
Malam begitu mencekam, Nindi belum berhasil mendiamkan suara tangis Jason yang mencari Mamih nya. Jason sangat kehilangan, karena sedih Nindi malah ikut menangis memeluk Jason. Tidak kuasa membendung air mata melihat Jason yang begitu kelelahan mencari wanita kesayangannya.
Mendengar tangisan Nindi, Jason mendongak. Berhenti menangis dan menatap wajah Nindi dengan mata bulatnya.
"Mih...ate...Mih.." ucapnya yang tidak jelas namun Nindi tahu apa artinya.
"Maaf sayang, Mamih bobo Nak. Mamih capek Nak." Jason memeluk Nindi. Entah dia paham atau memang dia lelah menangis.
Setelah cukup lama, akhirnya Jason tertidur, Nindi tidak percaya diri bisa menjaga Jason sendirian atau tidak. Edel begitu hangat, dirinya tidak bisa sesempurna Edel dalam merawat anak-anak. Hanna saja lebih dekat dengan Edel seperti anak kandungnya.
Jason tertidur di pangkuan Nindi saat Ivar masuk, wajah Nindi tentu saja sangat kelelahan. Matanya sembab seharian menangis tiada henti. Ivar mengambil alih Jason dan menidurkannya di baby box.
"Abang...." Ivar menciumi kening Nindi. Merasa bersalah Nindi menanggung kesedihan tidak berkesudahan.
"Ada apa sayang?" Nindi menggeleng, melihat Ivar baik-baik saja Nindi merasa lega. Ingin menanyakan bagaimana perasaan Ivar namun Nindi tidak tega, lebih tepatnya tidak sanggup mendengar jawaban Ivar.
"Nindi lapar." Dirinya memang tidak makan apapun sejak pagi. Ivar paling suka jika Nindi memanjakan dirinya pada Ivar.
Ya Tuhan, aku bahkan lupa memperhatikan nya. Sesalnya yang sibuk kesana kemari mengurus banyak hal. Kepalanya penuh dengan banyak urusan, dia sampai melupakan wanita kesayangannya yang berjuang menenangkan dirinya sendirian.
"Abang ambil sebentar sayang....." Beringsut turun dari ranjang.
"Aku ingin makan berdua dengan Abang, kalau Abang tidak makan, aku juga tidak mau." Ivar tersenyum, lucu sekali yang sedang merajuk. Ivar mengangguk paham.
Luna masuk saat Ivar keluar, tersenyum manis menghampiri Nindi yang sudah tidak kuat berdiri. Kakinya kebas dan tubuhnya sangat lemah.
"Jangan bangun Kak, tidak apa." Luna lari melihat Nindi berusaha duduk. " Tidur Kak, tidak papa." Luna membelai perut buncit Nindi.
"Dia terus bergerak seharian." Jelasnya pada Luna yang gemas. Melihat wanita hamil membuat Luna merasa lucu, perutnya bisa membesar di luar nalar akal pikirannya.
"Hay..... aunty datang sayang.” Sapanya menirukan suara bayi. “Jaga Mommy ya Nak." Luna terkejut merasakan tendangan yang cukup keras. "Dia kuat sekali." Tawanya heran.
"Dia sangat pemberani, dia akan jaga kita semua dari orang-orang jahat." Wajahnya kembali sendu. Dirinya masih belum rela melepas kepergian dua wanita kesayangannya.
"Kak Nindi harus kuat. Kak Ivar, Papah dan Kak Ayman butuh kita." Nindi mengangguk. Paham kalau kekuatan mereka ada pada Nindi sekarang. Jika Nindi goyah, mereka akan kehilangan kepercayaan diri mereka.
"Aku bingung....aku harus bagaimana menjaga mereka semua sendiri?" Menutup wajahnya yang sudah tidak bisa lagi menahan tangis.
"Ada aku, ada Mamah, Ayah dan masih banyak orang-orang yang akan jaga keluarga kita Kak." Ivar tidak kuasa mendengar kegundahan hati Nindi.
