
Ivar hari ini sudah bisa sedikit lega meninggalkan Nindi bersama anak-anak, dia sudah sehat dan sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Sudah banyak tugas negara yang harus segera dirinya selesaikan.
Ayman dan Edwin juga ada pekerjaan di perusahaan pagi-pagi sekali, meeting tentang rancangan proyek yang tinggal persetujuan anggaran oleh klien. Mereka berdua cukup sibuk beberapa hari ini. Pulang larut malam dan pergi pagi-pagi buta.
Tidak ada waktu bersantai karena tenggat pekerjaan yang begitu meminta mereka diharuskan bekerja dengan cepat. Rumah sibuk, Nindi bahkan sudah bangun sejak jam empat pagi demi bisa mengurus keperluan mereka seperti biasanya.
Nindi meski baru sembuh dari sakitnya, dia tetap memasak untuk sarapan semua keluarganya. Memastikan asupan gizi yang mereka butuhkan terpenuhi dengan baik. Tidak mau membiarkan mereka keluar rumah sebelum dipastikan sudah sarapan.
Harus ada yang menjaga mereka agar tetap sehat, Nindi tidak mau lagi kehilangan. Dia sudah cukup sakit dengan keadaan saat ini. Dirinya ingin menjadi wanita yang bisa selalu di andalkan untuk keluarganya.
"Jangan terlalu lelah ya sayang, ingat. Kau baru saja sembuh." Nindi mengangguk, dirinya sudah merasa lebih baik saat ini. Ivar memainkan ujung rambut Nindi yang sedikit bergelombang, menciuminnya membuat Nindi merasa gemas melihat tingkah suaminya.
Setelah Ayah dan Mas nya pergi, Ivar menarik Nindi dalam pangkuanya. Memeluknya dengan erat sambil memainkan ujung rambut Nindi, memilin nya dan menciuminya berulang kali.
"Abang juga, hati-hati dan jangan sampai lupa makan." Ucap Nindi sedikit manja, mengecup pipi suaminya pelan.
"Tentu cintaku, Abang pergi yah. Abang akan pulang larut hari ini." Nindi hanya mengangguk dengan senyum yang merekah. Dia sudah tau pekerjaan suaminya akan selalu memakan banyak waktu. Nindi sudah tahu konsekuensinya.
Setelah mengantar suaminya pergi bekerja, Nindi duduk di teras rumah menikmati kopi pahit yang pagi ini ingin sekali dirinya sesap. Buatan Bi Inah yang selalau enak memanjakan lidahnya.
Para petugas keamanan terlihat berdiskusi dengan raut wajah yang sulit di artikan. Ada Bagas juga yang ikut diskusi serius dengan yang lainnya.
"Gas, kenapa? Ada apa?" Tanya Nindi yang memang sangat penasaran dengan apa yang Bagas dan yang lainnya diskusikan di depan pos.
"Ehhh....tidak Nonna, cuma anak-anak." Nindi mengerutkan keningnya, anak-anak kok mereka terlihat sangat kesal. “Nonna silahkan lanjutkan minum kopinya Non.” Bagas memberi kode agar semuanya bubar.
__ADS_1
Nindi melangkah mendekati pos penjagaan, kakinya tidak bisa menuruti permintaan Bagas dan malah mendekat pada mereka. Nindi masuk ke dalam pos, melihat layar monitor yang memperlihatkan gadis berusia kisaran usia 14 atau 13 tahun dengan anjing kecil berwarna putih yang sangat lucu.
Dia nampak bukan warga kompleknya, penampilannya sedikit berantakan dengan tas plastik hitam besar yang isinya entah apa di dalamnya.
Nindi menatap satu persatu para penjaga yang ada di sana, matanya berhenti pada Bagas yang senyum-senyum tidak jelas sambil memegangi siku tangannya karena gelisah.
"Siapa dia? Apa sudah sering melihat rumah kita seperti ini?" Bagas dan yang lainnya ragu sekali menjawab pertanyaan Nindi. Tidak mau Nindi menjadi khawatir dan merasa terancam dengan kehadirannya.
"Bukan apa-apa Nonna, tidak perlu di pikirkan. Nanti saya akan bicara padanya." Terlihat semburat kebohongan, Bagas tidak pandai berbohong. Nindi mendekat, kaki Bagas dengan spontan melangkah mundur beberapa langkah.
"Coba aku yang keluar."
"Jangan!" Teriak Bagas yang tentu saja membuat Nindi sangat terkejut, tangannya di cekal oleh Bagas. Tidak hanya Nindi, yang lain juga ikut terkejut dengan suara Bagas yang cukup keras. "Hmmmm....Mak ..maksud saya, biar saya saja Non." Nindi semakin curiga dengan tingkah Bagas yang salah tingkah ini.
