
“Non, tolong Nona duduk dulu Non. Istirahat sebentar Nona, Bibi Mohon.” Pinta Bi Inah yang mendapati Nindi penuh peluh namun tidak kunjung berhenti memasak. Membuat adonan macaroni panggang kesukaan keluarganya.
“Ini hanya keringat Bi, Nindi baik-baik saja Bi.” Masih bisa tersenyum padahal kedua asisten rumah tangga yang membantunya sedang ketar ketir.
Sesekali Bi Inah melihat tangan Nindi yang memukul pingganya. Pasti baik-baik saja yang dia ucapkan adalah kebohongan agar Bi Inah tidak khawatir.
“Biar Bibi yang lanjutkan ya Non, Nona sudah capek pasti.” Nindi menolak bantuan yang Bi Inah tawarkan. Dirinya ingin mempersembahkan makanan enak nan bergizi untuk orang-orang terkasihnya.
“Gak Bi, Nindi saja.” Sedikit keras menolak.
Akhirnya Bi Inah memilih membiarkan Nindi melakukan apa pun yang dia inginkan. Rumah menjadi suram, anak-anak lebih sering menghabiskan waktu bersama pengasuh dan Nindi selalu menyibukkan diri di dapur. Mencari kesibukan karena dirinya tidak diberikan banyak kebebesan.
Ivar, Edwin dan Ayman sering sekali pulang larut malam. Menghabiskan banyak waktu dengan pekerjaan dan menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan yang menyita waktu. Rumah benar-benar kehilangan harmonis. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing dan jarang bercengkerama. Suara tawa anak-anak yang sering mengisi ruangan sirna, sepi. Rumah seperti tidak memilki gairah hidup.
Awalnya Nindi merasa gerah, dirinya emosi dan ingin sekali mengumpat semua orang agar bersikap wajar dan tidak saling cuek satu sama lain. Tapi Nindi mundur, dirinya pernah ada di posisi ini dan rasanya sangat menyakitkan.
Kini Nindi malah mencoba menjadikan dirinya sama dengan yang lain. Tidak mau perduli agar tau rasa yang mereka pendam. Sakit, sungguh mengerikan. Tapi Nindi mencoba bertahan dan membiasakan diri dengan kesunyian.
Nindi seringkali menangis seorang diri, tidak mudah menghadapi situasinya saat ini. Memberontak dan meminta mereka bersikap sewajarnya juga tidak bisa dirinya lakukan. Nindi takut malah semakin menyakiti perasaan keluarganya.
Dilema, poros hidup mereka goyah. Nindi saat ini benar-benar terbawa arus, bingung harus bersikap bagaimana.
“Tante…..” Panggil Hanna yang diminta Bi Inah membujuk Nindi agar mau istirahat. Tidak merespon. “Tante Nin….Hanna ingin minta di ajari PR Matematika, ada yang Hanna tidak paham.” Pintanya yang kini berdiri di samping Nindi.
“Tunggu Han, Tante tanggung Nih.” Tolaknya dengan lembut tanpa menoleh. Mata dan tangannya sibuk dengan bahan makanan yang sedang di olahnya.
“Please….Hanna minta tolong.” Rayunya yang kini bergelayut memeluk Nindi.
“Hanna beri waktu 15 menit lagi, setelah itu Tante akan ke kamar Hanna.” Bi Inah kecewa. Nindi benar-benar tidak bisa di bujuk. Hanna pun menyerah, dirinya tidak tahu cara memaksa.
Bagaimana bisa memaksa, Nindi bicara begitu lembut meski dalam keadaan tidak baik. Tidak pernah bicara kasar dan bernada tinggi pada anak-anaknya meski hatinya perih.
“Maaf ya Bi, Hanna tidak berhasil. Tantenya belum selesai katanya.” Bi Inah hanya tersenyum getir, Biasanya Nindi tidak pernah menolak permintaan Hanna. Pekerjaan nya tidak penting selain anak-anaknya.
“Tidak apa Nona kecil. Semangat ya belajarnya.” Ucap Bi Inah menepis kesedihannya agar tidak terlihat oleh Hanna.
Ada rasa kecewa pada diri sendiri yang Nindi rasakan, tapi Hanna harus terbiasa dengan suasana rumah yang kini tidak lagi hangat. Semua di luar kendali Nindi, sungguh tidak pernah terbayang di benak Nindi selama ini. Mereka pasti sangat kesakitan, Nindi tidak tahu cara menyikapinya.
