
Ivar masuk ke dalam kamar, mendapati Nindi yang sedang membereskan baju ke dalam lemari pakaian.
"Sayang, kenapa membereskannya sendiri. Suruh Bi Inah atau Lastri mengerjakannya." Berdiri di belakang Nindi sangat dekat, hembusan nafasnya bahkan terasa di leher jenjang Nindi.
"Mencari kesibukan, lagian gak susah." Jawabnya tanpa membalikkan tubuhnya.
"Sayang....kau tahu alasan ku bisa bertahan melewati ini semua. Kamu sayang." Nindi tersentak. Dirinya egois karena ingin mengurus mereka semua sendiri.
"Aku tahu....Abang ucapkan itu berulang kali."
"Jangan sedih Nin, coba apa yang menjadi kan gundah di hati permata ku." Membelai surai Nindi. "Abang tidak bisa melihat Nindi marah, katakan sayang."
Nindi menggeleng, Nindi merasa akan percuma meski dirinya menjelaskan.
"Aku baik Bang, Abang cepat pergi kerja. Nindi mau mandi." Menyambar handuk dan segera masuk ke kamar mandi.
Ternyata Ivar tidak pergi, masih menunggu Nindi dengan setia. Nindi semakin merasa tidak nyaman, Ivar selalu memaksa Nindi bicara padahal dirinya enggan.
"Kenapa masih belum pergi?" Ivar menepuk kasur di sisinya.
Nindi tidak mengindahkan permintaan Ivar, dirinya malah duduk di depan meja rias.
"Nindi, bisa tidak kita bicara baik-baik. Jangan buat Abang pusing." Pinta Ivar, nada bicaranya sedikit tegas.
"Sudah aku katakan, aku baik. Abang pergi saja." Nindi mulai merasa bergemuruh, dadanya sedikit sesak.
"Kita sudah sepakat selalu ceritakan apapun kegundahan kita. Jangan diam seperti ini, Abang tidak bisa baca hati Nindi." Mulai terbawa emosi.
"Kalau begitu tidak perlu Abang pikirkan, toh tidak di anggap penting oleh kalian semua."
"Nindi!!!! Kau ini kenapa sebenarnya, kenapa bicara sembarangan seolah Abang tidak pernah memperhatikan Nindi." Mendekat ke Nindi yang masih menunduk di depan meja rias.
"Abang dan semua orang tidak lagi perduli memang, kalian tidak pernah tahu Nindi menahan diri selama ini. Aku muak, aku tidak tahan." Berteriak meluapkan kesalnya.
"Apa yang Abang lakukan, kenapa Nindi bicara sangat tidak sopan. Abang tidak suka Nin." Ivar masih saja meninggi.
"Kalau begitu tinggalkan saja Nindi, supaya Abang dan yang lainnya tidak lagi terbebani." Ivar kehabisan kesabaran, spontan mengangkat tangannya hampir saja menampar Nindi.
"Nin..." Ivar sadar dan segera menurunkan tangannya. "Maaf sayang." Ivar berusaha meraih Nindi tapi Nindi menepisnya.
"Abang jahat." Nindi masuk kembali ke dalam kamar mandi. Menguncinya.
Menangis meratapi pagi nya yang di warnai keributan.
"Sayang....Abang mohon buka pintunya, Abang hilang kendali sayang." Ivar membujuk Nindi dari balik pintu. "Buka sayang....."
Nindi menangis, baru kali ini Ivar kasar padanya, tapi dirinya juga sudah tidak tahan dengan keadaan rumah yang suram. Berusaha menahan namun akhirnya meledak juga.
"Tolong maaf kan Abang Nin. Abang sungguh tidak bisa menahan nya. Maaf Nin." Suaranya terdengar bergetar.
Tidak tega juga Nindi membiarkan Ivar merasa menyesal. Ivar pasti tidak ada niat jahat padanya. Nindi melangkah ingin membuka pintu.
__ADS_1
Brukkkkk....
Awwww.....
Suara keras di barengi teriakan.
