
Nindi hari ini datang ke tempat kerja lebih awal, Dosennya ada yang berhalangan hadir dan jam kuliah jadi lebih sedikit. Nindi datang saat semua orang sedang istirahat sore. Hari ini Edel absen kerja karena Jason masih belum sembuh.
“Eh Nin, kamu datang lebih cepet yah?” Sapa seorang teman.
“Iya Mbak. Lagi sedikit jam kuliahnya.” Jawab Nindi sopan.
“Inget yah teman-teman, kalau kerja jangan suka cari muka. Yang sehat-sehat saja.” Sindir seorang karyawan yang punya sikap kurang ramah memang, yang lain hanya tersenyum tidak enak hati melihat Nindi.
“Jangan di ladeni. Anggap angina lalu saja.” Tentu saja tidak semua jahat, ada juga yang perduli pada Nindi seperti Mbal Lela, berbeda dengan Puji yang dari awal kedatangan Nindi sudah menaruh rasa cemburu.
Edel memang sepertinya sangat senang dengan kehadiran Nindi, dia seperti angin segar yang bisa Edel poles agar jadi orang yang lebih baik. Kebaikan Edel tidak dipungkiri setiap karyawannya. Dia sangat perduli meski kadang karyawan ada yang memanfaatkan kebaikannya.
Karena bingung harus melakukan apa, Nindi memanfaatkan bahan-bahan yang tidak terpakai untuk membuat kostum. Tentu saja atas ijin pemilik wilayah perkantoran setempat, kalau tidak Nindi takut jadi masalah. Nindi dengan telaten menjahit sedikit demi sedikit bahan menjadi sebuah topi lucu, masih banyak bahan yang sepertinya akan Nindi olah.
Lela yang juga tidak ada pekerjaan memperhatikan pekerjaan Nindi, dia yang kerja sebagai resepsionis hanya tahu daftar tamu dan cara mencari bahan-bahan ke toko demi toko.
“Nin, ajarin aku jahit dong. Kayaknya seru kalau bisa jahit sendiri.” Penasaran.
“Boleh Mbak, sini Nindi ajarin.” Nindi dengan senang hati membagikan ilmunya.
“Awas jangan terlalu dekat, nanti mukanya di ambil juga baru tau rasa kau Lela.” Puji masih saja memojokkan Nindi.
“Jangan begitu Ji, kan kita sama-sama karyawan. Jangan suka curiga.” Celetuk teman lain mencoba menasehati.
“Lah kalian ini, sudah tau buktinya kok masih saja gak mau dengar aku. Nanti kalian merasakan akibatnya.” Puji masih saja sinis.
Ternyata dunia kerja tidak seindah yang Nindi bayangkan, ada saja yang tidak suka meski Nindi berusaha menjadi baik pada semua orang, tetap saja ada yang menjulitinya. Semangat Nin, dunia tidak berakhir dengan hadirnya orang yang membenci kamu Nin.
Nindi lega bisa pulang lebih awal. Nindi menyempatkan diri mampir ke tukang sayur sebelum pulang. Sudah lama dia tidak masak, Hanna pasti suka jika Nindi memasak sup ayam. Membayangkan rasanya yang segar saja sudah membuat Nindi menelan ludahnya.
“Yeay…tante Nindi pulang.” Teriak Hanna dari jauh menyambut Nindi. Sepertinya tidak ada Ivar, Hanna bermain bersama Aisyah di halaman rumah Bu Surtini.
“Ayo kita pulang Han. Ibu Sur, terimakasih banyak ya Buk sudah menjaga Hanna.” Nindi memberikan sayuran yang dia belikan untuk Ibu Surtini yang dengan tulus mau membantu Nindi menjaga Hanna.
“Gak perlu repot-repot Nin. Pake beli-beliin ibu sayuran segala.” Meski mulut menolak tangan tetap menerima.
“Gak repot Bu, Maaf yah Nindi tidak bisa memberikan yang layak.” Senang Ibu Surtini mau menerima pemberian Nindi yang sederhana.
Nindi menggandeng tangan Hanna pulang ke rumahnya. Wajah Hanna yang begitu ceria membuat Nindi bingung. Ada apa gerangan.
“Wajah Hanna sepertinya sedang bahagia. Apa aku tidak tau sedang terjadi apa di hati Hanna?” Mencoba mengorek dengan cara yang halus.
