Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Prasangka


__ADS_3

Ivar memegangi dadanya yang saat ini berdebar begitu kencang. Mencoba menemukan kalimat yang pantas dan tepat untuk meminta maaf pada Nindi atas kesalahannya. Meski sudah ada di depan pintu kamar, Ivar masih saja mondar-mandir kebingungan. Kalimat mana yang akan membuat Nindi luluh padanya.


“Kau masih di sini? Kenapa tidak langsung masuk saja?” Edwin bicara lirih agar Nindi yang ada di dalam kamar tidak mendengar suaranya.


“Aku bingung? Apa yang harus aku katakan? Apa Ayah punya ide?” Ivar membawa Edwin menjauh dari pintu kamarnya. “Apa yang biasa Papah katakan atau lakukan saat Mamah marah?” Ivar menajamkan matanya.


“Mamahmu sering sekali marah, sampai aku lupa bagaimana kami berbaikan. Hehehehe....” Ivar menggeleng tidak percaya. “Bagaimana kalau kau peluk saja? Ucapan yang keluar biasanya akan sangat menyentuh dan mengalir begitu saja.”


“Apa Papah yakin cara ini ampuh?” Edwin mengangguk.


“Mamahmu akan diam saja saat Papah peluk, biasanya dia tidak akan mengomel lagi saat Papah sudah memeluknya. Kau coba saja. Sudah ah, Papah mau istirahat. Papah turun yah!”


“Papah ini, kan belum ada ide-ide lain yang lebih meyakinkan.” Ivar menggaruk kepalanya yang gatal karena berpikir terlalu keras.


“Sebaiknya jangan terlalu banyak bicara, atau kau akan memperburuk keadaan dan suasana hati Nindi.” Edwin memperingatkan sesuai pengalaman hidupnya menghadapi seorang wanita jika sedang marah pada suaminya.


Ceklek.....


Pintu terbuka, Ivar mendapati Nindi yang sudah menenggelamkan dirinya di bawah selimut tebal menutupi sekujur tubuhnya.


Apa dia sudah tidur? Apa bisa tidur dalam suasana dan keadaan hati yang berkecamuk seperti saat ini? Aku bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih. Batin Ivar berperang melawan kebimbangan hatinya.


“Nin, apa kau sudah tidur?” Ivar duduk di sebelah Nindi. “Aku benar-benar menyesal. Aku harap Nindi mengerti dan mau memaafkan kesalahanku. Aku sangat takut saat tahu kau dan Hanna tidak pulang bersama Bagas. Aku takut kau dan Hanna dalam bahaya, tapi entah mengapa perasaanku berubah saat aku.....” Ivar menghela nafasnya panjang. “Aku emosi sekali saat melihat Hanna ada dalam gendongan Gunar. Meski dia menolongmu dan Hanna, aku tidak rela saat melihat laki-laki itu.” Ivar mencoba mengintip wajah Nindi yang sama sekali tidak merespon. “Nin, apa kau tidak ingin mengucapkan sesuatu?” masih tidak bersuara. “Setidaknya marahi aku jika memang bisa melepaskan kekesalanmu. Jangan diam saja Nin.”


Apa dia benar-benar tidur yah, tidak biasanya Nindi diam saja saat aku mengajaknya bicara seperti ini. Ivar mencoba menarik sedikit selimut yang menutupi wajahnya. Ternyata aku bicara sendiri dari tadi. Ivar mengusap sisa-sisa air mata yang masih membasahi wajah cantik Nindi. Dia pasti sangat terluka mendapat perlakuan kasarku, maafkan aku Nin. Aku berjanji tidak mengulanginya lagi.


Ivar memeluk Nindi dengan erat, menciumi tengkuk Nindi yang tidur membelakanginya sebagai bentuk penyesalannya yang mendalam. Tidak akan ada lagi kemarahan tanpa sebab, Ivar berjanji akan belajar mengontrol emosinya dan tidka meledak-ledak seperti orang gila.


Ivar tidak tahu saja jika Nindi juga sangat menyesal menerima tawaran Gunar untuk pulang bersamanya. Nindi hanya kebingungan karena Hanna kelelahan, dia memilih memejamkan matanya karena bingung harus bicara apa. Semua yang Ivar katakan membuat Nindi sadar, dia tidak boleh melakukan kesalahan yang bisa memancing amarah Ivar. Laki-laki yang sudah dengan sabar mau menerima Hanna dan Nindi dalam kehidupannya.


Baru saja memejamkan mata, suara ketukan pintu membangunkan Ivar yang baru saja terlelap. Melihat jam dinding dengan matanya yang masih lengket menolak bangun, dia baru saja tertidur selama 30 menit. Ivar bangun dengan langkah gontai membuka pintu kamarnya yang terkunci.


