
Pernak pernik hiasan ulang tahun sudah selesai Ellie dekor dengan indah, sederhana namun elegan dan glamor. Dia sangat detail dalam menyiapkan setiap acara apapun agar terlihat indah dan tidak terlihat murahan. Gengsi yang sangat besar, Ellie tidak mengindahkan pemintaan putrinya yang tidak lagi ingin merayakan pesta ulang tahunnya. Sudah tua kata Edel.
Meski begitu Ellie tidak mendengarkan permintaan putrinya, mugkin bagi setiap orang makna seorang anak berbeda, menurut Ellie dan Edwin. Anak-anaknya akan tetap ada di bawah pengawasannya selama mereka masih bernyawa. Bahkan suaminya sekalipun tidak boleh mengambil alih momen apapun yang ingin mereka buat untuk anak-anaknya.
Ayman sudah terbiasa dengan sikap kedua orang tua Edel yang sangat posesif. Tidak masalah selama istrinya bahagia dan merasa nyaman. Bagi Edel, kebahagiaan keluarganya yang utama. Jadi apapun yang kedua orang tuanya lakukan, biarkan saja. Asal kebahagiaan mengiringi langkahnya selalu.
Ayman baru saja selesai menidurkan Hanna yang terlelap selama perjalanan pulang. Ayman kembali ke ruang tengah menyapa keluarganya yang masih berkumpul di ruang keluarga.
“Bagaimana liburannya Nak?” Tanya Edwin yang sangat senang anak-anaknya sudah kembali dengan selamat bersama cucunya.
“Sekali-kali kita pergi sama-sama ya Pah, pasti akan sangat seru kalau kita liburan bersama.” Jawab Ayman dengan raut wajah yang terlihat sangat bahagia.
“Kalian sempat begitu tidak?” Alis Ayman naik sebelah. “Ah Papah rasa tidak bisa, harusnya kalian tinggalkan saja Jason dan Hanna, kami bisa kok urus mereka Man.” Tukasnya sambil tersenyum.
“Papah ini ada-ada saja. Malu Pah, sudah tua Papah ini.” Timpal Ellie yang heran suaminya jadi suka bercanda akhir-akhir ini.
“Papah ku kan jiwanya muda Mah.” Jawab Edel yang baru saja muncul dari kamarnya. “Ahhhhh.....aku sangat rindu kalian semua.” Edel duduk di tengah-tengah antara Ellie dan Edwin. Edel mencium pipi kedua orang tuanya bergantian.
“Liburan kenapa muka kalian tegang begitu? Ada apa! Ceritalah.” Edel tidak pandai menyembunyikan perasaannya. Edwin sangat peka memang.
“Tidak ada, Papah ini bicara apa sih.” Menenggelamkan kepalanya di dada Edwin.
“Jangan bohong, ada apa. Ayman!” Tegasnya pada Ayman yang juga membisu.
“Aku.....aku sangat ceroboh.” Ayman menunduk menyembunyikan rasa malunya. Edwin kenal betul bagaimana sifat Ayman. Dia terlihat sangat menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri.
“Cerita dulu, baru aku akan ambil kesimpulan kau ceroboh atau tidak.” Edwin masih memeluk putrinya, dan sesekali tangannya membelai surai Edel dengan lembut.
“Hanna Pah, aku tidak mengawasi Hanna dengan benar. Hampir saja Hanna hilang saat sedang bersamaku.” Edwin masih menyimak tanpa menghakimi. “Aku bahkna membentaknya padahal aku yang seharusnya Hanna salahkan.” Edwin tersenyum.
“Hanya karena itu?” Ayman mengangguk. “Kau tau berapa kali Papah hampir kehilangan Edel?” Edel melepaskan pelukan Edwin.
“Mas memutuskan untuk langsung terbang setelah itu. Seharusnya kita kembali besok pagi.” Bisik Edel di telinga Edwin.
Selama perjalanan Edel dan Ayman saling diam, Edel bingung dengan sikap Ayman yang tidak dia kenal. Edel memutuskan untuk diam saja karena takut akan memperkeruh suasana. Ayman hanya sibuk merawat dan mengawasi kedua anaknya tanpa banyak bicara. Matanya bahkan tidak sekalipun menatap mata Edel.
“Seorang anak memang kadang membuat masalah, berulah. Seperti itu memang dunia anak-anak. Hanna pasti sedih saat kau marah, tapi Hanna akan lebih sedih kalau Ayman diam saja meski dia melakukan kesalahan. Seorang anak akan paham, kemarahan orang tuanya itu bentuk kasih sayang yang mereka luapkan.” Edwin menepuk punggung Ayman menenangkan.
