
Nindi melingkari kalender dengan spidol merah andalannya, tangannya lemas melihat betapa banyak lingkara yang sudah dia buat semenjak kepergian Ivar. Matanya kosong menatap kesembarang arah memikirkan bagaimana keadaan Ivar saat ini.
Nindi menatap nanar perutnya yang sedikit membuncit. Nindi tersenyum sendiri melihat bagaimana kenyataan hidup yang sedang dia hadapi saat ini. Kebahagiaan dan kesedihan hadir secara bersamaan. Dunia mendadak seakan sepi tidak berwarna, Nindi seolah ada dalam bayangan gelap yang mengugkungnya.
Deru nafas seolah bisa Nindi dengarkan karena tidak ada suara bising yang mengganggunya, benar-benar malam yang sangat sunyi. Nindi memutuskan turun dari ranjangnya, matanya sulit terpejam. Berjalan menyusuri taman yang membawanya duduk di kursi taman seorang diri di tengah malam. Menatap bintang yang malam ini nampak indah bertaburan di langit gelap.
“Gas....gas...bangun apa Gas.” Satpam rumah membangunkan Bagas yang tengah tertidur di pos jaga. “Ni orang apa kebo. Tidur susah tenan di bangunkan.” Bicara sendiri karena bagas enggan bergerak dari tidurnya.
“Tak lihat, siapa yang malam-malam begini duduk di taman. Memedi apa Non Nindi.” Berjalan perlahan karena perasaan takut yang menyelimuti. “Duh Gusti, selamatkan Gusti. Masih pengen umur panjang saya ini.” Satpam yang bernama Udin berjalan mengendap-endap agar langkah kakinya tidak terdengar.
Menarik nafasnya dalam karena Pak Udin sangat takut hantu. Korban film horor. Pak Udin tidak langsung menghampiri karena takut benar Nindi dan akan mengganggunya. Pak Udin hanya memastikan saja untuk berjaga-jaga.
“Oh Non Nindi bener toh, kenapa malam-malam begini kok duduk di taman sendirian. Apa ndak kedinginan yah.” Menggelengkan kepala heran dengan kelakuan Nindi.
Buggg...
Tangan mendarat tepat di pundak Udin yang sedang mengawasi Nindi dari kejauhan. Pak Udin perlahan menengok ke belakang, memastikan tangan yang ada di pundaknya adalah tangan manusia.
Aaahhhhhh.......
Udin dan Bagas sama-sama teriak.
“Kamu kok teriak Gas. Bikin kaget orang tua saja.” Maki Pak Udin yang kesal.
“Muka Pak Udin bikin saya kaget Pak.” Jawab Bagas jujur.
“Sontoloyo, jantungan aku ni. Bagas kualat nanti ngerjain orang tua.” Bagas tertawa melihat muka Udin yang sangat tegang.
“Pak Udin ngapain di sini, ngintipin apaan Pak?” Tanya Bagas penasaran.
“Itu Mbak Nindi duduk di taman sendirian, tak kira demit.” Jawan Pak Udin sambil berlalu meninggalkan Bagas.
Bagas menatap sedih Nindi yang duduk memejamkan matanya menatap langit malam. Bagas mengirimkan foto pada Edel memberikan laporan. Edel memang meminta Bagas selalu update kondisi dan keadaan rumah selama dirinya tidak ada.
Puas memandang langit malam, Nindi kembali masuk karena udara malam yang dingin mulai menusuk kulitnya. Nindi juga tidak ingin sakit karena bergadang semalaman. Kakinya begitu enggan melangkah ke kamarnya, Nindi merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Membaca majalah-majalah usang yang masih tertata rapih di bawah meja sampai ketiduran.
Edwin yang bangun paling pagi mendapati Nindi yang tengah tertidur di ruang tamu. Menyelimuti Nindi yang meringkuk kedinginan dalam tidurnya.
“Bi Inah, Lastri. Jangan masak dulu, bereskan ruangan atau tempat lain dulu saja. Nindi sedang tidur, takut dia kebrisikan.” Cegah Edwin yang tidak mau Nindi terganggu.
“Baik Tuan.” Bi Inah dan Lastri memilih membereskan pekerjaan lain di luar rumah utama.
“Ada apa Pah?” Tanya Ellie bicara pelan.