"Nindi....jangan bercanda Nin." Ivar terus menggedor pintu tanpa henti.
"Abang tolong....." Teriaknya yang tiba-tiba terpeleset sisa sabun, licin. Nindi berusaha bangun meraih gagang pintu yang masih jauh dari jangkauannya.
"Nindi buka pintunya."
Mata Nindi membelalak melihat darah segar keluar dari tubuhnya. "Abannggg......" Suara teriakan yang cukup keras.
Setelahnya tidak terdengar lagi suara Nindi.
"Nin....Nindi buka.....!!!!!!"
"Ivar ada apa....?" Tanya Edwin yang mendengar keributan. "Ada apa Nak."
Ivar pontang panting mencari kunci cadangan, tidak ketemu.
Edwin akhirnya meminta penjaga rumah naik ke kamar Ivar. Pintu di dobrak, Ivar terkejut handuk mandi Nindi yang berwarna putih berubah merah. Derah segar membasahi tubuh Nindi yang sudah tidak sadarkan diri.
"Sayang....ku mohon.....bertahan sayang." Racau Ivar yang saat ini ada di dalam mobil membawa Nindi ke rumah sakit. "Bertahan sayang, aku mohon."
"Nindi pasti kuat Nak, tenang Nak." Edwin gemetar, dirinya sangat takut terjadi hal buruk pada Nindi.
Dengan berat hati Ivar menandatangani surat yang isinya persetujuan tindakan yang akan menerima kondisi apapun setelah operasi di lakukan. Meski berat Ivar mencoba menerima dengan apapun yang akan terjadi. Meski dirinya mencoba yakin Nindi pasti akan baik-baik saja.
Pelukkan hangat Edwin meredam tangis Ivar yang tidak berhenti sejak kedatangannya. Tubuhnya gemetar, tidak bisa menyembunyikan perasannya yang hancur saat ini. Edwin dengan mantap menatap wajah Putranya.
“Yakin dengan Nindi?” Ivar mengangguk. “Jangan biarkan Nindi melihat air matamu Nak, dia akan terluka.” Ivar mengusap kasar sisa-sisa air mata yang membasahi pipinya.
“Aku tidak kuat Pah, dadaku sakit.” Suaranya lebih terdengar seperti bisikkan. “Ivar takut sekali Pah.” Mencoba menahan tubuhnya yang lemas.
“Tenang, kita punya Dokter yang ahli. Percaya semua akan baik-baik saja. Tuhan tidak akan mengambil Nindi setelah mengambil dua orang dari kita Var. Papah yakin.” Meski Edwin merasakan ketakutan yang sama.
Ayman datang dengan wajah basah keringat. Dia pasti lari dari jauh.
“Bagaimana Nindi? Tidak apa kan Var? Kenapa bisa jatuh Var?” Ayman terdengar mengomel kesal.
“Ivar yang salah, Nindi pasti sangat marah pada Ivar. Bagaimana kalau Nindi menolak kembali pada ku dan malah pergi ke tempat Mamah dan Kak Edel. Aku tidak akan sanggup.” Racaunya seperti orang yang sedang putus asa.
Semua terdiam, kesedihan menyelimuti mereka yang menunggu wanita kesayangannya berjuang.
Operasi berjalan cukup lama. Ivar berpeluh menunggu dengan perasaan tidak tenang. Ivar sangat menyalahkan dirinya sendiri. Andai saja waktu bisa di putar, Ivar tidak akan melukai hati Nindi sedikit pun.
Luna, Abi dan kedua orang tua nya juga datang. Mereka yang selama ini selalu ada di sisi keluarga Edwin yang sedang terpuruk.
Buk....buk...buk...
__ADS_1
Suara pukulan yang mendarat di bahu Ivar, tidak keras. Luna hanya melampiaskan kekesalannya.
"Kenapa terjadi lagi Kak....aku sudah meminta Kak Ivar jaga Kak Nindi dengan baik."
Ivar hanya menunduk tidak bisa mengelak, memang dirinya yang bersalah.
