
Ayman hari ini memilih tidak ke kantor, hari pertama Ivar bekerja dan Nindi harus tanpa dirinya mengurus anak-anak yang kini menjadi tanggung jawab Nindi sebagai perempuan satu-satunya di keluarga mereka yang tersisa.
Lelah sekali pasti yang Nindi rasakan, tapi dia selalu saja berhasil menjadi terang saat keluarganya membutuhkan cahaya. Nindi yang membuat keluarganya berdiri dengan kokoh untuk terus maju. Wanita hebat yang tidak pernah lelah menjadi kekuatan untuk keluarganya.
“Lam, nanti aku titip Jason yah. Aku harus jemput Hanna sebentar.” Nilam mengangguk paham dengan sopan. Nonna nya tidak banyak bicara sekarang, seperlunya saja. Dia jadi sosok yang lebih pendiam saat ini.
Nilam jadi ikut sungkan banyak bicara, dia tidak mau membuat Nonna nya tidak nyaman.
“Mas di rumah kok Nin.” Timpal Ayman yang berjalan menuruni tangga. Nindi menepuk keningnya saat mendengar suara Ayman, lupa sekali jika hari ini Ayman ada di rumah. “Lupa ya Nin.” Nindi mengangguk sambil tersenyum.
"Aku lupa sekali Mas hari ini di rumah. Nindi siapkan makan siang yah sebelum pergi." Ayman mengangguk, Nindi harus banyak di ajak bicara. Dia sering termenung sendirian dan membuat keluarganya khawatir. Ini salah satu alasan Ayman dirumah dulu, ingin menjaga Nindi agar tetap baik dalam pengasawaannya.
Bagaimana Nindi tidak sedih, dia dengan kesedihan yang begitu mendalam di tinggalkan sendirian dalam sepi. Dipaksa menyembuhkan lukanya sendiri karena semua sibuk dengan tugas yang mereka bilang harus segera mereka selesaikan.
Mereka menolak terlihat lemah dan berpura-pura sibuk dengan pekerjaan mereka, melupakan sosok lembut yang butuh di tenangkan.
Lupa dengan kehadiran Nindi yang sangat membutuhkan pundak untuk bersandar. Dia dilupakan sampai harus menjalani hari-hari yang suram padahal dia sangat butuh dukungan dan cinta sendirian.
Ayman mendekat, duduk dengan tenang memperhatikan wajah Nindi yang begitu cantik, adiknya yang sangat kuat dan besar hatinya. "Ayo kita jemput Hanna dan mampir ke mall untuk ajak mereka main. Hanna sudah lama tidak main ke luar." Nindi mengangguk setuju, kasihan Hanna jarang sekali di ajak jalan main.
“Iya Mas, Hanna pasti suka.” Ucapnya dengan senyum kecil yang nampak di sudut bibirnya.
"Nin...." Nindi menoleh, matanya terlihat begitu lelah. "Istirahat dulu Nin, jangan biarkan tubuh mu sakit." Nindi kembali melanjutkan kegiatannya menyiapkan makanan.
“Nindi tidak sakit, Nindi kuat.” Jawabnya masih dengan tangan yang cukup sibuk. Nindi harus lebih kuat dari yang lain, dia yang saat ini sangat di butuhkan.
“Mas bisa siapkan makanan Mas sendiri Nin.” Nindi membola, tidak suka dengan ucapan Ayman yang memintanya berhenti mengurus dirinya.
"Nindi tidak mau orang lain yang mengurus kalian. Nindi bisa urus kalian dengan tangan Nindi sendiri." Dia ketakutan mereka merasa tidak di urus setelah kepergian kedua wanita kesayangan mereka.
Nindi sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mengurus mereka dengan baik, tidak akan membiarkan mereka merasa ditinggalkan. Tidak akan membiarkan mereka merasa sendirian tanpa wanita yang selalu memperhatikan mereka dengan sangat baik selama ini.
__ADS_1
"Mas suka sekali Nindi urus seperti ini. Jangan sedih, Mas hanya takut kamu capek Nin." Nindi menyodorkan makanan yang sudah dia siapkan pada Ayman yang kini sudah duduk di ruang makan.
"Nindi juga makan, Nindi temani Mas makan." Baik sekali dia, meski hatinya pasti berat mencoba menjadi Nindi yang tangguh. Nindi yang tidak terlihat lemah sedikitpun.
"Maaf ya Nin, maaf Mas tidak bisa menempatkan diri dengan baik. Maaf baru meminta maaf pada mu sekarang." Nindi menatap mata Ayman sesaat.
"Aku kira kalian akan benar-benar melupakan ku, jangan di pikirkan. Aku lega kalian sudah kembali ke rumah yang seharusnya." Nindi sangat bahagia keluarganya kembali hangat meski tidak seindah dulu. Setidaknya rumahnya tidak suram.
"Kami beruntung punya Kamu sayang, Mas janji tidak akan mengulangi kesalahan Mas yang kekanakan." Ayman bicara degan tulus.