“Aku takut Hanna membenciku karena aku sangat keras padanya.” Ayman masih menunduk.
“Tidak, percaya padaku. Selama anak-anak aman, kemarahanmu tidak akan membuatnya membencimu.” Ayman sedikit lega mendengar nasehat Edwin yang sangat bijaksana.
“Lalu kenapa Mas diam saja? Apa Mas marah padaku?” Edel sangat penasaran.
__ADS_1
“Apa aku seperti itu?” Edel mengernyitkan dahinya.
“Kau tidak sadar? Sepanjang perjalanan kau tidak bicara padaku!” Edel melangkah pergi masuk ke dalam kamarnya. Suaranya sedikit tinggi karena ternyata Ayman tidak marah padanya, tapi Edel kesal karena sikap Ayman yang membuatnya takut.
“Aku benar-benar tidak menyadarinya.”Ayman mengacak rambutnya menyadarkan dirinya. “Dia pasti sangat ketakutan selama perjalanan pulang.” Ayman tahu jika Edel tidak bisa menerima sikap kasar, keluarganya sangat lemah lembut memperlakukannya.
Edwin sedikit tertawa. Ellie hanya geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya. “Cepat bujuk Putriku, kalau tidak dia akan membuatmu berpuasa Man.” Ayman segera pergi menyusul Edel.
“Pah, aku dengar suara Kak Edel? Apa mereka sudah kembali?” Terlihat Nindi yang berjalan perlahan menuruni tangga.
“Pelan-pelan Nak.” Teriak Ellie yang melihat Nindi dengan ngeri.
“Aku ingin bertemu dengan Kak Edel, Hanna dan Jason, dan Kak Ayman.” Jawabnya bersemangat.
Edwin bangkit menyambut Putrinya dan membantu Nindi turun. “Kandunganku masih belum terasa Pah, aku masih belum kesulitan jika hanya berjalan menuruni tangga.”
“Justru saat ini kandungan kamu belum terlalu kuat Nak, kamu tidak boleh terlalu lelah.” Jawba Ellie yang lebih paham karena pengalaman. Nindi hanya tersenyum tidak berani melawan.
“Iya Mah....maaf yah.” Nindi memeluk Ibu mertuanya yang sangat perhatian padanya.
“Ayman dan Edel sedang berdebat, jangan dulu masuk ke kamarnya.” Nindi terkejut mendengar perkataan Ellie, reflek Nindi menutup mulut dengan kedua tangannya.
“Tumben, ada apa?” Tanya Nindi penasaran.
“Tidak lelah kah kalian berdua bergosip selama ini?” Celetuk Edwin yang mendengar keduanya cerita kesana kemari tanpa arah.
“Papah ini ganggu saja loh, kalau Papah capek sana cepat istirahat.” Perintah Ellie yang masih asik berbincang dengan Nindi.
“Papah antar Nindi dulu ke atas, baru Papah akan tidur.” Jawabnya sambil memejamkan matanya bersandar di sofa.
Melihatnya Nindi tidak tega, dia rela menunggu demi mengantarkannya dengan aman. “Hooammmm.....aku juga mengantuk Mah. Besok kita lanjutkan lagi yah.” Nindi pura-pura menguap agar Ibu Mertuanya percaya. “Lets go Pah.....ayo antarkan aku ke atas.” Nindi menggandeng tangan Edwin.
Berjalan bergandengan tangan layaknya seorang Ayah menggandeng putrinya. Ellie bergegas menuju kamar karena sudah tidak ada siapapun yang menemaninya. Membuka pintu kamar Hanna memastikannya masih terlelap tidak terganggu.
Kakinya entah kenapa berdiri di depan kamar Edel, menengok kanan kiri memastikan tidak ada yang melihatnya. Ellie menempelkan kepalanya di pintu kamar Edel. Penasaran keributan apa yang bisa dilakukan Putrinya pada suaminya yang lemah lembut.
Tidak terdengar suara apapun dari dalam, apa mereka sudah baikan? Tidak seru sekali mereka ini. Bicara dalam hati.
Edwin melepaskan sendal yang dia pakai saat melihat Ellie yang sedang tertangkap basah menguping kamar Putrinya. Dengan begitu suara kakinya tidak akan terdengar.
Mengendap-endap mendekati Ellie yang masih setiap menajamkan pendengarannya.
Duaaarrrrr......
__ADS_1
Ellie terjingkat kaget karena ulan Edwin. Beberapa kali pukulan mendarat di punggung Edwin yang sedang tertawa puas karena berhasil mengerjai Ellie. Kini keduanya tertawa bersama merasa konyol dengan ulahnya.
