
"Jangan lari-lari Nak." Melihat Luna, Tantri merasa takut Putrinya akan jatuh. Jalannya sangat cepat, bahkan sarapan nya tidak di habiskan. Dia sedang gegap gempita menyambut Putra Ivar yang hari ini diperbolehkan pulang.
"Hehehehe....maaf Mah, aku tidak sabar ingin mendekor kamar Baby." Mencium pipi Mamah nya agar sirna amarah berganti sayang.
"Nanti Mamah dan Ayah akan datang juga." Luna menggeleng.
"Tidak.....biar Luna saja yang bereskan. Tolong jangan ikut campur." Tantri merengut mendengar jawaban Putrinya yang sudah tidak terlihat.
"Bi....kita langsung ke rumah Kak Ivar yah." Mata Abi fokus ke bibir Luna. Yang di tatap salah tingkah. Abi menyeka bibir Luna yang belepotan selai.
Luna mematung, sentuhan jemari Abi menghilangkan kesadaran nya.
"Sudah bersih, Ayo naik." Luna menuruti saja perintah Abi. Dirinya masih belum bisa pulih dari keterkejutannya.
Abi yang melihat Luna tidak juga bergerak sedikit khawatir, matanya menatap kosong pemandangan di depannya.
"Nona kenapa diam saja. Apa ada yang tidak baik? Apa ada yang sakit?" Tanya Abi penasaran.
"Jantungku Bi....." Abi yang terkejut menepikan mobilnya yang belum terlalu jauh dari rumah. Luna masih memegangi dada nya
"Apa perlu ke rumah sakit?" Abi menatap sendu bola mata Luna. Mata mereka saling bertemu. "Apa sangat sakit?" Luna menggeleng.
“Bi…..” Memanggil nama Abi dengan suara sangat pelan.
“Katakan Non, harus apa aku. Jangan diam saja.” Abi sudah sangat tertekan, takut terjadi hal buruk pada Luna yang memang dia lihat dari tadi seperti banyak pikiran.
"Jangan melakukan hal seperti tadi. Aku rasa tadi jantungku sempat berhenti Bi." Abi tersenyum dibuatnya. Lega mendengar Luna baik-baik saja, dia benar-benar membuat Abi terbakar rasa khawatir.
"Aku kira benar-benar sakit." Abi mengulas senyum, tangannya sudah tidak malu-malu lagi menyentuh kesayangannya. Abi merapikan poni Luna yang menutupi matanya.
"Cepat jalan, jangan melihat ku seperti itu. Malu!" Abi langsung menancap gas menghindari amukan Luna. Luna paling tidak suka di tatap berlama-lama.
Meski gemas, Abi tidak berani bertindak lebih jauh. Mencari aman daripada kesayangannya mengamuk dan enggan ada di sampingnya.
"Bukan ke rumah Kak Ivar kita, kok mampir ke sini Bi." Mencoba mengingat ucapannya. Abi biasanya akan lebih mengerti dirinya. "Oh iya benar, semalam aku bilang mau cari pernak pernik dulu untuk kamar Baby." Tersipu Malu.
"Saya ingat semua yang Nona ucapkan." Luna hanya mengangguk. Puas sekali punya Abi yang selalu bisa dia andalkan, otaknya kadang tidak bisa mengingat semua yang dia ucapkan.
Abi berjalan di belakang Luna mendorong troli. Mencoba menyeimbangkan langkah nya dengan Luna yang berjalan cukup lambat. Matanya sibuk mencari hiasan yang dia inginkan. Banyak sekali sampai Luna kebingungan mencari hiasan yang pas dan cocok untuk Baby kesayangannya yang baru saja lahir.
"Kenapa gak ada yang warna Biru ya Bi, pink semua." Luna terlihat memegang pita yang lebih cocok untuk anak perempuan.
"Yang lain saja Non, jangan yang tidak ada." Menimpali dengan enteng. Luna memanyunkan bibir nya. Mudah sekali Bi, aku loh sedang pusing cari yang pas. Batinnya.