__ADS_1
Makanan sudah siap, Nindi sudah mendapat kabar ketiga laki-laki yang kini harus dia rawat sepenuh hati dalam perjalanan pulang. Meski hanya pesan singkat, Nindi merasa senang, mereka bertiga masih ingat ada orang yang menunggu mereka pulang setiap waktu.
Nindi menyempatkan menengok Jason dan Hanna yang kini tidur satu kamar bersama perawat mereka. Nilam namanya, Nindi dipaksa menerima Nilam agar tidak terlampau lelah karena kehamilannya sudah cukup besar.
Nindi yang tidak suka dengan kehadiran Nilam tidak bisa melampiaskannya pada Nilam. Dia hanya menjalankan tugasnya. Nindi sebisa mungkin menahan diri agar tidak menyakiti siapapun dengan rasa kecewanya. Memendamnya sedalam mungkin agar tidak seorang pun tahu sakit yang dirasa.
Ivar, Ayman dan Edwin tidak mendengarkan permintannya yang ingin mengurus anak-anak sendiri. Mereka tidak ingin Nindi kelelahan, namun keputusan mereka berakibat Nindi merasa tidak diberikan kepercayaan mengurus anak-anaknya sendiri.
Ivar tidak sadar Nindi banyak berubah akhir-akhir ini karena dirinya sibuk dengan pekerjaannya yang memang sangat banyak belakangan ini. Menganggap semesta nya baik-baik saja karena Nindi selalu terlihat baik di depan mereka semua.
Bi Inah yang tahu betul perubahan Nindi, tapi Bi Inah juga belum berani membuka suara. Takut keputusannya bicara dengan Ivar malah akan membuat dampak buruk menambah kesuraman rumah yang sudah sangat menakutkan.
Selesai makan mereka masuk ke kamar masing-masing. Nindi masih betah duduk di ruang tamu memainkan ponselnya. Melihat sosial media teman-teman yang sangat dia rindukan. Ivar tidak mengijinkan dirinya bekerja.
Di rumah saja. Istirahat yang banyak dan habiskan waktu bersenang-senang.
Ivar tidak menyadari pernyatannya menyakitkan hati Nindi, seolah dirinya benar-benar kehilangan kebebasan memilih ingin menjalani hidup yang seperti apa. Nindi menerima, mencoba menjadi apa yang semua orang mau pada dirinya. Meski Nindi merasa tidak nyaman menghabiskan banyak waktu seorang diri.
“Sayang….” Panggil Ivar yang ada di lantai dua, selesai membereskan diri. Nindi hanya menoleh. “Belum ngantuk?” Nindi mnegangguk. “Abang tidur duluan yah, capek sekali Nin.” Nindi mengacungkan jempolnya setuju. Tidak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Sungguh sesak, tapi Nindi menampik semua perasaannya yang tidak penting. Kembali merebahkan tubuhnya yang nyaman tidur di atas sofa. Mencoba menguatkan dirinya sendiri agar terbiasa dengan perubahan sikap semua orang.
Bagaimana Nindi tidak merasakan perubahan sikap mereka, Bi Inah saja begitu peka sampai tidak tega meninggalkan Nindi seorang diri. Hanya kebingungan harus bagaimana menyampaikan kegundahannya. Melihat Nindi saat ini, Bi Inah merasa tersiksa.
“Non….” Nindi yang terpejam membuka matanya. “Bibi buatkan susu coklat, Nona minum dulu ya Non. Pasti Baby nya suka Non.” Meletakkan gelas yang di bawa hati-hati. Membantu Nindi yang berusaha duduk menopang punggungnya.
“Bibi kenapa belum tidur?” Melihat jam besar yang terpasang di sudut ruangan.
“Sudah malam loh Bi.”
“Bibi belum ngantuk Non, tadi nonton sinetron sama Lastri di belakang.” Padahal dirinya duduk di dapur memperhatikan Nindi dari kejauhan. Yang diperhatikan pasti tidak sadar karena sibuk melamun.
“Ya sudah, Bibi tidur yah. Jangan sampai sakit Bi.”
Seharusnya saya yang bicara seperti itu Nona. Nona harus sehat, jangan sakit Non. “Baik Nona. Bibi pamit istirahat ya Non.” Nindi kembali merebahkan tubuhnya, susunya belum di sentuh.