“Ivar...” Ayman menggendong Hanna yang masih terjaga. “Hanna ingin tidur di kamar Tante Nindi katanya, dia tidak bisa tidur.” Ayman terlihat sangat mengantuk.


“Benarkah!” Hanna mengangguk, mata tajamnya seolah belum melupakan kemarahannya pada Ivar. “Sini Paman Ivar gendong, Tante Nindinya sudah bobo.” Ayman meninggalkan Hanna pada Ivar. Kelihatannya suasana sudah mereda, Nindi saja sudah tidur.


“Tante...” Hanna berbisik di telinga Nindi yang masih terlelap. “Tante.....Apa Tante pingsan?” Mata Ivar membulat tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Apa Hanna mencurigainya berbuat yang tidak-tidka terhadap Nindi! Anak kecil ini benar-benar. Batin Ivar menjerit ingin membela diri.

__ADS_1


Tubuh Nindi menggeliat merasa terusik. “Tante Ninnnnnnn.....Banguuuuunnnnn!!!!!” Hanna masih berusaha membangunkan Nindi, berteriak namun pelan. Tapi Nindi masih saja tidak mau bangun dari tidurnya.


“Hanna, bukankan besok Hanna harus sekolah?” Hanna mengangguk. “Sayang, sini Paman peluk supaya Hanna bisa tidur.” Ivar memang sering menemani Hanna sebelum tidur, dia tahu kebiasaan Hanna yang ingin di peluk dan berpegangan tangan dengan orang yang menemaninya sebelum tidur.


Hanna tidak menolak, dia hanya tidak bicara sepatah katapun sejak Ivar meluapkan kemarahannya. “Paman tidak mungkin menyakiti kalian berdua. Kau dan Tante Nindi adalah separuh nyawa yang Paman miliki. Apa Hanna mengerti?” Hanna mengangguk, perlahan Hanna memejamkan matanya yang sudah snagat lelah.


Malam yang sangat melelahkan bagi setiap penghuni rumah akhirnya bisa terlewati juga. Semua orang sudah terlelap menikmati waktu istirahat yang tubuhnya butuhkan.


Mentari pagi yang begitu indah memancarkan sedikit demi sedikit cahaya memenuhi setiap ruang di muka bumi. Membangunkan setiap insan yang terlelap semalaman untuk memulai aktifitasnya yang padat.


Nindi menggeliat, melakukan peregangan ringan sebelum membuka matanya. Bibirnya menoreh senyum melihat pemandangan indah di pagi harinya. Nindi memeluk Hanna yang ada dalam dekapan Ivar. Nindi tidak menyadari kehadiran Hanna karena dia benar-benar kelelahan. Hanna pasti berpikir yang tidak-tidak, Nindi penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi sampai Hanna ada di dalam kamarnya saat ini.


“Hanna…” Nindi menciumi pipi Hanna yang menggemaskan. “Bangun sayang, kau bilang mau menggambar tugas.” Hanna menggeliat mendengar tugas yang dia lupakan.


“Sudah pagi yah Tante?” Nindi mengangguk sambil menatap mata Hanna yang sudah terbuka lebar. “Tante Nindi semalam pingsan yah?” Menggeleng sambil menahan tawanya. “Kok Hanna bangunkan Tante gak bangun-bangun. Hanna pikir tante pingsan.”


“Hahahahha….kenapa kau punya pikiran seperti itu?” Nindi mengangkat tubuh Hanna agar segera turun dari kasur. “Kau terlalu banyak bergaul bersama laki-laki dewasa Han.”


Keduanya turun ke bawah, sebelum mengerjakan tugas, Nindi membuatkan Hanna susu coklat kesukaannya. Ellie juga sudah bangun dan sedang membuat sarapan untuk anggota keluarganya dibantu Bibi.


“Cucu Omah sudah bangun?” Ciuman mendarat di pipi Hanna. “Hanna tidur sama Paman Ivar?” Hanna mengangguk karena sibuk dengan susu coklat kesukannya.


“Kok tumben Han? Kenapa memang kamar Jason? Sempit yah!” Hanna menggeleng. Hanna sedang memikirkan jawaban yang tepat. “Terus kenapa?”


“Aku ingin di peluk Tante Nindi Omah. Heheheheh….” Tawa Hanna menutup obrolan pagi yang menyegarkan.


Hanna sedang mengerjakan tugasnya di awasi Nindi yang juga sedang menyiapkan materi yang dia pelajari untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan wawancara kerja. Sudah ada dua panggilan kerja yang masuk ke emailnya.


Semoga dari kedua wawancara hari ini ada yang menerimaku menjadi karyawan di sana. Aku paling tidak punya kegiatan yang mengurangi kehadiranku di rumah ini.


“Selamat Pagi sayang.” Suara Ayman yang lembut menarik Hanna berlari ke arahnya agar mendapat pelukkan. “Awww….. Paman kehilangan Hanna. Jangan tidur di atas lagi ya sayang.” Hanna hanya tertawa saja mendengar Pamannya merajuk.