__ADS_1
Abi serba salah, apa yang ada di otak Luna tidak bisa dirinya mengerti kali ini. Dia tidak pernah belanja kebutuhan pernak pernik kamar bayi seperti ini. Melihatnya saja sudah membuatnya pusing, apalagi di suruh memilih yang cocok.
"Abi.....!!!!" Tatapan matanya menakutkan. "Aku kan sudah katakan berulang kali. Panggil aku nama saja kalau tidak sedang ada Ayah. Aku lebih nyaman di panggil nama olehmu Bi." Abi rasanya ingin lari dan memeluk Luna dengan erat. Nyalinya ciut, dia hanya mengangguk.
Luna yang jalan serampangan tidak fokus dengan sekitar, kakinya tersandung keranjang belanjaan yang tergeletak di lantai.
Awwww.......
Braakkkkkk
Beberapa pernak pernik berceceran karena tangan Luna yang mencoba meraih apapun untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Tangan Abi yang ingin meraihnya juga terlalu jauh, Luna jatuh tengkurap cukup keras membentur lantai. Lututnya berdenyut.
Abi yang sangat terkejut langsung meraih tubuh Luna dan membawanya dalam dekapannya. Memeluknya erat untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Abi cukup lama memeluk Luna.
"Abi....aku tidak bisa bernafas Bi." Menepuk pundak Abi.
"Ya Tuhan......kenapa sangat berantakan. Nona, ini ulahmu?" Seorang Pelayan toko menghampiri Luna dan Abi.
"Ma...maaf." Abi berdiri di depan Luna yang gemetar, dia terlihat ketakutan.
"Maaf Bu. Saya akan bereskan kekacauan nya Bu." Abi meminta maaf karena kekacauan yang terjadi.
"Aku yang akan bereskan...." Abi tidak memberikan ijin. Menahan tubuh Luna yang hendak meraih barang yang berserakan di lantai.
"Kalau begitu Nona ini ikut saya. Saya akan hitung kerugian yang dia buat."
"Ibu apa tidak bisa dengar, saya yang akan bereskan!." Melotot karena mulai terbawa emosi. Berharap tidak memancing emosinya lebih dalam.
"Ya tap...." Abi menyilangkan kedua tangannya kesal. "Ya sudah kalau begitu, cepat bereskan seperti semula." Pelayan yang menegurnya tidak melanjutkan. Dia juga terlihat takut.
"Bi...." Abi menatap Luna yang masih menatapnya.
"Iya sayang, tolong diam dulu. Aku harus bereskan ini dulu sebentar." Luna bergelayut di lengan Abi setelah selesai menaruh barang-barang yang berantakan. Masih sedikit takut dengan kemarahan Abi. Tapi Luna tau Abi tidak mungkin marah padanya.
"Kau marah Bi?" Luna menunduk, Abi menaikan dagu Luna agar menatapnya.
"Mana bisa aku marah, aku hanya sedikit kesal karena tidak bisa menjagamu dengan baik. Kau hampir saja terluka." Menatap lekat mata Luna.
"Aku baik-baik saja Bi. Maaf ya Bi." Ucapnya mengulas senyum.
Setelahnya Abi menghampiri meja kasir, mencoba menyelesaikan masalah yang sudah Luna timbulkan.
__ADS_1
"Saya sudah periksa Mbak, dan tidak ada yang rusak. Apa saya tetap harus ganti rugi?" Tanyanya penuh penekanan pada wanita yang menegur mereka tadi namun masih dengan nada lembut, Abi menyadari semua terjadi karena kesalahan Luna.
"Tidak Pak, tidak perlu ganti rugi kalau tidak ada yang rusak Pak." Abi melihat wanita yang berdiri di depannya gugup. Meremas jari jemarinya mencoba menghilangkan cemas. Abi dengan jelas bisa membacanya.
