahkan tidak pulang, dia membawa Nindi karena dia bilang sangat rindu padanya.” Edel sedikit kesal. Biasanya tujuan utama Ivar saat pulang adalah dirinya.


“Kau tidak boleh cemburu Nak, kau dan Ayman juga sama. Biarkan saja, mereka butuh waktu berdua melepas rindu.” Bela Ellie yang bahagia meski Putranya tidak langsung pulang ke rumah.


“Papah yang akan jemput Hanna. Kalian istirahat saja yah.” Edwin meninggalkan Ellie dan Edel yang masih berdebat akan sikap Ivar.


Rama menjemput Hanna dengan perasaan bahagia, kini mereka akan segera kembali ke rumah besar karena masalah yang mereka hadapi sudah berhasil Ivar dan Prabu selesaikan. Edwin masih menunggu kabar dari Prabu agar saat kembali semuanya aman terkendali.


“Opah.....” Teriak Hanna sambil melambaikan tangan dari lantai 2 saat melihat Edwin berdiri diantara Ibu-Ibu yang menjemput Putra Putrinya di halaman sekolah.


“Siapa Han?” Tanya Lula yang berjalan bersama dengan Hanna.


“Itu Opahku, ayo aku kenalkan.” Ajak Hanna dengan semangat.


“Kau bilang dulu tidak punya Kakek dan Nenek, kok tiba-tiba punya?” Tanya Lula sedikit heran.

__ADS_1


“Panjang ceritanya, intinya sekarang aku punya Opah La. Sama kaya Mbah Kakung kamu yang suka datang kalau sedang liburan.” Lula hanya mengangguk sambil mengikuti langkah Hanna.


“Opah...kenalkan ini Lula, teman Hanna yang sering Hanna ceritakan.” Lula mengulurkan tangan dengan sopan. Edwin menyambutnya dengan hangat.


“Lula sangat cantik, Lula pulang di jemput Nak?” Lula menggeleng.


“Lula kenapa diam saja!” Bisik Hanna. Lula sedang memperhatikan Edwin dari atas sampai bawah.


“Lula biasa pulang jalan kaki Opah.” Lula menunjuk ke arah belakang sekolah. “Rumahku tidak jauh masuk ke dalam gang sana Opah. Dulu Hanna juga tinggal di sana.”


“Apa mau Opah antarkan?” Lula menggeleng sungkan.


“Tidak usah Opah, Lula jalan saja.”


“Tidak papa La, Opah aku baik tau.” Hanna berbisik namun masih terdengar oleh Edwin. “Nanti kita minta es cream yah.” Lula menatap ragu namun akhirnya setuju.


"Hayo bagaimana?" Ledeknya Edwin yang melihat wajah Lula sedang berfikir keras.


“Kalau tidak merepotkan Lula mau Opah.” Edwin tersenyum sambil menggandeng tangan keduanya.


“Ayo kita segera jalan, takut keburu es creamnya habis.” Ucap Edwin sambil menyembunyikan senyumnya.


“Hanna....kau terlalu keras saat berbisik.” Hanna tersenyum. Dia menyadari kesalahannya. Lula menepuk jidatnya.


Edwin mampir ke toko es cream terdekat, membelikan Hanna dan Lula beberapa es cream kesukaan mereka.


“Apa sudah cukup?” Tanya Edwin yang ikut senang memilihkan beberapa ice cream yang terlihat sangat enak.


“Cukup Opah, kalau terlalu banyak bisa di jual lagi sama Ibuku.” Edwin ingin tertawa namun dia tahan. Anak-anak memang selalu jujur dan polos.


“Kau jangan menjelek-jelekkan Ibumu. Dasar Lula.” Edwin berjongkok di depan kedua gadis kecil yang sedang berdebat.


"Tidak menjelekkan, memang Ibu suka begitu Han."


“Tidak apa Lula cerita pada Opah, tapi tidak dengan orang lain. Bagaimanapun Lula harus menjaga nama baik Ibu dan Bapak Lula. Mengerti?” Lula mengangguk sedikit tersipu malu. Matanya melirik Hanna dengan tajam.


Edwin tahu betul bagaimana anak-anak seusia mereka ini bergaul. Mungkin sering memberikan kritik satu sama lain dan saling menceritakan aib satu sama lain tanpa pikir panjang.


“Kita makan sebentar yah anak-anak. Opah belum makan apapun.” Edwin mengajak Hanna dan Lula mampir di restoran sebelah kedai ice cream.


Hanna tidak mau makan karena dia baru saja makan di kantin sekolah, begitupun Lula. Akhirnya hanya Edwin yang makan nasi goreng seafood. Menikmati setiap suapan dengan penuh rasa syukur.

__ADS_1


Ivar sudah memberikan kabar dirinya yang saat ini selamat dan sedang membawa Nindi satu hari ini melepaskan rindu. Kebahagiaan yang tidak bisa lagi Edwin gambarkan dengan kata-kata.


Ivar berhasil melewati bagian besar yang menghadangnya, menolak keras melakukan pekerjaan kotor karena sumpahnya yang tidak bisa dia langgar. Putra kebangaan Edwin Latif.


__ADS_2