
Tring….
Aku pulang sendiri, jangan menyusul karena aku sudah jalan 10 menit yang lalu.
Pesan Nindi yang membuat Ivar tercengang dan duduk lemas di kursinya.
Ivar menggaruk kepalanya heran, kenapa tiba-tiba saja Nindi mengirimi pesan seolah dirinya melakukan kesalahan. Mengetuk ponselnya dengan jari telunjuk merasa bingung. Telponnya bahkan tidak di angkat.
“Bos, ayo pulang.” Ajak Tomo yang sudah selesai membereskan berkas-berkas penting. Tidak ada jawaban dari Bosnya. “Kenapa Bos, ada yang bisa saya bantu lagi?” Memperhatikan wajah Ivar yang terlihat kebingungan.
“Tom…menurutmu kenapa?” Tanyanya menununjukkan isi pesan yang Nindi kirimkan. Tomo membaca sekilas. “Apa dia marah? Tapi kenapa? Apa kesalahanku kali ini?”
Tomo sepertinya paham, Nindi pasti marah mendengar pecakapan Ivar dengan Prabu, namun apa percakapan mereka yang membuat Nindi terlihat panik siang tadi.
“Tom…kenapa malah melamun, aku harus bagaimana? Nindi banyak bersikap aneh semenjak kehamilannya. Aku kadang sampai kewalahan Tom.” Menghembuskan nafasnya yang berat.
“Sebaiknya Bos pulang, bicara dengan Nona baik-baik dan cari tahu kesalahan apa yang sudah Bos lakukan.” Sarannya agar Ivar mau mengalah demi wanitanya.
“Hahahaha…..wanitaku memang sangat lain Tom, dia suka sekali membuat kepalaku berdenyut.” Tertawa getir. Nindi ingin dirinya paham suasana hatinya tanpa bicara. Memangnya aku ini bisa baca pikiran orang apa! Kesal Ivar yang tidak tahu kesalahan apa yang sudah dia lakukan.
Tidak lama Ivar sudah sampai rumah dan tidak mendapati Nindi, menelisik ke segala sudut rumah namun tidak menemukan keberadannya.
“Mah, dimana Nindi?” Membulatkan matanya serius.
“Loh kok malah Tanya Mamah, harusnya Mamah yang Tanya, kenapa kamu pulang sendirian. Dimana menantuku?” Ivar menelan salivannya berulang kali.
“Kau ini bagaimana Var, bagaimana bisa kamu tidak tahu Nindi ada dimana sekarang. Bagaimana kalau hal buruk terjadi? Kau ini buat orang heran Var.” maki Edwin yang tidak kalah membuat Ivar semakin kalut.
Edwin malah memakinya karena membiarkan Nindi pulang sorang diri tanpa pengawasan. Ponselnya bahkan tidak bisa dihubungi, sekarang Ivar kalut mencari ke semua nomor yang dia tahu. Edwin ikut mencoba mencari keberadaan Nindi.
Menghubungi beberapa rekan kerja dan siapa saja yang ada di ponsel mereka yang mengenal Nindi di kantor. Tetap saja jawabanya tidak ada yang tahu keberadaan Nindi ada dimana saat ini.
Ditengah kekalutannya, Nindi sampai. Wajahnya tidak bersahabat dan terlihat sembab di matanya. Ivar memeluk tanpa izin, Nindi meronta meminta Ivar melepaskan pelukkannya. Ivar sedikit terbawa emosi, kenapa wanita selalu marah tanpa alasan.
Ivar menarik paksa Nindi membawanya ke kamar.
“Duduk.” Ivar membawa Nindi ke kamar agar lebih leluasa bicara. “Sekarang katakan apa yang sudah membuat Nindi marah pada Abang. Abang tidak bisa tahu jika Nindi tidak menjelaskannya Nin.” Matanya berkaca-kaca.
“Tidak ada, aku baik-baik saja. Hanya ingin menghirup udara segar.” Ucapnya lirih, menunduk tidak mau menatap mata Ivar.
“Nindi kan bisa bicara pada Abang, mau kemana Nindi? Mau ke tempat seperti apa Hah!” Ivar berdiri bertolak pinggang. Sedikit kesal dengan sikap Nindi.
__ADS_1
“Tidak…..” Nindi mengusap air mata yang lolos begitu saja. Menutup wajahnya segera karena tidak mau Ivar melihatnya menangis.
