Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Tolong Aku


__ADS_3

Pagi-pagi Ivar membuat keributan karena tubuh Nindi yang tiba-tiba saja demam tinggi. Edwin dan Ellie tidak menyarankan membawa Nindi ke rumah sakit dan menghubungi Brasko agar segera datang.


Tidak lama Dokter Brasko datang dan memeriksa keadaan Nindi, memberikan infus agar Nindi bisa segera pulih dan demamnya turun. Brasko sudah terbiasa dengan sikap Ivar yang berlebihan, Edwin juga sama saja dulu.


“Apa tidak sebaiknya ke rumah sakit?” Tanya Ivar yang tidak puas Dokter bilang Nindi hanya demam biasa saja.


“Tidak Nak, dia hanya demam saja. Sepertinya kelelahan.” Jelas Brasko menekan suaranya yang sedikit kesal diberondong pertanyaan yang sama tanpa henti. “Kau mirip sekali dengan Edwin.” Lirihnya. Tersenyum mengingat sahabatnya saat muda dulu.


“Hmmmm.....” Edwin yang berdiri di dekatnya berdehem kencang. Mencegah Brasko bicara yang tidak penting di saat seperti ini.


“Jangan marah, kau dulu juga sama seperti putramu. Hehehe....” Terkekeh melihat Edwin melotot ke arahnya. Edwin berjalan beriringan bersama Brasko keluar kamar Ivar, mengantarnya setelah selesai melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.


“Nak....sebaiknya kau jangan mondar mandir atau Mamih juga bisa saja ikutan pusing. Duduk Var.” Pintanya menepuk sisi kasur di sebelahnya.


“Nindi benar tidak apa kan Mah?” Ellie mengangguk. “Aku takut ini semua akibat Nenek Hanna.” Ellie memicingkan matanya merasa salah dengar.


“Maksudmu?”


“Ivar tidak cerita karena Ivar pikir Nindi yang akan bercerita pada kalian semua. Kami bertemu keluarga Hanna di Malang.” Ivar membuang nafasnya kasar.


“Setelah itu sepertinya Nindi tidak pernah tenang, tapi Ivar tidak menyangka dengan apa yang Ivar baca semalam.” Ceritanya menggebu mengingat pesan yang dikirimkan Neneknya Hanna. Tangannya terkepal menahan emosi.


“Apa isi pesannya?” Ellie penasaran. Ivar menceritakan dengan detail, Ellie tidak kuasa menahan air matanya. “Kasihan Putriku, pantas saja Nindi sangat tertekan akhir-akhir ini Var.” Ellie meraih tangan Nindi yang masih belum juga bangun.


“Ivar tidak akan membiarkan siapapun merebut kebagiaan Nindi. Aku yang akan menjaga mereka, Ivar sudah berjanji sebelum Ivar menikahi Nindi.” Ellie mengangguk setuju, tidak ada yang berhak atas Hanna kecuali Nindi, Hanna sudah bersama Nindi dalam suka dan duka.


“Biarkan Nindi istirahat, kau hubungi Gunar supaya Nindi bisa absen hari ini.” Ellie mengingatkan kewajiban Nindi sebagai karyawan.


“Iya Mah, Mamah juga istirahat yah. Maaf Ivar membuat kalian harus repot pagi-pagi.” Memeluk Ellie sampai di depan pintu.


“Mah...kok sudah mau turun? Edel baru saja naik.” Ellie menarik tangan Putrinya agar ikut keluar. “Nindi baik-baik saja kan Var?” Ivar mengangguk dengan senyum penuh arti. Wajahnya sendu.


“Ayo turun Nak, biarkan Nindi istirahat.”


“Salam peluk cium yah buat Nindi, cepat sembuh.” Ivar mengacungkan kedua jempolnya.


Nindi masih setia memejamkan matanya di bawah selimut tebal yang membungus tubuhnya. Ivar memeluk Nindi berharap panasnya menyerap ke tubuh Ivar dan Nindi segera pulih. Ivar tertidur, dia juga kelelahan.


“Abang....!!!!!” Nindi mencoba bangun namun tangan kekar Ivar menahan tubuhnya yang berusaha untuk bangun. Matanya membulat melihat jam menunjukkan pukul 9 pagi. “Abang Nindi kesiangan, cepat lepaskan Nindi Bang.”


“Tidak, Nindi sakit dan Abang tidak ijinkan pergi ke kantor.” Masih memejamkan mata meski mulutnya menjawab Nindi.


“Nindi baru sadar selang infus masih menempel di tangannya.”


Ah...benarkah aku sakit, aku hanya merasa sedikit pusing saja. Menempelkan tangannya pada kening, ternyata benar panas tubuhnya tidak seperti biasanya.


