Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Hujan


__ADS_3

Hujan tidak mereda, dia semakin lebat seolah sedang merasakan kesedihan yang Nindi rasakan. Suaranya bahkan membuat Nindi semakin dalam terlarut dalam perasaannya. Sedih, kesal dan takut bercampur menjadi perasaan yang sangat menyedihkan.


Apa jika aku berteriak akan keluar semua perasaan ini dari dalam dadaku. Apa akan ada orang yang mendengarnya?


Nindi menengok kanan kiri yang sepi. Dia seorang diri di tengah hujan seperti tidak memiliki siapapun yang akan membawanya pergi dari sana. Menggeleng tidak percaya pada apa yang dirinya pikirkan saat ini. Mencoba mengatasinya dengan mengatur nafasnya agar lebih tenang.


Semua baik-baik saja saat dirinya sibuk, namun berdiri seorang diri hanya ditemani hujan membuatnya merasakan kesedihan yang sudah menumpuk sejak pagi tadi. Air mata tiba-tiba saja tidak bia dia bendung. Nindi menutup wajahnya dan menangis sendiri.


“Paman, apa Tante sudah pulang?” Tanya Hanna yang tidak kunjung melihat Nindi.


“Kita cari yah, sepertinya Tante Nindi belum jauh.” Ivar bergegas.


Ivar mencari ke kanan dan ke kiri sambil mengemudikan mobilnya, jalanan menjadi gelap karena kabut dan derasnya air hujan. Dia berhenti saat melihat Nindi yang duduk seorang diri di halte.


Disana rupanya kau Nin. Kenapa kau menangis di tengah hujan seperti ini. Apa aku begitu besar menyakitimu? Apa hatimu terluka karena diriku?


Ivar tiba-tiba ragu untuk mendatangi Nindi. Dia ikut terluka melihat Nindi menangis seorang diri. Ivar sudah berjanji akan membuatnya bahagia, namun kenyataan seperti ini tidak bisa dia hindari. Ivar sering melupakan setiap ucapannya pada Nindi. Dia bahkan sering lupa janji yang dia buat sebelum menikah.


“Paman, itu Tante Nindi. Cepat jemput Tante. Di luar pasti sangat dingin.” Hanna merasa khawatir. Hanna takut Nindi jatuh sakit.


“Hanna tunggu di sini, Paman akan jemput Tante Nindi yah!.” Biarkan saja jika saat ini Nindi membencinku. Aku akan berusaha menebus kesalahanku padanya.


Nindi yang menutup wajahnya tidak menyadari kehadiran Ivar. Dirinya masih tenggelam dalam emosi yang berhasil dia keluarkan lewat air matanya. Ivar mengusap kepala Nindi dengan lembut.


Wajah cantik yang kini berlinang air mata menatap mata Ivar. Nindi kembali menunduk tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia berpikir kehadiran Ivar hanya khayalannya belaka. Nindi menyentuh tangan Ivar untuk meyakinkan dirinya. Jantungnya berdegub sangat kencang melihat Ivar benar-benar ada di hadapannya. Dia benar-benar ada di depan matanya.


Ivar berjongkok di hadapannya. Senyum yang biasa Nindi lihat kini hadir di wajah tampan Ivar. “Kenapa kau menangis?” Ivar mengusap air mata yang membasahi pipi Nindi. “Apa aku menyakitimu?” Nindi masih menunduk tidak tahu harus menjawab apa.


sebenarnya apa arti dari air mataku saat ini? Kenapa hanya ada perasaan sakit tanpa tahu apa penyebabnya.


Ivar menciumi tangan Nindi dengan lembut. Wanita baik hati yang sangat Ivar cintai melebihi dirinya sendiri. Nindi berusaha tidak menangis di depa Ivar, namun tidak berhasil. Dirinya semakin merasa sedih melihat bagaimana Ivar memperlakukannya. Bagaimana mungkin Nindi bisa membenci laki-laki yang sudah menyelamatkan hidupnya dan Hanna.


“Menangislah.” Ivar memeluk Nindi dengan erat. “Keluarkan semuanya agar tidak akan aku lihat lagi air mata ini.”


