Anugerah Cinta

Anugerah Cinta
Kecerobohan yang Terulang


__ADS_3

“Nin, kau dijembut?” Tanya Mariska. Nindi mengangguk sambil mengemasi barang-barangnya masuk ke dalam tas. “Aku duluan yah, hari ini aku mau ketemuan sama Mamah Nin. Dia sedang main ke Jakarta."


“Benarkah? Kenapa tidak mengenalkannya pada kita?” Celetuk Ken yang membuat Mariska memicingkan matanya. Nindi hanya tertawa gemas pada pasangan ini.


“Ken kenapa tidak antarkan Mariska saja Ken, kan biar akrab sama calon mertua Ken.” Ledek Putra yang juga ikut-ikutan.


Cieeee......


Semua menyoraki Ken dan Mariska yang sudah terang-terangan akhir-akhir ini saling memberikan perhatian. Pipi Mariska merah merona, sering menjadi bahan ledekan teman-temannya membuat Mariska sudah terbiasa.


“Gimana kalau Mamah tanya macam-macam, memangnya sudah siap?” Ken menatap serius pada Mariska. “Iyakan....bisa saja Mamah salah sangka. Padahal kan Ken bukan siapa-siapa aku.” Dirinya sudah mau berlalu keluar namun langkahnya di tahan oleh Putra yang berdiri di depan pintu. Mariska menunduk menyembuyikan wajahnya yang merah merona.


“Jangan melarikan diri kau.” Mariska mencoba meloloskan diri dari Putra.


“Katakan pada Mamah ya Mar, katakan kalau calon menantunya siap kapan saja jika diminta datang melamar.”


Huhuhuhu.......


Sorak sorai teman-temannya yang tidak ada habisnya membuat Mariska benar-benar tidak tahan berada di dalam sana, Putra yang sedikit merasa kasihan akhirnya membiarkan Mariska meloloskan diri.


Mariska keluar dengan segera lantaran teman-temannya meneriakinya akibat ulah Ken yang tidak tahu malu. Putra tertawa dengan puas berhasil mengerjai Mariska yang kesulitan keluar dari ruangan.


“Berisik sekali kalian ini. Seperti anak kecil saja.” Ucap Zein yang merasa terganggu.


“Huhhh....tidak bisa sekali kau di ajak bercanda. Cepat tua baru tau rasa kau.” Ucap Putra kesal. Dirinya masih berdiri di depan pintu menunggu Ken selesai membereskan dokume-dokumennya. Zein tidak memperdulikan dan pergi begitu saja seperti biasa meninggalkan ruangan.


Nindi segera turun ke bawah setelah selesai membereskan semua barang-barang nya, tersisa dirinya dan Melly yang keluar terakhir dari ruangan.


Melly dengan wajahnya yang tidak bersahabat berjalan beriringan dengan Nindi. Nindi sudah tidak aneh, semua orang mengenal Melly dengan sosoknya yang tegas dan pekerja keras, ada juga yang menganggapnya kaku tidak bisa diajak bercanda. Namun Nindi sering menerima perlakuan hangat Melly selama ini.


Seperti yang terjadi padanya hari ini, Melly menahan pintu lift membiarkan Nindi masuk lebih dulu, menarik Nindi berdiri di pojok belakang Melly berdiri agar tidak terganggu karyawan lain yang keluar masuk lift. Memastikan Nindi berjalan dengan aman sampai lobby kantor.


"Saya duluan ya Nin. Hati-hati."


"Ibu juga hati-hati ya Bu, terimakasih banyak." Melly melenggang tanpa menghiraukan Nindi yang masih bicara padanya. Hanya lambaian tangan saja sebagai jawaban darinya.


Tin..... tin...


Ivar menurunkan kaca mobilnya. Senyum merekah membawa Nindi duduk di sebelah Ivar.


"Abang yang bawa mobil? Kok tumben gak sama Pak Bagas?" Tanya Nindi sambil mengenakan sabuk pengaman.


"Pak Bagas lagi antar Kak Edel ke sekolah Hanna. Dia les jadi pulang agak sore." Jawab Ivar yang masih fokus pada jalanan yang cukup padat karena banyak karyawan yang pulang kantor.


Nindi sudah lama diminta berhenti mengurus segala macam kegiatan Hanna. Di samping dirinya hamil muda, Edel ingin menghabiskan banyak waktu agar lambat laun Hanna bisa menerima Edel sepenuhnya sebagai orang tuanya. Nindi tidak keberatan selama semua nyaman dan saling melakukannya dengan rasa bahagia.


"Aku juga rindu bolak balik antar Hanna sekolah Bang. Rasanya Hanna sekarang sangat jauh." Nindi hanya merasa sepi, bukan tidak rela Hanna dekat dengan keluarga Ivar.