Karena tidak mendapat jawaban dan malah membuat Nindi menangis, Ivar menyerah. Ivar memilih diam. Memeluk Nindi dengan hangat agar emosinya cepat mereda, Ivar benar-benar kebingungan. Apa yang Nindi khawatirkan sebenarnya.
Ponsel Ivar bergetar, Panggilan masuk dari Tomo.
Ivar mengabaikan dan tidak mau Tomo memberikannya pekerjaan, kepalanya pusing karena Nindi tiba-tiba menangis dan mengabaikannya.
Pesan masuk membuat Ivar penasaran ada hal penting apa yang membuat Tomo berani mengganggunya.
“Sebenarnya siang tadi aku melihat Nona Nampak sedih. Sepertinya Nona mendengar pecakapan Bos dengan Tuan Besar. Maaf aku baru bilang karena takut.” Tomo akhirnya buka suara, dirinya juga ikut cemas takut Ivar dan Nindi tidak baik-baik saja saat ini.
Ya Tuhan, inikah alasan Nindi menangis. Bodohnya, kenapa aku tidak sadar sudah menyakitinya. Dia wanita yang sangat lembut, Nindi bahkan tidak bisa bicara takut menyakiti perasaan Ivar dan memilih menenangkan diri sejenak, Ivar malah membuatnya terpancing dan kembali menangis seperti ini.
Ivar kembali memeluk Nindi sampai benar-benar tenang. Ivar mengecup berulang kali punggung tangan Nindi yang digenggamnya erat. Nindi akhirnya mengangkat wajahnya.
“Maaf Abang, Nindi selalu bersikap diluar batas.” Ucapnya yang menunduk menghindari tatapan mata Ivar.
“Kenapa minta maaf. Apa Nindi dengar pecakapan Abang danga Ayah Prabu?” Nindi mengangguk. “Nindi pasti sangat khawatir.” Ivar mendekap erat tubuh Nindi. “Jangan khawatir Nin, yang Abang takutkan hanya membuat dirimu sedih. Abang tidak berdaya jika Nindi menangis seperti ini.” Nindi mengusap air matanya.
“Aku takut.” Ucapnya lirih. “Aku ingin Abang meninggalkan pekerjaan Abang yang berbahaya. Tolong.” Rengeknya manja membuat Ivar tersenyum. Nindi heran kenapa Ivar malah tersenyum.
“Bisa tidak jangan semanis ini pada Abang? Abang tidak kuat Nin.” Nindi yang sudah tenang memeluk Ivar dengan erat. Suaminya tidak bersalah, dia hanya dihadapkan dengan pilihan yang sulit.
“Sekarang ayo kita makan. Jangan biarkan Baby kelaparan sayang.” Membawa Nindi turun untuk makan malam.
Edel dan Ellie berpakaian rapih menenteng tas mahal miliknya masing-masing.
“Mamah dan Kak Edel pergi keluar sebentar ya Nin, Titip Jason yah. Dia sedang main dengan Hanna di kamar.” Nindi mengangguk menyanggupi permintaan kedua wanita kesayangannya.
“Kalian inilah, menyusahkan istriku saja.” Teriak Ivar yang di balas ejekan oleh Edel.
Selesai makan Ivar mengantar Nindi ke kamar Hanna, dirinya kembali ke ruang keluarga menemani Edwin yang sedang duduk sendiri di sana. Bercerita banyak hal yang Ivar alami selama menekuni pekerjaan barunya.
Edwin bangga karena Ivar banyak berubah, tidak sekaku dulu dan lebih sering tersenyum. Wajahnya semakin tampan. Batin Edwin yang sedang bangga dengan putra kesayangannya.
Di sela obrolan hangat ponsel Edwin berdering, nomor tidak dikenal yang Edwin abaikan, setelahnya nomor yang sama menghubungi ponsel milik Ivar.
“Aku angkat, takutnya penting Pah.” Edwin mengangguk, entah kenapa tiba-tiba saja jantungnya berdebar begitu kencang. Ivar berdiri sedikit menjauh dari sofa.
Prannnkkkkk
__ADS_1
Firasat apa ini, Ivar mematung setelah ponselnya terjatuh. Matanya membulat tidak berkedip sedikitpun. Edwin bahkan tidak berani bertanya apa yang terjadi. Mencoba berfikir setenang mungkin agar tidak ada keributan.