“Tolong katakana aku harus apa Dek…..aku benar-benar tidak bisa menatap wajah mereka. Aku takut. Aku tidak bisa melihat luka yang begitu besar dalam diri mereka. Aku benar-benar tidak sanggup.” Isaknya yang kini ada dalam pelukkan Luna.
“Aku akan menjadi kekuatan Kak Nindi, aku akan sebisa mungkin menopang Kakak, percaya lah Kak, bisa kita lewati semua ini.” Ucapnya seperti orang dewasa.
“Aku tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku bisa apa menghadapi semua ini Dek.” Nindi terdengar sangat pilu.
__ADS_1
“Jangan terlalu larut Kak, aku mohon. Aku tidak mau lagi kehilangan siapa pun. Ingat Baby butuh Mommy yang kuat. Baby pasti sedih lihat Mommy nya seharian menangis.” Benar yang Luna katakan, ada nyawa yang harus dia jaga.
Ivar pura-pura berteriak bicara dengan orang lain agar Nindi menyadari kedatangannya. Nindi dan Luna sama-sama berpura-pura baik-baik saja.
Nindi segera menghapus air matanya.
"Kak Ivar sudah datang, Luna turun yah, takut Hanna bangun." Nindi memeluk hangat Luna, dia sangat bisa di andalkan.
"Terimakasih kalian mau menjaga Hanna. Aku sangat beruntung punya kalian semua." Luna mencium pipi Nindi cukup keras.
"Jangan cengeng, ingat kata Papah Ed." Ivar mengacak rambut Luna. Berani sekali anak kecil mengancamnya.
"Kau seperti orang tua." Ledeknya yang tidak di tanggapi.
Segera Ivar menyuapi Nindi dengan telaten, matanya tidak bosan menatap wajah ayu istrinya. Menelisik setiap inci bagian wajah Nindi yang sempurna di mata Ivar.
***
Pagi menjelang, sudah waktunya melepaskan dua orang tercinta ke peristirahatan terakhir dengan matang. Tidak bisa lagi mengembalikan keadaan meski tidak ada yang mau ada di posisi seperti ini.
Meski matahari redup, Ivar tetap berusaha berjalan dengan percaya diri. Demi sayap-sayap yang kini bertengger di tubuhnya menjadi kekuatan untuk dirinya bisa terbang.
Sudah habis air mata menggambarkan perasannya saat ini. Sudah ada di titik rela melepaskan kesayangannya untuk kebaikan semua orang.
Nindi tidak melepaskan genggaman tangan Ivar, takut kaki nya tidak bisa berdiri dengan kokoh karena dia tidak bisa memungkiri keadaan tubuhnya yang benar-benar sangat lemah saat ini.
"Selama aku lihat Abang baik-baik saja, Nindi juga kuat." Jawabnya penuh percaya diri.
"Begitu juga Abang, Nindi yang membuat Abang kuat sejauh ini." Ivar mengecup kening Nindi.
Berdiri dengan tegar memperlihatkan kekuatan dirinya dan keluarganya yang tidak akan semudah itu tergoyahkan. Meski Ivar tetap meminta penjagaan ketat demi keselamatan semua orang.
Selesai acara pemakaman, Ivar menyempatkan diri membawa Nindi ke rumah sakit. Dirinya tidak mau menyesal mengabaikan kesehatan Nindi yang tentu saja tidak baik-baik saja.
"Bagaimana Dok, apa Istri ku dan kandungannya baik-baik saja?"
"Kalian sangat menginspirasi, aku saja mungkin tidak akan setegar ini Var. Kalian hebat, calon anak mu juga hebat. Dia sehat sekali." Dokter memperlihatkan layar yang menampakkan kelincahan calon bayi mereka bergerak.
"Baby.....Mommy minta maaf yah, Mommy tidak akan sedih lagi. Kita kuat ya Nak." Ucapnya penuh haru.
"Terimakasih sayang, terimakasih kalian baik-baik saja." Ivar sangat bangga. Istrinya sangat kuat.