“Iya, Hanna membuat Paman tidak bisa tidur nyenyak.” Edel muncul dari balik pintu sambil menggendong Jason. “Tugasnya sudah Hanna kerjakan?”


“Sedikit lagi selesai Tante.”


“Ya sudah Hanna lanjutkan, selesai itu kita makan sama-sama yah.” Hanna kembali menghampiri kertas gambarnya yang masih berserakan di atas lantai.

__ADS_1


“Nin…Nin..” Edel melambaikan tangannya pada Nindi yang fokus sekali dengan persiapan materinya.


“Iya Kak.” Nindi bangkit menghampiri Edel. “Kenapa Kak?” Edel menarik Nindi menjauhi Hanna agar pembicaraannya tidak terdengar gadis pintar yang kritis.


“Apa Ivar pernah memukulmu?” Nindi menggeleng “Atau pernah menyakitimu sebelumnya?” Masih menggeleng.


“Tentu saja tidak Kak, Kak Ivar tidak pernah kasar padaku kecuali tadi malam. Dia seperti kerasukan makhluk halus sampai meneriakiku seperti itu.” Nindi bergidik mengingat kemaraha Ivar semalam.


“Hanna bersikeras pindah ke kamar kalian. Dia bilang takut Paman menyakiti Tante Nindi seperti dulu saat kalian baru saja resmi menikah.” Nindi menahan tawanya mengingat peristiwa pagi buta yang membuatnya malu setengah mati.


“Kau kenapa tertawa?” Edel semakin penasaran.


“Hanna hanya salah paham Kak. Dia melihat lebam di tubuhku dan mengira Kak Ivar memukulku. Hehehehe….”


“Walah Hanna ada-ada saja, aku kira dia melihat Ivar memukulimu sampai dia trauma.” Ayman ikut tertawa mendengar kelakuan pengantin baru yang membuat Hanna ketakutan.


“Maaf ya Kak. Aku jadi malu.” Nindi tersipu menahan malu.


“Hampir saja aku menahan Hanna meski dia menangis tanpa henti karena kalian bersitegang semalam. Tapi Hanna anak yang pintar, dia punya seribu satu alasan membuat suamiku menuruti kemauannya.” Ayman menorah senyum mengingat dirinya tidak bisa menolak permintaan anak semanis Hanna.


“Dia memang pandai sekali merayu.” Nindi mengenal betul sifat Hanna.


“Iya Nin, Kak Ayman sampai bersikeras ingin sekali punya anak lagi. Siapa tau saja dikasih perempuan yang semanis Hanna Nin. Hehehehe….” Padahal Jason masih sangat kecil.


Suara langkah kaki bergemuruh dari lantai atas. Ivar terlihat sangat terburu-buru sampai membuat semua orang heran.


“Ivar!!!” Teriak Ellie melihat putranya lari tidak hati-hati. “Kau bisa celaka lari-lari seperti itu Nak!”


“Ivar buru-buru.” Ivar langsung lari menuju mobilnya yang sudah di siapkan Bagas.


Semuanya tercengang, selalu saja tugas pekerjaannya datang tiba-tiba dan Ivar pergi tanpa mengatakan apapun pada semua orang. Entah dia akan pulang atau tidak dalam waktu dekat. Setiap tugas yang dia laksanakan bersifat rahasia, menyelamatkan banyak nyawa orang yang mempertaruhkan nyawanya. Beban yang begitu berat, namun Ivar tetap mencintai pekerjaan yang sudah dia jadikan pilihan.


“Tenang Nin, Ivar pasti baik-baik saja.” Hibur Edel yang melihat kebingungan di wajah Nindi. “Dia memang seperti itu jika sudah menyangkut pekerjaannya. Tapi Ivar pasti kembali dalam keadaan baik-baik saja.”


Nindi hanya bingung jika tidak ada Ivar, dirinya seolah masih sangat asing di rumah mertuanya meski semua orang bersikap sangat baik padanya, kecuali Ellie. Ditambah Ivar pergi tanpa sepatah katapun seolah mengabaikan kehadirannya. Bukankan dia sudah menyadari kesalahannya semalam?


Apa semalam hanya mimpi? Tapi tidak mungkin. Aku mendengar curahan hatinya dengan jelas. Tidak mungkin itu hanya mimpi. Atau kak Ivar masih marah padaku yah, karena suaraku sekeras suaranya semalam. Ya Tuhan bagaimana ini? bagaimana jika Kak Ivar benar-benar tidak mau melupakan perbuatanku semalam.

__ADS_1


Perasaan berkecamuk menyelimuti hati Nindi yang gundah, Ivar bahkan tidak menatap dirinya saat keluar dari rumah tadi. Dia seperti orang asing.


__ADS_2