Mendeka ke arah Ivar, menuntun Ivar duduk dan memberinya air putih agar lebih tenang. Tangannya gemetar saat memegang gelas yang Edwin berikan.
“Tenang Nak, katakana perlahan.” Pintanya yang saat ini sedang ketakutan sama seperti Ivar, rasanya tidak sanggup jika harus mendengar kabar buruk.
“Mamah dan Kak Edel……” Menarik nafas sebelum melanjutkan ucapannya, menelan salivannya dengan susah payah. “Mereka kecelakaan.” Ivar menangis di pelukkan Edwin yang juga akhirnya menangis. “Aku tidak bisa hidup tanpa mereka Pah, apa yang terjadi…” Racaunya dalam dekapan Edwin. Meski kaget, Edwin bersikap begitu tenang di depan Ivar. Mencoba menyalurkan energy positif pada Putranya yang sangat kalut.
Edwin memeluk erat Putranya yang pasti sangat hancur, dirinya harus terlihat baik-baik saja. Ivar sangat butuh dirinya yang tenang agar tidak bersikap gegabah.
“Sekarang ada dimana mereka?” Ivar meberitahu dimana mereka dibawa.
Segera Ivar dan Edwin pergi menuju rumah sakit tanpa memberitahu Nindi dan orang rumah lainnya. Mereka sedang kalut dan bingung. Tidak bisa berpikir dengan jernih.
Nindi yang baru sadar suasana rumah sangat sepi mencoba mencari keberadaan suami dan Ayahnya. Mencoba menghubungi ponsel mereka berdua namun tidak ada yang menjawab. Nindi berjalan ke luar mencoba mencari tahu.
Pak Udin yang melihat Nindi berjalan menuju pos lari tergopoh mendekati Nindi. Menuntun majikannya yang terlihat kesulitan berjalan dengan perutnya yang sudah terlihat berat.
“Hahahaha….Pak Udin inilah sama saja seperti Abang, memangnya Nindi ini jompo apa Pak.” Herannya pada semua pria di rumah ini yang bersikap berlebihan pada wanita hamil.
“Bukan begitu Non, supaya aman Non.” Jawabnya dengan wajah lucunya. “Nona mau kemana?” Nindi yang sudah selesai tertawa segera berwajah serius.
“Pak Udin tahu tidak Abang dan Papah pergi kemana?” Pak Udin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bicara menatap langit biru.
“Tadi naik mobil Non, tapi tidak bilang mau pergi kemana.” Jawabnya yang membuat Nindi cemberut, tidak biasanya mereka berdua pergi tanpa ijin.
“Ya sudah, Nindi kembali ke dalam ya Pak. Eittsss…..bisa sendiri.” Pak Udin mengurungkan niatnya yang hendak membantu Nindi berjalan.
“hati-hati Non.” Teriaknya yang di acungi jempol oleh Nindi tanpa berbalik.
“Kenapa Tante? Kenapa wajahnya terlihat gelisah?” Mata Hanna membola, si paling tidak bisa melihat Nindi gelisah.
“Han, menurut Hanna Paman dan Opah kemana yah? Kenapa mereka pergi tanpa meberitahu kita ya Han.” Hanna mengangkat pundaknya.
“Sudah coba telpon?” Nindi mengangguk dengan wajah sedih. “Mungkin sedang ada urusan penting.” Jawabnya mencoba membuat Nindi tenang.
Hanna mencium perut Nindi dengan lembut, mengusapnya memutar sampai Baby di dalam perut merespon dengan tendangan.
“Semoga tidak ada hal buruk ya Han.” Terdengar ribut-ribut di luar.
“Kenapa? Ada apa Bi?” Tanya Nindi pada semua orang yang terlihat sedih dan menangis. “Kenapa tidak ada yang menjawab. Tolong katakan ada apa?” Nindi tersisak, dirinya tidak tahu apa yang terjadi namun melihat semua orang panik membuat Nindi berpikir negatif.
__ADS_1
“Tenang ya Non, ada kita di sini.” Nindi semakin bingung. Kenapa Bi Inah bicara aneh, ada apa sebenarnya. Kenapa dirinya tidak tahu apa-apa. Kenapa tidak ada yang buka suara, rasanya Nindi seperti sedang di hianati. Menangis tanpa tahu apa penyebabnya.