Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Dekat Tapi Jauh


__ADS_3

Nindi memperhatikan ponselnya, berharap seseorang mengiriminya kabar atau menghubunginya secara langsung.


“Kau tidak pulang? Menunggu pangeran yah?” Ledek Mariska yang tahu Nindi sedang gelisah menunggu pujaan hatinya. Nindi mengangguk menyunggingkan senyum.


“Duluan ya Kak, aku dijemput ayang.” Ucap Cindy yang sudah lari keluar ruangan.


“Mau aku temani?” Tawar Mariska tulus.


“Tidak apa Kak, duluan saja. Takutnya aku lama.” Tolaknya dengan sopan.


“Baiklah, selamat menunggu pangeran ya Nin.” Tinggal Nindi seorang diri, semua sudah pulang lebih awal dari dirinya.


Tringgg....


Nindi girang meraih ponselnya segera.


"Pulang bersama Bagas ya sayang. Aku masih ada meeting dengan beberapa pemegang saham." Sedikit kecewa namun Nindi paham posisi dirinya.


"Tidak bisakah aku tunggu saja?" Pintanya karena dirinya ingin sekali berada di dekat Ivar.


"Sepertinya akan lama, aku sudah bilang Bagas tunggu di lobby. Hati-hati sayang."


Nindi ingin sekali merengek seperti biasanya, tapi dia takut Ivar tidak bekerja dengan baik di hari pertamanya muncul mengejutkan seluruh karyawan.


Dekat belum tentu bisa terus bersama. Gumam nya sedikit kesal.


Nindi berjalan menuju lift, langkahnya gontai karena hatinya merasa kecewa. Nindi mengintip ruang CEO yang dia lewati, dulu ruangannya selalu sepi, kini beberapa orang berkumpul dan terlihat sangat serius di dalam sana. Menghela nafasnya sambil melanjutkan langkah kakinya.


"Nona mau langsung pulang?" Tanya Bagas yang melihat wajah Nindi murung.


"Kemana ya Gas, aku lagi pengen cari udara segar. Jantungku seharian ini rasanya mau meledak Gas. Hahahaha……" Ucapnya sedikit tertawa agar Bagas tidak khawatir.


"Mau ke cafe langganan gak Non? Minum yang manis-manis biar seger Non." Tawarnya siapa tau Nindi tertarik.


"Lagi gak pengen makan Gas. Perutku mual Gas." Tolaknya yang kini mengelus perutnya.


"Ya Tuhan Non, pantas saja anak harus berbakti sama Ibunya yah, sabar ya Non." Bagas terharu melihat Nindi yang sering mengeluhkan tubuhnya yang tidak karuan rasanya. Nindi dan Bagas memang dekat karena berinteraksi hampir setiap hari.


"Bukan Baby yang buat begitu Gas, Daddy nya yang buat Mommy nya galau. Hahahaha....." Nindi tidak rela Baby di salahkan.


"Hehehe....iya Non. Jadi kemana Non?" Tanyanya lagi tidak mau tahu urusan hati Nindi lebih dalam.


"Gas, mampir ke toko Kak Edel aja yah, aku pengen ngobrol Gas." Bagas menyalakan lampu sen kiri, segera menuju tempat yang Nindi ingin kunjungi."


Nindi memejamkan matanya, mengatur emosinya yang masih tidak terkendali. Ada banyak rasa yang kini dia ingin hempaskan.

__ADS_1


Bukan kecewa, mungkin Ivar ingin memberikan kejutan, tapi Nindi tidak memungkiri hatinya tidak baik-baik saja saat ini. Perasannya tidak bisa di gambarkan dengan baik oleh Nindi.


"Tante....." Sambut Hanna yang melihat Nindi turun dari mobil.


Ada Kak Ayman juga ternyata yang sedang menggendong Jason yang tertidur.


Nindi tidak mengucapkan apapun dan hanya memeluk Hanna mengobati hatinya yang sedang tidak waras.


"Tante mau makan ice Cream?" Nindi menggeleng. "Hanna punya loh ice Cream coklat, enak sekali rasanya." Yakinnya agar Nindi mau mencoba.


"Tidak ah Han, Tante sedang tidak berselera.


"Hanna ayo ikut Paman, kita beli makanan untuk kita makan malam." Ajak Ayman yang tahu Nindi ingin bicara dengan Edel. Wajahnya sudah menyiratkan perasanya saat ini.