Hanna mengangguk mantap. “Aku tadi boleh pinjam sepeda Aisyah, Damar juga memberikan kuenya tadi. Terus Kiki kasih Hanna pinjam boneka Barbienya juga.” Ternyata selama ini Hanna tidak dikasih pinjam.
__ADS_1
“Oh, kenapa mereka jadi baik pada Hanna?” Hanna menaik turunkan pundaknya sebegai jawaban ketidak tahuannya. Membuat Nindi berpikir keras.
Ada yang aneh juga sih sama semua warga sekitar, mereka jadi sangat ramah pada Nindi. Apa sebenarnya yang sedang terjadi. Memikirkannya tidak mendapatkan jawaban, Nindi memilih mengabaikannya saja.
“Mari kita makan sup ayam….” Teriak Nindi dari dapur sambil berjalan menuju ruang depan membawa panci.
“Aku suka sup ayam, Mamah sangat enak sup ayamnya.” Bicara dengan polos.
“Ini tidak kalah enak dengan masakan Mamah. Ayo kita makan.” Hanna mengangguk, tersenyum menampilkan gigi putihnya yang tersusun rapi.
“Aku juga mau makan sup ayam.” Suara Ivar dari pintu depan mengejutkan Nindi, berbeda dengan Hanna. Hanna langsung menghambur memeluk Ivar yang baru saja datang.
“Paman ayo kita makan bersama.” Mereka terlihat sangat dekat. “Ayo cepat.” Hanna menarik tangan Ivar.
“Memang boleh sama Tante Nindi.” Hanna menatap mata Nindi mencari jawaban. Nindi tersenyum merasa diancam.
“Tentu saja boleh Paman Ivar. Aku buat banyak supnya.” Bicara tanpa menatap wajah Ivar. Nindi masih ingat kata-kata Ivar yang absurd pagi tadi.
“Hanna, tadi pulang sama siapa? Maaf yah, Paman ketiduran sampai sore tadi.” Ivar menyalakan alarm dan percuma, tetap saja dia tidak bisa bangun.
“Aku pulang sama Pak Kadin.” Jawab Hanna yang sedang sibuk menikmati sup ayam kesukaannya. “Tante enak, seperti buatan Mamah.” Hati Nindi sekali lagi terenyuh, dia membicarakan Ibunya tanpa air mata. Hanna sangat kuat.
“Makan yang banyak sayang, nanti Tante buatkan lagi kapan-kapan.” Nindi jadi kepikiran kasus kecelakaan Kakaknya yang ada unsur kesengajaan. Berharap semua yang penyidik simpulkan tidak pernah terjadi. Semoga kecelakaan benar-benar murni tanpa ada campur tangan orang yang tidak menyukai keluarganya.
“Kenapa?” Ivar melihat kebingungan di wajah Nindi.
“Iya, istirahatlah. Setelah makan aku dan Hanna akan keluar mencari obat. Apa yang kamu rasakan?” Ivar memeriksa kening Nindi. Kini wajah Hanna juga tegang.
“Aku hanya pusing saja.” Hanna menatap sedih wajah Nindi.
“Ayo sayang habiskan.” Hanna mengangguk, matanya tidak menatap mangkuk supnya. Perhatiannya tertuju pada kamar yang terbuka pintunya.
“Apa Tante mau aku temani?” Bicara pada Ivar.
“Kenapa?”
“Tidak, aku kira kalau sedang sakit harus ditemani.” Logika anak kecil yang jika sakit selalu ditemani orang dewasa.
“Kenapa Hanna mau menemani Tante? Ada yang Hanna takutkan?” Ivar tau Hanna sangat khawatir.
“Aku tidak mau ditinggal lagi. Nanti aku sama siapa?” Matanya berkaca-kaca. Ivar tidak melanjutkan.
“Paman tadi melihat ada penjual rambut nenek di depan gang. Bagaimana kalau kita beli sambil mencari obat untuk Tante Nindi. Jangan biarkan dia sakit.” Ivar membuat suasana hati Hanna kembali ceria.
__ADS_1
“Mmmm….Ayo!” Teriak Hanna menirukan gaya bicara Ivar.
“Tunggu sebentar, Paman bilang dulu sama Tante kita akan keluar sebentar.” Nindi menyembunyikan wajahnya di bawah bantal. Benar saja, dia tidak sakit, hanya sedang sedih.