__ADS_1


"Kalau Nindi tidak nyaman kita bisa kembali seperti dulu saja Nin, jangan terpengaruh dengan permintaan Kak Edel karena tidak enak hati." Nindi memalingkan wajahnya ke jendela menahan sedikit sesak yang menyeruak dadanya.


"Tidak Bang, aku hanya sepi saja. Mungkin aku masih butuh waktu terbiasa." Ucapnya takut Ivar tersinggung dan menyebabkan ketidaknyamanan.


"Sebentar lagi pasti rumah semakin ramai Nin." Ivar membelai lembut perut Nindi yang sudah mulai terlihat jelas bentuknya. Lampu merah memberikan Ivar waktu sebentar memberikan perhatian pada istrinya.


"Hanna tidak tergantikan, tapi dia sudah tidak se cerewet dulu Bang. Hanna sudah mulai besar." Sedih Nindi mengenang masa kecil Hanna yang penuh kebahagiaan sebelum Kakaknya meninggal.


"Kamu hebat sayang, bisa jadi Ibu, Kakak dan sahabat untuk Hanna. Jangan sedih Abang mohon." Nindi menyandarkan kepalanya di bahu Ivar.


"Aku tidak pernah sedih, aku dan Hanna punya kalian semua. Aku dan Hanna sangat beruntung." Nindi memejamkan matanya merasakan belaian lembut tangan Ivar di kepalanya.


“Kita rawat Hanna bersama, Abang sudah berjanji akan menjadikan Hanna wanita yang tumbuh dengan penuh kebahagiaan.” Ivar mengecup puncak kapala Nindi sebelum melajukan mobilnya kembali karena lampu sudah hijau.


Sebelum sampai ke rumah, Ivar mampir ke toko roti langganan Ellie membelikan roti pesanan Ellie yang sudah di list. Daftarnya panjang sampai Ivar pusing dan akhirnya meminta bantuan penjaga toko untuk mengemas semua pesanan yang ada di list yang dikirmkan ke ponselnya.


Nindi menunggu Ivar di dalam mobil, ponsel Ivar berdering panggilan masuk dan menerima pesan beberapa, Nindi tidak mengangkatnya karena tidak tertera siapa penelponnya.


Nindi tersenyum melihat Ivar membawa tentengan besar di tangan kanan dan kirinya. Nindi sudah membayangkan bagaimana repotnya penjaga toko membantu Ivar mengemasi roti ke dalam wadah.


Ellie memang sering membagikan makanan kepada para pekerja di rumahnya dan siapa saja orang-orang yang ada di lingkungan tempat tinggalnya yang membutuhkan. Satu minggi sekali paling tidak Ellie tidak pernah absen.


“Huh.....Mamah memang suka sekali merepotkan Putranya.” Meski repot Ivar tetap suka melakukannya, Ellie memang suka sekali membagikan pekerjaan yang membuat Ivar harus berinteraksi dengan orang baru. Supaya tidak kaku kata Ellie, Putranya terlalu banyak bekerja sampai tidak bisa bergaul dengan baik seperti manusia pada umumnya.


“Abang tidak mungkin menolak kan?” Ivar hanya tersenyum mengiyakan. “Ponsel Abang dari tadi bunyi. Coba periksa, siapa tahu penting Abang.”


Nampak mobil yang tidak asing terparkir di garasi rumah, Ivar segera turun membawa masuk Nindi dengan tentengan belanjaan yang merepotkan kedua tangannya. Nindi tidak Ivar ijinkan membantunya membawa apapun, biarkan dirinya kesulitan tapi Nindi tetap aman.


“Halo sayang, akhirnya kalian sampai juga. Ariel dan Meera menunggu kalian cukup lama.” Sambut Ellie yang sedang menemani Ariel dan Meera.


“Tumben sekali mampir Ril, ada perlu apa?” Tanya Ivar tanpa basa basi.


“Ivar, masa temannya main kamu tanyanya seperti itu. Kau ini ada-ada saja, tentu saja ingin mengunjungi sahabatnya! Apa salahnya Nak.” Jawab Ellie merasa tidak enak hati.


Ariel tersenyum. “Tidak apa Tante, kami sudah biasa dengan sikapnya yang kaku.” Ivar membantu Nindi duduk. “Meera ingin mengantarkan makanan Var, padahal aku sudah bilang Nindi tidak akan bisa makan sembarangan.”


“Benarkah? Kak Meera kenapa repot-repot.” Nindi sangat senang mengenal sosok Meera yang begitu hangat. “Aku pasti akan makan.” Ivar terlihat tidak suka dengan kedekatan Nindi dan Meera.


“Sungguh Nin, kau dengar sayang.” Ucapnya membuat Ariel ikut senang.


“Bagaimana kalau kita makan bersama sekarang.” Nindi segera bangun dan membawa Meera ke ruang makan.


“Kalian menyusul setelah makanan siap yah.” Ellie sudah tidak ada di ruangan, dia sibuk meminta para pegawainya membagikan roti yang Ivar bawa.