Hanna yang seolah sedang menonton Drama terlelap merasa bosan dan lelah. Ditambah udara dingin yang begitu nyaman membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak memejamkan matanya.


Nindi menangis tersedu-sedu di pelukkan Ivar. Meluapkan segala emosi yang membuat dirinya lemah tidak berdaya. Ivar dengan sabar menunggu dan menenangkan Nindi dengan sentuhan tangannya yang lembut. Meresapi setiap emosi yang mungkin ingin Nindi ungkapkan namun tidak bisa keluar dari mulutnya. Lewat air mata Nindi meluapkan semuanya, ditemani suara hujan yang seolah menemani Nindi agar tidak menangis seorang diri.


“Maafkan aku.” Ucapan pertama kali yang Ivar dengar setelah Nindi cukup tenang.

__ADS_1


“Kenapa minta maaf? Aku yang seharusnya mengucapkan maaf padamu Nin.” Ivar duduk di sebelah Nindi.


“Aku bersalah karena mengira yang bukan-bukan pada Kak Ivar. Aku kira Kakak sudah tidak lagi mau bicara padaku.” Tidak berani menatap mata Ivar.


“Kenapa kau berfikir seperti itu?” Ivar bicara sambil mendekap Nindi di pelukkannya. Rasanya tidak rela melepaskannya.


“Kakak pergi begitu saja pagi tadi. Aku kira Kakak masih marah padaku karena aku bicara keras pada Kak Ivar semalam.” Nindi menyesali suara tingginya pada Ivar semalam.


"Aku hanya terburu-buru saja tadi, tidak ada maksud mengabaikan siapapun."


"Benarkah?" Ivar mengangguk. "Tetap saja aku ingin Kakak memaafkan ku."


“Tidak Nin, aku yang belum minta maaf padamu. Aku menyesal karena menuduhmu yang bukan-bukan. Aku hanya merasa takut dan khawatir saat tahu kau dan Hanna tidak bersama bagas. Aku malah menolong Luna dan meninggalkan kalian berdua.” Ivar merapihkan rambut Nindi dengan jemarinya.


“Tapi Luna memang butuh pertolongan. Tidak ada salahnya. Kak Ivar berbuat hal yang benar.” Nindi tidak keberatan jika Ivar harus membantu Luna.


“Tetap saja akhirnya aku malah menelantarkan kalian berdua. Aku tidak akan pernah mengulanginya. Aku tidak mau melihat kalian bersama orang lain. Sepertinya semua sudah cukup jelas, kita hanya salah paham.”


Nindi mengangguk, senyum kembali menghiasi bibirnya yang ranum. “Apa terlihat habis menangis?”


“Menyembunyikannya juga percuma. Hanna anak yang cerdas, dia pasti tahu tanpa kita menjelaskannya.” Ivar membantu Nindi berdiri.


Harus ada komunikasi yang jelas agar setiap masalah bisa diselesaikan tanpa perselisihan. Semua bisa dibicarakan asal kedua belah pihak mau sama-sama memberikan kesempatan pasangannya mejelaskan duduk perkara yang terjadi. Jangan sampai masalah kecil menjadi jalan untuk pasangan tercerai berai dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi polemik kehidupan.


“Hanna tertidur. Dia pasti bosan menunggu kita.” Ivar tertawa gemas setelah memotret wajah Hanna yang terlihat sangat damai dalam tidurnya.


“Kasihan Hanna. Maafkan Tante ya Han. Aku kira tidak ada Hanna di sini.” Nindi terbawa emosi sampai tidak ingat untuk menanyakan dimana Hanna. Yang dia ingat Hanna ada di tangan orang yang tepat saat ini, Tante Edel.


“Kita makan malam di rumah saja ya sayang. Pasti Mamah dan Papah juga khawatir karen aku pergi terburu-buru pagi tadi.” Nindi mengangguk menyetujui.


Pesan masuk dari Edel


Edel : Nin, Hanna ada bersamamu?


