Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Firasat


__ADS_3

Seorang datang ke ruangan kerja Prabu yang saat ini sedang kedatangan tamu. Mata Prabu melotot tidak percaya dan emosinya memuncak sampai ke ubun-ubun mendengar Abi terkena luka tembak oleh orang yang saat ini masih dalam pengejaran.


“Dimana Putriku dan Abi?” Tanyanya geram.


“Di Butik Putri Tuan Edwin Komandan.” Prabu terduduk lemas.


“Cepat hubungi semua orang yang dekat dengan lokasi, amankan semua orang yang ada di dalam Butik.” Perintah Prabu pada bawahanya.


“Sudah Komandan, semua sudah aman terkendali. Abi sudah kami bawa ke rumah sakit terdekat.”


“Bagus...sekarang kita cepat ke lokasi.” Prabu berjalan dengan cepat.


Situasi seperti ini sudah sering kali Prabu alami, tidak heran dirinya sangat tenang dan terlihat tertata menyelesaikan langkah-langkah awal melakukan penyelamatan.


Diperjalanan Prabu mengecek situasi lewat semua petugas kepolisian yang ada di lokasi, baik keadaan Abi yang ada di ruangan operasi dan keadaan orang-orang termasuk Putrinya yang ada di Butik.


Prabu menyandarkan kepalanya di kursi mobil, menahan emosinya yang benar-benar memuncak membuat kepalanya berdenyut. Bayangan tawa Putrinya pagi tadi yang masih dia lihat dan tingkah lucu Abi yang membuatnya tertawa kini mereka dalam situasi yang menegangkan. Entah siapa yang berani bermain-main dengannya.


Mobil Prabu memasuki parkiran gedung sebelah Butik Edel karena parkiran di Butik Edel sudah pasti tidak bisa di masuki siapa pun. Dari kejauhan Prabu bisa mendengar teriakan Ayman yang berseteru dengan petugas yang berjaga di bawah perintahnya.


“Lepaskan!” Sontak Ayman dilepaskan segera oleh petugas yang mengamankannya.


“Paman.....tolong Paman.” Ayman terlihat berantakan. Prabu merangkul Ayman membawanya masuk ke dalam.


“Tenang, jangan biarkan Edel melihatmu seperti ini.” Prabu merapihkan kancing baju Ayman yang terlepas. Menyapu rambut Ayman dengan tangannya agar tidak berantakan. “Sudah lebih baik.” Ayman menarik nafas perlahan, mengangguk mantap setelah dirinya siap untuk masuk ke dalam.


Prabu menahan tangan Ayman yang hendak berlari, Ayman mengikuti langkah Prabu yang terlihat sangat tenang. Edel dan Luna yang melihat kedatangan mereka tersenyum lega. Hanna terlelap dalam pangkuan Edel, dia kelelahan setelah menangis cukup lama sampai tertidur.


“Kalian baik-baik saja?” Tanya Prabu. Edel dan Luna mengangguk. Ayman memeluk Edel dengan tenang agar tidak mengganggu Putrinya yang tengah tertidur.


Luna memeluk Prabu tanpa berkata-kata, dirinya tahu Ayahnya bisa diandalkan. Meski sedih, Luna tetap terlihat tenang. Sebelumnya Luna sangat ketakutan karena panik Abi tidak akan selamat, setelah melihat semua ditangani dengan sangat cepat, Luna percaya Ayahnya tidak akan tinggal diam.


Ayman belajar banyak hari ini, emosi yang berlebihan hanya akan menghancurkan dirinya dan keluarganya. Harus tenang dan berfikir jernih agar keputusan yang di ambil tepat sasaran dan tidak memperburuk keadaan. Prabu mengajarkannya menahan emosi demi ketenangan semua orang.


“Sekarang Ayman bisa membawa Edel dan Hanna pulang. Selebihnya serahkan pada Paman.” Perintah Prabu yang tidak tega melihat Edel begitu pucat.


“Jangan menyetir sendiri kalau Ayman merasa masih tidak bisa fokus. Bahaya!” Tegasnya.


“Ayman baik-baik saja Paman. Terimakasih banyak.” Ayman sudah merasa lebih tenang.


Ayman menggendong Hanna kepelukannya. Hanna sedikit mengeliat namun kembali tertidur.