“Husssshhhh....” Ellie membekap mulutnya. Edwin menunjuk sofa dimana Nindi sedang terlelap. Mengangguk paham sambil tersenyum.
Semua kembali ke kamar masing-maisng, tidak ada yang berani memasuki ruang tamu karena larangan keras mengganggu Nindi yang sedang istirahat.
Nindi menggeliat, sinar mentari membuat dirinya tidak bisa lagi memejamkan matanya. Perlahan Nindi bangun mendudukan tubuhnya yang sedikit pegal. Matanya melotot melihat jam yang menunjukkan pukul delapan pagi.
__ADS_1
“Ya Tuhan!!!!!!” Teriaknya sambil belari karena kesiangan.
“Kenapa Nak?” Teriak Ellie yang terkejut mendengar suara teriakan Nindi dari kamarnya.
“Aku kesiangan.....” Jawab Nindi yang sudah ada di kamarnya. Suaranya samar-samar terdengar.
Saat Nindi turun dengan rapih, Bagas sudah ada di depan pintu menunggu Nindi dengan senyum manisnya, Ellie sudah menenteng kotak bekal di tangannya dengan senyum yang tidak kalah manis.
“Ada apa?” Nindi tersenyum heran. “Apa ada yang istimewa hari ini?”
“Tidak ada, kami biasa saja. Iya kan Gas!” Bagas mengangguk saja mengiyakan. “Hati-hati di jalan Bagas, jangan ngebut.”
“Baik Nyonya.”
“Aku berangkat ya Mah.” Nindi memeluk Ellie dengan hangat. Wanita yang saat ini begitu menyayanginya dengan tulus.
Edwin muncul dan merentangkan tangannya, tidak mau kalah. Edwin juga meminta Nindi memeluk dirinya.
“Jaga anak dan cucuku baik-baik Bagas.” Pesan yang selalu Edwin sampaikan berulang kali pada Bagas.
“Baik Tuan, saya pamit mengantar Non Nindi.” Bagas sudah sangat dekat karena sikap dan sifatnya yang sangat baik. Edwin sangat suka orang-orang yang loyal dalam pekerjaannya.
***
“Kak, Nindi belum datang yah?” Tanya Cindi pada Mariska yang melihat kosong bangku Nindi.
Mariska mengangkat pundaknya tidak tahu. “Apa dia sakit ya Cin?” Tanya Mariska yang khawatir. “Aku akan menanyakannya.” Mariska mengirim pesan pada Nindi.
Nindi : Masih di jalan Kak, aku tadi bangun kesiangan.
Mariska : Ohhh.... baiklah. Aku kira kau sakit.
Nindi : Tidak Kak, aku sehat Kak. Aku sudah ijin juga pada bu Melly dan Pak Gunar datang terlambat.
Mariska : Aman kalau begit Nin.
Obrolan lewat pesan singkat berakhir. “Dia masuk Cin, Cuma terlambat saja. Dia kesiangan katanya.” Cindi menjawab dengan anggukan kepala.
“Belagu sekali anak baru sudah berani kesiangan. Tidak tau diri.” Mariska melirik sinis Zein yang nampak tidak suka.
“Dasar nenek lampir, dia juga sering datang terlambat.” Sindir Mariska kesal. Meski pelan, suara Mariska masih bisa Zein dengar.
“Katakan pada temanmu agar tau diri saat ditempat kerja, memang dia pikir ini tempat kerja milik nenek moyangnya apa!”
“Ihhhhh!!!!! Bisa yah ada orang berhati kotor seperti ini, minggir kau.” Mariska menabrakkan pundaknya ke tubuh Zein yang berdiri menantang.
“Aduhhh...duh...duh...anak berdua ini ribut saja kerjaannya.” Teraik Melly yang kesal bawahannya tidak akur. “Bisa tidak sehari saj aku tidak dengar kalian berantem.” Mariska dan Zein hanya terdiam tidak menawab.
“Biar ramai Mel, oh iya. Kita meeting sudah siap materinya kan?” Tanya Gunar yang masuk berbarengan dengan Melly.
__ADS_1
“Nindi yang bertugas membuat materi presentasi, dia sebentar lagi sampai katanya.”
“Dia terlambat?” Tanya Gunar heran memiringkan kepalanya.