Nindi menyandarkan tubuhnya duduk di sofa. Bukan tubuhnya yang lelah, hatinya yang sedang sedikit sesak.


"Kenapa Nin?" Edel duduk menggenggam tangan Nindi. "Semua baik-baik saja?" Nindi mengangguk. Memejamkan matanya sebentar lalu menatap wajah Kaka Iparnya dengan lekat.


"Apa hanya aku yang tidak tahu Abang adalah CEO tempatku bekerja?" Edel tersenyum. "Kalian semua jahat." Ucapnya kesal.


"Yeah!" Teriaknya tidak terima. "Salahkan Ivar, aku sama sekali tidak ada hubungannya."


"Bagaimana bisa tidak ada hubungannya, kalian pasti tahu apa saja yang Ivar kerjakan." Mulai berkaca-kaca. "Mana boleh kalian membodohi ku seperti ini." Nindi meremas bajunya, karena menangis, dadanya terasa sesak.


"Apa kau tidak bahagia? Sekian lama kami merayunya agar mau menempati tempatnya. Tidak lagi bekerja di tempat berbahaya yang kami tidak tahu keberadaannya. Tidak bisa memastikan keadannya, kondisinya, kesehatannya." Nindi kini tersenyum dalam tangisnya. Dia juga lega.


Tidak akan ada lagi tugas negara berbahaya yang Ivar emban, tidak ada lagi hubungan jarak jauh yang harus dia jalani. Terkabul sudah permintaan Nindi yang menginginkan Ivar memiliki pekerjaan wajar dan tidak membahayakn nyawanya. Nindi bahagia sangat, dirinya bisa menarik Ivar kembali.


"Semua karena kau dan Baby." Edel membelai lembut perut Nindi. "Dia sadar betapa berbahaya pekerjaan yang dia pilih."


Terisak bersama, meski sedikit ada kecewadi hati Nindi, rasa bahagia lebih besar mengisi hati Nindi saat ini. Dia akan bisa menemani Ivar sepanjang perjalanan hidupnya tanpa khawatir dengan tugas yang berbahaya mengintai dirinya.


"Jangan menangis terlalu banyak Nin, ini saatnya kita kembali pada bahagia."


"Aku benar-benar masih belum bisa percaya, aku merasa seolah ini hanya mimpi." Edel menangkup kedua pipi Nindi.


"Percayalah sayang, Ivar sangat menyayangi kalian. Dia tidak perduli dengan keselamatan ya, tapi melihat kalian dalam bahaya karena pekerjanya, dia berpikir keras dan menyesal. Dia mau berhenti karena kalian. Dia tidak mau melihat kalian sakit dan menderita."


Nindi kini mulai tenang, emosinya sudah tersalurkan, dia beruntung punya orang-orang yang selalu bisa di andalkan. Merasa lega dan bebannya sudah menguap bersama airmata yang sudah dia tumpahkan.


“Sudah bisa kami masuk?” Edel mengangguk, tersenyum pada suaminya. “Aku bawakan nasi goreng Mang Didin kesukaan Nindi.” Meletakkan bungkusan di atas meja.


“Aku makan nanti saja di rumah ya Mas, Kak. Perutku seharian ini mual.”


“Iya, tapi harus makan ya, bisa masuk angin kalau tidak makan.” Nindi mengangguk mengiyakan permintaan Edel.

__ADS_1


***


Ivar berulang kali menatap jam tangannya yang terus bergerak waktunya, mengkhawatirkan Nindi yang tidak membalas pesannya sedari tadi. Ivar kesal karena pembahasan soal perusahaan tidak ada habisnya. Rasanya ingin berteriak namun tidak mungkin dia lakukan.


Melihat Ivar gusar, Tomo Putradana yang merupakan seketrais Ivar mencoba memberikan instruksi agar rapat bisa di lanjutkan esok hari.


“Maaf Tuan-Tuan sekalian, sepertinya kita sudah menghabiskan begitu banyak waktu hari ini. Tuan Ivar juga sudah terlihat sangat lelah Tuan-tuan.” Ivar bahkan tidak melihat Tomo. Dia sibuk dengan perasannya sendiri.


“Benar yang Tomo katakan, mari kita sudahi rapat hari ini. Terlalu banyak juga otak kita bisa mengepulkan asap. Hahahha….” Gunar mengerti situasi dan kondisi Ivar yang biasa bekerja di lapangan kini harus duduk manis di kursinya sebagai CEO.