“Semua akan baik-baik saja sayang, jangan terlalu sedih. Berikan kabar padaku jangan lupa.” Pesan Edel sebelum meninggalkan Butik sambil membelai surai Luna yang masih memeluk Prabu.

__ADS_1


“Kak Edel juga hati-hati.” Jawabnya beralih memeluk Edel.


“Hati-hati mengemudi, ada satu mobil polisi yang akan mengikuti kalian.” Prabu masih tidak mau membiarkan mereka berjalan sendiri tanpa pengawalan selama penjahat yang berusaha melukai mereka belum tertangkap. Ayman mengangguk setuju.


Prabu menatap wajah Putrinya yang sayu, matanya sedikit sembab tentu saja. Luna seketika menutup wajahnya karena tidak bisa menahan air matanya. Luna terisak dan Prabu segera memeluk Luna dengan erat.


“Menangislah Putriku yang sudah besar......menangislah.” Prabu hanya memeluk tanpa banyak bicara.


Cukup lama Luna terisak mengeluarkan semua emosinya, baginya Prabu seperti tameng yang selalu melindunginya dan selalu bisa di andalkan. Meski dirinya sering membangkan, Prabu selalu mencintainya dengan tulus.


“Ayah....bagaimana jika Abi tidak baik-baik saja?” Prabu mengeratkan pelukannya. “Dia tidak boleh terluka, Abi berdiri melindungiku dan dia benar-benar tertembak di depan mataku. Hikkksss......” Luna masih tidak bisa melupakan tatapan mata Abi terakhir kali.


Prabu sangat kesal karena Luna harus mengalami kejadian seburuk ini, Prabu takut kejadian hari ini akan membekas dan menjadi trauma bagi Putrinya. Prabu menjaganya seperti permata dan orang lain menghancurkannya begitu saja dengan mudah.


“Ayah akan memastikan Abi baik-baik saja. Jangan khawatir.” Tindakan Prabu yang sangat tenang membuat Luna berhasil menyampaikan perasaannya saat ini. Meski Prabu saat ini juga masih belum tahu bagaimana kondisi Abi yang masih ada di ruang operasi.


“Aku takut......” Luna terisak begitu ketakutan, Luna baru sadar selama ini perasannya pada Abi memang tulus. Dia sangat hawatir jika harus kehilangan Abi, laki-laki yang saat ini berhasil mencuri hatinya.


Prabu menangkup wajah Luna dengan kedua tangannya. “Lihat Ayah.” Luna menatap mata Prabu. “Kau percaya pada Ayah?” Luna mengangguk. “Sekarang hapus air mata mu, wajahmu jadi jelek.” Prabu menghapus air mata putrinya. “Kita makan dulu, setelah itu kita lihat kondisi Abi.” Prabu menggandeng tangan Putrinya menuju mobil.


Prabu sengaja membawa Luna ke restauran kesukaannya, memesan makanan favorit yang setiap Luna kesana selalu dia pesan.


“Ayah...aku tidak lapar.” Padahal dia biasanya sangat suka.


“Apa harus makan? Aku benar-benar tidak ingin makan.” Tapi tangannya menarik mangkuk besar yang ada di depannya.


Memakan suap demi suap makanan sampai habis tidak terasa. Prabu mengulas senyum melihat Putrinya yang mengeluh tidak nafsu makan namun melahap habis makanan kesukaannya.


“Aku ingin melihat Abi cukup lama, jadi aku menghabiskannya.” Prabu hanya menggeleng tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “Ayah....kau tertawa? Kau menertawakan Putrimu yang sedang sedih?” Mencoba membela diri karena merasa ditertawakan.


“Siapa yang berani menertawakan Putriku yang cantik!!! Katakan..... siapa orangnya.” Sambil menahan tawanya.


“Ayahhhhhh!!!!!!!” Teriaknya semakin kesal.


Selesai makan Prabu membawa Luna ke rumah sakit berjalan kaki karena jarak yang sangat dekat. Prabu ingin menguatkan Putrinya karena kondisi Abi saat ini masih kritis. Meski tidak menjelaskan, Prabu tahu mereka saling menyukai. Abi dan Luna saling menjaga satu sama lain, saling menutupi kesalahan satu sama lain dan saling perhatian tanpa mereka sadari.


“Berjanjilah untuk tidak menangis lagi.” Luna menunduk, bingung karena dirinya juga tidak tahu akan bagaimana saat sampai di sana. “Perlihatkan pada semua orang kau anak gadis Ayah yang kuat.”