“Kenapa aku merasa Meera mencurigakan? Apa kau tidak melihat keanehan?” Ariel tidak menghiraukan ucapan Ivar. “Ril...kau tidak mendengarku?” Wajah Ariel penuh kesedihan.


“Kau masih saja curiga padanya Var, aku sudah berapa kali katakan. Dia benar-benar berusaha keras memperbaiki semuanya. Beri dia kesempatan Var.” Pintanya memelas.

__ADS_1


“Benarkah? Rasanya masih membekas Ril. Aku harap kau tidak tersinggung.” Ivar ingin mencoba percaya pada keyakinan Ariel.


“Abang, Kak Ariel ayo kita makan.” Panggil Nindi yang sudah selesai menyiapkan semua makanan bersama Meera.


Keduanya lekas berjalan menuju meja makan, memenuhi panggilan para istri yang sudah setia menyiapkan makanan untuk mereka berdua.


“Aku sangat senang bisa kenal Nindi, aku harap kita bisa akrab ya Nin. Aku benar-benar berhasil menemukan sahabat.” Nindi tercengang mendengar ucapan Meera.


“Kak Meera sering-sering hubungi Nindi yah, kita bisa double date kapan-kapan Kak.” Nindi juga senang bisa mengenal Meera.


Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga membicarakan banyak hal, Nindi menyimak cerita bagaimana kedekatan Ariel dan Meera sebelum menikah. Nindi terharu dengan perjuangan Kak Ariel mendapatkan cinta Kak Meera, sama seperti Ivar yang terus mendekatinya.


“Aku ingin ke toilet.” Ariel sudah berdiri ingin menunjukkan dimana letak toilet pada Meera yang baru pertama kali datang ke rumah Ivar.


“Biar aku saja Kak, aku juga ingin ganti baju sekalian, gerah.” Ucap Nindi menggandeng tangan Meera.


“Naik ke atas sayang? Di bawah saja.” Pinta Ivar tiba-tiba membuat Nindi mengernyitkan dahinya. “Jangan menghilang dari pandanganku.” Pintanya lagi yang tidak kalah aneh.


“Aku masih ada di dalam rumah yang sama Kak, jangan aneh-aneh. Ayo Kak Meer.” Meninggalkan Ivar yang masih menatapnya tajam. Mereka menaiki tangga sambil masih berbincang-bincang.


“Jangan bercanda Nin, perhatikan langkahnya.” Teriak Ivar yang tidak dijawab oleh Nindi. “Sayang.” Nindi sudah tidak terlihat lagi.


“Aku benar-benar kesal melihat sikapmu Var, tidak bisakah kau bersikap normal? Kau tidak hanya menyakiti perasaan Meera, aku juga merasakannya Var.” Ariel terpancing oleh sikap Ivar.


“Kau akan tahu jika ada di posisiku. Aku tidak bisa percaya begitu saja kalau dia benar-benar sudah berubah.” Ariel mendengus mendengar ucapan Ivar.


“Aku benar-benar kecewa, selama ini kau menganggapku apa! Sikapmu sangat kekanakan.” Ariel keluar dari ruangan merasa ingin menghirup udara segar. Ivar sendiri pusing namun benar-benar merasa khawatir dengan kehadiran Meera yang tiba-tiba ingin menjadi sahabat Nindi.


“Kak, toiletnya di ujung sana ya Kak.” Tunjuk Nindi pada pintu berwarna putih.


“Ok Nin, aku masuk yah. Sudah tidak tahan.” Nindi mengangguk.


Tidak berapa lama Meera keluar dari toilet, wajahnya terlihat sedikit basah. Nindi rasa Kak Meera membasuh mukanya.


“Aku ganti baju sebentar ya Kak.” Ucapnya melangkah menuju toliet.


Sssrrrkkkkk......


“Awwww....Ya Tuhan....” Meera terlonjak kaget melihat Nindi terpeleset sendal kamarnya. Untung saja dia berhasil menahan tubuhnya sehingga tidak terjatuh.


“Nin kau tidak apa-apa?” Nindi masih mengatur nafasnya yang tidak beraturan, perutnya terasa sedikit kram. Nindi mengusapnya memutar, mungkin calon bayinya ikut kaget di dalam sana.


“Maaf ya sayang.” Ucapnya pada perutnya yang masih bergejolak.


Meera membawa Nidi duduk di tepi kasur, menggenggam erat tangan Nindi yang seketika menjadi dingin. “Kau tidak apa-apa Nin? Aku sangat takut.” Nindi merasa bersalah membuat Meera ketakutan.


“Aku tidak apa-apa Kak, hanya ada air di lantai dan aku tidak melihatnya. Aku tidak apa-apa, tenang saja.” Meera mengangguk dengan wajahnya yang sendu. “Tolong jangan katakan apapun pada Kak Ivar ya Kak, dia akan marah jika tahu aku hampir jatuh.” Meera kembali mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2