Nindi : Iya Kak. Bersamaku dan Kak Ivar


Edel : Ok, aku sepertinya akan pulang malam. Tolong jaga Jason untukku.


Nindi : Siap Komandan!

__ADS_1


Edel : Terimakasih banyak Nin.


Nindi : Sama-sama Kakaku yang cantik


Edel membalas dengan emoticon love bertubi-tubi. Ivar memperhatikan Nindi yang senyum-senyum sendiri dari spion depan. Baru saja baikan Ivar menatap Nindi seolah ingin menerkamnya. Dia curiga Nindi berbalas pesan dengan orang yang dia tidak suka. Nindi menyadari ada sepasang mata yang mengawasinya.


“Kak Edel Kak. Dia bilang akan pulang larut malam dan memintaku menjaga Jason.” Nindi memperlihatkan layar ponselnya.


“Aku tahu, mana mungkin dengan orang lain. Tentu saja dengan Kakak sendiri kau bisa terlihat begitu nyaman.” Bicara yang sebaliknya dengan perasaannya.


Dia benar-benar harus mengendalikan kecemburuannya yang berlebihan.


Hanna menggeliat mendapat ciuman bertubi-tubi di pipinya. Paman Ivar yang pertama dia lihat saat membuka mata.


“Bangun sayang, kita sudah sampai.” Ucap Nindi yang ada di bangku belakang.


“Bukanya kita ada di luar tadi?” Hanna mengucek kedua matanya. “Apa Tante sudah tidak sedih lagi? Mamah biasanya memberikan pelukkan saat Papah sedih. Apa sedih Tante Nindi juga sekarang sudah hilang setelah Paman Ivar memeluk Tante?” Nindi terharu Hanna begitu perduli padanya. Tentu saja Hanna menyimak dengan baik apa yang dirinya dan Ivar lakukan.


“Sudah hilang, sekarang Tante Nindi sangaaaaaattttt bahagia.”


“Benarkah?” Nindi mengangguk. Ketigannya masuk. Ivar hanya tersenyum, setiap mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Hanna membuatnya sangat terhibur.


“Omah......Opah.....Jason....” Teriak Hanna menyapa dengan suaranya yang cukup keras.


“Eh....cucu Omah yang cantik sudah pulang, cepat ganti baju dan kita makan malam sama-sama yah.”


“Baik Omah.” Hanna segera ke kamarnya yang selesai direnovasi. Sekarang Hanna punya kamar tidur sendiri, Hanna sudah cukup besar untuk memiliki kamar sendiri.


Dengan persetujuan setiap anggota keluarga, Hanna harus menempati kamarnya dan tidak lagi tidur di kamar Edel ataupun kamar Nindi. Banyak hal-hal aneh yang dia tanyakan saat melihat pasangan suami istri. Dia cukup penasaran dengan kehidupan orang dewasa yang rumit.


Jason ada di kamar Nindi bersama Hanna setelah selesai makan malam. Nindi berjanji pada Edel aka menjaganya sebelum dia kembali. Jason sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Hanna dan dirinya. Sudah tidak takut lagi saat Nindi menggendongnya tidak seperti awal-awal dulu saat pertama melihatnya.


"Lucu sekali kalau aku punya bayi setampan Jason." Nindi bicara lirih namun masih terdengar di telinga Hanna.


"Bukannya Tante dan Paman sedang berusaha?" Ivar yang duduk di sofa tersenyum merasa malu sampai menutup wajahnya dengan buku yang sedang dia baca. "Paman Ayman bilang sebentar lagi Tante dan Paman Ivar akan punya bayi seperti Jason."


"Hanna, cepat lanjutkan menggambarnya. Biar cepet selesai, Hanna bilang ingin makan coklat setelah ini." Mengalihkan pembicaraan.


"Emmm...." Hanna yang asal bicara tidak mempermasalahkan saat Nindi tidak menjawab pertanyaannya. Kini tubuhnya sudah menempel lagi degan kertas-kertas yang berserakan di lantai.

__ADS_1


Nindi sempat bingung harus menanggapi bagaimana setiap pertanyaan aneh yang keluar dari mulut Hanna.


__ADS_2