“Istirahat sayang, aku mohon jangan pergi kemanapun.” Pinta Ivar yang kini duduk menatap wajah istrinya yang terlihat masih sedikit pucat.


“Tapi Nindi boleh yah minta tolong sama Abang.” Ikut duduk mnghadap Ivar.


“Katakan, apapun Abang lakukan demi Nindi.”


“Tolong antarkan file yang sudah Nindi buat, hari ini Nindi ada presentasi dan Nindi sudah menyelesaikannya.”

__ADS_1


“Berikan pada Abang, Abang akan antarkan.” Ivar turun dari kasur segera setelah Nindi menyerahkan flasdisc merah padanya. Kecupan mendarat di pipi Nindi.


“Abang, terimakasih ya Bang.” Ucap Nindi yang melihat Ivar keluar kamar mandi sudah rapih.


“Abang minta Bi Inah siapkan makanan ya sayang. Harus habis, kalau tidak flasdisc ini Abang campakkan di tengah jalan.” Ancamnya yang di angguki kepala oleh Nindi.


Nindi tahu Ivar hanya sedang menggodanya.


Tidak butuh waktu lama, Ivar sudah sampai di Lobby menunggu Gunar yang dia hubungi turun menemuinya.


“Pak Gunar, ada tamu.” Telpon resepsionis menyambungkan telpon ke ruangan Gunar.


“Suruh dia naik saja."


“Baik Pak.”


Setelah diberikan ID khusus tamu, Ivar segera naik ke lantai 5. Tempat dimana Gunar berada untuk menyerahkan file yang Nindi buat.


"Bisa-bisanya dia tidak mau turun dan menyuruh ku naik." Gerutunya.


Banyak mata karyawan perempuan yang memperhatikan Ivar saat berjalan menyusuri ruangan demi ruangan karena ruangan Nindi berada di ujung. Beberapa percakapan mereka membuat Ivar tersenyum dalam hati merasa tersanjung.


“Var...” sapa Gunar yang sudah menunggu di depan pintu ruangan.


“Ini File yang Nindi titipkan.”


“Padahal aku sudah membuatnya ulang, aku kira Nindi tidak membuatnya karena sakit.” Gunar tersenyum Nindi tetap profesional. Gunar membulatkan matanya karena Ivar masih berdiri.


“Permisi Pak Gun, suaminya Mbak Nindi.” Sapa Cindy yang baru saja kembali dari toilet memasuki ruangan.


"Ganjen." Celetuk Zein yang melihat Cindy senyum-senyum sendiri. Cindy hanya melengos tidak menanggapi.


“Kenapa masih berdiri? Apa ada yang masih mau di sampaikan?” Ivar melongok ke dalam ruangan terlihat penasaran dan antusias. “Kau ingin masuk?” Wajahnya kegirangan.


“Apa boleh, apa tidak mengganggu?” Tanyanya padahal sudah sangat penasaran.


“Asal kau tidak salto tidak masalah.” Gunar membuka lebar pintu ruangannya, mempersilahkan Ivar masuk dan menghapus rasa penasarannya.


“Apa ini tempat Nindi duduk?” Padahal jelas-jelas ada foto dirinya dan Hanna di sana, siapa lagi pemiliknya kalau bukan Nindi.


“Benar Kak, Nindi duduk di sini.” Jawab Mariska ramah.


“Terimakasih kalian menjadi tempat yang nyaman untuk istriku. Aku akan ingat kalian semua.” Membungkukkan tubuhnya sebagai ungkapan terimakasih.


“Kami juga senang punya sahabat seperti Nindi.” Jawab Mariska yang kebetulan memang paling heboh di sana.


“Saya pamit ya Gun.”


“Kapan kau bergabung?” Melly melirik menajamkan telinganya. Kabar-kabar burung apakah benar adanya? Penuh tanda tanya.


“Masih belum pasti, mereka tidak melepaskan orang berbakat sepertiku begitu saja Gun.” Menyombongkan diri dengan prestasinya.


***

__ADS_1


“Nindi apa yang kau lakukan?” Tanya Ellie yang bingung melihat Nindi membereskan pakaian Hanna ke dalam koper.


“Mah, aku harus segera pergi jauh dari sini. Tolong jangan halangi Nindi.” Ucapnya meracau tidak jelas membuat Ellie bingung.


“Setidaknya jelaskan sayang, Nindi jangan ambil keputusan sepihak Nin.” Ellie meraih tangan Nindi namun di tepis, Nindi kacau dan tidak menyadari tindakannya.


“Aku mohon Mah, aku tidak bisa jauh dari Hanna. Aku sudah mencobanya tapi hatiku sakit.” Nindi terisak tidak bisa lagi menahan dirinya. Memukul dadanya yang terasa sesak.