“Nindi.” Ivar mengusap rambut Nindi dengan lembut. “Luapkan saja semua kesedihanmu, jangan menahannya.” Terdengar isakan meski pelan. “Aku akan membawa Hanna keluar, satu jam. Saat kami kembali kau harus sudah selesai.” Ivar ingin mencium kepala Nindi tapi di urungkan. Aku bukan siapa-siapa…..!!!!
Ivar menutup pintu agar isak tangis Nindi tidak terdengar. Dia pasti sangat terpukul, melihat wajah Nindi pasti hatinya begitu perih. Ivar menahan diri agar bisa menahan diri tidak terbawa emosi. Ada gadis kecil yang harus dia jaga perasaannya.
“Ayo, kita beli semua yang Hanna inginkan.”
Yeayyyy….
Ivar memakaikan jaket dan topi agar Hanna aman. Dia sudah seperti Ayah bagi Hanna, gadis kecil yang beruntung dengan segala prahara yang harus dia lalui dengan penuh kepedihan. Senyumnya menyembuhkan luka.
***
Pagi yang sibuk dengan segala keriwehan yang terjadi. Hanna pesta kostum hari ini, Nindi sudah membuatkan gaun cantik dengan sisa-sisa bahan yang dia manfaatkan dari butik tempatnya bekerja. Topi lucu juga sudah mengiasi kepalanya. Nindi sedikit memoles wajah Hanna bak putri raja. Lucu sekali wajah Hanna dengan riasan soft layaknya anak-anak.
“Sempurna, ayo kita berangkat.” Nindi sudah menyewa bajaj tetangga hari ini, biar gak ribet dan gaun tidak rusak di perjalanan.
Ada tiga pria yang Nindi kenal memakai seragam polisi lengkap berjalan kea rah rumahnya. Senyum Hanna mengembang sempurna melihat siapa yang datang.
“Pamannnnn!!!!” Ivar mengangkat tubuh Hanna tinggi. Ada Abrar dan Ezra juga sebagai teman Ivar agar dirinya tidak malu seorang diri menggunakan seragam polisi.
“Apa yang kalian lakukan Tuan-Tuan?” Nindi tertawa melihat tingkah konyol ketiganya.
“Kami sedang libur tugas dan laki-laki ini meminta kami menghadiri pesta kostum Hanna.” Melihat wajah Hanna, Abrar dan Ezra luluh. Mereka tidak akan bisa menolak, mungkin itu yang di rasakan oleh Ivar.
Semua mata tertuju pada Hanna dan Nindi yang di dampingi tiga pria tampan dengan tubuh atletis. Senyum ditebar memenuhi ruangan pesta yang sudah ramai peserta. Hanna dengn bangga mengenalkan Paman-Paman dan Tantenya pada teman-temannya. Teman karibnya, Lula, Maura dan Glenn sudah berdiri dengan senyum ramah.
“Hanna, kau bilang sudah tidak punya Mamah dan Papah. Siapa mereka?” Mata tajam Glenn menatap ketiga pria yang sedang berbincang.
“Mereka Paman-Pamanku dan Tante Nindi.” Nama yang tidak asing tentu saja.
“Ohhhh…” Jawab ketiganya kompak.
“Bajumu sangat cantik.” Puji Maura.
“Tante Nindi bilang dia membuatnya dengan sepenuh hati.” Hanna berputar berpose seperti yang sudah Nindi ajarkan.
Ketiganya bertepuk tangan, bangga dengan sahabatnya yang datang dengan gaun terbaik tidak ada yang mengalahkan.
Acarapun berjalan dengan cukup meriah, entah apa yang merasuki ketiga pria itu. Mereka berlenggak lenggok di panggung menemani Hanna agar tampil percaya diri. Panggung jadi penuh dengan kehadiran ketiganya yang membuat semua peserta pesta kostum merasa terhibur.
__ADS_1
Hanna mendapatkan predikat kostum terbaik, bukan hanya itu. Hanna juga menang sebagai peserta terbaik di atas panggung peragaan. Ivar dengan bangga menuntun Hanna menaiki panggung dengan senyum kemenangan. Tentu saja kedua sahabat Ivar juga mengekor dibelakang Ivar dengan senyum lebar.
Sudah lama tidak melihat tawa renyah Hanna seperti saat ini, rasanya seperti obat yang mujarab bagi hati Nindi yang akhir-akhir ini terasa lemah. Hanna harus tumbuh penuh cinta, seperti Cakra merawatnya dulu. Nindi tidak akan pernah menyerah menjadikan Hanna gadis yang dipenuhi kebahagiaan.