Tidak banyak yang bisa Bi Inah lakukan, dirinya hanya bisa memastikan Nindi baik-baik saja secara kasat mata. Meski Bi Inah tahu jiwa Nindi tidak sedang sehat menghadapi kenyataan pahit kehidupan yang mendera keluarganya.
__ADS_1
Ivar yang merasa haus tengan malam terbangun, tidak mendapati Nindi di sisinya membuat Ivar lari kalang kabut takut terjadi hal buruk pada Nindi.
Matanya menangkap sosok wanita kesayangannya tertidur pulas di sofa ruang keluarga. Lega Nindi baik-baik saja.
Perlahan Ivar melangkah menghampiri Nindi yang terlihat indah saat terlelap. Ivar merebahkan dirinya di sisi Nindi, sempit tentu saja. Membuat Nindi yang tahu Ivar ada di sampingnya membuka mata. Tersenyum meski hatinya dipenuhi rasa kesal. Tidak bisa Nindi bersikap egois meski rasanya ingin sekali sesekali berteriak mengutarakan semua keluh kesahnya. Nihil, dirinya tidak bisa melakukan hal bodoh yang dipikirkannya. Terima saja, lama-lama akan terbiasa.
“Kenapa tidur di sini Nin?” Tanyanya yang kini sedang memeluk Nindi mesra.
“Ketiduran yah?” Tanyanya lagi meyakinkan dirinya sendiri Nindi tidak sedang menghindarinya. Nindi mengangguk, Ivar lega. “Ayo ke atas sayang, nanti badan mu sakit kalau tidur sembarangan.” Pintanya lembut, Ivar merapihkan rambut Nindi yang berantakan. Menatapnya sendu.
Sedikir sekali bicara Nindi akhir-akhir ini pikir Ivar, namun Ivar berpikir perubahan Nindi hanya karena hormon kehamilannya. Dia sering berubah-ubah tidak bisa Ivar tebak.
Penuh hati-hati Ivar menjaga Nindi berjalan di tangga. Mereka berjalan beriringan namun hanya saling diam, canggung yang Nindi rasakan saat di dekat Ivar.
“Kenapa sayang? Nindi sakit? Ada yang tidak enak Nindi rasakan?” Tanyanya mencoba mencari jawaban dari rasa penasarannya.
“Tidak Bang, Nindi mau tidur.” Menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
“Kalau sakit bilang ya Nin, maaf karena Abang benar-benar sibuk belakangan ini.” Nindi tidak menanggapi. Ivar membelai lembut surai Nindi yang tergerai, merasa menyesal tidak memiliki banyak waktu. “Abang turun sebentar ya sayang, Nindi mau makan atau minum sesuatu?” Nindi menggeleng. Ivar akhirnya turun meski hatinya tidak tenang.
Keesokan paginya semua orang seperti biasa sarapan bersama sebelum pergi ke kantor masing-masing. Nindi yang jarang makan bersama, alasanya masih kenyang dan harus mengurus bekal yang harus Hanna bawa ke sekolah.
“Jangan lupa makan ya Nin, Abang jarang sekali lihat Nindi makan sarapan Nindi.” Nindi hanya tersenyum. “Nindi benar kan baik sayang? Abang….”
“Nindi baik Abang, jangan risau.” Balasnya tanpa menatap Ivar. Menahan amarah yang benar-benar memuncak entah apa sebabnya.
“Nin, Jason sudah sarapan?” Tanya Ayman yang tida melihat Putranya.
“Tidak tahu, coba tanyakan pada Nilam.”
Ivar yang tidak pernah mendengar Nindi bicara secuek itu tersentak. Merasa bersalah karena tidak memperhatikan Nindi dengan baik. Dia terluka, bodohnya Ivar tidak menyadarinya.
Nindi segera meninggalkan ruang makan. Menaiki tangga dengan cepat menghindari banyak pertanyaan yang pasti saat ini muncul di benak ketiga laki-laki yang sedang duduk bersama di meja makan.
“Sepertinya kita sudah keterlaluan, Nindi menyimpan luka Var. Aku tidak akan sanggup melihatnya menangis.” Ucap Ayman yang juga merasa bodoh.
“Aku tidak sadar, aku bodoh sekali.”
__ADS_1
Meski ketiganya sedih, Bi Inah merasa lega. Akhirnya mereka tahu keadaan Nindi yang sebenarnya. Semoga setelah ini keadaan menjadi lebih baik, semoga Nindi mendapatkan kenyamanan yang selama ini mereka berikan. Semoga rumah kembali berwarna.