Semua setuju, membahas bagaimana dan harus melakukan apa untuk kemajuan perusahaan memang tidak akan bisa hanya satu hari di bahas dan mendapat kesepakatan yang menguntungkan. Butuh beberapa waktu dan beberapa kali pertemuan agar semua matang dan bisa berjalan sesuai dengan harapan.


“Tuan, apa perlu saya antar?” Tawar Tomo dengan sopan. Ivar menggeleng dan segera keluar dari ruangannya. Dia belum terbiasa punya sekertaris pribadi.


“Sabar Tom, Bosmu itu dulu penembak jitu. Jangan salah biacara atau kau bisa kena tembak Tom.” Ucap Gunar menggoda Tomo yang masih mematung melihat kepergian Ivar.


Tomo di pilih oleh Prabu karena selama ini pekerjaannya yang sangat bagus dan bisa selalu di andalkan, Prabu berharap Tomo bisa membantu Ivar agar bisa segera paham akan tugas dan kewajibannya sebagai CEO. Tomo punya PR besar mengajari bagaimana Ivar harus bersikap dan bekerja sebagai CEO perusahaan besar.


Ivar yang gusar segera menacapkan gas menuju rumah, ponsel Nindi tidak bisa dihubungi. Dia tidak terpikir menghubungi orang rumah atau orang lain, kepalanya pusing seharian ini harus menyesuaikan diri dengan pekerjaan barunya.


Tidak lama Ivar sampai dan langsung masuk ke dalam rumah, mobilnya bahkan di parkirkan sembarangan.


"Bagas, dimana Nindi?" Kenapa kau sudah di rumah dan Nindi tidak ada di kamarnya?" Teriak Ivar dari balkon menirukan Nindi.


"Nona di Butik Tuan, pulang sama Tuan Ayman jadi saya di suruh pulang duluan Tuan." Ivar mengangguk, dan kembali masuk ke kamar nya.


"Tuan ketularan Non Nindi, teriak-teriak mirip orang kampung macam kita." Ucap Pak Asep Tertawa.


"Iya mirip Nona, rumah jadi lebih ramah sama orang-orang kecil macam kita." Ucap mang Udin menimpali.


"Iya, dulu seperti tidak ada kehidupan, sepi. Sekarang seneng liat pada kumpul pada sehat." Bagas menyambung tidak kalah senang.


Ivar duduk dengan wajah kesal nya di ruang tamu setelah membersihkan diri, mencoba menghubungi Nindi yang tidak memberinya kabar keberadaannya dan ponselnya masih tidak bisa terhubung.


"Gak makan dulu Nak?" Tawar Ellie yang sudah duduk di meja makan bersama sang suami.


"Nanti saja tunggu Nindi." Wajahnya masih kusut.


"Bagaiman hari pertama kerja? Kerasan tidak Var?" Edwin penasaran.


"Ivar senang, akhirnya bisa selalu berada di sisi Nindi." Senyumnya mengingat wajah terkejut Nindi saat melihat dirinya. "Tapi aku rasa Nindi kesal." Tapi Ivar melihat senyum di wajah Nindi. Ivar tidak bisa membaca isi hati Nindi.


"Wajar saja, kau tidak jujur padanya, malah menyuruh kita ikut merahasiakannya." Ellie menggeleng merasa tidak enak hati dengan Nindi.


Semua memang ulah Ivar, dia yang tahu Nindi melamar kerja kesana kemari dan dia malah diterima diperusahaan yang Ivar miliki sahamnya paling besar di sana. Ivar awalnya ingin tertawa dan memberi tahu Nindi, namun dia tidak tega jika harus melihat wajah kecewa Nindi.

__ADS_1


Sudah lama Ivar diminta mengisi segerea jabatannya sebagai CEO, namun dirinya masih betah melakukan pekerjaannya yang memiliki resiko begitu besar. Ivar suka saat bekerja melakukan misi penyelematan, ada kebangaan dalam dirinya yang tidak bisa digambarkan.


Prabu yang selama ini sering mengisi kekosongan perusahaan, hanya segelintir orang yang tahu siapa pemilik perusahaan sebenarnya, Prabu hanya membantu Ivar mengembangkan perusahaan dengan baik, kini tanggung jawabnya sudah selesai karena Ivar sudah mau menduduki posisinya sebagai CEO sebenarnya.


__ADS_2