Nindi yang kaget keluar dari kamarnya hanya ikut tertawa melihat kebahagiaan kedua orang tuanya. Ada-ada saja batin Nindi. Melihat mereka membuat Nindi iri dengan keharmonisan mereka. Bahagia meski dengan cara yang sangat sederhana.
“Apa yang kalian lakukan?” Kepala Edel muncul dari balik pintu.
“Ini Del...Mamah m...” Ellie membekap mulut suaminya dan menyeretnya ke dalam kamar.
“Ma...” Kini mereka benar-benar sudah masuk ke dalam kamar. Edel hanya mengulas senyum melihat tingkah kekanakan orang tuanya.
Nindi kembali masuk ke dalam kamarnya, membersihkan sisa-sisa make up yang masih menempel di wajahnya. Ivar sering membantu dirinya membersihkan wajahnya, Ivar suka sekali memuji wajah Nindi yang cantik, bersih dan tidak membosankan saat di pandang matanya. Entahlah jika orang lain yang melihat. Mengingatnya Nindi tersenyum sendiri, tidak ingin lagi bersedih hati.
Biarkan saja semua berjalan sampai dimana akan membawa langkahnya. Nindi sudahberpasrah diri, dia harus kuat dan semangat menjalani hidupnya. Ada calon buah hati yang menemaninya dimanapun dia berada.
“Aku akan menjaganya, sampai kau kembali Bang.”
***
Edel duduk di ujung tempat tidur membelakangi pintu masuk sambil menggenggam tangan Jason. Tangannya terlihat menyeka beberapa kali air matanya yang menetes tidak terbendung. Kesedihannya meluap begitu saja meski kini perasaannya lega mendengar penuturan Ayman.
Edel sangat khawatir Ayman menyembunyikan sesuatu darinya, sikapnya yang sangat dingin membuat Edel benar-benar tidak tenang dan takut Ayman akan pergi meninggalkan dirinya.
Tok...tok...tok...
Ayman mengetuk pintu kamar sebelum masuk, dia tidak ingin membuat Edel terkejut dengan kedatangannya.
Ayman tidak banyak bicara, dia duduk memposisikan dirinya di belakang Edel. Menempatkan kedua tangannya memeluk pinggang ramping istrinya yang tengah merajuk. Sesekali Ayman menciumi kepala Edel dengan lembut. Saat Edel hendak berbalik, Ayman menahannya.
“Sebentar saja sayang, aku ingin menikmati aroma rambutmu.” Bisik Ayman ditelinga Edel. Ayman menggenggam tangan Edel. “Apa aku sangat jahat?” Edel mengangguk. Ayman mengulas senyum menyesali sikapnya.
“Kenapa tidak bertanya padaku? Apa banyak yang kau pikirkan?” Edel hanya menjawab dengan anggukan kepala. “Katakan apa yang kau pikirkan?” Pintanya sambil membalikan tubuh Edel menghadap dirinya.
“Aku kira Mas marah dan akan pergi meninggalkanku.” Ayman memeluk Edel erat. Dia lupa jika sikapnya yang acuh melukai hati istrinya yang sangat lembut.
“Kenapa bisa berfikir sesempit itu? Apa aku kurang meyakinkanmu selama ini? Apa yang harus aku lakukan agar kau yakin denganku?” Bukannya menenagkan Ayman malah memberondong Edel dengan rentetan pertanyaan.
“Kan aku yang marah Mas!” Kesal dirinya malah di teror. “Aku tidak pernah lihat Mas mendiamkanku seperti tadi. Aku kira aku melakukan kesalahan fatal yang membuatmu tidak mau bicara padaku lagi.” Jawab Edel menundukkan kepalanya.
“Kau salah besar. Kau, Jason dan Hanna sekarang adalah tujuan hidupku. Kalau aku pergi, apa tujuan hidup ku lagi....tidak ada sayang.” Tidak biasanya Ayman bicara romantis, mendengarnya Edel jadi tersipu malu.
Ayman menarik tengkuk Edel mendekatkan wajahnya, tidak tahan melihat bibir ranum istrinya yang masih terbalut lipstik merah muda. Edel memejamkan matanya mengijinkan Ayman melakukan apapun pada dirinya.
Suara teriakan Edwin membuyarkan adegan romatis pasangan suami istri yang baru saja berbaikan. Edel segera lari mencari sumber keributan yang mengannggu momen indahnya, sedikit kesal namun ingin memastikan keadaan baik-baik saja. Ayman hanya bisa tersenyum.
__ADS_1