Ellie meraih tangan Nindi dan menggenggamnya erat.


“Mamah tahu perasaan Nindi Nak, tapi bukan begini kita menyelesaikan masalah sayang.” Membelai surai Nindi lembut. Dia pasti sangat tersiksa.


Ivar segera masuk ke kamar Hanna saat Edwin menghubunginya menceritakan keadaan Nindi.


Memeluk Nindi yang masih terisak tidak berdaya. “Tenang sayang.” Ku mohon Nin, bahagialah Nin. “Ada apa? Kenapa Nindi seperti ini?” Tanyanya yang ingin Nindi menceritakannya sendiri pada Ivar.


“Tolong aku Bang, tolong bawa aku dan Hanna pergi jauh dari sini. Supaya tidak ada yang menemukan kita.” Matanya sembab dan merah. Air mata masih tidak mau berhenti.


“Kenapa kita harus pergi?” Tanya Ivar dengan nada lembut. Mengusap air mata yang membasahi wajah Nindi.


“Jangan biarkan mereka membawa Hanna, aku sudah mencoba hidup tanpa Hanna, aku tidak kuat. Aku kesakitan. Aku mohon tolong aku.” Makin terisak di pelukkan Ivar.


Ellie menangis mendengar Nindi bicara seperti itu, alasan mengapa Nindi bersikap cuek selama ini karena dia ingin mencoba hidup tanpa kehadiran Hanna.


“Tidak akan ada yang boleh mengambil Hanna dari kita. Abang akan melindungi kalian, Nindi lihat Abang!” Nindi yang masih terisak mencoba mengangkat kepalanya. “Nindi percaya Abang?” Ivar mengusap air mata Nindi yang membuatnya sakit.


“Abang tolong Nindi Abang.” Memohon pada Ivar. Otaknya masih tidak bisa Nindi kendalika .


“Tanpa Nindi minta Abang akan melindungi kalian, Nindi percaya saja pada Abang. Abang akan selalu melindungi keluarga kita.” Mendengar ucapan Ivar, Nindi mulai sedikit tenang. Nindi menyodorkan ponselnya pada Ivar.


Nin....Ibu sudah jalan ke Jakarta. Semoga Nindi bisa berlapang dada menyerahkan Hanna pada Ibu ya Nin. Sampai berjumpa di Jakarta ya Nin.


Isi pesan yang berhasil membuat Nindi kalang kabut karena tidak sanggup kehilangan Hanna.


“Tidak akan terjadi, disini kami semua akan melindungi kalian berdua. Tidak hanya aku, ada Papah, Mamah, Kak Ayman dan Kak Edel. Kami semua sayang Hanna, mana mungkin kami membiarkan mereka yang Hanna tidak kenal membawanya.” Nindi merasa aman, setidaknya akan banyak orang yang membantunya menjaga Hanna.


“Kamu tidak sendirian sayang, kami semua selalu akan menjaga kalian.” Ucap Edwin yang memeluk Ellie yang berdiri di samping Ivar.


“Maaf karena aku dan Hanna selalu menyusahkan kalian semua.” Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan rasa terimakasih Nindi.


“Kau dan Hanna sangat berarti bagiku Nin, melihatmu menangis membuat Abang merasa sangat lemah. Abang tidak berdaya sayang.”


“Maaf Abang....maafkan Nindi, aku tidak kuat menghadapi semua ini sendiri.” Nindi menyesal tidak terbuka pada keluarganya sejak awal terutama Ivar. Dia banyak menyalahkan dirinya.


“Tidak sayang, jangan minta maaf. Abang yang berterimaksih karena Nindi percaya pada Abang sekali lagi. Terimaksih Nin.”


“Maaf karena aku beberapa hari ini tidak memperhatikan bayi kita. Nindi janji tidak akan mengulanginya.” Ivar kini tersenyum, dia ternyata sadar akan kesalahannya.


“Benar yah, jangan buat Abang menaikan suara Abang lagi, Abang sangat tidak suka membentak Nindi.” Nindi mengangguk mengingat sikap Ivar yang tersulut emosi menghadapinya tempo hari.


Edwin dan Ellie lega anak-anaknya hidup dengan rukun, tidak ada yang lebih membahagiakan orang tua selain melihat anak-anaknya sehat dan hidup dengan baik. Mereka berhasil menjadi orang tua.


“Bawa Nindi istirahat Var, dia belum sepenuhnya pulih.” Ivar segera membawa Nindi ke kamarnya seperti perintah Edwin.

__ADS_1


Sedangkan Ellie kembali mengemas baju-baju Hanna ke dalam lemari, menciuminya tidak rela jika ada yang membawa Hanna pergi dari rumahnya. Kehadiran Hanna seperti mentari pagi, menghangatkan.


__ADS_2