"Baiklah, hhhhmmmm……. aku tidak marah Mbak. Aku hanya tidak suka cara mu tadi menegur Pacar saya sedikit keras. Saya juga minta maaf." Luna menelan salivanya sedikit terkejut.
Sejak kapan Abi seberani ini. Dia benar-benar sudah kehilangan akal, bicara semudah itu sekarang di depan banyak orang. Mengakui siapa dirinya. Luna menyadari ada beberapa pasang mata yang tersenyum melihat Abi sekeren itu menjaganya. Atau hanya perasannya saja.
"Sayang...." Bergelayut di tangan Abi. Dirinya juga ingin memberi tahu kalau Abi pacarnya. "Sudah jangan di permasalahkan, aku memang yang teledor dan tidak hati-hati."
"Terimakasih Nona." Merasa menyesal karena mereka ternyata sangat baik. Pikirannya sedang kacau sampai tidak bisa mengontrol kata-katanya menjadi menyebalkan.
"Baiklah, ini belanjaan ku. Maaf ya Mbak membuat toko berantakan." Penjaga toko hanya tersenyum dan segera menghitung belanjaan Luna.
Emosinya sempat memuncak karena masalah rumah tangganya yang berantakan, melihat toko berantakan membuat dirinya tidak bisa mengontrol emosi dan marah pada konsumen yang seharusnya dia bantu karena terjatuh. Entah mengapa dirinya sangat bersikap kekanakan. Merutuki sendiri kesalahannya.
Sesampainya di rumah Ivar, Luna segera menuju kamar Baby yang ada di sebelah kamar Hanna di lantai bawah. Ivar tidak mau Nindi banyak bergerak dan menyebabkan luka pada jahitannya sakit, dokter bilang Nindi tidak boleh terlalu banyak bergerak agar jahitanya cepat kering.
Nuansa serba biru mencerminkan penghuninya seorang laki-laki jantan. Warnanya saja sudah sangat indah di pandang mata.
"Warna kamarnya saja sudah cantik ya Bi." Abi menurunkan barang belanjaan Luna . Meletakkannya hati-hati karena ada beberapa pecah belah.
"Cantik sayang, kamu tidak kalah cantik." Pipi nya bersemu merah.
"Abi....kenapa hari ini kau sangat kekanakan. Kau menggodaku yah." Luna menjauh dari Abi.
"Kenapa menjauh? Aku sedang menikmati wajah cantikmu sayang."
"Jangan Bi, aku malu. Sana keluar saja. Aku mau menyelesaikan pekerjaanku." Luna berteriak, dirinya sangat malu.
"Ok....kalau kesulitan aku di depan ya sayang." Baru juga mau keluar Luna menarik tangannya.
"I Love U Bi." Mendorong Abi dan segera menutup pintu kamar cukup keras.
Abi masih menatap pintu yang sudah tertutup di depan mukanya. Ada-ada saja kelakuan pacarnya. Luna memang sangat menggemaskan jika sedang centil, Abi harus menjaga warasnya agar Luna tetap merasa nyaman di sisinya.
Luna dengan cekatan menggantung beberapa hiasan yang dia beli di dinding. Di dekat lemari-lemari yang penuh boneka dan di box Baby yang sudah di siapkan dengan apik. Sampai saat ini Luna masih belum tau siapa nama anak dari Ivar, mereka masih mencarinya dan belum menemukan yang cocok untuk Baby mereka.
Krekkkk…..
Luna menengok siapa yang datang, muncul wajah mungil Hanna yang terlihat lesu karena baru saja pulang dari sekolah.
“Hay sayang….” Luna menghampiri Hanna. “Kok lemes Han?” Luna memeriksa suhu tubuh Hanna yang dirinya rasa sedikit demam. “Hanna demam sayang.” Hanna memejamkan matanya.
__ADS_1
“Hanna ngantuk Tante.” Memeluk Luna dengan sangat erat.
“Abi….Bi…tolong Bi….!!!!!!!” Berteriak mencoba mencari pertolongan.