“Dia sudah info ke saya dan Bapak katanya kalau hari ini terlambat.” Gunar merogoh ponsel di kantong celananya.
“Ahhh benar, dia kirim pesan ke saya juga.” Gunar tersenyum melihat pesan Nindi. Wanita yang kini jadi istri orang, padahal dirinya cinta mati pada Nindi.
Tidak lama Nindi datang dengan nafas yang sedikit tersenggal karena berlari. Nindi menyapa semua orang yang ada di dalam ruangan.
“Minum Nin.” Mariska menyodorkan teh hangat miliknya yang belum dia minum.
“Terimakasih Kak.” Nindi meneguk menghilangkan dahaga di tenggorokannya.
“Nin, materi presentasi kirimkan ke saya yah.”
Uhukkkk....uhukkkk....uhukkkkk....
Nindi baru ingat jika flasdiscnya masih tertempel di komputernya, di ruang kerja Ivar. Gunar yang melihat Nindi tersedak langsung menghampirinya.
“Mel, jika bicara lihat kondisi orang yang kamu ajak bicara.” Menegur Melly padahal dia juga tidak salah.
“Ok Pak....” Jawab Melly sedikit kesal.
“Kau tidak apa Nin.” Nindi menepuk dadanya agar cepat lega. “Pelan-pelan bisa kan, kau seperti anak kecil saja.” Semua mata tertuju pada Gunar yang sangat memperhatikan Nindi.
“Aku permisi ke toliet sebentar.” Nindi segera menghubungi Edwin agar mengirimkan Filenya melalui email. Ada-ada saja batin Nindi memaki dirinya sendiri.
Segera Edwin membantu Nindi dengan cepat, selesai mengirimkan file. Nindi segera menghampiri meja Melly memberikan sedikit penjelasan tentang materi yang sudah dia buat dengan jelas dan padat. Melly suka dan mengacungkan kedua ibu jarinya pada Nindi.
Nindi membawa bekal makan siangnya menuju kantin bersama Mariska dan Cindi, menyusul di belakangnya ada Kenzo dan Putra. Mereka berlima memang sangat akrab karena satu frekuensi.
Nindi membuka bekal makanan yang wanginya memenuhi ruangan, masakan istimewa buatan Ellie membuat Mariska dan Cindy ingin punya mertua sebaik Ellie.
“Auhhhhh....aku mau juga punya Ibu mertua yang baik seperti malaikat.” Ucap Mariska yang membuat Putra melotot ke arahnya.
“Mimpi Kau Mar, kelakuanmu saja minus. Mertuamu juga bisa sama.” Ledek Putra yang membuat Mariska mengangkat sendoknya menantang.
“iri saja kau, dasar jomblo!.” Balas Mariska yang kesal.
“Sama saya saja Mar, Ibuku baik nian orangnya.” Tawar Kenzo yang memang menaruh hati pada Mariska yang sudah memiliki pacar.
“Ini lagi jomblo kedua ikut-ikutan saja.” Mariska menjulurkan lidahnya sambil melengos.
“Sudah-sudah Kak, nanti yang lain kira sedang ada tawuran di sini.” Cindi melerai sambil ikut meledek tidak tahan diam saja.
Nindi selalu senang berada di antara teman-temannya, mereka selalu menghidupkan suasana dengan canda tawa mereka yang menghibur dan membuat Nindi lupa dengan kegelisahannya.
“Boleh saya gabung?” Kedatangan Gunar membuat semua terdiam merasa segan bercanda.
__ADS_1
“Silahkan Pak. Kita juga baru mulai makan.” Putra mempersilahkan Gunar duduk di sebelahnya. Gunar tidak bergeming, Putra mengamati kode yang Gunar sedang kirimkan melalui matanya. Untung saja Putra sangat peka. Dia bergeser mempersilahkan Gunar duduk di sebelah Nindi.
Semua makan dengan tenang, tidak seperti biasanya, Nindi hanya mengulas senyum kecil meski merasa tidak nyaman duduk di sebelah Gunar. Selama tidak melampau batas, Nindi tidak akan merasa terganggu dengan kehadiran Gunar. Dia juga sering membantu Nindi selama ini. Nindi berharap Gunar tidak lagi menaruh hati padanya.