Setelah pemeriksaan selesai, Ivar mengijinkan Nindi menikmati makanan kesukaannya. Ivar senang melihat Nindi makan dengan lahap.
"Pelan-pelan sayang, tidak ada yang akan ambil makanan mu." Yang di tegur hanya tersipu.
__ADS_1
"Baby tidak sabaran, dia ingin buru-buru makannya." Mencubit gemas hidung Nindi.
Setelah selesai, Nindi tidak lupa belanja banyak kue untuk semua orang di rumah. Untuk kedua anaknya yang saat ini pasti sedang menunggunya pulang.
Langkahnya berat saat akan melangkah masuk, mengingat saat ini tanggung jawab besar harus di tanggungnya.
"Abang....aku apa bisa mengurus mereka dengan baik? Selama ini Kak Edel yang mengurus mereka." Sendu.
"Kau pasti bisa sayang, aku dan yang lainnya akan bantu Nindi mengawasi Hanna dan Jason, dan calon anak kita. Kau pasti bisa sayang." Mengeratkan genggaman tangannya.
"Tante....." Teriak Hanna yang menghambur ke arahnya. "Lama sekali pulangnya, Hanna kan kecarian." Mulutnya monyong gemas.
"Tante kan antar Eyang Dan Mamih istirahat. Hanna kan sudah Tante kasih tahu pagi tadi." Hanna mengangguk.
"Adek Jason Bobo, dia baik tidak rewel, tadi Hanna yang jaga Adek sampe bobo." Merasa bangga.
Cup....cupp...
"Hebat sekali Putri Paman." Hannya tertawa kegelian. "Sudah jadi Kakak yah Hanna." Mengangguk, matanya berbinar melihat paper bag di tangan Paman nya.
"Hanna mau...." Rayunya dengan suara lembut.
"Semua ini memang untuk Hanna dan juga Adek." Ivar kembali memeluk malaikat cantiknya, pelipur lara. Tidak mudah untuk anak sekecil Hanna melewati berkali-kali kejadian yang sama.
Yeayyyy.....
Mendengar suara Hanna menyejukkan hati, paling tidak masih banyak yang harus Nindi dan Ivar perjuangkan.
Nindi yang lelah hanya menikmati pemandangan menyejukkan hati di depan matanya. Mencoba menelan pil pahitnya meski jiwa raga nya menolak, kehidupan yang berulang kali harus dia hadapi.
Kehilangan, menyakitkan memang. Tapi siapa bisa memilih menjadi apa, tidak akan bisa. Hanya bisa menyerahkan segala yang terjadi pada yang maha kuasa.
Ayman keluar kamar menenteng tas kerjanya, tentu saja menimbulkan tanda tanya besar di benak Nindi dan juga Ivar.
“Mas Ayman mau kemana Mas?” Tanya Nindi segera menghampiri Ayman yang duduk di meja makan menyantap roti lapis kesukaan Edel.
“Rasanya tidak ada yang istimewa.” Bicara sendiri. Tersenyum membuat Nindi takut. “Mas ada meeting hari ini, titip Jason ya Nin.” Ucapnya dengan wajah seolah semua baik-baik saja.
“Mas yakin berangkat kerja?” Tanya Nindi meyakinkan dirinya sendiri dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini.
“Tenang saja Nin, Mas baik kok. Mas jalan yah, simpan roti kesukaan Istriku satu yah. Pulang nanti aku makan.” Nindi sampai menelan ludahnya tidak percaya.
Ivar yang terbengong meminta Bodiguard nya mengikuti Ayman. Memastikan Kakak Iparnya yang pasti tidak waras sampai tujuan dengan selamat.
“Sini sayang, tidak apa. Aku sudah minta seseorang menjaga Mas supaya sampai dengan selamat.” Nindi yang masih syok duduk di pangkuan Ivar.
__ADS_1
Sungguh Nindi tidak bisa berkata-kata. Sakit sekali melihat Mas nya tidak berdaya. Dia pasti sangat terpukul sampai tidak bisa menunjukkan sisi lemahnya. Dia pasti sedang berpura-pura.