"Maaf Non, mari saya antar masuk." Nindi tersenyum, tentu saja meraka tidak akan pernah mengijinkan Nindi melakukan hal yang tidak perlu. Ditambah lagi dirinya di jaga ketat agar tetap aman dalam pengawasa mereka.
"Ok Gas, jangan berlebihan. Aku hanya bercanda." Puas sekali pagi-pagi sudah membuat para penjaganya ribut terutama Bagas. “Aku masuk yah.” Bagas berjalan di belakang Nindi memastikan Nonna nya aman sampai di dalam rumah.
Nindi segera naik ke lantai dua, Nindi menemui Baby yang sedang memakai bajunya setelah mandi, Nilam sudah menggantikannya mengurus Baby karena kerepotan yang harus dirinya lakukan di dapur. Jason baru bangun dan masih sibuk dengan botol susunya yang masih penuh.
Nindi duduk di sisi Jason, memeluknya dengan hangat. Beberapa hari ini Nindi sangat khawatir dengan keadaan Jason, setelah pertemuanya dengan wanita yang begitu mirip dengan Edel, Jason suka meminta keluar menemuinya. Nindi paham meski Jason tidak mengatakannya dengan jelas.
Nindi yakin apa yang Jason maksud saat memberinya kunci dan memintanya mengenakan jaket. Dia anak yang sangat cerdas, Nindi tahu Jason sangat butuh sosok Mamih nya. Dan saat ini Jason seolah tahu ada tempat yang bisa dia tuju untuk menemuinya.
“Udah...Mihh....udah....” Nindi tersentak saat botol susu sedikit mengenai wajahnya. Nindi memeluk Jason erat, menciumi pipi bulatnya yang wangi meski belum mandi.
__ADS_1
“Mommy ajak jalan-jalan mau? Kita makan ice cream mau?” Mata Jason berbinar, mulutnya menjawab dengan suara sebisanya yang dirinya bisa sampaikan. Jason terlihat sangat senang, dia bertepuk tangan dengan tangan mungilnya yang lembut.
Dirinya segera bersiap setelah anak-anak rapih, sudah harus ada di rumah sebelum yang lain pulang. Nindi ingin menghabiskan waktunya melakukan kegiatan yang bisa mengusir rasa bosan nya.
Nindi membawa Jason jalan-jalan, dan untuk pertama kalinya mengajak Baby ditemani Nilam ke Mall terdekat dari rumahnya. Bagas ikut mengawasi Nindi agar tetap aman.
"Gas, boleh tidak jujur sama saya, katakan saja jujur gas. Siapa sebenarnya gadis yang pagi tadi di depan gerbang rumah kita?" Nindi masih penasaran sekali, teka teki yang ada di dalam otaknya belum terpecahkan.
"Bagas tidak tahu Non, sungguh." Kali ini Bagas terlihat jujur, meski Nindi masih tidak yakin dengan jawaban Bagas.
"Kenapa tidak coba tanyakan? Siapa dia? Ada perlu apa datang ke rumah kita?" Nindi penasaran sekali. Dia tampak tidak berbahaya dimata nya.
"Setiap gerbang terbuka, dia akan lari dan menghindari siapapun dari kita yang keluar Non, tidak ada kesempatan untuk bertanya." Jawab Bagas apa adanya.
"Kenapa tidak kalian atur strategi menangkapnya diam-diam, maksudku bukan menangkap seperti itu. Hanya untuk di tanyai saja Gas." Bagas menelan salivan nya. Nonna sampai harus kepusingan memikirkan hal yang seharusnya tidak mengganggunya sama sekali.
"Jangan di pikirkan Non, nanti saya dan yang lainya cari cara. Nonna jangan repot-repot memikirkan nya ya Non." Nindi melengeos kesal, Bagas tidak mau berbagi dengan dirinya.
Selesai pulang dari jalan-jalan, Nindi mengajak Nilam yang katanya belum pernah melihat Monas untuk mampir, Nindi ingin mengajak Nilam jalan-jalan melepas penat. Dia pasti ada bosan nya juga jika terus di rumah mengurus anak-anak.
Nindi memperhatikan Nilam yang terhanyut dengan apa yang dirinya lihat. Dia sedang sibuk memotret, mengabadikan setiap pemandangan indah yang baru dirinya lihat dalam ponselnya yang sederhana.
"Bagus Lam?" Nilam mengangguk, matanya berbinar dengan begitu senang. "Kapan-kapan Ibu bawa ke tempat lain yang Nilam mau yah." Nilam hanya mengangguk. Nindi kasihan sekali, di usianya yang masih sangat muda dia sudah bekerja keras.
"Terimaksih banyak Bu, Nilam akan ceritakan pada Ibu dan Bapak di kampung." Ucapnya dengan suara lirih.
__ADS_1