"Benar, kalian tidak boleh mengulanginya atau aku yang akan kehilangan diriku. Aku hampir saja pergi menyusul mereka karena sikap kalian." Ayman meraih tangan Nindi, menepuk punggung tangannya lembut.
"Terimakasih karena sudah bertahan, kami tidak akan bisa tanpamu Nin." Lega sekali setelah meminta maaf atas kesalahan fatal yang sudah mereka lakukan dengan sadar.
Ayman membawa Jason dan Nindi Menjemput Hanna, Nilam di rumah menjaga Baby Sabiru Rajendra Latif. Masih terlalu kecil di bawa-bawa keluar.
"Bagaimana sekolahnya hari ini sayang?" Tanya Ayman pada Hanna yang saat ini duduk di sisi nya.
"Lelah sekali nampaknya, Ayah jadi malas ah pergi ke mall nya. Pulang saja ya Adek Jason?" Ucap Ayman menggoda. Jason di belakang menggeleng tidak mau.
Hanna menegakkan duduknya, menetap Ayman dengan mata penuh tanda tanya. "Mau ke mall? Pa...Ayah tidak kerja hari ini?" Hanna sudah lama tidak seantusias ini.
"Hari ini Ayah special libur. Mau ajak anak-anak Ayah main sepuasnya."
Yeaayyyy.....
Sorak Hanna yang membuat Jason ikut bersorak meski tidak tahu.
"Yeay ..yeayy...kita jalan-jalan, Yeay....Hanna sudah tidak sabar. Pasti banyak permainan baru di mall." Bahagia sekali Nindi melihatnya.
"Nanti main-main nya hati-hati ya sayang." Hanna mengangguk anggukan kepalanya. Wajahnya begitu bahagia, dia sudah terlalu lama tidak di ajak jalan-jalan membuat dia terlihat begitu norak di mata Nindi.
__ADS_1
Nindi duduk di tempat tunggu, anak-anak bermain di temani Ayman. Nindi memejamkan matanya yang terasa begitu lelah, dirinya benar-benar tidak punya waktu untuk istirahat cukup. Dia selalu ingin memastikan anak-anak nya sehat, Nindi sangat takut kehilangan lagi. Dirinya tidak sanggup berdiri lagi jika harus kehilangan.
“Stop Var,itu bukankan Nindi?” Mata Abrar tidak mungkin salah. “Benar Var, itu Nindi. Coba hubungi ponelnya.” Ivar meraih ponselnya sambil berjalan mendekat ke arah Nindi duduk sambil menundukkan kepalanya.
“Tidak di angkat Brar. Tapi itu sepertinya memang Nindi.” Ponselnya berbunyi, Nindi tidak mendengarnya karena benar-benar terlelap dengan nyaman.
Ivar mendekat, ternyata mata Abrar tidak salah. Dia benar-benar Nindi nya.
Sedang apa dia sampai tertidur di sini?
Ivar duduk di sisi Nindi, membawa kepala Nindi agar bersandar pada pundaknya.
Abrar sendiri berlari ke arah permainan anak-anak, takut Nindi membawa anak-anak dan meninggalkan mereka di dalam sendirian.
Abrar tahu keadaan Nindi yang kacau. Lega sekali melihat anak-anak bersama Ayman, mereka aman.
“Paman......” Hanna mendekat. Memeluk Abrar yang tersenyum begitu hangat padanya. “Paman kok bisa ada di sini?” Hanna senang sekali melihat Pamannya yang sudah lama tidak berkunjung.
“Paman sedang bekerja sayang, Hanna sehat?” Hanna mengangguk. “Kalau begitu lanjutkan mainnya tuan putri, Paman juga kembali bekerja ya sayang.” Hanna melambaikan tangannya dan kembali asik dengan permainanya.
Abrar melambaikan tangan pada Ayman yang tersenyum sopan padanya. Mereka sudah cukup dekat seperti keluarga, Abrar banyak membantu keluarganya selama ini.
"Di dalam ada Hanna, Jason dan Mas Ayman." Jelas Abrar yang mencari tahu keberadaan anak-anak.
"Lihat Brar, Istriku kelelahan. Apa aku salah kembali ke sini? Aku hanya ingin menyelesaikan tugas ku Brar." Abrar menepuk pundak Ivar.
"Kau yang tahu jawabannya, sekarang jaga Nindi. Aku akan katakan kau ada tugas lain pada atasan." Ivar mengangguk.
"Terimakasih ya Brar, terimakasih sudah melihat Nindi, kalau tidak aku akan sangat menyesal sekali."
"Santai saja, aku balik yah. Aku harus serahkan ini pada petugas sebelum mereka pulang." Abrar berjalan menjauh.
__ADS_1
Kini Ivar tengah menciumi puncak kepala Nindi yang ada di dalam dekapannya. Memeluknya dengan erat menyesali semua yang harus Nindi lalui. Rindu sekali dengan Nindi yang sering tertawa dan penuh bahagia, istrinya memikul begitu banyak kesedihan dan beban.