"Sudah sayang, Kak Ivar juga pasti tidak mau semua ini terjadi." Tantri menarik Luna dalam dekapannya. Putrinya yang akhir-akhir ini sangat dekat dengan Nindi pasti sangat sedih.
"Kau tahu apa yang Kak Nindi cemaskan?" Ivar menengadah. Menunggu kalimat selanjutnya dari mulut Luna. "Dia takut kalian tidak punya rasa peduli lagi pada dirinya. Kak Nindi sedih rumah suram tanpa kasih sayang kalian, kalian pasti tidak sadar kan?" Edwin mengepalkan tangannya, Ayman yang juga baru menyadari kesalahannya jatuh terduduk.
"Kenapa tidak kau katakan pada kaki Nak." Edwin sedih baru tahu sekarang.
"Bagaimana aku bicara, kalian tidak pernah ada waktu." Ivar mengusap kasar wajahnya, benar yang Luna katakan.
"Aku menyesal. Aku sungguh tidak punya hati nurani."
"Kalian harus perbaiki setelah semua ini berlalu, aku tidak mau lagi melihat Kakak ku menangis diam-diam." Luna menceritakan dengan sedih.
Dia sering kali melihat Nindi merenung seorang diri.
"Sekarang aku sedang di hukum. Aku yakin Nindi sangat membenciku."
"Nindi bukan gadis seperti itu, hatinya sangat baik. Dia hanya kesepian. Kalian pasti lebih mengenal Nindi bagaimana." Tantri mencoba meredakan suasana.
"Tapi kesalahan kami fatal Mah, Nindi pantas menghukum kita." Ayman sangat menyesal menyibukkan diri dan tidak memperhatikan rumahnya.
"Nindi tempat kami pulang, kalau dia juga pergi kami akan pulang kemana? Aku tidak akan bisa berdiri Sekokoh ini." Edwin menyesali semua yang terjadi.
Prabu yang memperhatikan ketiganya hanya bisa prihatin. Berulang kali sahabatnya harus melalui jalan yang tidak mudah. Berliku dan penuh cobaan.
"Sudah sayang, jangan menangis." Mengusap lembut surai putrinya yang tergerai panjang.
"Keluarga kita akan baik saja kan Yah? Aku mohon lakukan sesuatu agar semua baik-baik saja Yah." Prabu juga bingung, tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa menunggu.
Oaaa..ooaaaa..ooaaa
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi. Wajah Ivar menjadi sedikit bersemangat mendengar tangisan Bayi yang cukup nyaring di telinga.
"Apa itu suara anak ku?" Edwin mencoba meyakinkan lewat genggaman tangannya, berharap semua baik-baik saja dan keduanya selamat.
Terlihat suster keluar membawa bayi di dalam incubator. Mendorongnya perlahan dan membawanya ke ruang NICU untuk melakukan perawatan lebih lanjut. Tidak ada yang di ijinkan mendekat, menghindari bayi terpapar kuman yang bisa menganggu dan semakin melemahkan kondisinya yang saat ini tidak baik-baik saja.
Ivar yang kebingungan akhir nya membiarkan suster membawa anaknya, dirinya tidak boleh egois dan harus mengikuti aturan yang berlaku.
Akhirnya yang di tunggu keluar juga dari ruang operasi, Nindi terlihat masih tertidur seperti saat dirinya bawa tadi. Banyak sekali pertanyaan berkecamuk di kepala Ivar.
Ivar yang sudah duduk di ruangan Dokter menunggu dengan cukup sabar. Menunggu Dokter mengatakan kalau Nindi baik-baik saja dan akan segera sadar.
“Dokter bagaimana? Tolong katakana Dok.”
“Nindi saat ini kritis, dia mengalami koma, pendarahan nya parah dan kami sudah berusaha keras melakukan yang terbaik. Kita tidak bisa memastikan keselamatannya, kita tunggu saja perkembangannya.” Sontak Ivar menangis sejadi-jadinya di pelukkan Ayman.
__ADS_1