“Aku tidak tahu harus berkata apa.”


“Kau harus percaya diri, genggam tangan Ayah dan yakin pada apa yang Ayah ucapkan.” Prabu merangkul pundak Putrinya.


Terlihat beberapa polisi yang berjaga di depan ruang operasi. Mereka segera memberi hormat saat melihat kedatangan Prabu.

__ADS_1


“Apa belum selesai?”


“Belum Komandan, kami masih menunggu.”


“Jangan lengah, kita masih belum tahu siapa yang kita hadapi saat ini.” Prabu masih mencari tahu sumber masalah yang dia hadapi.


***


Praaakkkkkk.......


Nindi menjatuhkan gelas yang ingin dia raih tidak sengaja. Pecahan kaca melukai kakinya yang mulus. Darah mengalir dengan deras membuat Putra yang ada di dekatnya terjingkat. Kaget mendengar gelas yang tiba-tiba jatuh saat suasan begitu hening, ditambah melihat kaki Nindi yang berdarah.


“Nindi.....kakimu terluka.” Putra menyambar kotak tissu, menempelkan tissu di kaki Nindi agar darah tidak terus mengalir. Tissu berubah merah membuat Putra sedikit panik.


“Sakit Kak.” Rintih Nindi saat Putra menekan lukanya.


“Sepertinya ada serpihan kaca yang masuk Nin. Kita ke ruang kesehatan yah.” Putra bagkit memapah Nindi.


“Putra ada apa?” Tanya Gunar yang baru saja masuk dan melihat Putra memapah Nindi.


“Aku tidak sengaja menjatuhkan gelas.” Jawab Nindi sambil menahan sakit di kakinya, Putra hanya mengangguk mengiyakan.


“Biar aku bawa ke ruang kesehatan.” Gunar menggendong Nindi tanpa ijin. Nindi pasrah saja karena dirinya memang butuh bantuan.


“Aku tidak apa-apa, maaf Kak.” Nindi merasa bersalah. Beberapa kali Gunar membantunya. Tidak ada jawaban, hanya tatapan tajam yang membuat Nindi bergidik.


“Cepat cek lukanya, darahnya tidak mau berhenti.” Perintahnya saat sampai di ruang kesehatan yang di sediakan perusahaan.


“Ada pecahan kaca yang masuk kurasa, aku harus mebedahnya sedikit.” Ucap Dokter dengan entengnya setelah memeriksa luka Nindi.


“Apa bisa di sini? Kita ke rumah sakit saja Nin. Terlalu beresiko.” Nindi bingung. Dirinya tidak sedang baik-baik saja saat ini.


“Itu hanya sedikit saja Pak, bisa dilakukan di sini. Pendarahannya harus segera di hentikan.” Gunar dan Dokter berselisih membuat Nindi pusing.


Tiba-tiba Nindi merindukan sosok Ivar yang biasanya akan seprotektif Gunar jika menyangkut keselamatannya. Firasat buruk sejak gelas yang dia pecahkan tadi membuat dada Nindi sesak. Air mata tidak lagi bisa dia bendung, kesedihan menyelimuti perasannya.


Nindi terisak. Gunar yang sedang berdebat dengan Dokter langsung menghampiri Nindi, berjongkok di depannya dengan tatapan yang penuh kasih sayang.


“Kenapa? Apa sangat sakit?” Nindi menggeleng. “Tenang yah, jangan menangis.” Gunar menepuk pundak Nindi menenangkan.


“Aku teringat Kak Ivar, aku tidak mau anakku lahir tanpa dirinya.” Nindi kembali terisak. Gunar sakit mendengar ucapan Nindi. Dirinya tidak berdaya, tidak ada yang bisa dia lakukan.


“Hmmmm....tenang Nin. Kamu pasti kuat. Dokter cepat obati lukanya seperti yang kau bilang tadi. Jangan sampai inveksi.” Pintanya agar Nindi tidak lagi mengingat kesedihannya.

__ADS_1


Gunar mencoba mengalihkan perhatian Nindi. Dirinya tidak mau Nindi berlarut dalam kesedihannya. Sudah cukup berat dirinya kehilangan Nindi, sekarang melihat Nindi begitu menderita membuat Gunar benar-benar tidak berdaya.


__ADS_2